
Mansion Ferioz
Lelaki paruh baya dengan setelan kemeja formal ditambah jas hitam itu berjalan dengan langkah angkuhnya memasuki mansion megah nan mewah itu. Mansion yang didominasi dengan warna putih dan bernuansa Eropa klasik itu, sangat megah dan nyaman.
Puluhan para maid yang ada di sana juga berbaris sejajar dan menunduk patuh ketika Tuan Besar mansion itu memasuki bangunan megahnya. Tatapan matanya yang datar dan penuh keintimidasian menambah kesan wibawa pada lelaki berusia 43 tahun itu.
Langkah lebarnya itu membawa dirinya ke dalam sebuah ruangan kerja pribadinya. Membuka pintu perlahan dan menghela nafas perlahan. Ternyata, sudah ada seorang remaja tampan yang tengah duduk di sofa dengan tatapan yang sama datarnya.
Melangkah perlahan menghampiri remaja itu. Mendudukkan dirinya di sofa singgel bersebrangan dengan remaja tampan itu.
"Kenapa, hm? Sepertinya ada sesuatu yang sangat penting yang kau ingin bicarakan dengan Daddy,"
Marvel membuang nafasnya kasar. Menatap datar, namun sarat akan keseriusan sekaligus kegusaran kali ini. Itu bisa ditangkap oleh sang Daddy.
"Berhubungan dengan gadismu, right?" tebaknya yang sayangnya benar.
Josh Ferioz
Seorang CEO dari Ferioz's Corporation sekaligus ketua Mafia terkuat asal Amerika Serikat. Josh adalah Ayah kandung Marvel.
Marvel menghela nafasnya perlahan. "Aku takut jika ada banyak bahaya yang terus menghampirinya, Dad. Aku tidak tau, bagaimana caraku untuk terus menjaga dan melindunginya selama 24 jam dalam pengawasanku," ujarnya seperti lirihan kecil.
Terdapat guratan kegelisahan yang benar-benar menyelimuti dirinya saat ini. Dan itu dapat dilihat secara tak kasat mata oleh Josh.
"Kau hanya kekasihnya. Bukan suaminya. Kau tidak bisa menjaganya selama seharian penuh. Lagipula, di mansion Hilson, banyak para bodyguard yang menjaga dirinya," ujar Josh. "Bahkan, ada beberapa bodygurd Ferioz suruhanmu yang berjaga langsung di sana," sambungnya.
"Tapi itu tidak cukup, Dad. Carlista sempat lolos dalam pengawasanku, dan Raskal hampir saja membawanya pergi. Terlebih lagi, ia sudah dengan beraninya menampar dan menyuntikan cairan menjijikan itu kepada gadisku," ujar Marvel sedikit menggeram sekaligus mendesis.
Memang Marvel sempat melihat tanda kemerahan pada kedua pipi gadis itu. Dan ia juga tidak sengaja melihat bekas suntikan cairan itu yang tinggal setengah dan tergeletak di bawah. Itu yang membuatnya geram dan ingin menembak Raskal saat itu juga.
"Aku sungguh tidak rela, Dad. Meski Raskal sudah ada dalam pengawasan. Aku tetap takut jika ada banyak bahaya yang terus mengincar nyawanya," sambung Marvel melirih kecil.
Selalu seperti ini. Jika menyangkut orang yang paling dia sayang, ia akan merasa lemah tak berdaya. Sungguh,
Menghela nafasnya perlahan, Josh bangkit dari sofa single lalu beralih posisi duduk tepat di samping Marvel. Menepuk pundak sang anak sebanyak dua kali untuk memberikan kekuatan. "Daddy tau ini tidak mudah, Vel. Akan banyak musuh berdatangan satu persatu tanpa diminta. Dan kau, harus selalu siap untuk menghadapinya. Termasuk dalam melindungi orang-orang sekitarmu,"
__ADS_1
"Dan juga---gadis kesayanganmu," sambung Josh sedikit menggoda.
Marvel mendengus malas. "Itu sudah tugasku untuk
menjaganya,"
Josh terkekeh kecil. Bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah lemari laci yang berisi tumpukan buku-buku dan map-map penting sepertinya. Karena ini kan ruangan kerja pribadi, jadi banyak arsip atau dokumen-dokumen penting. Entah milik perusahaan, atau yang lain.
"Apa ini?" tanya Marvel bingung saat melihat map coklat yang baru saja diberikan oleh Josh tepat di atas meja kaca tersebut.
"Buka lah, liat sendiri apa isinya," titah Josh sambil menjatuhkan bokongnya di sofa samping Marvel berada.
Marvel meraih map coklat itu, membuka map itu dan meraih sebuah foto yang ada di dalamnya. Menaikkan sebelah alisnya, ia sedikit asing dengan orang yang ada di foto tersebut. Sosok remaja yang mungkin berusia sekitar 15 tahunan. Dan terlihat tampan.
"Who is he, Dad?"
"Dia adalah keturunan Marelley. Foto itu Daddy dapatkan saat perjalanan bisnis di Jepang. Saat itu, Daddy bertemu dengan Tuan Argenta Yamawaki. Beliau yang sedikit banyaknya membantu kasus keluarga kita, Marvel. Dan foto itu, Daddy dapatkan dari Tuan Yamawaki," jelas Josh.
Marvel terus memperhatikan wajah itu dengan baik. Memang nampak asing, karena ia baru pertama kali melihatnya.
