
Tak lama kemudian akhirnya mereka pun sampai. Diana merasa sangat takjub saat melihat melihat bangunan mewah bergaya khas Eropa yang di depan matanya itu.
"Mas Atar, apa ini rumahnya?" tanya Diana, pandangan matanya tak teralih menatap rumah milik orang tua Atar tersebut.
"Iya, acaranya ada di taman belakang. Ayo kita turun, acaranya sebentar lagi di mulai," ajak Atar.
Diana manatap sekilas pada Atar, lalu menganggukkan kepalanya. Setalah itu mereka pun keluar dari mobil.
Berjalan berdampingan, Atar mengajak Diana masuk ke dalam rumahnya. Sebenernya bisa jalan menuju ke taman belakangan bisa lewat samping, para tamu yang lain menggunakan jalan tersebut. Tapi, Atar sengaja mengajak Diana masuk ke dalam rumahnya, kerena Atar tidak mau ada orang lain yang melihat Diana dulu untuk saat ini, apa lagi kini Atar melihat mobil keluarga All sudah berada di sana.
"Atar, Diana, akhirnya kalian tiba juga," ucap Bu Ambar, seraya berjalan menghampiri mereka.
"Tante," sapa Diana seraya tersenyum, lalu meraih tangan wanita tersebut. "Acaranya belum di mulai 'kan, Tan?" tanya Diana.
"Belum, Diana. 10 menit lagi baru di mulai. Terima kasih sekali loh kamu sudah mau datang, saya senang benget," ujar Bu Ambar, terlihat sangat bahagia.
"Sama-sama, Tante. Justru Diana yang berterima kasih pada Tante, sudah berkenan mengundang Diana di acara penting seperti ini. Diana merasa malu, kerena ... "
"Sut! Jangan berpikir negatif, bagi Tante semua orang itu sama saja, ya sudah ayo kita kebelakang," sela Bu Ambar memotong ucapan Diana, yang ia sudah ketahuan akan membahas kemana. Lalu Bu Ambar menarik tangan Diana.
"Eh Mah, tunggu! Ada yang mau Atar bicarakan sebentar," tahan Atar. Sontak membuat langkah kedua wanita beda generasi itu terhenti.
"Bicara apa sih, Tar?" tanya sang Mamah, menatapnya jengkel.
Atar memberi kode kepada sang Mamah agar ikut bersamanya.
"Diana, kamu tunggu sebentar di sini ya," pinta Bu Ambar, langsung diangguki oleh Diana.
Atar dan Bu Ambar pun berlalu dari sana. Diana yang ditinggalkan justru merasa kebingungan. Alhasil ia memilih duduk di sofa yang ada di sana, sambil menunggu Atar dan Mamahnya kembali.
Sementara itu, Atar membawa sang Mamah untuk bicara di kamarnya.
"Ada apa sih Atar? Heran deh, ini acaranya mau di mulai, kamu malah ngajak Mamah ke sini? Mau bicara apa cepat!" cerca Bu Ambar yang terlihat kesal.
"Atar tahu, Mah. Tapi, ada suatu hal penting yang ingin Atar sampaikan sama Mamah!" kata Atar, lalu ia menceritakan sesuatu pada sang Mamah.
Raut wajah Bu Ambar yang tadinya kesal, kini berubah seperti orang yang sangat terkejut, saat mendengar cerita dari Atar.
__ADS_1
"Kamu serius, Tar? Yakin, kamu jangan bicara sembarangan deh! Mungkin saja kamu salah orang!" papar Bu Ambar yang terlihat masih shock itu.
"Enggak Mah, Atar yakin. Atar sudah menyelediki juga."
"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Apa kamu ingin mempertemukan mereka?" tanya sang Mamah.
Atar terdiam, ia baru saja menceritakan tentang Diana, yang ternyata adalah istri dari All alias Daffa. Tentu saja membuat Mamahnya terkejut, merasa tak percaya.
"Di tanya malah bengong! Kalau menurut Mamah sih, kayanya ini bukan waktu yang tepat buat mempertemukan Diana dan All, secara saat ini bukan hanya All yang datang, tapi keluarganya serta Venna istrinya juga. Diana pasti merasa shock kalau tahu All ternyata sudah menikah lagi, menurut kamu gimana Atar?"
"Apa lagi saat ini Diana lagi hamil besar, gimana kalau kehamilan kenapa-napa?" sambungnya lagi.
Benar juga yang dikatakan sang Mamah, pikir Atar. Tapi, bagaimana caranya agar mereka tidak bertemu?
"Tapi, sekarang mereka sudah ada di sini ya, bingung juga gimana caranya agar mereka gak bertemu, terus Mamah juga gak terlalu banyak ngundang orang-orang, hanya sahabat dan kerabat Mamah saja, gimana dong Atar? Kamu di tanya dari tadi malah bengong aja! Bukan mencari jalan keluarnya!" ucap Bu Ambar, menatap kesal pada Atar yang sejak tadi hanya diam saja.
