
Carlista tengah berjalan menyusuri kerumunan sebuah club malam terkenal di daerah Senopati. Masih dengan warna rambut yang sama, yaitu merah membara. Seperti hatinya yang begitu membara karena tingkah gila dari Marvel tadi siang saat di aula Antariksa High School.
Carlista seakan deja vu dengan nama itu. Seseorang yang memanggil namanya dengan nama masa kecilnya, Ita. Itulah nama panggilan kecil Carlista dulu. Ia sangat menyukai nama itu, nama yang indah yang diberikan oleh kedua orangtuanya.
Dan anak laki-laki yang memanggilnya dulu juga memanggilnya dengan sebutan itu. Tetapi, Carlista mulai lupa akan siapa nama anak itu yang memberikan boneka beruang coklat berukuran sedang semenjak kejadian malam penyerangan itu.
"WELCOME TO VIP ROOM CLUB!"
Sambutan heboh datang dari Melody dan Jenna secara bersamaan saat pertama kali Carlista menginjakkan kakinya di dalam ruangan VIP tersebut.
Jika mereka tengah berkumpul, mereka tidak suka akan keramaian. Apalagi ini club. Segala kemungkinan bisa terjadi dan berdatangan dari para pengunjung club terutama para pria hidung belang.
"Kusut amat dandanan lo." cibir Metta memicingkan kedua matanya pada Carlista.
Dan kedua mata Jenna pun ikut melirik pada Carlista. "Iya, Carl. Kayak gembel," timpalnya membuat Carlista mendengus.
Bagaimana tidak seperti gembel. Rambut merah membara milik Carlista sangat kusut dan acak-acakan. Jika ketiga sahabatnya datang ke club memakai pakaian casual seperti jaket jeans dan kaos hitam.
Berbeda lagi dengan Carlista yang memakai setelan piyama hitam motif love merah. Ia pun tak memakai sepatu, melainkan sendal bulu.
Carlista mendudukkan dirinya tepat di samping Metta dengan gerakan kasar. Dan itu juga mengundang atensi ketiganya. Seperti orang yang baru bangun tidur bercampur depresot. Benar-benar seperti gembel cantik.
"Lo lagi kenapa sih, Carl?" tanya Melody dengan heran. "Gagal buat laporan ke kantor polisi atas tuduhan pelecehan?" tebaknya.
"Taik emang! Dasar, Marvel gila! Bisa-bisanya dia cegat gue di jalan pas gue mau ke kantor polisi. Gue udah kabur dan ngebut bawa motor, eh dia malah ngejar gue juga pake motor. Sampe di kantor polisi, kalian tau gue diapain?!" ujar Carlista dengan menggebu.
Ketiganya hanya menggeleng dengan wajah cengo nya.
"Gue diketawain sama Pak pol! Dibilang, gue itu terlalu polos jadi cewek. Hanya karna si Marvel gila udah cium gue dan itu hanya perkara ringan. Gak usah dibawa sampe ke jalur hukum. Selesaikan masalahnya berdua aja!" lanjut Carlista dengan mendengus.
Hal itu sontak membuat Metta, Jenna, serta Melody tertawa dengan kencangnya. Persis seperti teman yang tengah tertawa di atas penderitaan orang lain.
"Kok lo semua pada ketawa sih?! Bukannya bantuin gue untuk putus dari Marvel, kalian malah ketawain gue!" sentak Carlista membuat ketiganya langsung menutup mulut rapat-rapat.
"Sorry, Carl. Lagian, lo ngapain sih pake laporan ke kantor polisi? Kan tinggal bilang putus. Udah, selesai." ujar Jenna dengan santainya.
Carlista membuang nafasnya kasar. "Gak segampang itu minta putus sama dia." ujarnya dengan ketus.
"Kalo gue jadi elo sih, gue terima-terima aja punya pacar ganteng kayak Marvel. Lagian, mana ada cowok ganteng another level selain Marvel," ujar Melody.
Carlista sontak menjulurkan lidahnya jijik. "Euh! Ganteng kalo diliat dari atas pegunungan Himalaya! Dan ngeliatnya pake ujung sedotan!"
