
Dengan rasa sesak yang seakan menjalar di hatinya. Diana bergegas meninggalkan tempat tersebut, ia memutuskan untuk pulang, bahkan tanpa berpamitan pada Bu Ambar atau pun Atar, Diana sudah tidak tahan lagi berada di sana.
Diana menyetopkan taksi yang kebetulan melewati rumah tersebut, setalah itu ia masuk dan meminta sopir taksi untuk mengantarkannya pulang.
Dalam perjalanan, Diana tidak bisa lagi menahan air matanya yang sejak tadi ia bendung. Apa lagi mengingat setiap adegan pertemuannya dengan Daffa tadi, ia merasa tidak menyangka jika Daffa begitu tega padanya. Selama ini ternyata Daffa membohongi Diana.
Rasa cinta untuk Daffa sesungguhnya selama ini masih ada, bahkan saat pertemuan tadi, Diana merasakan ada secercah harapan, tapi harapan tersebut semuanya seakan sirna tidak bercela, di saat Diana tahu kenyataan yang sebenarnya, Daffa, yang sampai detik ini masih berstatus suaminya, tidak pernah ada kata cerai dari pria itu pada Diana, ternyata sudah menikah lagi.
Hancur rasanya hati Diana, melihat semua kenyataan yang ada. Tapi, apa boleh dikata? Se-miris inikah nasibnya?
Diana seakan sudah kehabisan kata-kata, rasa cinta terhadap Daffa, seakan meredup seketika. Apa lagi mengingat perlakuan Bu Lusi, alias orang tuanya Daffa, Diana sungguh membencinya!
Hingga tak terasa Diana kini sudah sampai di depan gang arah masuk ke rumah kontrakannya. Diana pun bergegas turun usai membayar ongkos taksi yang di tumpanginya itu. Berjalan gontai menuju rumah kontrakannya.
__ADS_1
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di kediaman Bu Ambar, sejak tadi Atar terlihat gelisah. Membuat sang Mamah heran melihatnya.
Begitu pun dengan Daffa, pria itu pun terlihat gelisah, pandangan kedua pria itu sejak tadi terus mengarah ke pintu masuk menuju halaman belakang tersebut, tepatnya pintu masuk menuju arah toilet.
"Mas All, kamu kenapa sih? Perasaan dari tadi aku perhatikan kamu liat kearah toilet mulu? Apa Mas kebelet?" tanya Venna, dengan suara sok perhatiannya. Sebenernya bukan sok perhatian sih, Venna memang sedang memperhatikan All-Daffa, hanya saja suaranya terkesan manja, jadi terlihat lebay juga!
"Iya, aku izin ke toilet dulu," jawab All-Daffa, sebenernya tidak ingin ke sana, tapi ada sesuatu yang harus ia pastikan di sana.
"Ya sudah, jangan lama-lama," ucap Venna. Daffa hanya mengangguk pelan, setalah itu ia pun bergegas menunju toilet.
"Apa kamu mencari dia?" Tiba-tiba saja sebuah suara muncul di belakang Daffa, membuatnya terkejut seketika.
Tentu saja All-Daffa sangat hafal dengan suara tersebut, Daffa berbalik lalu menatap tajam pria yang barusan berbicara padanya itu dengan tajam.
__ADS_1
"Kau, kau sudah menemukannya! kenapa kau tidak memberitahu aku hah?" tanya Daffa dengan raut wajah penuh amarah pada Atar.
Atar tersenyum sinis mendengar perkataan Daffa barusan.
"Sialan! Kenapa kau malah tersenyum hah? Kemana dia sekarang hah? Dan apa maksud kamu membawa dia ke sini hah? Dan kau berani menyentuh dia pula! Katakan apa maksudmu Atar!" teriak Daffa, sambil menarik kerah baju kemeja Atar.
Atar hanya terdiam, ia membalas tatapan tajam Daffa dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau akan menyesal sudah melakukan semua ini All-Daffa!" Atar akhirnya bersuara, ia melepaskan tangan Daffa yang menarik kerah kemejanya itu. Setalah itu Atar berlalu dari sana.
Daffa terdiam, kedua tangannya mengepal erat memperlihatkan urat-urat kemarahannya. Tentu saja Daffa merasa marah dengan apa yang dikatakan oleh Atar barusan. Bahkan Atar tidak tahu cerita yang sebenarnya, tapi dia sudah berani mengancamnya!
"Aku harus menemui Diana? Apakah dia masih berada di tempat yang sama?"
__ADS_1
Bersambung ...