BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA

BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA
13 / Hukuman atau Lost Control?


__ADS_3

Tepat hari ini, seorang gadis keluar dari balik pintu mobil sport kuning dengan kacamata hitamnya. Sapuan lembut dari angin pagi yang berhembus, menyambut kedatangan gadis cantik itu. Rambut ungu magenta yang cukup mencolok itu, mengundang perhatian para siswa siswi AHS.


Ya, rambut hitam sepunggung yang diombre dengan warna ungu magenta dibagian bawahnya. Dan sedikit di churly untuk menambah kesan cute. Dan kedua poni yang berada di kedua sisi wajahnya, menambah kesan imut pada cewek keturunan Australia tersebut.


"Anjir! Makin cute! Jadi pen ngarungin!"


"Carlista! Aku padamu!


"Gila! That's so cute!"


"Aaarrgghh! Pengen cubit pipi putihnya! Gemesin banget njirr!"


"Cantik gila! Vibes-nya udah kayak Idol yang masih imut-imut ngegemesin gimanaaa gitu!"


"Carlista! Saranghae!"


Carlista tersenyum puas kala melihat reaksi orang-orang yang menganggumi dirinya. Bahkan, tak sedikit orang yang juga memujinya dan blak-blakan berkata dengan kalimat-kalimat keramat yang mungkin saja akan membangkitkan jiwa yang bersemayam dalam diri seorang Marvel.


Ck, bener-bener nyari mati nih anak.


Why? Karena Marvel saat ini terus memperhatikan pergerakan Carlista dari kejauhan dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya. Tetapi, mata tajam bak elang nya tak berhenti begitu saja, kian tajam tatapan itu, kian terkepal erat kedua tangannya di dalam saku celananya.


"Kamu ingin main-main denganku, sayang? Baiklah. Aku ikuti permainanmu," gumam Marvel menyeringai tipis.


Untuk saat ini, ia bisa menahan amarah sekaligus hasratnya untuk tidak memberikan Carlista hukuman. Tetapi, sebentar lagi, ia akan menghukum gadisnya itu sesuai dengan dengan kesalahan yang sudah beberapa hari ia lakukan.


Mulai dari bolos hingga merubah gaya rambut dan penampilannya yang sangat cutie itu. Ingin rasanya ia mengarungi gadisnya dan membawanya pergi, lalu mengurungnya di kamar hanya untuk dirinya. Tak boleh seorangpun yang melihatnya dalam keadaan lucu seperti ini kecuali dirinya.


Carlista menyugarkan rambutnya perlahan, membuka kacamatanya dan mengibas-ibaskan rambut imutnya itu. Dan itu yang membuat para siswa bereaksi dan benar-benar seperti menonton live action di mana seorang gadis cantik tengah menggoda mereka.


Kedua mata Marvel kian menajam sempurna. Deru nafasnya memburu dengan dada yang naik turun. Ia sungguh tidak tahan dengan apa yang gadis kesayangannya itu lakukan. Benar-benar menguji iman dan mengusik ketenangan hidupnya saat ini.


Baru saja ketiga temannya datang dan menghampiri Marvel, tetapi Marvel malah pergi dengan langkah lebarnya menuju tempat parkir utama di mana mobil Carlista berada.


"Lah, malah pergi," decak Juna. Namun tak lama kedua matanya tertuju pada gadis berambut ungu magenta itu. "Anjir! Gemesin banget tuh cewek!"


"Marvel kayaknya mau ngasih hukuman buat Carlista," gumam Atharel yang masih bisa didengar oleh keduanya.


Dan benar saja, saat Carlista hendak melangkah menuju gedung utama Antariksa High School, pinggangnya telah lebih dulu ditarik dan direngkuh oleh si pemilik lengan kekar itu. Saat ia hendak berbalik dan memutar poros tubuhnya, saat itu juga kedua matanya bertemu dengan kedua mata tajam milik seseorang.


Sedetik setelahnya, pekikan dan jeritan heboh sekaligus histeris memenuhi parkiran utama AHS pagi ini. Karena Marvel yang telah membungkam mulut Carlista dengan bibirnya. ******* kasar hingga gadis dalam dekapannya seakan kehabisan oksigen.