Carlista menuang alkohol ke dalam gelas lantas meminumnya hingga habis tak tersisa. Seperti ini lah Carlista. Selalu mabuk jika ada masalah dalam hidupnya. Sebelum ia datang ke sini, ia memang sempat ketiduran. Lantaran aktifitasnya yang cukup melelahkan.
Bagaimana tidak melelahkan, jika ia melakukan protes tadi siang hanya karena menuntut keadilan terhadap apa yang ia alami tadi pagi. Hanya karena Marvel yang menghukumnya dengan caranya sendiri, justru membuat jiwa barbar seorang Carlista kembali bergejolak.
Cukup aneh memang. Jika wanita dicium pacarnya akan merasa senang dan tersipu malu. Dirinya justru menuduh pacarnya sendiri melakukan pelecehan.
"Jangan terlalu membenci, Carl. Nanti lo malah bucin parah sama Marvel," ujar Metta dengan raut wajah seriusnya.
"Gue? Bucin parah sama dia? Sorry, yah. Gak akan!" ujar Carlista dengan tegas.
"Sekarang emang belum. Nggak tau deh besok pagi," goda Jenna sambil menaik turunkan alisnya.
Carlista mendengus. "Gue lebih baik cium pantat kambing daripada harus bucin sama si Marvel gila, itu,"
Saat mereka tengah duduk santai dengan masing-masing handphone di tangan mereka, tiba-tiba saja pintu ruangan VIP terbuka secara kasar. Nampaklah empat remaja tampan yang tengah berdiri di ambang pintu dan salah satu dari mereka tengah menatap Carlista dengan tatapan tajamnya.
"Siapa yang ngizinin kamu main ke sini?"
Carlista hanya menatap datar pada Marvel sekilas lantas kembali dengan aktifitasnya. Sementara ketiga teman Carlista hanya terdiam dan tak mau ikut campur dengan pasangan muda tersebut.
__ADS_1
Marvel berjalan memasuki ruangan diikuti oleh ketiga temannya---Galang, Juna, dan Atharel dengan kedua tangan tetap stay di dalam saku celananya. Menambah aura ketampanan seorang Marvel kian menggila.
Carlista berdecak kala Marvel dengan beraninya meraih ponsel yang ada di tangannya. Hal itu sontak membuat Carlista bangkit dari duduknya dan menatap nyalang pada Marvel. "Balikin handphone gue." pintanya dengan datar.
"Jawab dulu pertanyaan aku. Siapa yang ngizinin kamu main ke sini? Hm?" ujar Marvel dengan datar.
"Bukan urusan lo!" sarkas Carlista. "Balikin gak?!"
Marvel menggeleng pelan. Handphone Carlista dengan sengaja ia angkat tinggi-tinggi sehingga Carlista tak mampu menggapainya lantaran tinggi Carlista hanya sedagu Marvel. "Jawab dulu pertanyaan aku, Carl. Baru aku balikin."
"Gue bilang, bukan urusan lo!!" sarkas Carlista dengan tajam.
"Kamu pacar aku, Carl. Aku berhak tau kemana aja kamu pergi. Dan malah, kamu main ke club tanpa sepengetahuan aku. Apa itu kamu bilang bukan urusan aku?!" ujar Marvel dingin dan datar.
"Gue bukan pacar lo!! Sampe kapanpun, gue gak mau jadi pacar dari orang stress kayak lo!!" pekik Carlista dengan menggebu.
Dirasa kondisi di dalam ruangan tersebut mulai tak terkendali, akhirnya Metta, Jenna, serta Melody beringsut keluar diikuti oleh Galang, Juna, dan terakhir Atharel. Tinggal lah mereka berdua. Pasangan sejoli yang tengah KDRT di dalam ruangan VIP tersebut.
Marvel tersenyum miring lantas berjalan mendekat menghampiri Carlista hingga keduanya bertatap-tatapan dengan jarak yang terbilang sangat dekat. "Yeah, I'm crazy. 'Cause you, Baby." ujarnya seperti bergumam.
"Stay away!!" desis Carlista.
"No. You're my girlfriend, Baby. Untuk apa aku menjauhimu," ujar Marvel sedikit serak.
