
'Mas Daffa, apa aku tidak salah lihat? Benarkan itu Mas Daffa?' batin Diana.
Semantara itu All yang melihat Diana, ia langsung terdiam mematung. Apakah dia sedang bermimpi? Kenapa Diana ada di sini? Dan kenapa perut wanita itu terlihat seperti orang hamil? Banyak pertanyaan yang kini terbesit dibenak All-Daffa!
Tatapan All kini tertuju pada tangan Diana yang digenggam oleh Atar, Atar yang menyadari tatapan tersebut, bukannya melepaskan genggaman tangannya, tapi malah lebih mempereratnya. Sengaja, Atar ingin tahu lebih lanjut, bagaimanakah reaksi All, akankah dia mengakui jika Diana adalah istrinya?
"Sayang ... " Tiba-tiba saja Venna mendekati All, lalu bergelayut manja padanya.
Sontak All pun mengalihkan pandangannya dari Diana. Menatap kearah Venna sambil berbisik. "Lepaskan, malu diliatin orang!" ucap All penuh penekanan.
"Kenapa harus malu? Toh semua orang juga tahu kalau All-Daffa adalah suami dari Venna," ucap Venna dengan lantangnya, semakin bergelayut manja.
Deg! Ribuan belati terasa menghantam hati Diana. Sakit? Tentu saja! Perih? Jangan ditanya! Ternyata suaminya sudah menikah lagi? Apakah ini alasan Daffa meninggalnya.
"Benar loh All, kata Venna. Kalain ini sudah sah suami istri, kenapa harus malu? Bukankah semua itu hal yang wajar?" Bu Lusi ikut menimpal.
"Sudah ah, jangan bikin suasana jadi gak enak. Inikah acara spesialnya Ambar. Ambar maaf ya, biasa mereka masih malu-malu kucing, tolong di maklumi ya," lanjut Bu Lusi, pada Bu Ambar.
Bu Ambar hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya pelan. Ia sama sekali tidak perduli, yang ia pikirkan saat ini adalah perasannya Diana. Bu Ambar benar-benar tidak habis pikir dengan All.
Begitu pun dengan Atar, ia justru bingung harus bagaimana? Di sisi lain ia merasa bersalah juga, kerena sudah mempertemukan Diana dengan All.
__ADS_1
"Ya sudah ayo kita ke sana, acaranya akan di mulai," ajak Bu Ambar, berharap jika acara di mulai, Diana tidak terlalu fokus dengan All dan Venna.
Mereka semua pun menganggukkan, lalu berjalan ke tempat yang sudah di sediakan.
"Maaf, bisa tolong lepaskan," ucap Diana pelan pada Atar.
Atar pun melapaskan genggaman tangannya pada Diana. Mereka berjalan paling akhir menuju tempat acara.
"Emm, apa kamu baik-baik saja?" Atar memberanikan diri bertanya pada Diana. Ya, walaupun sebenernya ia mengerti, mana mungkin saat ini Diana baik-baik saja, tentu saja wanita itu terluka.
"Kenapa bertanya seperti itu? Aku baik-baik saja!" jawab Diana, seraya menampakan senyumannya. Sebisa mungkin Diana tegar menghadapi ini semua.
Ia tidak mau terlihat lemah, apa lagi sampai terpuruk. Setidaknya Diana masih waras! Masih ada jiwa yang harus ia jaga, yang tak lain adalah bayi dalam kandungannya.
"Ya sudah ayo kita nikmati acaranya," ajak Atar. Diana hanya menganggukkan kepalanya.
Acara pun di mulai, acara tersebut memang diselenggarakan sedarhana, tapi bagi Diana terasa mewah. Setidaknya saat acara berlangsung Diana sedikit bisa melupakan perih di hatinya, apa lagi Diana melihat kehangatan keluarga Atar.
Diana baru tahu, kalau Atar sudah tidak punya Ayah. Dia hidup berdua hanya dengan Bu Ambar saja.
'Lihatlah Diana, Atar dan Bu Ambar saja, bisa hidup bahagia tanpa sosok suami dan sosok seorang Ayah! Kenapa kamu tidak bisa? Yakinlah, kalau kamu bisa meneruskan hidupmu dengan bahagia nanti dengan anakmu,' batin Diana.
__ADS_1
Atar kini berada di podium bersama sang Mamah. Jadi saat ini Diana duduk di kursi yang di sediakan di sana.
Sementara itu tatapan All sejak tadi tak lepas dari Diana. Ingin rasanya ia menghampiri Diana, tapi situasi tidak memungkinkan. Apa lagi sejak tadi Venna tak mau melepaskannya.
Diana yang merasa bingung harus apa, apa lagi di sana tidak ada yang menemaninya. Ia pun memutuskan untuk mencari toilet. Ia bertanya pada pramusaji yang ada di sana, dan pramusaji itu pun langsung menunjukannya, bergegas Diana pun berlalu dari sana.
Kini Diana sudah berada di dalam toilet, ia menatap dirinya di depan cermin besar yang ada di sana.
"Ya Tuhan, kenapa engkau mempertemukan aku kembali dengan dia? Jika hanya ingin kembali menoleh luka? Kenapa? Tidak cukupkah, cobaan yang selama ini engkau berikan padaku? Kenapa engkau terus menguji kesabaranku?" keluh Diana.
Tak terasa butiran bening meluncur begitu saja dari pelupuk matanya, nyatanya ia tidak sekuat itu. Cukup lama Diana berdiam diri di sana. Hingga tiba-tiba seseorang terdengar menggedor pintu toilet tersebut.
"Sebentar," ucap Diana. Segara ia mengusap air matanya, membenahi penampilannya. Setalah merasa lebih baik, Diana pun segara keluar dari sana.
Terlihat seorang wanita parubaya sudah berdiri di depan sana dengan raut wajah yang tidak bersahabat menatap Diana.
"Maaf membuat Ibu menunggu, silahkan Bu," ucap Diana ramah, basa-basi merasa tidak enak dengan wanita tersebut.
Tidak ada sahutan dari wanita itu. Diana pun memilih berlalu, hingga akhirnya wanita itu bersuara, dan menghentikan langkah Diana.
"Tunggu!"
__ADS_1
Bersambung ...