Sebelah tangan Marvel merengkuh erat pinggang ramping Carlista, dan sebelah tangannya lagi menahan tengkuk Carlista untuk memperdalam ciumannya. Kedua tangan Carlista terus mencengram, memukul, bahkan sesekali juga berbunyi dentuman-dentuman dari punggungnya.


Tetapi, tak membuat Marvel melepaskannya begitu saja. Carlista merasa jika ciuman ini benar-benar membuatnya ingin mati seketika. Oksigennya terkuras habis bersamaan dengan semakin kasarnya ciuman Marvel untuknya kali ini. Hingga air matanya mulai berjatuhan dan membasahi pipi keduanya.


BUGH!


"LO MAU BUNUH CARLISTA?! DASAR GILA!!"


Saat itu pula Marvel baru melepaskan ciumannya dan pelukannya, sejurus kemudian ia berbalik dan langsung memberikan hadiah berupa bogeman mentah tepat di rahang kokoh siswa itu hingga tersungkur ke bawah.


BUGH!


BRUKH!

__ADS_1


"Gabriel!" Carisa memekik kala Marvel yang dengan sengaja memukul Gabriel tepat di rahang kokohnya dan itu membuat mulut Gabriel mengeluarkan darah. Dan Gabriel juga yang telah memukul leher belakang Marvel dengan keras.


Sementara Carlista sudah pingsan dan tak sadarkan diri dalam pangkuan Jenna. Di sana juga sudah ada Galang, Juna, dan Atharel. Sementara teman Carlista juga sudah berada di dekat Carlista.


"Oh my bestie! Carl! Bangun!" seru Jenna sambil menepuk-nepuk pelan kedua pipi Carlista.


Sementara Marvel dengan langkah cepat langsung membawa Carlista dari pangkuan Jenna dan menggendongnya ala bridal style. Membawanya ke dalam mobil lantas meninggalkan area sekolah.


"Aaarrgghh, temen kita mau dibawa ke mana itu?!" ujar Melody mengusap wajahnya kasar.


"Marvel gak akan nyakitin Carlista. Tenang aja," ujar Galang dengan aura yang cukup mendominasi.


Metta menoleh dan berdiri tepat di hadapan ketiganya. "Awas aja kalo sampe Carlista diapa-apain sama temen lo yang gila itu! Gue tembak mati kalian semua!" ancamnya.


Juna dan Atharel menelan salivanya kasar, sementara Galang hanya terlihat cuek dan terkesan tak menghiraukan ancaman dari gadis cantik itu.


Maklum, Bokapnya kan mantan ketua Mafia terkuat asal Jepang. Satu kesalahan, satu jari.


●●●


Entah mau kemana Marvel membawa Carlista saat ini. Di dalam mobil Ferrari hitam tersebut, Carlista masih setia tertidur dan Marvel yang terus mengendarai mobil tersebut dengan pandangan yang dingin dan kilatan amarah yang membuat matanya kian menajam sempurna.


Raut wajahnya pun sangat tidak bersahabat. Di dalam dada Marvel saat ini benar-benar terdapat api yang membakar jiwanya. Amarah yang mungkin sudah tidak terbendung lagi. Rasa marah, rasa kecewa, rasa cemburu, kini bercampur jadi satu di dalam dadanya.


Ia tak akan membiarkan gadisnya lolos. Ia akan terus berusaha untuk membuat gadisnya mencintainya dan mau menerimanya. Dan itu yang Marvel lakukan saat ini, membawa gadis yang ia cintai pergi dari area sekolah menuju apartemen miliknya.


Lama ia menunggu momen di mana Carlista benar menjadi miliknya. Milik Marvel seorang. Tak ada yang boleh memiliki ataupun sekedar menyentuh gadis kesayangannya itu. Terlebih lagi, Raskal.


Cup


Marvel mengumpat pelan, kala ia yang kembali mengingat ulahnya yang terkesan bodoh dan membuat gadis cantik kesayangannya itu pingsan karena ulahnya. Ulah dirinya yang menghukum Carlista dengan ciuman beracun yang dapat membius gadis itu hingga pingsan.