Carlista menelan salivanya kasar. Ia benar-benar merasa jika cowok triplek yang ada di hadapannya saat ini benar-benar sudah gila. "V-Vel! Jangan deket-deket sama gue!" peringatnya dengan penuh penekanan.
Marvel justru tersenyum miring. "Mau dihukum dengan cara apa? Hm?"
Wah, jika sudah seperti ini, Carlista ingin menghilang saat ini juga. Karena ia tahu jika Marvel akan berbuat lebih seperti yang tadi pagi ia lakukan. Menciumnya hingga nyaris kehabisan oksigen. Ck, benar-benar gila.
Sementara di luar ruangan VIP tersebut. Ketiga wanita cantik dan ketiga pria tampan tengah berdiri sembari menunggu kedua sejoli tersebut menyelesaikan permasalahannya yang tak pernah berakhir sejak pertemuan pertama keduanya.
"Mulut lo bener-bener gak ada remnya! Gak mungkin lah si Marvel berani macem-macemin Carlista. Kalo dia sampe macem-macemin Carlista. Tenang, biar Metta yang hajar." ujar Jenna dengan menggebu yang mendapat toyoran kasih sayang dari Metta.
"Gila lo! Koit duluan gue!" sarkas Metta.
Jenna hanya terkekeh.
Sementara ketiga cowok tampan masih setia dalam kebungkamannya. Tetapi, Juna justru melirik-lirik sekilas pada gadis yang tengah memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. "Lucu," gumamnya.
Sementara di dalam.....
"MARVEL GILA!! DASAR COWOK FREAK!! GUE GAK SUKA SAMA LO, MARVEL!!" pekik Carlista yang menggema di ruangan VIP tersebut ternyata dapat didengar oleh keenam remaja yang memang ada di luar pintu ruangan VIP tersebut.
"MARVEL! LEPASIN GUE! MARVEL GILA!"
Nahkan, Carlista mulai ngereog lagi.
"Tuh kan, apa gue bilang! Pasti Carlista digrepe-***** sama Marvel!" ujar Melody sambil menggigit ujung jarinya.
"Lang, gimana ini?! Marvel nekad macem-macemin Carlista," ujar Juna dengan wajah gusarnya.
Galang yang memang terlihat paling santai di antara yang lain mengedikkan bahunya acuh. "Ya, tinggal nikahin," ujarnya dengan santai.
"Gak bisa!" serobot Jenna dengan cepat. "Mereka kan masih sekolah, gak bisa nikah sekarang."
"Kita masuk aja lah, kesian Carl," seru Melody yang hendak bergegas masuk ke dalam ruangan.
Namun, pergerakkannya ditahan lebih dulu oleh Metta. "Jangan. Biarin mereka yang menyelesaikan masalahnya sendiri,"
Melody hanya membuang nafasnya kasar.
__ADS_1
●●●
Setelah terlibat cekcok dengan Marvel di club, kini Carlista berada di mansion Hilson. Ia pulang diantar paksa dengan Marvel. Setelah melalui perdebatan sengit dan cekcok sepanjang perjalanan menuju mansion, akhirnya Carlista pasrah dibopong seperti karung beras oleh Marvel.
Hal itu juga membuat Carlista merasa malu sekaligus meringis. Tubuhnya yang kecil dibopong seperti karung beras. Ck, benar-benar seperti seorang pedofil tengah membawa mangsanya. Dan memasukkan Carlista ke dalam mobil Ferrari nya dan membawanya pergi untuk segera menuju ke mansion.
Sepanjang perjalanan menuju ke mansion, Carlista terus merengek dan mencak-mencak minta di keluarkan dari mobil Marvel. Sementara Marvel, si cowok triplek itu tak mau menurunkannya bahkan mengancam Carlista jika ingin minta turun dari mobil.
Ancamannya sih, simpel. Marvel cuma mengancam akan mencium Carlista jika ia terus berontak dan meminta untuk turun keluar dari mobil. Tetapi, selama 1 bulan tanpa absen.
"Ngapain lo masih di sini? Pulang sana!" ujar Carlista dengan ketus.
Marvel menaikkan sebelah alisnya. "Pulang? Ntar aja. Aku kan pacar kamu," ujarnya dengan santai sambil menyenderkan tubuh ke belakang sofa.
