
Atar segara menyimpan foto tersebut ke dalam saku celananya. Setalah itu ia pun berpamitan pulang pada All.
"Sudah tidak ada lagi yang di butuhkan? Aku pulang!" tanya Atar seraya beranjak dari sofa.
All hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Setalah itu Atar pun berlalu dari sana.
"Semoga saja Atar bisa menemukan informasi tentang dia secepatnya. Maafkan aku Nana, aku memang lemah, aku tidak bisa menepati janjiku untuk selalu ada di samping kamu, aku tidak bisa memperjuangkan cintaku padamu, tapi percayalah aku benar mencintai kamu, jika nanti waktunya sudah tiba, aku pasti akan kembali padamu!" gumam All penuh penyesalan.
Bukan mau dia untuk meninggalkan Diana, semua ini All lakukan demi kebaikan Diana juga. Sebenernya, Bu Lusi atau Ibu kandungnya All sudah tahu tentang pernikahannya dengan Diana. Jelas Bu Lusi tidak merestui hubungan mereka, dengan banyak alasan tentunya, salah satunya adalah kasta. Di mata Bu Lusi, Diana dan All bagaikan langit dan bumi.
Bu Lusi meminta All untuk meninggalkan Diana, lalu meminta All untuk menikah dengan Venna. Awalnya All menolak, namun Bu Lusi mengancamnya, jika All tidak mau maka Bu Lusi akan mencelakai Diana.
Sebenernya perjodohan All antara Venna sudah direncanakan sejak lama, namun pada saat itu All pergi dari rumah beberapa bulan, ia memutuskan komunikasi dengan keluarga, hidup mandiri, serba pas-pasan bahkan untuk makan dia kerja serabutan, hingga akhirnya dia bertemu dengan Diana, jatuh cinta lalu menikah. All mengaku pada Diana kalau dia anak yatim piatu sudah tidak punya siapa-siapa.
Memang sengaja All melakukannya, bukan tanpa alasan kerena All pada saat itu sudah bertekad akan keluar dari keluarganya dan menganggap jika dirinya hanya hidup sendiri.
Flashback
2 hari sebelum pernikahannya dengan Diana dilangsungkan. All mendapatkan kabar jika sang ayah handa meninggalkan dunia.
__ADS_1
Hingga mau tidak mau All pun datang ke rumahnya untuk melihat sang Ayah untuk terakhir kalinya.
"Ini wasiat dari Ayahmu, All-Daffa!" Bu Lusi memberikan sebuah kertas pada All.
Dengan ragu All pun meraihnya, ia membaca surat wasiat yang ditinggal oleh mandiang Ayahnya. Di mana di sana tertulis, sang Ayah meminta All untuk menikah dengan Venna. Entahlah sebenernya All ragu jika sang Ayah yang menuliskan itu semua, kerena sejak dulu yang All tahu, sang Ayah tidak pernah mau ikut campur tentang hal tersebut. Satu lagi, ia juga merasa ada yang janggal tentang kematian sang Ayah!
"Kamu sudah baca bukan, All? Kamu masih mau menolaknya hah? Itu permintaan terakhir dari Ayahmu! Ibu harap kamu tidak menjadi anak durhaka All-Daffa!" ucap tegas Bu Lusi. Padahal suasana masih berduka, tapi ia malah membahas hal seperti ini.
"Maaf, Bu. Aku tidak bisa, aku akan menikah dengan wanita pilihan aku sendiri, wanita yang aku cintai!" jawab All tak kalah tegas.
"Baiklah, jika memang itu mau kamu. Tapi, ingat! Sampai mati pun Ibu tidak akan merestui kamu dan wanita miskin itu, All-Daffa! Jika kamu kukuh memilih wanita itu, jangan salahkan Ibu berbuat nekad pada dia, Ibu tidak segan-segan untuk melukai dia!" ucap Bu Lusi.
"Ingat! Kamu pasti tahukan All kalau Ibu tidak pernah bermain-main dengan ucapan Ibu sendiri!" imbunnya.
"Baiklah, bagaimana kalau kita ambil jalan tengahnya saja? Ibu akan membiarkan kamu menikah dengan wanita itu, tapi setalah itu kamu tinggalkan dia, hanya sementara kok. Kamu tetap harus menikah Venna, sampai semua aset kekayaan keluarganya jatuh ke tangan kita! Setalah semua itu sudah menjadi milik kita, terserah jika kamu ingin kembali pada wanita miskin itu. Ibu akan memberikan kamu waktu selama satahun, bagaimana?"
Flashback Off.
All tersadar dari lamunan, sampai saat ini ia masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apakah keputusannya ini sudah benar?
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, pintu ruangan tersebut terbuka. Nampak Bu Lusi masuk tanpa permisi ke ruangan tersebut. All hanya menoleh sekilas lalu ia membuang muka. Entahlah sesungguhnya All merasa heran, apakah benar Bu Lusi adalah Ibu kandungnya? Kenapa wanita itu seperti tidak punya nurani? Yang ada di pikirannya hanya uang, uang dan uang.
"Bagaimana All, sudah sampai mana, apa kamu sudah berhasil menguasai setengah asetnya? Waktu sudah berjalan setengah perjalanan loh!" cercanya.
All menghelai nafas beratnya, tidak ada topik pembicaraan yang lain, selain hal ini? All capek!
"All, apa kau tidak mendengar pertanyaan Ibu? Telinga mu masih berfungsi dengan baik, kan?" tanyanya lagi.
"Sudahlah Bu, jangan membahas hal ini dulu. Aku pusing, sebaiknya kita batalkan saja perjanjian kita!"
Sontak Bu Lusi langsung membulatkan matanya, menatap tajam pada All.
"Apa kamu bilang hah?" teriaknya. "Jangan bermimpi Daffa, kita sudah membuat kesepakatan, Ibu benar-benar heran sama kamu, Ibu sudah meringankan semuanya. Kamu tidak ingat tentang wasiat Ayahmu itu hah? Dia bahkan meminta kamu menikah dengan Venna, tanpa batas dan waktu. Harusnya kamu berterima kasih pada Ibumu ibu, kerena Ibu sudah membuat jalan tengah yang menguntungkan untuk kamu!" sambungnya penuh dengan amarah.
"Jika benar itu wasiat dari Ayahku, tunjukan aku di mana jasad Ayahku? Di mana dia di kebumikan? Kenapa hanya kabar kematian saja yang aku dapatkan, bahkan aku tidak melihat wajah Ayahku untuk yang terakhir kalinya!" pekik All.
Bu Lusi terlihat gelagapan. "Ka-kamu telat datang All, jadi kamu tidak melihat," jawabnya sedikit terbata-bata.
Membuat All langsung tersenyum sinis mendengarnya. "Aku akan mencari tahu kebenarannya, lihat saja!" tegasnya langsung berlalu dari sana.
__ADS_1
'Sial, jangan sampai semuanya kacau!' batin Bu Lusi.
Bersambung ...