
"Kenapa harus pake rok pendek kayak gini, hm? Terus kenapa rambut kamu jadi merah gitu?" ujar Marvel dengan lembut.
Karena Marvel sudah sah berpacaran dengan Carlista sejak kemarin siang. Meskipun Carlista menolak, tetapi, Marvel tidak menerima penolakan. Mau mulut Carlista menolak sampe berbusa sekalipun, tetap saja Marvel akan mengklaim Carlista sebagai pacarnya. Sudah mengerti kan sekarang?
Marvel jahat? Kejam? Gak punya perasaan?
Biarin. Anak Mafia terkuat dan terkejam asal Amerika Serikat mana mungkin memiliki hati malaikat. Beda server bund. Ini Marvel James Ferioz. Cowok triplek yang dikenal kejam dan tak suka jika ada yang melanggar aturan. Maka ia akan menghukumnya.
Carlista justru memutar bola matanya malas. Lantas menjulurkan lidahnya jijik. "Euh, gak usah sok lembut kalo ngomong sama gue. Jijik gue dengernya," sarkasnya tepat di hadapan Marvel.
"Kamu gak inget kalo kamu sekarang udah jadi pacar aku? Hm?" ujar Marvel dengan intens dan dalam.
"Semenjak kapan gue mau jadi pacar lo?!" sentak Carlista.
Keduanya saat ini memang tengah berada di gazebo taman Antariksa High School. Jelas mereka hanya berdua karena bel masuk telah berbunyi sekitar 10 menit yang lalu. Jadi, tak ada yang berani keluar masuk kelas kecuali murid yang berkepentingan saja seperti mereka berdua.
"Kemarin siang di tribun dekat lapangan basket." ujar Marvel dengan santai. "Dan mulai detik itu juga, kamu jadi pacar aku," sambungnya sambil sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Carlista.
Carlista sontak menjauhkan tubuhnya dari Marvel. Ia hanya takut jika tiba-tiba saja Marvel mencium dirinya atau mungkin melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Secara, Carlista juga pernah membaca buku yang berkisah cinta dunia Mafia, yang menurutnya agak ngeri dan creepy.
"Jauhin muka lo dari hadapan gue," ujar Carlista dengan desisan tajam.
Marvel seketika semakin memajukan langkahnya hingga Carlista membentur tembok belakang gazebo taman. Dengan senyuman smirk yang membuat siapa saja berdigik ngeri melihatnya. Tak terlebih Carlista. Meski raut wajahnya datar, percayalah, jika detak jantungnya berdegup kencang dan hendak terlepas saat itu juga.
"Kesalahan kamu gak cuma satu, Carl," ujar Marvel dengan dalam.
"Kalo kesalahan gue banyak, lo mau apa?!" seru Carlista.
Marvel tersenyum miring. "Kamu tahu kan, jika aku paling gak suka dengan orang yang suka melanggar peraturan? Maka aku akan menghukum orang itu," ujarnya sedikit serak.
Carlista menelan salivanya kasar. Sepertinya setelah ini kehidupannya benar-benar suram karena menjadi pacar dari cowok triplek dan selalu mendapat hukuman dari Marvel dengan cara yang tak biasa.
"Tapi gue gak peduli!" ujar Carlista dengan tajam.
"Jangan kasar, Carl. Mulut indah kamu ini gak pantes untuk berbicara seperti itu," ujar Marvel dengan datar.
Carlista menaikkan sebelah alisnya. "Kalo kenyataannya mulut gue emang selalu mengumpat dan berkata kasar, kenapa?! Lo gak suka sama cewek kayak gue?! Emang itu tujuan gue dari awal! Gue ingin protes karena gue gak mau jadi pacar lo!!" ujarnya dengan menggebu.
"Ssst...." jari Marvel diletakkan tepat di bibir Carlista sembelum akhirnya tangannya ditepis kasar oleh Carlista.
"Jauhin tangan lo dari bibir gue," desis Carlista menajam.
Marvel justru semakin memajukan langkahnya dan semakin mengunci pergerakan Carlista. Jarak mereka benar-benar sangat dekat. Sehingga keduanya bisa saling memandang dengan sangat dekat dan seintens ini. Nafas mereka pun saling bersahutan.
"Aku pacar kamu, Baby. Jadi, aku bebas melakukan apapun itu," ujar Marvel dengan suara serak.
Carlista tersenyum miring. "Lo pikir, dengan menjadi pacar lo, gue takut sama hukuman yang lo kasih ke gue gitu?!" desisnya. "Gak akan."
Marvel tersenyum miring dan semakin memajukan wajahnya kepada Carlista. "So, mau hukuman apa dari aku, Baby? Lari? Ngepel satu sekolah? Atau---yang lain?" ujarnya seperti bergumam.
