
"Terima kasih ya, Bu Ambar. Sekali lagi maaf saya merepotkan Ibu," ucap Diana sebelum ia turun dari mobil mewah tersebut.
Diana sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter, dan ia diantarkan oleh Bu Ambar pulang.
"Sama-sama, tidak apa-apa Diana. Oh iya rumah kamu sebelah mana?" tanyanya.
"Agak masuk gang, Bu. Saya ngontrak di sana. Apa Ibu mau mampir dulu?" tawar Diana.
"Emm, gimana ya. Sebenernya sih saya mau, tapi sayangnya saya harus menghadiri sebuah acara, maaf ya saya gak bisa ngenterin sampai rumah."
"Tidak apa-apa, Bu. Semua yang Ibu lakukan sudah lebih dari cukup, justru saya yang meminta maaf karena sudah menganggu waktu Ibu," ujar Diana yang masih tidak enak hati dengan Bu Ambar.
"Santai saja," ucap Bu Ambar sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi, Bu. Mari ... " Diana berpamitan, setalah itu ia pun keluar dari mobil tersebut.
Diana masih berdiri di tepi jalan, menunggu sampai mobil Bu Ambar berlalu dari sana. Setalah mobil itu berlalu, Diana pun segara berjalan masuk ke dalam gang menuju rumah kontrakan.
Sesampainya di sana, Diana melihat Bu Tina yang berdiri mondar-mandir di depan teras kontraknya.
"Assalamualaikum, Bu." ucap Diana.
"Ya Allah, Diana. Akhirnya kamu pulang juga, sejak tadi saya nunggu kamu, kamu gak pulang-pulang? Kamu baik-baik sajakan?" cerca Bu Tina, sambil memegangi bahu Diana. Terlihat wanita itu sangat mengkhawatirkan Diana. Saking khawatirnya ia sampai lupa menjawab salam Diana.
"Masuk dulu, Bu. Diana jelaskan di dalam." Diana tidak langsung menjawabnya, ia segara membuka kunci pintu, lalu mempersilahkan Bu Tina masuk.
__ADS_1
Semenjak Daffa pergi, entah kemana. Bu Tina sering menemui Diana, untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja. Tak hanya itu Bu Tina pun membantu Diana untuk mencari Daffa, akan tetapi hasilnya sama dia belum mendapatkan petunjuk apa-apa, tentang keberadaan Daffa.
Selain itu Bu Tina juga merasa iba pada Diana, terlebih dia tahu kalau Diana tidak punya keluarga lagi di sana, Diana yatim piatu, sama halnya juga dengan dirinya, ia yatim piatu, serta janda beranak 2, kerena suaminya sudah meninggal 3 tahun yang lalu.
"Saya khawatir sama kamu, Diana. Pagi-pagi kamu tadi pamit sama saya buat pergi nyari Daffa, dan dari siang sampai sore tadi hujan deras sekali, belum lagi disertai angin sama petir, saya takut kamu kenapa-kenapa. Sebenernya apa yang terjadi, kenapa malam begini kamu baru pulang sih? Dan itu, itu kenapa tangan sama lutut kamu diperban begitu?" Bu Tina terkejut, ia baru melihat luka yang dialami oleh Diana.
"Saya baik-baik aja kok, Bu. Ini hanya luka ringan aja kok," jawab Diana.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Diana? Ceritakan sama saya?" desak Bu Tina.
Diana pun menceritakan semuanya, mulai tasnya di jembret, ia putus asa sehingga bertingkah dangkal ingin mengakhiri hidupnya, Diana pun menceritakan tentang Bu Ambar yang menabraknya, ah bukan tepatnya Diana yang sebenernya bersalah.
"Saya gak tahu harus bagaimana lagi sekarang, Bu? Sampai saat ini Mas Daffa belum ada kabar juga, dia hilang bak ditelan bumi, bahkan kita sama sekali tidak mendapat petunjuk dimana keberadaan dia, polisi pun tidak ada kabarnya. Apa aku menyerahnya saja ya, Bu? Belum lagi, saya bingung. Saya sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi, sisa uang yang saya punya semuanya ada di dalam tas yang diambil sama jembret itu," ucap Diana sambil terisak tangis, usai menceritakan semuanya pada Bu Tina.
