
Entah apa yang Carlista pikirkan saat ini. Setelah kemarin ia bertengkar dengan keluarganya sendiri dan bertemu dengan Gabriel, kini ia berada di kamar seorang diri. Lebih tepatnya mengurung diri di kamar. Tak mau keluar dan bertemu dengan siapapun.
Makan malam saja ia tak keluar. Meski ada maid yang mengantarkan troli makan malam untuknya hari ini, ia tetap tidak mau makan dan tidak mau membukakan pintu kamarnya. Carisa juga sudah berkali-kali membujuk dan bahkan membawakan makan malam juga.
Tetapi nihil. Tak ada reaksi apapun dari Carlista. Dan itu cukup membuat Carisa khawatir dan takut jika sang saudara akan jatuh sakit dan demam. Mengingat, Carlista yang tak datang ke sekolah dan pergi entah kemana.
Sementara Marvel. Si cowok gila yang sudah mengklaim Carlista untuk menjadi pacarnya itu, sempat datang ke mansion dan mencari keberadaan sang kekasih. Tetapi, Carisa yang justru bertemu dengan Marvel. Dan itu yang membuat Marvel pulang.
Sebenarnya Carlista sangat bosan berada di kamar mansion seorang diri. Tak ada yang menemani dirinya. Ketiga temannya pun sudah berkali-kali mengirim pesan dan menelfonnya. Tetapi, ia tak mau mengakat panggilan itu ataupun hanya membalas pesan dari ketiganya.
Terlebih si cowok triplek---Marvel, maksudnya. Marvel terus mengirim pesan lewat chat dan DM Instagram juga. Dari kemarin, entah berapa jumlah total pesan yang dikirimkan oleh kekasih yang tak ia anggap itu. Terhitung hingga saat ini, Marvel masih mengiriminya chat.
Ting!
From My Marvel
Sayang, hey kamu di mana?
Aku rindu sama kamu, Ita
Please... jawab pesan aku
Ita, sayang. Kenapa kamu gak angkat telfon aku?
I'm your boyfriend, Baby. Please, angkat telfon dariku
Baby, Ita. Jangan bikin aku marah dan berakhir ada yang terluka, sayang
Apa perlu aku menyingkirkan orang-orang itu? Hm?
Ita, I miss you so bad
Carlista mendesah pasrah. Entah kapan ia memyimpan nomor Marvel. Atau kapan Marvel yang diam-diam mengambil ponselnya dan sengaja menyimpan nomornya dalam ponsel. Terlebih lagi, ia juga yang menamainya dengan nama 'My Marvel'.
Lebay? Ck, biarin. Namanya juga lagi bucin. Marvel yang bucin sama Carlista. Sementara Carlista? Bucin dari Hong Kong! Boro-boro bucin, ngakuin Marvel aja, enggak. Padahal, Marvel itu gantengnya bak visual Idol. Tetapi, Carlista gak mau.
Carlista meraih handphone apel miliknya. Membuka pesan dari Marvel sebentar, lalu melemparkannya ke sembarang arah hingga handphone tersebut retak dan berserakan di lantai marmer kamarnya. Dirinya hampir gila setengah mampus.
"Aaaarrrgghh! Lo siapa sih sebenernya?! Lo udah bikin hidup gue gila, Vel!! Lo bikin gue gila!!"
Air mata Carlista kembali terjatuh bersamaan dengan kedua tangannya yang mencengkram erat kedua sisi kepalanya. Rambut merahnya acak-acakan dan kedua matanya yang sayu. Tubuhnya kurus dan pucat. Pola makannya pun tidak teratur.
Hidup dan tumbuh dalam lingkungan dan keluarga yang toxic, membuat Carlista merasa hampir depresi. Bahkan, nyaris gila.
●●●
Disisi lain, Marvel tengah berdiam diri di kamarnya. Mengusap wajahnya kasar lantas membanting handphone miliknya ke lantai marmer hingga hancur berserakan dan tak berbentuk. Ia yang memang tengah menunggu pesan dari sang kekasih dibuat kesal, karena Carlista hanya membacanya dan tidak membalas pesannya.