"Lo mau kasih gue hukuman apapun, gue gak akan takut!" ujar Carlista tepat di hadapan Marvel.
__ADS_1
Marvel tersenyum miring, lantas mengecup bibir Carlista dengan singkat. "That's my punishment for you, Baby," ujarnya dengan seringaian tipis.
Carlista tertegun dan tak bisa berkata-kata.
"Akan ada hukuman yang lebih dari ini. Wait for me, Baby." bisik Marvel membuat Carlista meremang.
Carlista mengepalkan kedua tangannya dan menatap nyalanga pada Marvel. Bisa-bisanya Marvel mencuri first kiss miliknya. Dengan dada yang naik turun, Carlista hendak melayangkan bogeman mentah kepada Marvel.
Tetapi, Marvel telah lebih dulu meraup habis bibirnya dengan gerakan kasar dan semakin menyudutkannya ke tembok.
Bugh!
Bugh!
Suara pukulan bertubi-tubi berasal dari bogeman tangan Carlista yang terus memukul-mukul punggung Marvel tanpa henti. Tetapi Marvel tak melepaskan ciuman itu membuat Carlista terus memukul-mukul punggung lebar cowok itu disisa tenaganya. Nafasnya seakan terengah dan akan kehabisan oksigen. Tetapi tak membuat Marvel melepaskannya.
Marvel semakin menahan tengkuk Carlista untuk memperdalam ciumannya. Gerakannya tidak sekasar tadi, justru lebih lembut namun menuntut. Tubuh Carlista seakan merasa lemas karena pasokan oksigen yang ia punya dikuras habis oleh cowok gila yang ada di hadapannya saat ini.
Marvel melepaskan ciumannya dan merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Carlista. Sementara Carlista masih merasa lemas dan menarik nafas dalam-dalam karena pasokan oksigennya terkuras.
Dengan nafas yang memburu, Carlista menatap tajam pada Marvel yang justru terlihat santai dan tak terjadi apa-apa.
"SIALAN LO! BISA-BISANYA LO CURI FIRST KISS GUE DAN LO UDAH NGELECEHIN GUE!! AWAS LO MARVEL GILA!! GUE BAKAL BIKIN LAPORAN KALO LO UDAH NGELECEHIN GUE!! sentak Carlista dengan menggebu.
Sementara Marvel mengedikkan bahunya acuh. Memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan....
Cup
"Ganti seragam dulu, baru masuk ke kelas. Belajar yang rajin, biar gak kena hukuman." ujar Marvel yang berhenti dan menoleh ke belakang lalu mengedipkan sebelah matanya.
Carlista bergidik ngeri dan hendak menendang batu krikil yang ada di dekatnya. Sebelum akhirnya.....
"Ganti dulu seragamnya,"
●●●
Carlista keluar dari toilet dengan seragam yang lebih rapih dan sopan. Rok jahanamnya pun sudah berubah menjadi rok rempel kotak-kotak pada umumnya. Ya, yang seperti ia pakai ketika ia sekolah namun, sedikit lebih panjang dari ukuran rok yang biasa ia pakai.
Tapi, tak apa lah. Daripada ia kembali dihukum oleh si cowok triplek itu.
Kapok? Oh, come on guys! Tidak ada kata kapok dalam kamus hidup seorang Carlista Daniella Hilson. Yang ada justru dirinya semakin tertantang untuk membuat orang-orang di sekitarnya angkat tangan karena tak kuat dengan kelakuan dan tingkah laku Carlista.
Mungkin, mengibarkan bendera putih tanda perdamaian. Dan itu juga yang membuat Marvel semakin gencar dalam menaklukan hati Carlista sekaligus gadis kesayangannya.
"Kalo kayak gini, kamu gak akan kena hukuman, Carl," ujar Carisa dengan senyuman tipis.
Yang memberikan seragam untuk Carlista tadi adalah Carisa---saudaranya yang tak pernah ia anggap.
Carlista mendengus, lantas melirik kepada Carisa yang tengah memegangi paper bag coklat berisi seragam jahanam milik Carlista. "Ngapain lo masih di sini?"
"Nungguin kamu," ujar Carisa dengan polos.
__ADS_1
Carlista memutar bola matanya malas. "Buat apa? Gue udah gede. Gak usah lo tungguin," ujarnya dengan ketus.
Carisa menunduk lantas pergi begitu saja. Carlista yang melihat saudara tirinya pergi begitu saja lantas menghampirinya dan mencekal sebelah tangannya. "Tunggu," cegahnya.
"Kenapa Carl?"
"Mmm---thanks. Buat---seragamnya," ujar Carlista sedikit kikuk.
