Ayah Kandung Anakku

Ayah Kandung Anakku
Bab Dua Puluh Tujuh


__ADS_3

"Bu, Ibu liat apa sih?" tanya Diana kembali, kini ia mencoba mengikuti arah pandangan Bu Tina.


Tapi, Bu Tina yang menyadari hal itu ia segara memalingkan pandangannya kembali menatap Diana.


"Enggak kok, Diana. Ibu gak liat apa-apa," kilahnya. Sengaja Bu Diana tidak mengatakan hal yang sebenarnya, karena belum tentu juga dugaan itu benar.


Bisa repot kalau tidak benar, dan ia memberitahu Diana, Bu Tina tidak mau menambah beban pikiran Diana.


"Eh, gak kerasa ya udah sore. Ibu pamit dulu ya, Diana. Kamu hati-hati di rumah, jangan lupa kunci pintu jendela kalau malam tiba, pokoknya kamu harus hati-hati ya, istirahat yang cukup juga, ingat sebentar lagi kamu akan menghadapi persalinan," pamit Bu Tina, seraya memberikan pesan pada Diana.


Berjaga-jaga takut jika ada orang yang berbuat tidak baik pada Diana, tapi semoga saja tidak. Sebenernya juga Bu Tina merasa tidak tenang meninggalkan Diana, entah kenapa. Tapi sayangnya ia tidak mungkin menginap di sana, karena besok Bu Tina ada acara di rumahnya, dan butuh persiapan tentunya.


"Iya, Bu. Insyaallah Diana baik-baik di sini, Ibu gak usah khawatir," ucap Diana.


"Baiklah, kalau begitu Ibu pamit dulu ya, assalamualaikum ... "


"Waalaikumsalam ... "


Bu Tina pun berlalu meninggalkan rumah Diana, Diana sendiri langsung masuk ke dalam rumah saat melihat Bu Tina sudah jauh meninggalkan rumahnya.


"Kenapa perasaan aku jadi gak enak begini ya?" gumam Diana.


Entah mengapa, ia merasa gelisah, gundah, semoga saja semuanya baik-baik saja.


*

__ADS_1


Sementara itu di tempat lain.


"Kabar apa yang ingin kamu sampaikan? Ingat jangan memberikan saya kabar yang tidak bermutu! cepat katakan jangan membuang waktu!" Pinta seorang wanita parubaya pada seorang pria yang kini berdiri di depannya.


"Tentu saja ini kabar yang baik, Nyonya. Ini lihat, saya sudah menemukan tempat wanita yang Nyonya pinta," jawab Pria itu sambil memperlihatkan sebuah foto pada Bosnya yang tak lain adalah Bu Lusi.


Seulas senyuman puas terlihat dari bibirnya, tentu saja kabar ini kabar yang sangat membahagiakan baginya.


"Bagus! Cepat katakan alamatnya dia," pintanya.


Pria tersebut langsung mengangguk, dan menyebutkan alamat tempat tinggal wanita yang ada di foto ponselnya, siapa lagi kalau bukan Diana.


"Hahahaha ... " Tawa Bu Lusi menggema, saat sudah mengetahui alamat Diana, "pergilah, tunggu instruksi dari saya!" sambung Bu Lusi pada anak buahnya.


Anak buahnya itu langsung mengangguk patuh, lalu berlalu dari hadapannya.


Sementara itu, sejak tadi tanpa Bu Lusi ketahui sepasang mata dan telinga, melihat serta mendengarkan semuanya perkataannya.


'Apa maksud Mamah? Jadi benar Mamah yang berusaha membuat Papa meninggal, tapi dia gagal. Apa dugaanya ku selama ini benar kalau Papa ternyata masih hidup? Di mana Papa sekarang, aku harus mencari Papa. Tapi, sebelum itu, seperti aku harus segara ke tempat Diana, sebelum Mamah bertindak!'


Dengan cepat Daffa pun keluar dari persembunyiannya, namun karena buru-buru Daffa tak sengaja mendepak sebuah guci hingga akhirnya guci tersebut terjatuh dengan pecah.


"Siapa itu?"


Mendengar suara Mamahnya, Daffa pun dengan cepat pergi dari sana.

__ADS_1


"Kenapa gucinya bisa pecah? Apa jangan-jangan!" Wajah Bu Lusi terlihat sangat panik.


Bu Lusi segara mengecek kamar Daffa, tapi di sana kosong. "Tidak ada, Daffa belum pulang sepertinya, tapi siapa yang menjatuhkan guci itu? Tidak mungkin jika guci itu jatuh sendiri bukan?" Bu Lusi bermonolog sendiri.


Tanpa sampai situ, Bu Lusi pun mencari ke setiap ruangan yang ada di rumahnya, tapi ia sama sekali tidak menemukan keberadaan Daffa. Hingga ia pun menuju dapur untuk bertanya pada ART apakah melihat Daffa.


"Mbak, apa kamu melihat Daffa?" tanyanya.


"Den Daffa, tidak, Nyonya. Sepertinya Den Daffa belum pulang," jawabnya.


"Kamu tidak bohongkan?" Bu Lusi menatap ARTnya itu penuh selidik.


Mbak ART langsung menggelengkan kepalanya dengan mantap, karena memang ia belum melihat keberadaan Daffa di rumah tersebut.


Tanpa kata-kata lagi, Bu Lusi pun berlalu dari sana. Lagian ia pikir juga, tidak mungkin ARTnya itu bohongkan?


"Sudah aman, Den," bisik ART itu pelan, pada Daffa yang ternyata bersembunyi di bawah kolong meja.


"Terima kasih ya, Mbak. Nanti saya kasih uang jajan, kalau begitu saya pamit dulu ya, Mbak," ujar Daffa. Langsung mendapatkan anggukan dari ART tersebut.


Daffa pun dengan cepat keluar dari rumah tersebut, ia keluar lewat pintu belakang, karena tidak mungkin ia lewat pintu depan, Mamahnya sudah dipastikan ada di sana.


Daffa bergegas menuju mobilnya, untunglah tadi ia memarkirkan mobil di depan rumah tanpa memasukkannya ke dalam halaman rumah atau garasi, karena niat hati Daffa pulang hanya sebentar saja.


"Aku harus segara menyelamatkan Diana, aku harus menemui dia," ucap Daffa langsung melajukan mobilnya. Untungnya Daffa tadi sempat mendengar anak buah Mamahnya menyebutkan alamat lengkap tempat tinggal Diana.

__ADS_1


"Pantas saja aku tidak bisa bertemu dengan kamu Diana, ternyata kamu sudah pindah. Kenapa kamu melakukan hal ini? Apa kamu ingin menjauh dariku? maafkan aku Diana," batin Daffa.


Bersambung ...


__ADS_2