"Sebaiknya kamu berhenti mencari Daffa saja, Diana. Maaf, bukannya saya mempengaruhi kamu, tapi saya begini karena mengkhawatirkan kamu juga. Apa lagi mendengar cerita kamu tadi, kita sudah melakukan semua cara, bahkan sudah melaporkan pada pihak polisi, kita tunggu saja kabar dari mereka. Kita pasrahkan saja semuanya pada yang berwajib dan Sang Pencipta, doakan saja dimana pun suami kamu berada, semoga dia baik-baik saja," kata Bu Tina.
"Dan untuk masalah uang, jika kamu butuh apa-apa bilang saja sama saya, tidak sudah sungkan. Anggap saja saya ini keluarga kamu, di sini kita sama. Sudah tidak punya siapa-siapa, memang beda cerita nasib kita, tapi intinya kita sama, Diana," imbunnya.
"Terima kasih, Bu. Saya gak tahu lagi harus dengan cara apa berterima kasih pada Ibu, Ibu baik banget sama saya." Diana merasa beruntung, setidaknya di saat tengah ke susah masih ada orang yang baik dan tulus membantunya. Walaupun Bu Tina bukan keluarganya.
"Sama-sama, Diana. Saya tidak butuh apa pun dari kamu, hanya satu permintaan saya. Kamu harus semangat, dengan atau tanpa ada suami kamu di sini. Oh iya, apa kamu sudah makan? Ibu masak banyak di rumah, ayo makan sama-sama, kebetulan anak ibu juga baru pada pulang," ajaknya.
"Terima kasih, Bu. Tapi, Diana udah makan tadi. Emmm, Bu ... Minggu depan bayar kontrakan ya? Emm,"
"Sudah jangan dipikirkan, lagian untuk 3 bulan ke depan, uang sewanya sudah dibayarkan sama Daffa sebelumnya."
__ADS_1
Diana merasa sedikit lega, setidaknya ia masih ada waktu untuk mencari uang lagi, untuk membayar sewa di bulan-bulan selanjutnya. Sepertinya Diana harus mulai mencari kerja, benar kata Bu Tina. Sepertinya sudah cukup saja, Diana pasrah, setidaknya ia sudah berusaha mencari Daffa, semoga saja secepatnya Diana mendapatkan kabar dari pihak polisi tentang keberadaan suaminya.
"Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Saya merasa sedikit lega. Oh iya, Bu. Kalau ada kenalan Ibu, teman atau siapa saja yang mencari Asisten rumah tangga, kabarin ya atau kerja apa aja. Soalnya Diana butuh," ucap Diana.
"Iya saya mengerti, nanti saya akan kabarin kamu ya. Kalau begitu saya pulang dulu, kamu istirahat jangan banyak pikiran," pamit Bu Tina.
Diana mengangguk, tak lupa ia juga berterima kasih kembali pada Bu Tina.
Selepas kepergian Bu Tina, Diana pun membersihkan diri. Beberapa saat kemudian Diana pun selesai, ia segara berganti pakaian mengambil pakaiannya dalam lemari.
Saat membuka lemari, Diana melihat lagi sehelai baju milik suaminya yang tertinggal di sana, entah tertinggal atau memang di tinggalkan. Diana masih tidak mengerti.
"Mas, apa yang sebenernya terjadi? Apa memang kamu sengaja pergi dari sini, meninggalkan aku sendiri, aku ingat jelas di sini banyak baju kamu yang bertumpuk, kamu membawanya kan Mas? Berarti kamu memang sudah berniat pergi," gumam Diana, diiringi dengan air mata yang mulai menetes dari sudut matanya.
Perlahan Diana pun mengambil baju milik suaminya, ia mendekap erat baju tersebut. Rindu, ia sangat merindukan suaminya itu. Teringat masa-masa indah mereka saat berpacaran, hingga setalah pernikahan, malam pertama yang sangat berkesan, namun semua itu semuanya hanya tinggal kenangan.
"Aku rindu sama kamu, Mas. Di mana kamu sekarang?" lirih Diana sendu.
Tatapan Diana terhenti di salah satu benda, tak lain adalah dompet milik suaminya yang beberapa saat lalu ia temukan bersama baju tersebut.
Penasaran, Diana pun mengambilnya. Ragu, namun ia memberanikan diri untuk membukanya. Terlihat di dalam dompet tersebut ada sekitar 20 lembar uang kertas berwarna merah, satu ATM dan sebuah kertas yang terselip di sana.
"Apa ini?" gumam Diana seraya mengambil selembar kertas tersebut.
Bersambung ...
__ADS_1