Ayah Kandung Anakku

Ayah Kandung Anakku
Bab Sembilan


__ADS_3

"Positif ... " lirih Diana, melihat alat tes kehamilan yang ada di tangannya itu bertandakan garis dua berwarna merah, yang artinya ia benar positif hamil. Harus bagaimanakah Diana sekarang? Haruskah ia bahagia atau sebaliknya?


Di sisi lain ia teringat tengah kondisinya saat ini, apakah ia mampu membesarkan kehamilannya seorang diri tanpa adanya sosok seorang suami yang menemani? Tapi, di sisi lain, anak adalah anugerah, janin yang ada dirahimnya itu tidak berdosa.


Diana teringat kembali ucapan Bu Tina sebelumnya. "Aku pasti sanggup, Ibu akan menjaga kamu, Nak. Ibu janji," gumam Diana sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Mencoba menyakinkan dirinya, kalau semuanya pasti baik-baik saja. Bukankah jika anaknya itu nanti lahir, Diana tidak sendiri lagi, ada buah hatinya yang menemani.


Tok Tok Tok!


"Diana, kamu ada di dalamkan? Diana, kamu baik-baik sajakan, Di?" teriak Bu Tina dari luar pintu kamar mandi tersebut.


Tak lama kepergian Diana dari rumahnya, Bu Tina memutuskan untuk menyusul Diana, mendatangi rumahnya, kerena merasa khawatir. Namun, beberapa kali Bu Tina mengetuk pintu rumah kontrakan Diana, tidak ada sahutan sama sekali, sehingga ia pun masuk begitu saja, kerena merasa khawatir. Bu Tina mencari Diana ke kamar tapi tidak ada, dan ia melihat pintu kamar mandi tertutup, ia berpikir kalau Diana ada di dalam sana, dan benar saja dugaannya.


Diana terkejut saat mendengar suara Bu Tina, ia pun segara membuka pintu kamar mandi, lalu keluar dari sana.


"Bu,"


"Ya Allah, Diana. Ibu udah ketar-ketir khawatir sama kamu, kamu baik-baik ajakan? Maaf Ibu lancang masuk ke rumah kamu, tadi beberapa kali Ibu panggil kamu gak nyahut," ucap Bu Tina.


Diana merasa sedikit heran, ia benar-benar tidak mendengar saat Bu Tina memanggilnya, hanya barusan saja ia mendengarnya kerena Bu Tina mengetuk pintu kamar mandi. Apa mungkin ia terlalu larut dalam lamunannya?


"Maaf, Bu," ucap Diana.


"Ka-kamu positif ha-hamil, Di?" tanya Bu Tina terbata-bata, ia melihat tespek yang ada ditangan Diana.


Perlahan Diana menganggukkan kepalanya, lalu ia tersenyum. "Alhamdulillah, Bu."


Bu Tina langsung menghambur memeluk Diana, tak lupa ia juga mengucapkan selamat atas kehamilannya.


"Selamat ya, Diana. Semoga kamu dan calon anak kamu sehat selalu, jaga dengan baik dan kamu harus semangat," ucap Bu Tina, seraya melepaskan pelukannya.


"Terima kasih, Bu. Insyaallah, Diana akan sebaik mungkin menjaganya."


"Ibu senang dengarnya," Bu Tina tersenyum pada Diana. "Jangan banyak pikiran, fokus saja sama calon anak kamu, semuanya pasti akan baik-baik saja, Diana."

__ADS_1


"Amin, pasti Bu."


"Ya sudah, apa mau periksa ke Dokter sekarang? Biar Ibu anterin, klinik di depan biasanya masih buka jam sampe malam," tawar Bu Tina.


"Boleh, Bu. Diana siap-siap dulu ya."


Bu Tina mengangguk, Diana pun berlalu menuju kamarnya untuk mengambil keperluannya. Sementara Bu Tina, ia memutuskan untuk menunggu di luar saja.


***


Sementara itu di tempat lain.


"Atar, antarkan aku pulang sekarang!" pinta seorang pria pada asistennya.


"Sekarang?"


"Apa kau tidak dengar aku bilang apa barusan?" sentak pria tersebut.


Pria yang bernama Altar itu pun mengangguk. Lalu mereka pun berjalan beriringan keluar dari ruangan yang bertuliskan 'CEO'.


"Pak All, apa anda baik-baik saja?" tanya Atar.


"Aku tidak apa-apa, kepalaku hanya sedikit pusing saja Tar," jawab All.


"Apa perlu kita mampir ke rumah sakit dulu, Pak?"


"Tidak usah! langsung pulang saja. Dan satu lagi, bisakah kamu berbicara jangan formal, kita tidak berada di jam kerja!" tegas All.


Atar yang mendengarnya hanya terkekeh saja. Sesampainya di bawah, All menunggu di depan lobi, sementara Atar dia mengambil mobilnya terlebih dahulu.


Beberapa saat kemudian, Atar pun datang. All langsung masuk ke dalam mobil. Dan mobil itu pun melaju meninggalkan gedung pencakar langit tersebut.


"Tar, cari makanan dulu. Aku ingin makan yang pedas-pedas!" pinta All.


"Pedas-pedas?" Atar— asisten sekaligus sahabatnya dari kecil itu nampak heran. Seingat Atar, All paling anti dengan makan pedas, jangankan makan sambel, makan cabe sebiji saja, dia langsung mencret!

__ADS_1


"Iya, kenapa?" All menatap Atar heran.


"Apa kamu yakin? Bukankah kamu tidak suka pedas! Apa ini semua karena efek dari pusing kepala kamu itu? Sudahlah All, jangan cari penyakit. Bisa-bisa nanti aku diceramahi tujuh hari tujuh malam sama Tante Lusi!"


"Ya sudah hentikan mobilnya!" pinta All.


"Lah, kanapa?" Lagi-lagi Atar merasa dibuat bingung olehnya.


"Aku bilang berhenti!" tegas All. Sontak Atar pun langsung menghentikan laju mobilnya.


"Keluar!" titah All pada Atar.


"Siapa?" tanyanya.


"Apa di sini ada orang lagi? Cepat keluar!" ucapnya tak bisa dibantah.


"Jangan gila deh, All!" Atar masih duduk di kursi pengemudi. Jelas ia tidak mau keluar, mereka belum sampai di tempat tujuan, masih berada setengah perjalanan.


"Keluar atau kamu aku pecat!" ancam All.


Atar menghelai nafasnya, terpaksa ia pun keluar dari mobil. Setalah Atar keluar, All beralih posisi duduk di kursi pengemudi, setalah itu ia langsung melajukan mobilnya, meninggalkan Atar begitu saja.


Atar masih melongo memandangi mobil tersebut. "Dasar bos kampret!" gerutunya.


Sementara itu All terus melajukan mobilnya, ia tersenyum samar saat melihat Atar yang menggerutu lewat kaca spion mobilnya itu.


All paling tidak suka di bantah! Apa pun yang ia mau harus dituruti.


"Siapa suruh membangkang! Aku yakin dia pasti akan mengadu pada Mamah, bodo amatlah. Yang pasti saat ini aku ingin makan yang pedas-pedas!" seru All. Beberapa kali ia meneguk silivanya saat membayangkan makan dengan makanan yang pedas.


Tapi, ia juga merasa heran. Apa yang dikatakan Atar tadi memang benar, All sama sekali tidak suka pedas. Kenapa ia tiba-tiba ingin memakannya? Sudah seperti orang ngidam saja!


"Aneh sih, ada apa denganku?" gumamnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2