
Diana menghentikan langkah lalu berbalik kearah wanita yang memanggil barusan, wanita itu yang tak lain adalah Bu Lusi, Mamahnya All-Daffa.
'Bukankah dia itu, Mamahnya Mas Daffa?' batin Diana, mengingat kembali kejadian sebelumnya.
"Ada apa ya, Bu?" tanya Diana, sebisa mungkin ia bersikap ramah. Walaupun, sebenernya Diana merasa bingung, ada apa Bu Lusi memanggilnya?
Bu Lusi berjalan mendekati Diana, tanganya merongoh ke dalam tas yang ia bawa. "Ini untuk kamu, setalah ini kamu pergi dan jangan pernah muncul lagi di kehidupan All atau pun kami, enyah kau dari sini!" ucap tegas Bu lusi seraya memberikan amplop tebal berwarna coklat pada Diana. Sudah bisa dipastikan jika dalam amplop tersebut pasti isinya sejumlah uang.
Diana terkejut, apa-apa ini? Apa maksudnya?
"Maaf, maksud apa ya, Bu?" tanya Diana, ia berpura-pura tidak mengerti. Walaupun sebenernya Diana sedikit paham maksud dari wanita parubaya yang dihadapannya itu.
Dia memberikan sejumlah uang agar Diana pergi dari kehidupan Daffa. Bukahkah seperti itu? Tapi, tunggu! Kenapa Bu Lusi bisa tahu jika Diana dan Daffa ada hubungan? Atau jangan-jangan Daffa menceritakan pada keluarga tentang dirinya, pikir Diana.
__ADS_1
Bu Lusi tersenyum sinis sambil menatap Diana dengan tatapan meremehkan. "Sudahlah, kamu jangan sok polos, jangan sok tidak tahu apa-apa! Saya yakin kamu mengerti apa yang saya maksud!" ucap Bu Lusi.
"Dengar, sekali lagi kamu muncul di depan saya, atau pun keluarga saya, terutama All! Saya pastikan akan membuat kamu menyesal! Saya tidak segan-segan membuat kamu dan bayi dalam kandungan kamu itu celaka! Paham kamu Diana?" lanjutnya.
Diana malah tersenyum, demi apapun Diana tidak takut sama sekali. Ia masih mempunyai Tuhan yang akan melindungi dirinya dan juga calon anakknya. Namun, Diana benar-benar tak habis pikir? Di mana hati nurani wanita itu? Bukankah dia adalah Ibu mertua Diana, dan bayi yang ada dikandungnya Diana, sudah dipastikan adalah cucunya!
Tega sekali dia berniat ingin mencelakainya. Diana mencoba menghadapi Bu Lusi dengan tenang, ia tidak mau terbawa emosi, walaupun sebenernya amarah di dada serasa membara. Di sisi lain, Diana juga tidak mau gegabah, ia bisa melihat jika orang seperti Bu Lusi akan berbuat nekat untuk melakukan apa saja. Setidaknya ia harus berhati-hati.
"Maaf Bu, saya sama sekali tidak butuh uang ini! Diana menepis tangan Bu Lusi yang sejak tadi menyodorkan amplop yang berisi uang tersebut.
"Kamu mau saya mengakui kamu sebagai menantu begitu hah? Terus kamu mau diakui oleh All, kalau kamu itu adalah istrinya, atau kamu mau pengakuan dari All kalau bayi yang ada dikandung kamu itu adalah anaknya hah? Iya begitu, Diana?" Bu Lusi kembali tertawa mengejek Diana.
"Jangan pernah bermimpi, kamu dan All itu bagaikan langit dan bumi, kalian tidak cocok! Harusnya kamu sadar diri! wanita seperti kamu sama sekali tidak pantas untuk anak saya! Dan kamu sendiri tahu bukan, kalau All sekarang sudah bahagia, dia sudah menikah dengan wanita yang memang pantas menjadi istrinya! Tidak seperti kamu!" maki Bu Lusi, ia mendorong bahu Diana.
__ADS_1
Diana kehilangan keseimbangannya, tapi untungnya Diana tidak tersungkur, kerena punggung oleh wastafel yang ada dibelakangnya.
Sudah cukup! Diana rasanya sudah tak tahan lagi sejak tadi terus di maki-maki oleh Bu Lusi. Sudah habis rasanya kesabaran Diana.
Apa lagi Bu Lusi barusan sudah mulai bermain fisik. Untung saja Diana tidak kenapa-napa, kalau dia tersungkur, sudah dipastikan hal buruk terjadi padanya, kerena Diana sedang mengandung besar.
"Cukup!" pekik Diana, ia membalas tatapan tajam Bu Lusi, membuat Bu Lusi tersentak, bahkan terlihat ketakutan.
"Sudah cukup Ibu menghina saya. Saya memang orang susah, tapi saya punya harga diri! Ibu tidak perlu repot-repot memberikan uang pada saya, karena saya sama sekali tidak butuh uang itu! Dan satu lagi, Ibu tenang saja, saya tidak akan minta apa-apa dari kalian, ataupun pengakuan apapun tentang saya dan anak saya dari kalain semua! Saya juga tidak sudi, berada dengan orang-orang yang tidak punya hati!" tegas Diana penuh amarah.
Setelah itu Diana langsung berlalu dari sana.
Bu Lusi mengatur nafasnya, ia masih terkejut. Merasa tidak percaya kalau Diana berani melawannya.
__ADS_1
"Awas saja kamu, aku pastikan kamu menyesal sudah bersikap seperti ini sama saya!" gumam Bu Lusi, penuh dengan dendam.
Bersambung ...