
'Tidak! Aku tidak mungkin hamil, aku melakukannya dengan Mas Daffa hanya pada malam pertama saja. Tapi, kalau benar bagaimana?' batin Diana lagi.
"Mbak, kok malah bengong sih!" sentak Susi, sejak tadi ia memperhatikan Diana seperti tengah melamun.
"Eh, iya Susi, kenapa?" Diana terkejut, ia langsung menatap temannya itu.
"Ih, Mbak Diana ini gimana sih, aku nanya Mbak malah baik nanya! Lagi ngelamunin apa sih, Mbak? Apa ada sesuatu yang Mbak Diana sembunyikan dari aku dan Melati, atau jangan-jangan tebakan Melati tadi benar, kalau Mbak Diana lagi hamil?" Susi menatap Diana dengan tatapan menyelidiknya.
"Hais, apaan sih kamu, Sus. Mentang-mentang tadi aku nitip rujak sama Melati, terus kalau orang kepengen rujak semuanya dibilang ngidam gitu?" jawab Diana, dengan mengerucut bibirnya.
"Ya enggak juga sih, Mbak. Lagian kenapa sih? Mbak kok berasa sewot bengat dibilang hamil, kalau hamilkan bagus, banyak loh orang-orang diluar sana yang pengen hamil, tapi susah," ujar Susi. "Mbak itu kaya orang khawatir gitu, hamil ya wajar Mbak, punya suami mah, harusnya Mbak itu senang!" lanjutnya.
Itulah Susi, orangnya memang gamblang. Namun, Diana sudah paham.
"Bukannya khawatir, Sus. Aku belum siap aja," kilah Diana.
"Hehe, iya sih paham. Masih baru-barunya, pasti pengen merasakan pacaran habis nikahan 'kan."
Diana tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya. Sebenernya bukan itu masalahnya, jika saja mereka tahu bagaimana posisi Diana saat ini.
'Sepertinya sepulang dari toko aku harus beli alat tes kehamilan,' batin Diana, sebenernya ia pun merasa sangat penasaran, mengingat kembali, ia lupa kapan terakhir ia mentruasi. Kalau tidak salah, seminggu sebelum ia menikah dengan Daffa.
'Ya Allah ... semoga saja semua ini tidak benar. Maafkan aku Ya Allah, bukannya aku ingin menolak anugrah, tapi rasanya semua ini terlalu berat jika memang aku hamil,' batinnya.
Bimbang, itulah yang saat ini Diana rasakan. Jika saja Daffa saat ini masih ada di sampingnya, Diana tidak akan mempermasalahkan semua ini. Dirinya pasti akan merasa bahagia jika memang dirinya hamil. Tapi, kenyataannya? Bahkan Daffa sampai detik ini pun tidak ada kabar, Diana tidak tahu Daffa di mana.
***
Tepat jam 4 sore toko sudah tutup. Diana kini sudah bersiap untuk pulang. Namun, sebelum ia pulang, ia mampir terlebih dahulu ke salah satu Apotek, untuk membeli alat tes kehamilan. Setalah selesai, Diana menuju salah satu minimarket, ia ingin membeli beberapa keperluannya dengan gajih pertama yang ia dapatkan dari Bu Hilma tadi.
"Masih ada sisa lumayan banyak, uang untuk makan sebulan kedepan sudah aman. Apa aku beli ponsel saja ya? Kira-kira sisa uang ini cukup apa tidak ya untuk membeli ponsel baru?" ucap Diana, sambil melihat uang yang ada di dalam dompetnya itu.
Kebetulan juga ia mendapatkan bonus dari Bu Hilma, kerena penjualan bulan ini jumlahnya cukup besar, Diana merasa sangat bersyukur. Ia sudah menyisihkan sebagian uangnya untuk makan selama sebulan ke depan, tak lupa ia juga menyisihkan untuk sewa kontrakan, dan kini sisanya tinggal satu juta lima ratus lagi. Diana berniat ingin membeli ponsel, kerena ponsel lamanya yang rusak itu, sudah tidak bisa lagi diperbaikinya, sebenernya bisa hanya saja biaya servisnya sangat mahal.
__ADS_1
"Aku coba beli ponsel yang second sajalah, harga satu jutaan pasti ada, jadi yang lima ratus ribunya bisa aku simpan, takut ada keperluan mendadak."
Diana pun mampir terlebih dahulu ke sebuah toko ponsel yang menjual ponsel baru dan bekas, yang kebetulan lokasi tak jauh dari minimarket tersebut.
Bertanya-tanya sebentar, akhirnya Diana pun membelinya. Sepertinya rencana awal ia membeli ponsel bekas. Baginya tidak perlu ponsel baru, atau ponsel yang mahal-mahal, yang penting ponsel itu bisa digunakan dengan baik. Malah, tadi Diana iseng-iseng menawarnya, dan ia mendapatkan harga dibawah satu juta, lumayan ada 150 ribu sisanya.
Dengan senyuman yang terambang di wajah cantiknya itu, Diana pun kembali melanjutkan langkahnya pulang menuju kontrakkan. Jaraknya tidak terlalu jauh, jadi Diana hanya berjalan kaki saja Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit, akhirnya Diana pun sampai.
Tapi, Diana tidak langsung ke rumah kontrakan, melainkan ia mampir dulu sejak ke rumah Bu Tina.