Carisa tersenyum lantas mengangguk. "Hm, sama-sama," ujarnya. "Yaudah, aku mau ke ruang OSIS dulu. Udah ditungguin soalnya," pamitnya pada Carlista.
●●●
"Bu! Saya mau buat laporan!" ujar Carlista dengan tegas tepat di hadapan Bu Fanny.
Bu Fanny yang memang tengah berada di ruangannya dengan setumpuk buku dan map-map berrmacam warna itu, lantas mendongak dan menatap datar pada Carlista.
"Rambut kamu sudah berubah lagi, Carlista? Besok mau kamu ganti jadi warna apa? Ungu? Hijau? Atau oranye?" ujar Bu Fanny dengan tegas dan menyindir.
Carlista justru nampak santai dengan ucapan Bu Fanny tersebut. Mungkin, sudah terbiasa mendengar sindiran pedas dari ketua yayasan Antariksa High School tersebut. "Bu, saya serius. Saya mau buat laporan." ujarnya dengan tampang serius.
"Kamu mau buat laporan apa dengan saya? Mau membuat laporan jika kamu sudah siap di keluarkan dari Antariksa High School?" ujar Bu Fanny tersenyum miring yang tipis.
Brak!
Carlista menggebrak meja kaca tersebut lantas berdiri dan menatap nyalang kepada Bu Fanny. "BU FANNY! SAYA DATANG KE SINI UNTUK MEMBUAT LAPORAN JIKA SAYA DILECEHKAN OLEH KETUA OSIS BARU ITU, BU! IBU MALAH MENANGGAPINYA DENGAN CANDAAN!!"
"Duduk, Carlista!" titah Bu Fanny dengan tegas dan tajam.
"Gak, Bu! Saya dateng ke sini baik-baik karena untuk membuat laporan atas pelecehan yang saya alami tadi pagi!! Dan pelakunya itu adalah murid baru yang amat Ibu percaya sebagai ketua OSIS baru AHS yang menggantikan Gabriel!! Apa menurut Ibu cowok bastard dan gila seperti Marvel, bisa dijadikan contoh yang baik sebagai ketos baru AHS?!!" ujar Carlista mengeluarkan unek-uneknya dengan menggebu.
"Pelecehan seperti apa yang kamu bicarakan, Carlista?" ujar Bu Fanny. "Bukankah gadis seperti kamu sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu?" ujarnya lagi dengan senyuman miring.
Hal itu justru membuat Carlista naik pitam dan ingin rasanya menendang wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini hingga mencapai ujung Antartika. "Bu, biarpun saya suka bermain di club dan tempat hiburan malam. Tetapi saya bukan wanita bejad seperti apa yang Ibu pikirkan." ujarnya dengan mendesis tajam.
"Lalu, kenapa kamu merasa seperti tertekan dengan apa yang kamu alami? Kamu bisa bela diri. Setidaknya, kamu bisa untuk melawan," ujar Bu Fanny dengan datar.
Carlista mendudukkan dirinya dengan gerakan kasar lantas memandang tajam. "Bagaimana jika kita bertukar peran? Ibu menjadi wanita yang terlecehkan dan saya menjadi orang yang Ibu cari untuk meminta keadilan. Tetapi, saya menanggapinya dengan guyonan dan menyela pernyataan yang Ibu katakan kepada saya," ujarnya dengan datar. "Bagaimana reaksi dan perasaan Ibu? Sakit gak?"
Bu Fanny terdiam.
Carlista tertawa sumbang. "Jelas anda tidak merasakan sakit karena anda tidak mengalaminya,"
"CARLISTA! JAGA BICARA KAMU!" bentak Bu Fanny.
"Kenapa saya harus diam? Saya seorang wanita korban pelecehan, Bu! Apa iya saya hanya diam jika saya dilecehkan oleh seorang ketos yang terlihat pintar dan berwibawa padahal aslinya bejad dan bastard!! Alih-alih mau memberikan saya hukuman, dia justru menghukum saya dengan cara melecehkan saya!!" ujar Carlista dengan nada yang naik 1 oktaf.
Bu Fanny menghembuskan nafasnya kasar. "Saya akan memanggil Marvel sekarang juga." ujarnya keputusan final.
"Jangan hanya dipanggil. Tapi saya mau jika Marvel gila itu ditendang dari AHS, juga!" ujar Carlista dengan tegas lantas tanpa permisi langsung pergi meninggalkan ruangan.
Bu Fanny hanya bisa memijit pelipisnya pelan. Sungguh tak habis pikir dengan tingkah Carlista yang benar-benar out of the box. Begitu pikirnya.
__ADS_1
●●●