Perasaan Marvel saat ini benar-benar dongkol. Amarahnya kian memuncak dan seakan ia ingin membunuh orang sekarang juga. Gadis yang ia cinta menolaknya mentah-mentah dan tak menghiraukannya.
Hingga salah satu bodyguard suruhannya mengirimkan ia sebuah foto di mana itu adalah foto gadis kesayangannya dengan seorang laki-laki tampan. Ya, ia sangat mengenali sosok itu. Orang terdekat Carlista.
Ia sangat tidak suka jika Carlista dekat dengan lelaki lain selain dirinya. Meski begitu, ia akan menahan emosinya untuk tidak menghajar dan menghabisi orang yang sudah dengan beraninya menyentuh bahkan memeluk gadis kesayangannya itu. Terlebih, Marvel yang sedikit tempramen.
"Carlista Daniella Hilson, hanya ditakdirkan untuk menjadi milik Marvel James Ferioz. Gak akan ada yang bisa memiliki kamu selain aku, Baby," gumam Marvel sambil membelai indah sebuah foto seorang wanita cantik berambut hitam dan ash grey yang tengah tertawa lepas.
Entah kapan, Marvel diam-diam mengambil foto itu. Yang jelas, ia banyak menyimpan foto candid Carlista dalam galeri foto di handphonenya. Dan yang terbaru adalah di mana rambut Carlista yang merah membara. Mungkin, dua hari yang lalu ia mengambilnya.
Marvel juga meraih boneka beruang putih berukuran sedang yang ada di dalam lemari baju bagian bawahnya. Sejenak, ia memperhatikan boneka itu. Terlihat masih putih dan terawat. Bulu bonekanya pun terasa sangat lembut.
"Mungkinkah kamu masih menyimpan boneka pemberianku, Ita?"
"Apa---kau masih mengingatku?"
"Atau justru kau melupakan semuanya?"
Gumaman-gumaman yang mencelos dari bibir Marvel saat ini seakan mengekspresikan perasaan dan suasana hatinya saat ini. Merindu setiap hari, setiap jam, setiap menit, dan setiap detik. Ya, mungkin saja Marvel memang sudah gila.
Terkena mantra sihir dari penyihir cantik yang ternyata mampu membuat hidupnya hampir porak poranda.
__ADS_1
●●●
Tok! Tok! Tok!
"Carl! Ada temen-temen kamu di bawah! Mereka datang mau ketemu sama kamu, Carl!"
"Carlista! Ini aku Carisa! Buka pintu, Carl! Temen-temen kamu udah ada di---"
Belum sempat Carisa meneruskan ucapannya, suara gedoran pintu sudah lebih dulu menyambut sekaligus memutuskan ucapannya.
TOK! TOK! TOK!
"CARLISTA! BUKA PINTUNYA CARL! GUE SAMA METTA DAN MELODY MAU AJAK LO PERGI! CARL! BUKA PINTUNYA DONG!"
"OH MY BESTIE! YUHUUU! ITAAA! INI GUE JENNA, BUKA PINTUNYA WOY! MARKONAH! BURU BUKA!"
TOK! TOK! TOK!
"ITAAA! INI MEL! AYO BUKA PINTUNYA! KALO GAK DIBUKA, NANTI DIDOBRAK SAMA METTA! AYOLAH, CARL!"
Cukup barbar bukan, gadis cantik yang satu ini? Saat Carisa datang membukakan pintu untuk ketiga temannya, Metta, Jenna, serta Melody langsung melenggang masuk tanpa permisi. Berjalan menuju sofa ruang tamu lalu mengambil beberapa cemilan yang tersedia di meja kaca depan sofa.
Carisa menaiki tangga hendak memanggil Carlista dam mengetuk pintu kamarnya perlahan, namun entah bagaimana si Selebgram AHS itu berada di dekatnya dan dengan gilanya menggedor-gedor pintu kamar orang tanpa permisi. Ditambah Melody yang juga ikut-ikutan.
Dalam circle Carlista, yang kalem itu hanya Metta saja. Bukan kalem, lebih tepatnya irit bicara. Tetapi, badass dan termasuk wanita tangguh. Sama seperti Carlista. Jika Jenna, kemampuan bela dirinya masih dibawah mereka berdua. Dan Melody? Ck, ia hanya mengandalkan suara cemprengnya saja.
