Ayah Kandung Anakku

Ayah Kandung Anakku
Bab Dua Belas


__ADS_3

'Kenapa dia terus memandangi aku seperti itu? Apakah ada yang salah denganku?' batin Diana, yang menyadari sejak tadi pria yang duduk di kursi pengemudi itu memperhatikannya secara diam-diam, siapa lagi kalau bukan Atar.


"Oh iya, Diana. Saya hampir lupa, itu Atar, anak semata wayang saya," ujar Mamah Ambar, memperkanal putranya pada Diana.


Diana hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu tersenyum tipis.


"Atar, ini Diana." Gantian Mamah Ambar memperkanal Diana pada putranya.


Atar hanya mengangguk dengan ekspektasi wajah yang datar. Dalam hati, sebenernya Atar sangat penasaran, siapa Diana, dan kenapa bisa mengenal Mamahnya. Ingin bertanya terasa sungkan, mungkin nanti saja jika mereka sudah pulang ke rumah.


Sekitar 20 menit kemudian, mereka pun sampai di salah satu restoran. Mereka langsung turun dan masuk ke dalam restoran tersebut.


"Kalian pesan makanan saja dulu, Mamah pengen ke toilet dulu bentar," ujar Mamah Ambar, pada Atar dan Diana yang sudah duduk saling berhadapan.


Keduanya kompak mengangguk, setalah itu Mamah Ambar berlalu dari sana. Atar segara memanggil pelayan untuk memesan makanan.


"Ini buku menunya, Pak, Bu, silahkan," ucap sang pelayan seraya memberikan buku menu pada Atar dan Diana.


Glek! Diana menelan ludahnya, ia bingung harus memesan makanan apa, terlebih nama makanan yang tersedia di dalam menu bertuliskan bahasa Inggris, maklum pendidikan Diana minim, ia tidak pasit dalam bahasa Inggris, dulu saja pas zaman sekolah dia paling malas belajar mata pelajaran tersebut, jika mata pelajaran yang lain Diana masih okelah.


Sementara Atar ia sudah memesan makan untuknya dan juga sang Mamah.


Diana masih terdiam sambil menatap buku menu tersebut, bukan hanya masalah nama makanan yang tidak ia mengerti, melainkan ia juga terkejut saat melihat harga-harga dari makan tersebut.


'Ya ampun, bukankan ini cuman daging sapi dipanggang, kenapa harganya sampai ratusan ribu begini, sayang sekali uangnya ini sih bisa buat aku makan satu Minggu,' batin Diana.


"Apa ada masalah? Kau mau pesan apa?" Atar bersuara, bertanya pada Diana. Karena sajak tadi ia memperhatikan Diana hanya diam seperti orang kebingungan.


"Eh, enggak. Emm ... samain aja deh pesan makanannya," jawab Diana terlihat sangat gugup. Tentu saja Diana tidak mungkin mengatakan tentang masalah yang tengah dia rasakan saat ini dengan menu restoran tersebut.


Gengsi dong, ah bukan, tepatnya malu. Bukankah terlihat sangat kampungan? Dan jalan pintasnya, samakan saja makanannya dengan mereka, ya walaupun Diana juga tidak tahu Atar memesan makanan yang mana.


"Baiklah." Atar pun menambah pesanan untuk Diana.


Usai pelayan tersebut pergi, Diana dan Atar sama-sama terdiam, mereka larut dalam pemikirannya masing-masing. Mamah Ambar pun belum kembali dari toilet.


"Kamu sedang hamil?" Akhirnya Atar membuka suaranya.


Diana menjawab dengan anggukan kepalanya. Udah tahu perutnya buncit, ya pasti sedang hamil-lah, bukan kelebihan berat badan, masa dia tidak bisa membedakan mana orang hamil dan tidak, pikir Diana. Merasa konyol dengan pertanyaan pria yang ada dihadapannya itu.


"Oh, sudah berapa bulan? Dan aku lihat tadi kamu kerja ya?" Lagi Atar bertanya. Dalam hati pun Atar merasa heran dengan dirinya, kenapa dia melontarkan pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


Tapi, yang anehnya juga Atar merasa penasaran dengan Diana, dan melihat Diana ia merasa iba. Ada apa dengannya?


"Sudah 6 bulan, iya aku kerja di toko tadi," jawab Diana, ia tersenyum tipis.


Atar terlihat mengangguk-angguk kepalanya. "Suamimu?" lanjutnya.


Diana menggelengkan kepalanya. Atar menatapnya bingung, jawaban Diana sangat ambigu, Atar tanya suaminya, wanita itu malah menggelengkan kepalanya.


'Apa suaminya pengangguran? Atau semuanya tidak ada? Apa dia seorang janda? Atau dia hamil diluar nikah?' Atar bertanya-tanya dalam hatinya, tentang status Diana. Ingin bertanya lebih lanjut, tapi rasanya tidak mungkin, apa lagi mereka baru kenal. Takut, jika Diana tersinggung, pikirnya.