Marvel juga tidak tega ketika melihat bibir Carlista yang masih membengkak dan memerah hingga saat ini. Lebih bengkak dari pertama kali ia menciumnya saat kemarin-kemarin.


"Maafkan aku, Baby. Aku kelewat emosi dan tidak bermaksud untuk membuatmu menjadi seperti ini," bisik Marvel tepat di telinga Carlista.


Sebelah jempol tangannya terulur untuk mengusap pelan bibir bawah Carlista yang masih membengkak. Bibir mungil yang ternyata membuatnya candu. Terasa sangat manis. Dan terlebih lagi, ialah yang menjadi first kiss-nya. Dan itu membuat Marvel semakin jatuh cinta.


Marvel menarik selimut untuk menutupi tubuh Carlista hingga batas dada. Mengecup singkat seluruh area wajah Carlista tak terkecuali bibir selama beberapa detik, lalu melepaskannya. Mengusap lembut rambutnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan gadisnya dalam keadaan tertidur pulas.


●●●


Carlista mengerjapkan kedua matanya perlahan. Menatap langit-langit kamar yang didominasi warna putih. Ia berusaha untuk bangkit dan merubah posisi menjadi duduk. Bersandar pada bedcover belakang sambil melihat-lihat keadaan sekitar.


Semua masih terasa sangat asing. Bahkan, ia baru pertama kali melihatnya. Kamar yang begitu luas dan mewah. Carlista pastikan jika ini adalah kamar dengan pemiliknya para kaum konglomerat. Sangat mewah, bahkan melebihi kamarnya di mansion Hilson. Sumpah,


Carlista menyibak selimut dan berusaha turun menapak lantai marmer itu. Terasa begitu dingin, saat ia berjalan-jalan sebentar untuk melihat keadaan kamar ini yang terlihat sangat bersih, rapih, dan---harum. Dengan didominasi wangi parfum lelaki yang begitu maskulin.


Ia ingat wangi parfum siapa ini. Ia tak mungkin lupa dalam hal mengingat aroma, rasa, bahkan wajah dan suara orang sekalipun. Ia masih mengingatnya dengan baik.


"Wangi parfum ini... wangi parfum---" Carlista sengaja memberhentikan ucapannya karena ia semakin mencium aroma yang kian semerbak dari parfum yang sangat ia kenali itu. "Marvel!"


"Yes, I'm here, Baby," Marvel memeluk pinggang Carlista dari belakang dan mengecup lehernya beberapa kali hingga Carlista menggelinjang sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya.


"Eeeuugghhh! Lepasin gue Marvel! Aarrghh, dasar cowok gila! Lepas!"

__ADS_1


Carlista terus memberontak dan terus memberikan perlawanan. Mulai dari kaki Marvel yang sengaja ia injak hingga kedua tangan Marvel yang ia pukul, perut yang juga ia sikut, tetapi itu tak bereaksi untuk cowok dengan kulit badak sepertinya.


Buktinya, Marvel malah tetap tenang dan malah menggendong Carlista ala karung beras. Hal itu membuat Carlista lagi-lagi memberontak dengan sangat brutal dan memukul-mukul punggung lebar dan kekar Marvel hingga berbunyi dentuman-dentuman yang membuat siapa saja meringis mendengarnya.


BUGH!


"DASAR COWOK GILA! LO UDAH STRESS VEL! LO BENER-BENER COWOK TERGILA YANG GUE TEMUIN!"


"LEPASIN GUE MARVEL BANGSAT! LEPAAAAS!"


Tubuh kecil Carlista dilempar ke kasur dengan kencang oleh Marvel. Meski kasur tersebut super duper empuk dan nyaman, tetapi tetap saja, tubuh Carlista terasa sakit terutama kepalanya yang mendadak pening.


"Kamu mau bikin aku nahan cemburu sampai kapan, sayang? Hm?" ujar Marvel dengan suara berat yang lebih terdengar seperti---menggoda.


Carlista dengan susah payah bangkit dari posisi telentang, namun kedua tangan Marvel malah mendorong pundaknya hingga ia kembali ke posisi semula dengan Marvel yang perlahan mulai menindih dan mengukung tubuh kecilnya.


"Lepasin gue, Vel! Please, lepasin gue!" Carlista menggeleng lirih dengan kedua mata yang memerah dan perlahan mengeluarkan air mata.