"Assalamualaikum, Bu ... " ucap Diana mengucap salah.
"Wa'alaikumusalam, Eh Diana. Udah pulang?" sahut Bu Tina, yang baru keluar dari rumahnya. Kebetulan pintu rumah Bu Tina sejak tadi memang terbuka.
"Iya, Bu," jawab Diana.
"Ya udah ayo masuk, Ibu barusan beres masak, makan sama-sama yuk di dalam," ajak Bu Tina sambil mempersilahkan Diana masuk.
"Apa ini, Di?" Bu Tina tidak langsung mengambilnya.
"Ini es buah sama tempe mendoan buat Ibu sama anak-anak. Tadi pas pulang Diana ingat kalau anak Ibu suka banget sama makanan ini," ujar Diana. Ia kembali menyodorkan bungkusan tersebut pada Bu Tina.
"Ya Allah, Diana. Gak usah repot-repot padahal. Sayang loh uangnya, mending kamu simpen, Di!" ujar Bu Tina. Ia bukanya tidak suka dibelikan makanan oleh Diana, tapi ia mengingat kembali kondisi Diana.
"Gak apa-apa, Bu. Kebetulan Diana tadi habis gajihan, ya itung-itung aja Diana teraktir Ibu gitu, ya walaupun cuman Es buah sama tempe mendoan doang," ucap Diana sambil tersenyum.
"Allhamdulilah, kalau kamu udah gajihan. Ibu ikut senang, ya sudah ini Ibu terima ya. Makasih banyak loh, Di. Ya udah yuk, mending kita masuk, kita makan sama-sama. Lagian kamu itu cuman bawa bahan makanan, ya harus di masuk dulu baru bisa dimakan, mending makan di sini, udah tinggi am!" Tanpa menunggu jawaban dari Diana, Bu Tina langsung menarik tangan Diana.
Akhirnya Diana pun ikut masuk ke dalam rumah. Mereka pun langsung makan, hanya berdua saja, kerena anak-anak Bu Tina sedang keluar dua-duanya.
"Oh iya, Bu. Diana mau cerita sesuatu sama Ibu, tapi nanti setalah makan saja," ucap Diana di sela makannya.
"Baiklah, ya sudah makan yang banyak," sahut Bu Tina.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, mereka pun selesai. Diana dan Bu Tina kini tengah berada di ruang tamu rumah tersebut.
"Ayo, kamu mau cerita apa, Di? Ibu udah penasaran banget loh?" tanya Bu Tina, terlihat sekali ia sangat penasaran.
Diana menghelai napasnya sejanak, lalu ia pun menceritakan tentang apa yang kini tengah mengganjal di hatinya. Diana kini sudah tak merasa sungkan lagi pada Bu Tina, bahkan ia sudah seperti menganggap Bu Tina seperti Ibunya sendiri, pun sebaliknya.
"Bu, Diana telat datang bulan," ucap Diana pelan.
"Apa?" Bu Tina terkejut. "Bagus dong, Di. Udah di cek belum, gimana hasil? Beneran positif?" lanjutnya, wajah Bu Tina nampak sumringah.
"Belum, Bu," jawab Diana sambil menunduk kepalanya, "aku takut."
Bu Tina menghelai nafasnya, lalu ia meraih tangan Diana. "Di, ibu mengerti posisi kamu. Tapi, jika benar kamu hamil, kamu harus senang Diana. Kehamilan itu sebuah rezeki dari Tuhan, kita harus mensyukurinya. Dengar Diana, semua akan baik-baik saja. Ibu akan selalu ada di samping kamu," tutur Bu Tina dengan lembut, ia mencoba memberikan pengertian pada Diana.
Walaupun sebenernya ia tahu apa yang di rasakan Diana saat ini, pasti Diana tengah bimbang.
Diana masih terdiam dengan kepala yang menunduk, apa yang dikatakan Bu Tina memang benar. Tapi, apakah Diana mampu menjalani semuanya serba sendiri jika benar dia hamil nantinya?
"Udah jangan banyak pikiran, sebaiknya kamu istirahat. Satu lagi, coba di cek dulu kebenarannya, kamu hamil apa tidaknya," lanjut Bu Tina.
Diana pun mengangguk, setalah itu ia pun berpamitan pada Bu Tina. Diana pulang ke rumah kontrakan yang tak jauh dari rumah Bu Tina.
Sesampainya di rumah, usai menyimpan tas dan belanjaannya, Diana pun langsung menuju kamar mandi, tak lupa ia juga membawa alat tes kehamilan yang tadi ia beli.
Menampung urinnya ke wadah kecil, setalah itu Diana pun mengeluarkan alat tes kehamilan tersebut, lalu mencelupkannya secara pelan, terlihat tangannya gemetaran.
Beberapa detik kemudian, Diana pun mengangkat alat tes kehamilan tersebut. Ia memejamkan matanya saat menunggu hasilnya.
Tangan Diana semakin bergetar hebat, saat ia membuka matanya dan melihat hasil dari tes urinnya tersebut. Matanya membulat sempurna diiringi dengan tetesan air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
Detik kemudian kepalanya menggeleng-gelengkan, Diana merasa tidak percaya dengan hasil yang ia lihat.
Bersambung ...
__ADS_1