"Kau bisa samakan foto itu dengan foto yang kau miliki. Dua orang anak kecil yang satu laki-laki, dan satunya lagi perempuan. Kemungkinan mereka kembar. Jika kau teliti lebih baik lagi, mereka berdua terlihat mirip. Meski hanya beberapa persen saja," ujar Josh, kembali menjelaskan.
"Info lain?"
Josh menghela nafasnya perlahan lantas memijit pangkal hidungnya pelan. "Daddy baru akan memastikan semuanya minggu depan. Sembari perjalanan bisnis ke Belanda. Dan kau, ikutlah bersama Daddy. Ajak ketiga temanmu juga. Karena akan sangat berguna nantinya,"
Seketika Marvel mengangkat pandangannya ke arah Josh. "Dan aku harus berjauhan dengan gadisku dan meninggalkannya seorang diri tanpa pengawasanku?!" dengusnya. "Kau sama saja menyiksaku," sambungnya membuang nafasnya kasar.
Josh mengusap wajahnya kasar. Sungguh, anaknya itu semakin dewasa semakin menyebalkan. "Hanya 3 hari. Bukan 3 tahun," cibirnya.
"Sama saja. 3 hari itu bagaikan 3 tahun untukku, Dad. Sesuatu yang lama bagiku," dengus Marvel dengan perasaan dongkol.
Josh menjatuhkan punggungnya pada sandara sofa. Menghela nafas cukup panjang dan menggeleng samar. Entah berasal darimana sifat menyebalkan anaknya itu. "Kau tidak bisakah untuk berpisah dengannya walau 3 hari saja?" jengahnya. "Tidak akan habis nafasmu dalam sekejap," sambungnya.
"Tetap tidak bisa, Dad. Separuh nafasku ada bersamanya," balas Marvel acuh.
__ADS_1
Josh memutar bola matanya malas. "Lebay," cibirnya.
"Biarin. Sudahlah, aku ingin menemui gadisku. Kasihan dia, aku tinggal seorang diri," pamit Marvel sambil meletakkan foto itu kembali di meja. Lalu pergi meninggalkan Josh di ruangan itu.
Josh menghela nafas perlahan lantas memijit pelipisnya pelan. "Kau sudah dewasa sebelum waktunya, Avel," gumamnya diiringi helaan nafas.
●●●
Marvel menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dengan kedua tangan yang setia di dalam saku celananya, ia terus menaiki tangga itu dengan raut wajah datarnya. Meski terlihat datar, tidak dengan hatinya yang gelisah.
Memikirkan gadis kesayangannya itu. Ia hanya takut jika cairan itu akan bereaksi sampai besok pagi. Meski ia telah menyuntikkan obat penawarnya, tetapi tetap saja, ada rasa tidak enak dalam hatinya. Mengingat cairan menjijikan itu mengalir di dalam tubuh gadisnya.
Ternyata benar apa kata salah satu sahabat Marvel, yaitu Atharel. Ia mengatakan jika Raskal cukup berbahaya untuk Carlista. Terlebih dengan peristiwa di mana malam itu bagaimana kesepuluh anak buah Raskal menyerang Carlista seorang diri. Hingga salah satu temannya yang ingin melecehkannya.
Semua terekam jelas dalam memori ingatan Marvel. Segala hal yang menyangkut tentang Carlista, ia akan selalu mengingatnya. Dari pertemuan awal mereka hingga detik ini. Tak ada yang terlewat sedikitpun termasuk dalam hari ulang tahun sang kekasih.
Ya, ulang tahun Carlista ada di bulan ini. Dan Marvel akan memberikan kejutan spesial untuknya. Kejutan ulang tahun pertama setelah belasan tahun lalu Carlista melupakan hari ulang tahunnya sendiri.
Membuka pintu dengan perlahan, Marvel masuk dengan perlahan. Berjalan menuju tempat tidur di mana terdapat seorang gadis cantik yang tengah tertidur lelap tanpa merasa terusik sedikitpun. Karena Marvel memang menyuntikan obat penawar sekaligus obat tidur untuknya.
Bukan apa-apa, Marvel hanya tak ingin jika gadisnya akan merasa tersiksa dengan obat perangsang itu. Ia tidak akan tega melihat gadis yang ia cinta harus menderita. Dan ia juga sudah memastikan obat itu akan mereda besok pagi.
Cup
Dikecupnya kening Carlista dengan lembut. Tangannya terangkat untuk mengusap puncak kepala gadisnya dengan lembut. Lalu turun menyusuri kedua pipi yang masih memerah karena tamparan Raskal yang dilayangkan kepada gadisnya hingga membuatnya pingsan.
"Maafin aku, Carl. Aku belum bisa menjaga dan melindungi kamu sepenuhnya,"
"Aku hampir kehilangan kamu, Carl,"
Marvel terus menatap wajah itu dengan sendu. Jujur, hatinya dipenuhi rasa khawatir akan gadisnya. Ia takut jika gadisnya akan dalam bahaya jika tak ada di sampingnya. Meski Raskal sudah mereka amankan di tempat seharusnya. Bukan berarti ancaman itu hilang begitu saja.
Masih banyak manusia-manusia bertopeng yang mungkin saja akan membahayakan gadisnya. Mencelakai dirinya atau mungkin menyakitinya secara perlahan.
"Good sleep, Baby," gumam Marvel lalu mengecup lembut bibir manis itu.
__ADS_1
Bangkit dari pinggiran kasur, berjalan sebentar mengitari tempat tidur itu lalu ikut bergulung di bawah selimut yang sama. Memeluk gadisnya dengan erat dan memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk Carlista.
●●●