"Sudah pesan makanannya?" tanya Mamah Ambar yang baru saja kembali, lalu ia duduk bergabung bersama mereka.


Atar dan Diana kompak menganggukkan kepalanya.


Tak lama kemudian, pesanan mereka pun sampai. Diana terkejut saat melihat makanan tersebut datang. Di atas piring terlihat ada ikan salmon mentah, yang di siram saus tapi Diana tidak tahu itu saus apa?


Diana melihat Mamah Ambar dan Atar mulai memakannya, tentunya makanannya sama. Diana bergeridik ngeri, ia merasa ragu untuk memakannya, kerena ini baru pertama kalinya ia melihat menu makanan ikan mentah seperti ini.


'Ya ampun, apa ini enak? Melihatnya saja aku sudah mual rasanya,' batin Diana.


"Kenapa gak di makan?" tanya Mamah Ambar pada Diana, saat melihat Diana belum sama sekali menyentuh memakannya dan terlihat bingung.


"Emm,"


Diana semakin bingung dibuatnya, harus bagaimana ia menjawabnya? Huh, nasib-nasib!


"Maaf, aku gak tahu kalau kamu pesan makan seperti," jawab Diana sambil menunduk kepalanya. Rasanya ia ciut, tepatnya malu.


"Udah, gak apa-apa. Ganti aja makannya," ucap Mamah Ambar. Tanpa menunggu sahutan dari Diana, Mamah Ambar langsung memanggil pelayan kembali.


"Kamu mau makan apa?" tanya Mamah Ambar pada Diana.


"Daging sapi panggang saja," jawab Diana.


Mamah Ambar terkekeh pelan, sementara Atar terlihat menahan tawanya.


"Mbak, steak satu ya," ucap Mamah Ambar pada pelayan tersebut.


Huh, rasanya Diana ingin menghilang saja saat itu pula, malu rasanya!


"Ma-maaf," ucap Diana.

__ADS_1


"Gak apa-apa, santai saja."


***


Sementara itu di tempat lain.


"Venna!" teriak seorang pria memanggil istrinya.


Wanita yang bernama Venna itu langsung berjalan tergesa-gesa menghampiri suaminya.


"Iya, Mas All, ada apa?" tanyanya panik.


"Tolong aku, aku penat. Bawa aku jalan-jalan, aku mau pengen makan di luar, pengan makanan ikan Salmon mentah yang ada di resto B," jawabnya dengan suara yang lemas.


"Baik Mas, ya sudah ayo kita berangkat sekarang." Venna tentunya senang bisa jalan-jalan keluar bersama suaminya, ia terlihat sangat bersemangat, ini adalah moment yang sangat jarang, bukan jarang, tepatnya tidak pernah!


'Gak apa-apalah kamu aneh begini, Mas. Kalau maunya di temenin aku keluar, aku rela,' gumam Venna merasa bahagia.


"Kenapa kau malah diam, senyum-senyum sendiri lagi, udah kaya orang gila!" sentak All, suaranya naik satu okta.


"Eh iya, Mas. Maaf, ya sudah ayo." Venna langsung menggandeng tangan All, namun All langsung menepisnya.


"Jangan dekat-dekat!" tegasnya, lalu berjalan berjalan terlebih dahulu.


Venna mengerutkan bibirnya kesal. Selalu saja seperti itu, ia berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya, menyusul suaminya.


Mereka pun langsung meluncur menuju Restoran yang tuju, Restoran tersebut jaraknya cukup jauh dari rumah mereka, membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih, sebenernya ada yang dekat, tapi All tidak mau, ia kukuh ingin makanan di Restoran yang ada di sana, di mana Restoran yang jaraknya cukup jauh itu adalah Restoran utamanya, sementara yang dekat itu cabangnya, padahal menunya sama saja, resepnya juga sudah dipastikan sama.


Venna hanya bisa mengelus dadanya, mencoba bersabar. 'Kalau gak cinta, udah Gue bejek aja ini laki!' batin Venna menggerutu sambil terus mengemudikannya mobilnya.


Menyesal rasanya ia tidak memakai sopir tadi, kalau kejadiannya akan seperti ini!


Setalah menempuh perjalan yang cukup melelahkan itu, akhirnya mereka pun sampai. Sebenernya tidak akan lelah, jika jalan lancar, tapi hari ini weekend, mana ada jalanan ibu kota bisa lancar tanpa macet di hari Minggu seperti ini, jangankan hari Minggu, hari-hari biasanya saja masih sama.


"Ayo cepat, aku sudah laper!" pinta All tak sabaran.


"Iya-iya Mas, bentar apa. Ini parkiran penuh, nunggu dulu mobil itu tuh keluar, biar kita bisa parkir," sahut Diana dengan ketus.


All hanya berdecak kesal, pandangannya menatap keluar, pada sebuah mobil yang barus aja keluar dari area parkir tersebut, namun dengan jaraknya yang berseberangan.


"Diana?" gumamnya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2