"No, Baby. Aku belum menghukum dirimu," gumam Marvel dengan suara serak yang kian kentara.


Carlista tak bisa mendorong tubuh Marvel karena kedua tangannya sudah ada di atas kepala dengan sebelah tangan Marvel yang mengunci pergelangan kedua tangannya. Sebelah tangannya lagi ia pakai untuk membelai lembut wajah gadis yang kini sudah memerah merona.


"Jangan, Vel! Gue gak mau. Lepasin gue, Marvel! Gue gak mau jadi cewek lo yang seenaknya aja lo nikmati dan lo buang gitu aja! Hiikkss,"


"Aku bukan laki-laki seperti itu, Carl. Aku tidak pernah melakukan apapun dengan wanita lain. Aku hanya mencintai kamu dari dulu. Sejak pertemuan pertama kita belasan tahun lalu," ujar Marvel seperti berbisik, namun sarat akan keseriusan.


Saking dekatnya kedua wajah mereka, Carlista sampai bisa mencium aroma mint dan aroma tubuh Marvel yang begitu maskulin. Ia perempuan tulen, lengah sedikit saja, ia akan terbuai dan berakhir One Night Stand dengan lelaki tampan yang mencintainya ini.


Maka dari itu, Carlista terus berupaya untuk tidak terbuai dengan suara sexy serta wajah Marvel yang kian---tampan. Sungguh, berkali-kali lipat lebih tampan daripada yang biasa ia lihat.


Marvel mulai menciumi wajah Carlista dengan cukup brutal hingga Carlista terus menggeleng tak tentu arah. Karena sedikit kesal, Marvel menahan pergerakan wajah Carlista dan membungkam mulutnya dengan ciuman yang terasa begitu lembut.


Meski seandainya Marvel adalah benar kekasihnya yang sangat ia cintai sekalipun, ia tak akan pernah memberikannya dengan cuma-cuma. Karena semua pasti ada konsekuensinya kelak.


Bagaimana tidak gila, sebelah tangannya saja sudah bergerilya dibagian atas sensitifnya. Belum lagi rasa geli yang kian membuncah pada beberapa area leher yang tengah Marvel hisap itu.


Dengan susah payah menahan agar mulutnya tidak mengeluarkan suara laknat yang mungkin membuatnya akan hidup dalam neraka setelah ini. Maka dari itu, saat hisapan Marvel kian menguat, ia lebih baik menggigit bibir bawahnya saja hingga terasa cukup perih.


"Marvel! Lo bener-bener cowok paling gila yang berusaha masuk dalam hidup gue! Hiikkss,"


Seakan mendapat kesadaran kembali, Marvel merebahkan tubuhnya ke samping Carlista. Dan terlihat jika Marvel nyaris berbuat hal yang seharusnya tidak ia lakukan pada gadisnya itu.


Meski awalnya ia hanya ingin memberikan hukuman untuk gadisnya. Tetapi, ia hampir lost control kala ia menghirup aroma tubuh Carlista yang sangat memabukkan untuknya itu.


"Hiikkss, lo gila Vel! Lo cowok gila yang berusaha ngerusak mental dan masa depan gue! Hiikkss," ujar Carlista sambil menangis dan memunggungi Marvel. Punggungnya bergetar hebat dan itu cukup membuat Marvel merasa sangat bersalah.


"Maafin aku, Carl. Aku sungguh gak sengaja. Aku gak bermaksud membuat kamu takut," ujar Marvel dengan suara lembutnya.


Marvel mengusap pelan lengan Carlista yang masih berbalut seragam putihnya, karena blazernya sudah Marvel lepaskan saat ia pingsan tadi. Tubuhnya bergetar hebat dan sedikit menggeser ketika Marvel berusaha menyentuhnya.


"Hiiks, don't touch!"


"Maaf, Carl. Maaf. Maafin aku yah," ujar Marvel sambil mengusap pelan lengan Carlista, meski sesekali gadis itu menolak.


Siapa lo sebenernya, Vel? Untuk apa lo dateng ke dalam hidup gue dengan cara seperti ini?

__ADS_1


●●●


__ADS_2