"S-sorry, semua ini salah gue. Kemarin, Bokap nampar Carlista gara-gara belain gue," cicit Carisa membuat ketiganya menoleh ke arahnya.
"Maksud lo?" tanya Metta menaikkan sebelah alisnya.
Carisa menggigit bibir bawahnya dan menangkat pandangan dengan sedikit takut-takut. Terlebih, ia berhadapan dengan Metta. Si gadis blasteran Jepang, dengan sorot mata dingin dan penuh intimidasinya.
"Bokap sama Nyokap lebih sering membela gue daripada Carlista. Jadi---dia ngurung diri di kamar sejak kemarin," lanjut Carisa.
"Oh my bestie! Bisa-bisanya Bokap and Nyokap Carlista lebih membela anak angkat ketimbang anak kandungnya sendiri?!" pekik Jenna dengan mencerocos tanpa henti. Namun tak lama, ia segera membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.
Plak!
Carisa tersenyum tipis lantas mengangguk. "Hm, gak papa. Emang bener kok... apa---k-kata Jenna. Kalo gue, hanya anak angkat dalam keluarga," ujarnya.
Hening
Awkward
Dan---yah, suasana itu yang tengah terjadi saat ini. Hingga suara Metta yang memecah keheningan siang ini.
"Carl! Lo di dalem gak papa kan?! Lo gak lagi semedi kan?! Carlista!"
Tak ada jawaban.
Brak! Brak! Brak!
"Carl! Gue dobrak ya, pintu kamar lo sekarang?! Awas aja kalo lo gak bukain kita pintu! Gue dobrak sekarang juga!!"
Metta yang sudah geregetan dengan sikap salah satu temannya itu akhirnya mengambil ancang-ancang untuk bersiap mendrobak pintu kamar bercat coklat itu. Dengan dibantu oleh Jenna, dan juga Melody.
Sementara Carisa beringsut mundur ke samping.
Ketiga gadis cantik itu akan bersiap untuk mendobrak pintu Carlista. Mereka sudah mengambil ancang-ancang sekaligus kuda-kuda untuk mendobrak pintu yang ada di depan mereka saat ini.
Satu...
Dua...
Tiga...
Ketiganya mendobrak pintu kamar Carlista dengan kencang hingga berbunyi dentuman yang cukup membuat siapa saja meringis mendengarnya.
BRUKH!
__ADS_1
"Aaawwsstt! Tangan gue sakit banget! Gila!"
"Bangsat! Badan gue jangan ditindihin bego! Badan lo pada berat semua tau gak?!"
"Oh my bestie! Pantat gue berasa bonyok! Punggung gue juga pada encok!"
"Ck, Melon! Lo jangan nindihin badan gue dong! Sakit nih!"
Suara-suara yang begitu heboh saling bersahutan di telinga Carlista saat ini. Terlihat jika tiga gadis itu sedang berada di lantai marmer depan pintu kamarnya. Sepertinya, mereka bertiga terjatuh karena Carlista yang membuka pintu bertepatan dengan ketiganya yang mendobrak pintu kamarnya.
Sementara ketiganya tengah meringis kesakitan akibat pendobrakan pintu kamar yang gagal, si pemilik kamar malah setia berdiri dengan wajah datarnya menatap ketiga temannya yang dengan absurdnya malah leha-leha di bawah kakinya.
"Ngapain kalian tiduran di bawah? Mau cosplay jadi gembel?" datar Carlista.
Ck, ck, ck. Ia tidak berkaca jika penampilannya saja sebelas dua belas seperti gembel. Gembel cantik, maksudnya. Rambutnya yang merah terlihat sangat kusut dan acak-acakkan. Piyama merah lengan pendeknya pun, cukup kusut.
Ketiga wanita itu segera bangkit sambil memegangi beberapa area tubuhnya yang memang terasa sakit dan nyeri. Terlebih, Metta. Dirinya saja ditimpah dua karung beras---eh, dua manusia sekaligus. Tulangnya cukup remuk untuk siang ini.
"Lo kenapa, Carl? Lo---baik-baik aja, kan?" tanya Jenna to the point. Melupakan ucapan Carlista yang barusan. Dan rasa sakit pada pantat dan punggungnya juga.
