
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Mas! Jelaskan semuanya yang tadi aku dengar!"
"Apa benar, kamu mempunyai wanita lain di luar sana, hah?" sambung Venna dengan suara yang meninggi.
Venna tahu jika suaminya tidak pernah mencintainya, cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi, demi apa pun Venna tidak suka jika Daffa mempunya wanita lain di luar sana.
Daffa masih terdiam, sementara Atar yang melihat itu semua, ia tersenyum sinis.
"Kalau memang ia kenapa hah?"
Badan Venna mendadak lemas usai mendengar perkataan yang terlontar dari mulut Daffa.
"Aku akan mengadukan semua ini pada Mamah kamu, Mas!" ancam Venna.
Daffa tersenyum samar, "silahkan! Aku sama sekali tidak takut!"
Tanpa Venna ketahui, padahal Mamah Lusi sudah tahu mengenai hal ini.
__ADS_1
"Kamu jahat Mas, siapa wanita yang sudah menggoda kamu, hah?" teriak Venna.
"Siapa pun itu kamu tidak perlu tahu! Dan satu lagi, sebaiknya memang kamu adukan semua ini pada keluargaku dan juga keluarga kamu sekalian, karena aku akan mengakhiri pernikahan kita ini!"
Venna tersenyum sinis, ia memang tak terima atas pengakuan Daffa yang sudah mengkhianatinya. Tapi, Venna tidak berniat ingin mengakhiri semuanya, ia sangat mencintai Daffa ia tidak ingin berpisah dengan pria itu.
Tanpa kata Venna langsung berlalu dari sana. "Lihat saja aku akan membuat kamu bertekuk lutut dihadapanku, Mas! sampai kapan pun aku tidak akan melepaskan kamu, tidak akan pernah!" gumam Venna.
"Bagus, itu baru sahabatku!" ucap Atar sambil menepuk bahu Daffa, setalah itu ia berlalu dari hadapan Daffa.
Atar tersenyum. "Aku tidak pernah marah padamu, All-Daffa! Aku hanya kecewa saja atas kebodohan kamu selama ini. Dan saat ini aku merasa senang kamu mengakui semuanya!" jawab Atar, memang itulah sebenarnya.
Sekecewa apa pun Atar pada Daffa, ia tidak mungkin bisa terus menerus marah padanya. Atar hanya melakukan semua ini hanya ingin tahu bagaimana reaksi Daffa dan sejauh mana sahabat itu akan menutupi hal yang seharusnya tidak di tutupi lagi. Dan semua kekecewaan Atar sirna saat ia melihat Daffa mengakui semuanya pada Venna, dan Atar berharap Daffa memperjuangkan Diana, karena Atar yakin, saat ini Diana tengah mengandung anaknya Daffa.
"Terima kasih, Atar!" Daffa langsung memeluk sahabatnya itu.
Dengan senang hati Atar membalas pelukan sahabatnya. Dalam lubuk hati keduanya masing-masing sebenarnya mereka selama ini merasa tidak nyaman dengan hubungan mereka yang renggang. Karena persahabatan mereka sudah sangat lama, bahkan sebenarnya mereka adalah saudara juga.
__ADS_1
"Baiklah, ini kantor. Aku tidak mau dianggap tidak normal karena berlama-lama berpelukan denganmu," ucap Atar sambil terkekeh, melepaskan pelukannya Daffa.
Daffa ikut terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Aku harap setelah ini, kamu mengambil jalan yang seharusnya, Daff!" sambung Atar, sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya.
Daffa terlihat langsung menganggukkan kepalanya. "Apa pun yang terjadi, aku akan mengakhiri semuanya, persetan dengan jabatan!" gumam Daffa. Hatinya sudah bertekad akan mengakhiri pernikahannya dengan Venna. Dan mengenai Mamahnya, Daffa akan menghadapinya.
Tak perduli dengan ancaman sang Mamah, Daffa juga akan mencari tahu lebih dalam lagi, maksud dan tujuan Mamah Lusi merencanakan ini semuanya. Daffa juga merasa lebih bertenaga saat ini, kerena sahabat yang bisa diandalkannya pun sudah kembali.
Beberapa saat kemudian, ponsel Daffa berdering. Nama kontak Mamahnya telepon muncul di sana. Sepertinya Venna sudah mengadukan semuanya.
Daffa pun langsung mengangkat telepon dari Mamahnya.
"Hallo, Daffa! Cepat pulang sekarang!" titahnya dengan suara penuh amarah.
Bersambung ...
__ADS_1