
Usai mendapatkan telepon dari sang Mamah, Daffa pun bergegas meninggalkan kantornya. Saat akan memasuki lift, Daffa berpapasan dengan Atar.
"Mau kemana?" tanya Atar.
"Pulang, sepertinya Venna sudah mengadu pada Mamah," jawab Daffa.
"Baguslah." Atar tersenyum mendengar jawaban Daffa, "aku harap kamu bisa memilih jalan yang benar!" sambungnya sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
Daffa tersenyum sambil menganggukkan, setalah itu lift pun terbuka, Daffa pun masuk ke dalam lift tersebut.
"Aku akan membantumu mencari Diana," kata Atar sebelum pintu lift yang ditumpangi Daffa itu tertutup sempurna.
"Itu memang tugasmu!" teriak Daffa menyahut.
Atar pun mengangguk, sebenernya selama ini Atar pun sudah mencoba mencari Diana, tapi sampai detik ini ia belum mendapatkan petunjuk keberadaan wanita itu. Bahkan Atar sudah menemui pemilik rumah kontrakan Diana yang tak lain adalah Bu Tina, tapi nihil. Lagi dan lagi Bu Tina tidak memberikan petunjuk apa pun padanya. Sepertinya jalan buntu saja.
***
Sementara itu di tempat lain.
__ADS_1
Diana kembali menjalani hari-harinya seperti biasa, saat ini Diana benar-benar merasa tenang, merasa tidak ada yang mengusik kehidupannya.
Diana kini fokus dengan masa-masa kehamilannya, yang beberapa bulan lagi menginjak hari persalinan. Tak hanya itu, Diana juga saat ini membuka usaha kecil-kecilan di depan rumahnya, ia membuka warung nasi kecil-kecilan untuk menyambung kehidupannya.
Bersyukurnya Diana, karena rumah yang ia tempati sekarang itu dekat dengan kos-kosan pelajar, serta dekat dengan sebuah pabrik. Jadi Diana bisa mudah mendapatkan pembeli, bahkan kini ia sudah mempunya pelanggan tetap.
"Di, seperti Ibu perhatiankan semakin hari usaha kamu ini semakin lancar dan rame loh, kamu pasti cepak banget ngurus sendiri. Apa baiknya kamu memperkerjakan orang saja buat bantu-bantu, ingat kamu ini lagi hamil besar, kamu juga jangan terlalu capek," ucap Bu Tina.
Bu Tina memang sering mengunjungi Diana, biasanya dalam satu minggu dua sampai tiga kali Bu Tina mengunjunginya. Dan ia memperhatikan usaha Diana ini semakin ramai saja.
"Alhamdulillah, Bu. Sebenernya Diana juga sudah memikirkan hal ini sih, mungkin nanti Diana akan coba tanya-tanya warga sekitar sini, siapa tahu ada yang mau kerja bantu Diana," sahut Diana.
"Punya orang, Di. Emangnya kenapa?"
"Enggak apa-apa sih, Diana kira masih punya Ibu, tadinya kalau punya Ibu, Diana mau sewa," jawab Diana sambil terkekeh.
"Untuk apa?"
"Diana rencananya mau bikin kios gitu Bu, soalnya kasian para pembeli, kadang mereka suka berdiri nungguin giliran, apa lagi kalau jam makan siang, pembeli sangat ramai Bu," jelas Diana.
__ADS_1
"Oh gitu, nanti deh coba Ibu tanyakan sama anak Ibu ya, kalau gak salah tanah ini yang punyanya masih sama dengan pemilik rumah ini dulu sebelum anak Ibu beli," ucap Bu Tina.
"Ya ampun beneran, Bu?" tanya Diana kegirangan.
Bu Tina mengangguk sebagai jawaban.
"Terima kasih, ya Bu."
"Sama-sama."
Setalah itu keduanya pun berlanjut mengobrol, kebetulan ini sudah sore hari, dagangan milik Diana sudah hampir habis pula, jadi ia bersantai sambil mengobrol dengan Bu Tina.
Namun, di sela obrolan keduanya. Bu Tina nampak memperhatikan seseorang yang kini tengah berdiri tak jauh dari rumah tersebut. Bu Tina merasa ada yang janggal dengan orang tersebut, sikapnya sangat mencurigakan, pikirnya.
'Siapa dia? Kenapa sejak tadi memperhatikan kearah sini?' batin Bu Tina.
"Bu, Ibu lihat apa?"
Bersambung ...
__ADS_1