"He'em. Lo gak gila kan, Carl? Atau, Marvel dateng macem-macemin lo semalem? Ngomong sama kita, Carl. Biar Metta yang hajar." seru Melody dengan menggebu.
Sementara Carlista hanya diam saja. Tak menyahut atau menanggapi ucapan dari para sahabatnya. Dan itu cukup membuat Carisa merasa awkward dan memilih untuk pergi meninggalkan keempatnya.
.
.
.
"Gue muak sama hidup gue sendiri. Gue hampir gila. Gue stress. Hampir depresi. Gue capek sama semuanya. Belum lagi Marvel yang seakan terus mengganggu dan menghantui gue terus-terusan. Dan untuk apa si cowok gila dan stress kayak Marvel mengklaim gue jadi miliknya? Apa dia udah gila?"
"Dan untuk apa Marvel dateng ke dalam hidup gue kalo cuma buat gue semakin menderita? Di rumah, gue gak tenang. Di sekolah, ada cowok gila yang dengan beraninya menyentuh gue. Apa semua ini? Kenapa selalu gue yang tersiksa? Kenapa selalu berakhir di gue? Kenapa guys?! Kenapa?!"
Metta, Jenna, dan Melody masih setia mendengarkan keluh kesah seorang Carlista di depan balkon kamarnya. Sedari tadi, Carlista terus bergerak gelisah tak tentu arah. Wajahnya gusar, rambutnya acak-acakkan, kedua bawah matanya mulai menghitam.
Perubahan itu yang membuat ketiga sahabatnya khawatir. Takut, jika Carlista akan melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Semisal, ia membawa tali tambang dan menggantungkan dirinya di pohon cabe. Atau, ia yang tiba-tiba terjun bebas. Kan gak lucu,
"Aaaarrgghh! Kalian dengerin gue ngomong gak sih?!" sentak Carlista membuat ketiganya tersentak kaget.
"Denger. Gue dari tadi dengerin cerita lo!" seru Jenna.
Carlista hanya mendengus sambil mengacak pelan rambutnya.
"Apa alasan lo untuk nolak Marvel? Marvel ganteng gitu. Bak dewa Yunani. Bahkan, melebihi ketampanan seorang Idol," ujar Melody bingung.
Carlista membuang nafasnya kasar. "Ganteng dari Hong Kong! Muka datar kek triplek aja dibilang ganteng! Ck, mirip pantat kambing, iya."
Wah, mulut Carlista benar-benar gak ada akhlak samsek.
"Tapi bener apa kata Carlista. Untuk apa Marvel dateng dan langsung mengklaim Carlista dengan alasan jika ia ingin melindungi Carlista?" ujar Metta dengan nada yang serius.
Ketiganya terdiam.
"Apa---semua ini berhubungan dengan satu keluarga yang Ferioz sedang cari?" sambung Metta dengan bergumam pelan.
"Ck, emang si cowok gila cuma Marvel doang!" decak Carlista dengan sinis. "Sama si Raskal juga," tambahnya.
●●●
Sore ini Carlista dan ketiga temannya sudah berada di tempat tujuan untuk merapihkan rambut sekaligus warna rambut Carlista. Ya dimana lagi jika bukan salon. Sebuah salon rambut yang sering mereka datangi. Terlebih, Jenna dan Melody. Keduanya sering datang untuk sekedar merapikan penampilan mereka.
Keempatnya masuk ke dalam salon tersebut.
Sebenarnya Metta enggan untuk datang ke salon, karena ini bukanlah tempatnya. Tetapi, ia terpaksa masuk dan ikut terseret oleh ketiga temannya itu. Ck, literally teman-teman yang gak ada akhlak.
Rambut Carlista saat ini akan di make over oleh salah satu pekerja salon yang ada di sana. Ia akan sedikit memotong bagian rambut Carlista dan merubah warna rambutnya, yang pasti akan berbeda dari sebelum-sebelumnya.
Ia akan pastikan, jika Marvel akan mereog dan berakhir membuatnya tidak tahan dengannya dan ingin mengundurkan diri menjadi pacarnya. Liat aja nanti.
__ADS_1
●●●