Ayah Kandung Anakku

Ayah Kandung Anakku
Bab Tujun


__ADS_3

Perlahan Diana pun membuka kertas tersebut, ia kiri isinya surat dari suaminya, ternyata bukan, di sana hanya tertulis berupa angkat 6 digit.


"Nomer apa ini?" Diana berpikir sejak, apa mungkin ini nomer pin ATM tersebut? Pikirnya. Tapi, untuk apa Daffa menuliskannya di sana.


Diana mebolak-balik kertas tersebut, siapa tahu di sana masih ada informasi lagi. Sayangnya tidak ada, hanya nomer 6 digit itu saja yang tertulis.


Tak mau banyak pikiran, Diana pun memutuskan untuk menyimpan lagi uang, ATM dan kertas itu kembali ke dompet tersebut. Itu milik Daffa, walaupun Daffa suaminya, Diana ragu untuk menggunakannya.


Atau mungkin Daffa sengaja meninggalkan itu semua untuk Diana, tapi ada lagi pesan yang tertulis di sana yang menunjukkan bahwa itu sengaja Daffa tinggalkan untuk dirinya.


***


"Di, Diana ... " terdengar suara seseorang mengetuk pintu sambil memanggilnya.


"Iya, sebentar Bu Tina," sahut Diana. Ia segara membuka pintu rumah kontrakannya.


"Di, Ibu punya kabar bagus!" seru Bu Tina dengan wajah yang sangat sumringah.


Diana merasa heran, tapi ia juga penasaran. Kabar apa yang Bu Tina akan katakan? Apa mungkin Bu Tina mempunyai kabar tentang Daffa.


Walaupun Diana menang sudah pasrah tidak mencari suaminya, tapi ia masih berharap Daffa kembali dengan keadaan baik-baik saja. Bagaimana pun Daffa adalah suaminya, pria yang sampai detik ini masih memenuhi benak serta hatinya Diana.


"Masuk dulu, Bu," ajak Diana. Bu Tina pun langsung mengangguk dan masuk ke dalam.


"Tadi Ibu ke pasar, terus ketemu sama teman. Kebetulan sekali, beliau meminta Ibu buat cari orang yang kerja di toko perhiasan miliknya. Ibu ke ingat sama kamu, Diana. Apa kamu mau kerja di sana, soal gajih sih Ibu belum tanya, tapi kalau kamu mau besok kita ke sana, Ibu anterin kamu," jelas Bu Tina, terlihat sangat bersemangat menjelaskan semuanya.

__ADS_1


"Diana mau, Bu. Mau bengat, tapi Diana cuman lulusan SMP, Bu. Emang gak apa-apa?" Diana merasa sangat senang mendengar kabar tersebut, akan tetapi ia merasa pesimis juga mengingat pendidikannya yang minim, setahu Diana biasanya orang-orang yang kerja di sana, minimal lulusan SMA.


"Gak apa-apa, Ibu yakin kamu orangnya cerdas. Kamu coba aja dulu, siapa tahu ada rezeki kamu, Di. Kata temen Ibu tadi, yang penting orangnya jujur, baik, dan ulet," ujar Bu Tina.


"Bismillah aja ya, Bu. Diana besok akan coba ke sana."


"Iya, besok Ibu antarkan."


Diana menganggukkan kepalanya, lagi-lagi Diana merasa beruntung bisa mengenal Bu Tina.


"Oh iya ini, Ibu bawakan makanan buat kamu. Di makan ya, Ibu mau pulang dulu, mau siap-siap, nanti sore mau nagih uang sewa kontrakan yang di depan," pamit Bu Tina, seraya memberikan bungkus makanan yang ia bawa pada Diana.


"Makasih banget ya, Bu. Kalau gak ada Ibu, aku gak tau nasibku akan gimana," lirih Diana. Antara senang tapi ia juga merasa tidak enak hati, kerena merasa selalu merepotkannya.


"Kita sudah sering membahas soal ini. Ibu udah bilang sama kamu, jangan membahasnya, Ibu tulus membantu kamu Diana, Ibu sudah anggap kamu sebagai keluarga. Sudah ah, Ibu pulang dulu ya." Setalah berkata seperti itu, Bu Tina langsung berlalu dari sana.


***


Satu bulan berlalu ...


Diana kini sudah berkerja di toko perhiasan milik teman Ibu Tina, allhamdulilah Diana merasa senang bisa berkerja di sana, selain rekan kerjanya yang sangat baik, Bu Hilma sang pemilik toko pun sangat baik padanya.


"Eh Bu Hilma kok belum datang juga?" tanya Susi, dia adalah teman kerjanya Diana, di toko tersebut ada tiga karyawan. Diana, Susi dan Melati.


"Iya nih, padahal udah siang, inikan tanggal kita gajihan, gak biasanya Bu Hilma belum datang." Melati ikut menimpali.

__ADS_1


"Mungkin lagi di jalan, apa lagi ini hari Minggu jalanan suka macet di depan," ucap Diana, yang akhirnya membuka suara.


Susi dan Melati terlihat mengangguk lemas.


"Udah masuk jam makan siang nih, giliran siapa nih yang beli makanan?" tanya Diana.


Melati terlihat mengacungkan tangannya dengan wajah yang terlihat lemas. Diana hanya terkekeh pelan melihatnya.


"Udah jangan lemes begitu, nanti Bu Hilma pasti datang," lanjut Diana.


"Ya udah sini mana uangnya, biar aku beliin makanan, mau makan apa?" tanya Melati pada Diana dan Susi. Mereka memang seumuran, hanya saja Melati dan Susi masih lajang dan Diana sudha menikah, namun baik Susi maupun Melati, mereka tidak tahu kalau Diana ditinggal oleh suaminya.


"Aku masih Padang aja deh, biasa pelet 10 rebuan aja," jawab Susi, sambil menyerahkan uang 10 ribu pada Melati.


"Kalau Mbak Diana, mau apa?" tanya Melati, ya walaupun mereka seumuran, Melati dan Susi memanggil Diana dengan sebutan 'Mbak' katanya karena Diana sudah menikah. Gak enak kalau panggil sebut nama.


"Aku sih belum leper, soalnya tadi pagi sarapan nasi uduk, tapi aku pengen yang segar-segar," jawab Diana. "Rujak enak kali ya, tapi pake mangga muda, sama buah-buahan yang asem-asemnya aja ya," lanjutnya, sambil memberikan uang pada Melati.


"Hais, Mbak ini kaya orang ngidam aja!" ucap Melati seraya mengambil uang tersebut.


"Ya gak apa-apa Kali, Ti. Ngidam juga, wajarlah, Mbak Diana kan udah nikah, kalau kamu hamil, itu gak wajar, tapi kurang ajar!" pungkas Susi sambil tertawa.


"Amit-amit, udah ah aku pergi dulu ya. Byee ... " Melati pun bergegas dari sana.


Sementara Susi masih tertawa, apa lagi melihat reaksi Melati yang kesal padanya. Sementara Diana, mendengar candaan kedua temannya itu, ia langsung terdiam.

__ADS_1


'Hamil?'


Bersambung ...


__ADS_2