Ayah Kandung Anakku

Ayah Kandung Anakku
Bab Dua Puluh Empat


__ADS_3

"Gimana, apa kamu suka sama tempatnya?" tanya Bu Tina pada Diana.


Diana sudah diperbolehkan pulang, dan seperti keinginan Diana, Bu Tina membawa Diana ke tempat baru. Sebenernya itu bukan rumah kontrakan, melainkan rumah anakknya Bu Tina, hanya saja memang tidak di tempati.


"Suka banget, Bu. Berapa harga sewa perbulannya?" jawab Diana, lalu bertanya. Ia memang menyukai rumah tersebut, tapi tetap saja Diana harus bertanya harga sewanya, ia juga harus menyesuaikan dompetnya, apa lagi rumah tersebut, bukan rumah petakan seperti kontrakannya.


"Kalau emang kamu suka, kamu tinggal saja di sini. Tidak usah memikirkan biaya sewanya Diana, lagian rumah ini tidak ada yang menempatinya, kamu mau tinggal di sini Ibu senang dengarnya," kata Bu Tina.


"Tapi, Bu,"


"Sudah, jangan mempermasalahkan ini Diana."


"Emm, emang ini rumah siapa Bu? Kata Ibu tidak ada yang menempati, tapi kok bangunan sama halamannya terawat begini?"


"Ini rumah anak Ibu yang paling besar, dia membeli ini katanya hanya untuk investasi, tinggal tetap di rumah Ibu. Rumah ini memang terawat walaupun gak di tempati, karena Ibu suka menyuruh orang untuk membersihkannya," jelas Bu Tina.


Diana hanya mengangguk-angguk kepalanya.


"Ya sudah ayo kita masuk, Ibu bantu kamu beres-beres pakai kamu, untuk barang yang masih ada di kontrakan, nanti Ibu suruh anak Ibu mengantarkannya ke sini," kata Bu Tina.


Lagi Diana menganggukkan kepalanya, mereka pun masuk ke dalam rumah tersebut.

__ADS_1


"Bu, aku minta tolong lagi sama Ibu boleh?" ucap Diana.


"Tentu saja, jika Ibu bisa menolongmu," sahut Bu Tina.


"Bu, Diana minta tolong jangan sampai ada yang tahu Diana tinggal di sini, cukup keluarga Ibu saja, jika ada yang bertanya katakan saja kalau Diana pergi dan Ibu gak tahu Diana pergi kemana," pinta Diana.


Bu Tina mengangguk sambil tersenyum, tentu saja Bu Tina paham apa maksud Diana. "Tentu saja, Ibu janji gak akan bilang sama siapa-siapa," kata Bu Tina.


Diana langsung memeluk wanita parubaya tersebut, entahlah Diana tidak tahu harus dengan cara bagaimana berterima kasih pada Bu Tina, selama ini setiap Diana susah mau pun senang Bu Tina yang selalu menemaninya.


*


"Bagaimana, apa kalian berhasil menemukan dia?" tanya Daffa pada anak buahnya yang ia perintahkan mencari Diana.


"Ma-maaf Tuan, kami gagal mencari keberadaan Nona Diana," jawab salah satu anak buahnya sambil menunduk takut.


"Kalain benar-benar tidak becus! tidak bisa diandalkan!" pekik Daffa.


"Maaf Tuan, kami sudah mencari di daerah yang Tuan maksud, tapi tidak ada yang tahu keberadaan Nona Diana, mereka mengatakan kalau Nona Diana sudah pergi, tapi mereka tidak tahu Nona Diana pergi kemana," ucap anak buahnya.


"Maksud kamu, Diana sudah pindah?" tanya Daffa.

__ADS_1


"Kemungkinan besar seperti itu Tuan."


"Aarggh sial, sana kalian semua keluar!" usir Daffa pada tiga orang anak buahnya itu.


Setalah ketiga anak buahnya itu keluar, kini seseorang memasuki ruangan Daffa, siapa lagi kalau bukan Atar. Ya, hubungan mereka memang masih memburuk, tapi di kantor keduanya masih sama-sama berusaha profesional.


"Katakan dimana Diana?" tanya Daffa dengan suara meninggi, saat minat Atar masuk ke dalam ruangannya.


Atar tersenyum sinis. "Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah suaminya, seharunya kamu tahu di mana keberadaan dia!" jawab Atar dengan tegas.


"Kau,"


"Maksud kalian apa? Mas Daffa kamu mencari siapa? Suami, maksudnya apa?" Tiba-tiba saja sebuah suara memotong ucapan Daffa.


Venna terlihat sudah berdiri dibelakang mereka. Daffa dan Atar pun sontak menoleh kearah wanita tersebut.


"Venna, sejak kapan kamu di sini?" tanya Daffa, ia terlihat gugup.


Sementara Atar, ia menjadi penonton, ia ingin tahu sejauh mana Daffa akan berbicara dengan Venna? Apa mungkin Daffa akan berterus terang tentang Diana pada Venna. Kita lihat saja!


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2