Carlista berdecak. "Ck, ngapain sih lo masih di sini?! Gue ngantuk. Mau tidur."
"Yaudah tidur." sahut Marvel dengan santai.
Carlista memutar bola matanya malas. "Kalo lo gak pulang sekarang, ngapain gue tidur," ketusnya.
Marvel tersenyum miring lantas menegakkan tubuhnya. "Jadi, kamu ngerasa gak enak kalo kamu tidur duluan sementara aku belum pulang? Hm?"
"Marvel! Gue bilang pulang, ya pulang!" sentak Carlista.
Marvel menggeleng cepat. "Gak bisa. Aku mau di sini aja." ujarnya dan mendekatkan wajahnya ke samping wajah Carlista. "Bersamamu, Baby," gumamnya.
"What?! Lo gila ya?! Mending lo pulang sekarang daripada gue teriakin lo maling dan orang-orang pada dateng untuk ngusir lo dari rumah!" ujar Carlista dengan menggebu.
Marvel justru nampak cuek dan malah menyenderkan punggungnya pada belakang sofa. "Coba aja. Aku gak akan pulang dan terus di sini. Nemenin kamu juga," ujarnya dengan santai.
Carlista mengacak-acak rambutnya dengan wajah gusar bercampur frustasi. "Aaarrghh! Ayo dong, Vel! Mending lo pulang dan kembali ke rumah! Gue gak mau liat muka lo! Sana pulang!"
Cup
"Gak baik ngusir pacar sendiri, Ita," ujar Marvel dengan lembut. Ia juga yang dengan beraninya mengecup pipi Carlista.
Carlista sontak saja mengusap kasar sebelah pipinya yang baru saja terkena bibir merah Marvel. "Euh! Lo udah lancang cium pipi gue, Vel! Dasar, cowok gila! Pulang lo sekarang!" usirnya sambil memukul-mukul Marvel dengan bantal sofa.
Marvel membuang nafasnya kasar. Meraih bantal sofa yang ada di tangan Carlista lalu membuangnya ke sembarang arah. Dan itu membuat Carlista sontak kaget dan beringsut mundur secara perlahan.
"Aku pacar kamu, Carl. Aku gak mau pulang. Aku mau menemani kamu di sini," ujar Marvel dengan suara sedikit serak.
Marvel semakin gencar mendekati Carlista, dan itu membuat Carlista mendadak tremor dan ingin segera pergi dari sofa. Namun, pergerakan tubuh Carlista harus tertahan karena Marvel telah lebih dulu menariknya dan jatuh ke atas pangkuan Marvel.
Pertanda buruk untuk Carlista, karena Marvel dengan mudah memeluk dan mengurung pergerakkan Carlista. Sekarang saja, ia sudah memeluk erat pinggang ramping Carlista dengan begitu posesifnya.
Belum lagi bibir Marvel yang terus bergerilya di permukaan kulit leher putih milik Carlista. Dan itu yang membuat Carlista tak bisa diam dan terus menerus mencumbui lehernya tanpa henti.
"Eeeuugghh, Vel. Lepasin gue! Aaarrgh! Lepasin, Marvel gila! Dasar cowok mesum! Keparat! Lo gila, Vel!"
Carlista memberontak dan memberikan perlawanan. Sesekali, ia juga memukul-mukul lengan Marvel yang nyatanya tak membuat Marvel melepaskan pelukannya begitu saja.
"Diem, Carl. Duduk yang tenang," ujar Marvel dengan suara serak dan juga sedikit menggeram.
"Gak! Pokoknya lepasin gue dulu baru guemmppfftt---"
Marvel yang sangat tidak tahan dengan ocehan Carlista dan pemberontakkan yang dilakukan olehnya membuat Marvel membungkam mulut cerewet Carlista dengan bibirnya. Ia gerakkan bibirnya dan ********** dengan kasar dan menggebu.
Dengan masih di atas pangkuan Marvel, Carlista berusaha untuk melepaskan rengkuhan tangan kekar Marvel, tetapi sia-sia saja ia memberontak dan melakukan perlawanan. Karena, oksigen dalam diri Carlista seakan dikuras habis oleh pacar tampannya itu.
●●●
__ADS_1