
"Gimana, Bu. Apa penampilan aku udah bagus? Malu-maluin gak sih ini?" tanya Diana pada Bu Tina, sambil memperlihatkan penampilannya kini. Seperti yang sudah direncanakan, hari ini Diana akan pergi menghadiri pesta ulang tahun Bu Ambar.
"Udah, cantik begitu juga gak bakal malu-maluin, lagian pede aja, Di," jawab Bu Tina apa adanya. Diana memang terlihat cantik dan anggun.
"Yaudah, Diana pergi dulu ya, Bu. Soalnya yang jemput Diana udah sampe di depan gang katanya nih," pamit Diana seraya memperlihatkan pesan dari nomer tak dikenal, mengaku sebagai orang yang akan menjemputnya.
"Iya, Ibu juga mau pulang, belum masak ini. Kamu hati-hati ya di sana, ingat jangan pulang terlalu malem, ingat kamu itu sedang hamil," pesan Bu Tina langsung diangguki oleh Diana.
Mereka pun keluar, Diana menyalami Bu Tina sebelum berlalu dari sana, setalah kepergian Diana, Bu Tina pun langsung pulang menuju rumahnya.
Sesampainya keluar dari gang tersebut, Diana melihat sebuah mobil mewah sudah menunggunya. Diana cukup tercengang saat melihat siapa yang menjemputnya itu.
"Apa kamu tidak mau masuk? Saya sudah menunggu sejak tadi!" ujar sang pria yang kini duduk dikursi pengemudi mobil tersebut. Tak lain adalah Atar.
"Eh ... i-iya." Diana pun membuka pintu mobil bagian belakang. Akan tetapi saat ia hendak masuk tiba-tiba saja Atar kembali bersuara.
"Apa kamu pikir saya sopir kamu, hmm? Kenapa duduk di belakang, duduk di depan!" protes Atar, meminta Diana untuk duduk didepan, tepatnya disampingnya.
"Hah! Ta-tapi ... "
"Cepat, nanti bisa telat, acaranya sebentar lagi akan dimulai!" sela Atar.
Dalam hati Diana berdecak kesal, namun mau tidak mau akhirnya ia pun menurutinya. 'Apa bedanya duduk dibelakang dan didepan? Aku rasa sama saja! Memang aneh!' batin Diana.
Setalah Diana masuk dan duduk disampingnya, Atar pun kembali melajukan mobilnya. Sebenernya, Bu Ambar sudah meminta sopir untuk menjemput Diana, tapi malah Atar mengajukan diri untuk menjemput Diana. Tentunya Atar ada maksud tertentu.
Sambil menyetir Atar terlihat berpikir keras, memikirkan bagaimana caranya memulai pembicaraan dengan Diana, apa lagi sejak tadi Diana sama sekali tidak bersuara.
__ADS_1
Berulang kali Atar melirik Diana dengan ekor matanya, berharap Diana membuka suaranya, tapi sampai detik ini wanita hamil itu masih terdiam saja, kesal Atar rasanya.
Atar mengambil nafas dalam, setalah itu menghembuskan perlahan, ia mengumpulkan keberanian untuk mengajak Diana berbicara.
"Saya kira kamu tidak akan datang," ucap Atar membuka pembicaraan.
Refleks Diana menoleh kearah pria disampingnya itu. "Awalnya aku ragu, tapi tidak enak dengan Tante Ambar," jawab Diana, kembali mengalihkan pandangannya kedepan.
Atar terlihat mengangguk-angguk kepalanya. Tidak cukup buruklah respon dari Diana. Apa Atar langsung tanyakan saja prihal yang ingin ia ketahui kebenaran dari wanita itu? Tapi, bukankah ini terlalu buru-buru, mereka bahkan baru dua kali bertemu. Tapi, bukankah ini kesempatan Atar? Kapan lagi bisa bicara berdua seperti ini.
"Aku ingin menanyakan sesuatu, sebelumnya sorry kalau membuat kamu tersinggung," Atar menjeda ucapannya sejanak, seraya melirik kearah Diana, yang ternyata kini tengah menatapnya juga.
