Ayah Kandung Anakku

Ayah Kandung Anakku
Bab Dua Puluh Tiga


__ADS_3

Daffa baru saja sampai di kediamannya. Ia berjalan gontai memasuki rumah, sekilas Daffa melirik kearah garasi di sana terlihat sudah ada mobil milik sang Mamah. Yang artinya Bu Lusi dan Venna sudah tiba di rumah lebih dulu.


"Dari mana saja kamu?" Suara sang Mamah terdengar menggema di ruang tamu, menyambutnya.


Daffa tak menjawab, ia memilih mengacuhkan sang Mamah dan berlalu begitu saja menuju kamar, akan tetapi langkah Daffa kembali terhenti saat sang Mamah berucap kembali.


"Ingat perjanjian kita, All-Daffa. Kamu sudah sepakat dengan semua ini, jangan hancurkan semuanya, semuanya sudah sejauh ini. Lebih baik kamu lupakan saja wanita miskin itu! Dia sama sekali tidak pantas untukmu! Dan satu lagi, apa kamu tidak lihat kalau sekarang dia sedang hamil, Mamah yakin kalau anak itu pasti anak pria lain!"


"Tunggu! Jadi Mamah tahu kalau dia ... " Daffa menatap sang Mamah dengan tatapan penuh selidik. Selama ini Daffa tidak pernah memperkenalkan Diana pada keluarga, tentu saja Daffa merasa terkejut saat ia tahu ternyata sang Mamah tahu wanita yang tadi adalah Diana, istri pertama Daffa.


"Ya, Mamah tahu. Wanita itu sungguh tidak layak untuk kamu, sebaiknya kamu segara ceraikan dia, sebelum Venna mengetahui semaunya!" sela Bu Lusi, ia meminta Daffa untuk menceraikan Diana.


Tentu saja ia tidak mau rencananya yang selama ini sudah ia susun rapi menjadi berantakan, hanya kerena wanita miskin seperti Diana, pikirnya.


"Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan Diana. Aku mencintainya Mah! Mungkin, yang harus aku ceraikan adalah Venna, kerena aku sama sekali tidak mencintai dia!" tolak Daffa mentah-mentah.

__ADS_1


"Apa kamu gila hah? Cinta? Persetan dengan cintamu itu Daffa! Apa yang bisa kamu banggakan dengan cinta hah! Hidup itu realistis Daffa! Pokoknya Mamah gak mau tahu ya! Kamu segara ceraikan dia, jauhi dia, jangan sampai Venna mengetahui semuanya. Jika kamu tidak memenuhi permintaan Mamah, jangan salahkan Mamah kalau Mamah yang akan bertindak tegas, Daffa!" pekik Bu Lusi, dengan tatapan yang tajam mengarahkan pada Daffa.


Usai berkata seperti itu, Bu Lusi pun berlalu dari sana. 'Baiklah, jika kamu kekeuh tidak mau. Biarkan Mamah yang akan menanganinya dia! Aku tidak rela kalau sampai Venna tahu soal pernikahan Daffa dengan Diana, bisa hancur semua rencanaku!' batin Bu Lusi.


Daffa menatap punggung sang Mamah yang berlalu meninggalkan. Daffa semakin merasa ada yang janggal dengan gelagat Mamahnya itu.


Daffa merasa semakin yakin, kalau sang Mamah menyembunyikan sesuatu darinya. Dan tentang kematian sang Papa, entah mengapa Daffa merasa kalau Papanya belum meninggal. Apa mungkin semua ini hanya akal-akalan Mamahnya?


"Aku harus meminta Atar untuk menyelidiki semua ini," gumam Daffa. Ia sudah mengeluarkan ponselnya berniat ingin menghubungi Atar. Namun, Daffa baru teringat kalau ia dan Atar tengah bertengkar.


Tidak tahu harus bagaimana, Daffa pun memutuskan meneruskan langkahnya. Ia berjalan menuju kamarnya.


"Ya ampun Mas! Kamu dari mana aja sih hah? Kenapa telepon aku gak diangkat? Terus kenapa kamu tadi ngilang gitu aja pas di pestanya Tante Ambar?" Cerca Venna, saat Atar masuk ke dalam kamarnya.


"Bisa gak sih hah kamu diam!" bukannya menjawab semua pertanyaan istrinya itu, Daffa malah membentaknya.

__ADS_1


Ya, bagaimana Daffa tidak kesal. Terlalu banyak masalah yang kini dihadapinya dan kini satu lagi biang masalah tiba!


"Kok, kamu malah marah sih? Aku itu khawatir sama kamu tau!" ucap Venna lirih menunduk kepalanya.


Daffa menghelai napas beratnya. Entahlah ia juga bingung harus bagaimana sekarang.


Seperti Daffa harus segara mencari jalan keluarnya, ia tidak mau terus menerus terikat dengan Venna, yang pada dasarnya ia tidak cinta. Kalau dipikir pun Daffa merasa kasihan pada Venna, kerena sikap Daffa tidak pernah bersahabat dengannya.


"Sorry," ucap Daffa pada Venna.


Venna tak menjawab, ia malah terisak tangis.


Lagi, Daffa menghelai nafas beratnya. Kasihan pada Venna, dan sedikit merasa bersalah juga, tapi untuk membujuk wanita itu, berat juga bagi Daffa jadi ia memutuskan untuk ke kamar mandi saja.


'Kapan kamu bisa menerima aku, Daffa?' batin Venna seraya melirik langkah Daffa lewat ekor matanya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2