Ayah Kandung Anakku

Ayah Kandung Anakku
Bab Dua Puluh Dua


__ADS_3

Daffa kini sudah sampai di depan rumah kontrakan yang pernah ia tempati bersama Diana dulu. Namun, suasana di sekitar sana sudah sangat sepi. Lampu rumah kontrakan tersebut pun terlihat padam, gelap gulita nampak tidak berpenghuni.


"Diana sudah pulang sejak tadi, jika memang dia masih tinggal di sini, bukankah seharusnya dia sudah sampai?" gumam Daffa.


Cukup lama Daffa berdiam diri di sana, mau bertanya sayangnya di sekitar sana tidak ada orang lewat sama sekali. Mungkin kerena waktu kini sudah malam, sebenernya Daffa sangat penasaran, hati kecilnya merasa yakin jika Diana masih tinggal di sana.


"Apa aku tanya ke rumah sebelah saja ya? Tapi ... ini sudah malam, kemungkinan mereka sudah tidur! Tidak mungkin aku menganggu mereka!" lagi Daffa bergumam dalam hatinya.


Gundah, merasa tidak menemukan jalan keluarnya. Dengan berat hati Daffa pun melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut. Rencananya besok ia akan kembali lagi, berharap ia bisa bertemu dengan Diana. Kerena Daffa yakin Diana pasti masih tinggal di sana.


Selepas mobil Daffa meninggalnya tempat tersebut, kini sebuah mobil menepi, mobil tersebut yang tak lain adalah milik Atar.


Atar dan Mamah Ambar memutuskan untuk menemui Diana kerena mereka merasa khawatir dengan kondisi wanita itu. Namun, saat mereka sampai di depan rumah kontrakan Diana, hal yang sama kini mereka temukan, seperti yang dirasakan oleh Daffa.


"Lampunya masih belum menyala, Atar. Itu tandanya Diana belum sampai," ucap Bu Ambar pada Atar.


"Tapi, Diana sudah lama pergi dari tempat kita Mah, seharusnya dia sudah sampai!" sahut Atar.


"Iya, Mamah pikir juga begitu. Tapi, lihatlah. Jika Diana sudah sampai tidak mungkin semua lampu di rumahnya tidak menyala! Setidaknya lampu teras ini menyala, iya gak?"


"Benar sih, Mah. Terus gimana dong?"

__ADS_1


"Gak tahu! Mamah khawatir banget sama Diana. Ini sudah malam, dia lagi hamil besar pula. Ya Tuhan, bagaimana kalau terjadi hal yang ... " Bu Ambar menggantungkan ucapannya.


"Amit-amit Mah, jangan bicara sembarangan ah," sela Atar.


"Sepertinya Diana memang belum sampai Mah, doakan saja semoga dia baik-baik saja. Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang saja. Besok kita ke sini lagi, untuk memastikannya," lanjut Atar.


Bu Ambar nampak berpikir sejak. Rasanya berat untuk pulang, apa lagi ia belum tahu bagaimana kabar Diana sekarang. Tapi, terus berada di sini juga tidak mungkin.


"Udah Mah, yakin, Tuhan pasti melindungi Diana," ucap Atar, yang seakan tahu isi hati sang Mamah. Kerena sebenernya ia pun merasakannya.


Akhirnya Bu Ambar pun mengangguk pelan. Dengan berat hati mereka pun meninggalkan tempat tersebut.


***


Diana kini sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap, Dokter menyarankan Diana untuk di rawat beberapa hari ke depan. Kerena kehamilannya mengalami gangguan dan Diana mengalami pendarahan, untunglah Diana segara di bawa ke rumah sakit dan ditangani. Kondisinya kini sudah kembali stabil.


Namun, Diana diharuskan istirahat total untuk masa pemulihannya.


"Bu, terima kasih ya. Maaf, Diana selalu merepotkan Ibu," ucap Diana pada Bu Tina.


Diana sudah siuman sejak satu jam yang lalu.

__ADS_1


"Ibu tidak merasa direpotkan Diana. Sudah, sebaiknya kamu jangan banyak pikiran, fokuslah pada kesembuhan kamu, ingat ada nyawa yang harus kamu perjuangan juga di sini," ucap Bu Tina, seraya mengelus perut Diana yang buncit tersebut.


Diana tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan oleh Bu Tina.


"Bu, tidak ada yang tahu kan kalau Diana ada di rumah sakit?" tanya Diana.


"Enggak, semuanya aman Diana. Kamu tenang saja," jawab Bu Tina.


Diana pun sudah bercerita tentang apa yang terjadi hari ini pada Bu Tina, tentang ia yang sudah bertemu dengan Daffa, dan Daffa yang sudah mempunyai istri lagi.


"Bu, apa Ibu gak punya rumah kontrakan yang jaraknya agak jauh dari tempat yang sekarang? Diana rasanya gak mungkin tetap tinggal di sana,"


"Tenang saja, Ibu ada tempat yang aman untuk kamu, agar mereka tidak bisa menemukan kamu, Diana," potong Bu Tina.


"Alhamdulillah, terima kasih Bu."


"Sama-sama."


Ya, seperti yang Diana katakan pada Bu Lusi, jika ia akan menjauh dari Daffa. Diana bahkan berharap ia tidak pernah lagi bertemu dengan pria itu!


'Aku harus benar-benar melupakan Mas Daffa, harus!' batin Diana.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2