Padahal Atar diam, sedang memikirkan hal itu juga. "Ya gimana lagi, Mah. Udah terlanjur juga. Lagian kalau menurut Atar, tidak mungkin All berani mengakui Diana sebagai istrinya saat ini, apa lagi ada Tante Lusi, hidup Atar di setir sama dia, lagian gak akan ada yang percaya juga kalau Diana yang mengaku kalau istrinya All."
"Hais, kanapa kamu berkata sangat pedas sekali Atar. Tapi bener juga sih, kita lihat bagaimana reaksi All, kita pura-pura tidak tahu saja. Eh iya, apa Diana sudah tahu kalau kamu mengenal All?" tanya sang Mamah.
"Bagus! Kita lihat bagaimana reaksi mereka nanti. Kalau All cuek, nanti setalah ini kita susun rencana buat bantu Diana, cari jalan keluarnya," ujar sang Mamah.
Atar terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya. Sebenernya Atar sudah ada rencana sendiri, akan tetapi sejak di perjalanan tadi, ia berpikir lagi. Ia juga tidak mau gegebah, apa lagi Atar belum tahu kenapa alasan All meninggalkan Diana. Ya, walaupun sedikit bisa menebak, All meninggalkan Diana, lalu menikahi Venna! Alasan menikah Venna, yang belum Atar ketahui ini.
"Ya sudah ayo kita kembali, kasian juga Diana ditinggal lama-lama," ajak Bu Ambar. Lagi Atar menganggukkan kepalanya. Lalu ia mengikuti langkah sang Mamah.
***
"Hey, kamu!"
Sebuah suara terdengar memekik, membuat Diana yang sedang duduk di sofa menoleh kearah sumber suara tersebut.
Diana melihat seorang wanita yang umurnya seperti sepantaran dengannya dengan berjalan dengan gaya angkuhnya.
"Kamu pembantu ya di sini? Kok malah enak-enakan duduk di sini, bukannya bantuin acara di belakang," ucap wanita tersebut sambil menunjuk kearah Diana.
Diana cukup terkejut. "Buk ... " Belum saja Diana menyelesaikan ucapannya, ia ingin mengatakan kalau dirinya bukanlah pembantu di sana, namun wanita itu sudah menyelanya.
__ADS_1
'Apakah kerena pakaianku tidak sesuai dengan dia, makanya dia mengira aku pembantu di sini,' batin Diana.
"Di mana Tante Ambar sama Atar hah?" tanyanya menatap remeh pada Diana.
"Tante di sini Venna, ada apa sih?" Tiba-tiba saja Bu Ambar yang baru saja kembali menyahut ucapan Diana.
"Eh Tante, ini Venna di suruh Mamah Lusi buat manggil Tante," jawab Venna, raut wajahnya langsung berubah manis saat berbicara dengan Bu Ambar.
Diana yang melihat itu semua, langsung mengusap perut buncitnya itu. Diana merasa heran, kok ada orang seperti itu? 'Hais, wajar Diana, dia orang kaya, jadi pasti akan menganggap kamu rendahan, kerena berbeda kasta!' lagi-lagi Diana membatin.
"Oh, ya sudah ayo kita ke sana," ajak Bu Ambar.
"Ayo, Diana," lanjutnya pada Diana.
Diana langsung tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya.
"Eh, dia siapa Tante? Tamu Tante ya, kirain Venna dia bab-"
"Jangan sembarang bicara!" sela Atar memotong ucapan Venna, sambil menatap kearah wanita itu dengan tatapan tajamnya.
Membuat Venna langsung mengalihkan pandangannya.
"Iya, dia tamu istimewa Tante malam ini," ujar Bu Ambar.
"Tamu istimewa dari mananya? Istimewa apanya coba?" gumam Venna, namun masih terdengar oleh mereka.
"Sudah Diana, jangan dengarkan wanita ini, ngomong emang suka ngelantur kemana-mana," ucap Atar, lalu menarik tangan Diana.
Diana cukup terkejut, ia mencoba melepaskan tangannya dari Atar, tapi pria itu menggenggamnya dengan erat, akhirnya Diana pun tak bisa apa-apa, ia pasrah mengikuti langkah pria itu. Tak mungkin, Diana berontak yang ada menjadi suasana semakin kacau.
Bu Ambar mengikuti langkah mereka, pun dengan Venna, terlihat wajahnya ditekuk bak pakaian yang belum disetrika.
"Atar, dari mana saja kamu? Apa kau tahu aku sudah menunggu dari tad-" suara tersebut seperti menggantung di udara, ia tidak melanjutkan ucapannya, saat melihat Atar bersama dengan seorang wanita.
"Mas Daffa?"
Bersambung ...
__ADS_1