"Apa?" tanya Diana, ia merasa tidak mengerti dengan arah pembicaraan Atar. 'Apa yang ingin dia tanyakan? Apa mungkin tentang kehamilanku?' lanjut Diana berucap dalam hati.
Kebanyakan orang biasanya bertanya tentang kehamilannya dan masalah suaminya. Apa mungkin Atar ingin menanyakan itu juga? Pikir Diana.
Sontak membuat Diana mengernyitkan dahinya. Jelas ada yang aneh, Diana merasa tidak pernah memberitahu apa pun pada Atar tentang kehidupannya. Tapi, kenapa pertanyaan Atar seolah sudah tahu apa yang terjadi dengan dirinya?
"Maksudnya?" balik tanya Diana, berpura-pura tidak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Atar.
'Kenapa dia tahu suamiku tidak ada?'
'Hais kenapa kamu bodoh Diana, diakan orang kaya, bukankah orang kaya selalu bisa mengorek informasi siapapun, apa lagi tentang dirimu.'
'Tapi untuk apa juga dia mencari tahu?' Diana bermonolog dalam hatinya.
"Saya tahu, saya lancang. Tapi, saya yakin kamu paham dengan pertanyaan saya barusan. Saya tidak ada maksud apa-apa, tenang saja. Ya, jika kamu mau bercerita siapa tahu saya bisa membantu kamu," ujar Atar menjelaskan. Ia juga tidak mau jika Diana salah paham.
__ADS_1
Diana terdiam seraya mencerna perkataan yang keluar dari pria tampan yang duduk disampingnya itu. Apa harus Diana bercerita? Tapi, jika dipikir-pikir sepertinya Atar bisa membantunya. Tapi, rasanya ragu.
"Tidak usah sungkan, berceritalah, anggap saja saya sebagai teman kamu," kata Atar, seolah bisa menebak perasaan Diana.
Walaupun ragu Diana akhirnya bercerita. Sebenernya ia tidak mau dikasihi oleh orang lain, tapi sesungguhnya ia pun ingin tahu dimana keberadaan suaminya saat ini.
"Jadi suami kamu yang bernama Daffa itu mengaku sebagai anak yatim piatu?" tanya Atar usai Diana menceritakan semuanya, tentu saja Atar terkejut mendengar ceritanya.
Diana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Apa kamu punya foto suami kamu?" tanya Atar.
Diana menggelengkan kepala, sayangnya ia tidak punya foto suaminya itu, karena ponsel lamanya sudah rusak. Tapi, detik kemudian Diana teringat sesuatu, ia pernah meng-upload foto dirinya dan suaminya di akun sosial media-nya. Diana pun dengan cepat mencarinya dan akhirnya ia pun menemukannya.
"Ada ini, aku lupa kalau aku pernah meng-upload-nya di sosial media," ucap Diana seraya memperlihatkan foto tersebut pada Atar.
Deg! Atar terkejut, ternyata dugaannya benar. Suaminya Diana adalah All, alias All-Daffa, yang tak lain adalah sahabat sekaligus atasannya. Atar terlihat mengepalkan kedua tangannya yang berada di atas setir. Raut wajah amarah terlihat jelas dari wajahnya.
'Keterlaluan sekali kau, All. Bagaimana bisa kau menelantarkan istrimu yang kini sedang hamil, apa kau tidak punya hati nurani?' batin Atar merasa kecewa.
Atar bisa dikatakan seorang pria yang sangat menghormati wanita. Seburuk-buruk dia, tidak ada dalam kamus hidupnya untuk menyakiti hati seorang wanita.
Diana yang menyaksikan perubahan raut wajah Atar, benar-benar merasa heran. Apa lagi melihat Atar seperti memendam sebuah amarah. 'Apa yang terjadi padanya?' batin Diana.
'Sepertinya aku harus memberimu pelajaran All,' batin Atar, ia sudah merancang sesuatu, tepatnya sebuah kejutan untuk All.
Bersambung ...
__ADS_1