
"Lepasin tangan gue, Marvel! Gue bisa jalan sendiri,"
Marvel menggeleng. "Enggak,"
"Vel, gue gak mau digandeng sama lo! Gue bisa jalan sendiri! Ck,"
"Enggak, sayang. Nanti kamu ilang,"
Carlista mendengus malas. Ia sudah berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Marvel, tetapi semua usahanya sia-sia. Tak ada yang berhasil satupun. Ia sempat mencengkram erat bahkan memukul tangannya, tetapi tetap saja, Marvel tak mau melepaskannya.
Sepanjang perjalanan menuju kantin, Carlista hanya terdiam cemberut dengan wajah yang ia tekuk. Ia sudah teramat malas dan bosan dengan lelaki yang ada di sampingnya ini. Berjalan menyamai langkahnya dengan kedua tangan saling bergandengan.
Bukan saling bergandengan. Lebih tepatnya Marvel yang tengah menggandeng dan menggenggam tangan mungil Carlista. Mungil, karena tangan Marvel memang lebih lebar dari tangannya. Jelas saja, ia terasa begitu mungil. Tak terlebih tubuhnya yang memang hanya setinggi dagu Marvel.
Telapak tangan Carlista sudah sangat gerah karena Marvel tak membiarkan udara masuk dan menyentuh permukaan kulit lembutnya. Hingga helaan nafas hingga decakan dan dengusan sinis mencelos dari bibir ranum miliknya.
"Makan bareng sama aku yah. Aku yang bayar," ujar Marvel dengan lembut, namun terdengar seperti sebuah keputusan.
"Gak!" tolak Carlista dengan cepat. "Gue gak mau makan bareng sama lo apalagi ditraktir makan sama lo. Gue masih punya duit. Harta gue juga masih banyak. Jadi, belum habis dalam waktu---"
ucapannya terhenti karena Marvel yang lebih dulu membungkam bibirnya sebentar.
Tidak **********, tetapi hanya sekedar menempel selama beberapa detik guna untuk memberhentikan aksi protes Carlista yang ketika tengah berbicara seakan tak ada titik dan koma, alias nyerocos terus. Dan itu yang membuat Marvel merasa gemas.
Bugh!
"Dasar mesum! Bisa gak sih kalo lo tuh jangan nyosorin gue terus setiap saat?!" berang Carlista yang baru saja memukul lengan Marvel cukup keras.
"Gak bisa. Gemes soalnya," ujar Marvel dengan nada gemas lalu mengulum senyumnya.
Carlista mendelikkan kedua matanya dengan masih berusaha untuk melepaskan genggaman tangan lebar Marvel. "Aaaarrgghh, lepasin tangan gue, Marvel! Gue gerah. Gak mau digandeng sama lo,"
Marvel melepaskan genggaman tangannya, tetapi sedetik kemudian, pinggang rampingnya lah yang menjadi sasaran empuk Marvel. Ia merengkuh pinggang Carlista dan itu yang membuat Carlista semakin menempel dengan Marvel.
"Iiihh! Lepasin, Vel! Jauhin tangan lo dari pinggang gue!" Carlista terus menggeliat dan memutar poros tubuhnya hingga sebelah tangan Marvel kembali merengkuh sebelah pinggangnya dan mengunci pergerakan tubuhnya.
Padahal, keduanya tinggal beberapa meter lagi menuju kantin. Tetapi, semuanya terhambat ketika Marvel yang terus mengganggu dan terus menggandeng bahkan mepet terus menerus dengan gadis-nya. Padahal, Carlista terus menerus melakukan penolakkan.
Cup
Marvel lagi dan lagi kembali mencuri satu kecupan tepat di bibir Carlista. Tak peduli dengan gadis yang ada dalam rengkuhannya itu akan kembali mereog, ia justru menatap kedua mata Carlista dengan intens dan dalam. Seakan mengunci pandangan Carlista saat ini.
"Aku cuma mau makan siang bareng sama kamu. Makan bareng sama aku, yah," ujar Marvel dengan lembut.
"Gak. Gue gak mau. Mending lo makan sendiri aja. Dan lepasin gue, gue laper. Pen makan," ujar Carlista sedikit mereog sambil menggeliat bak cacing kepanasan.
"Yaudah, ayo makan bareng, kalo gitu." putus Marvel lalu tanpa aba-aba langsung menggendong Carlista ala bridal style dan berjalan tegak menuju kantin lantai dua. Tempat biasa Carlista dan ketiga temannya nongkrong.
"Iiiihhh, turunin gue, Marvel gila! Dasar cowok keparat! Turunin gue!" kedua kaki Carlista terus berayun-ayun dan terus menggeliat bak cacing kepanasan.
Ia sebenarnya malu karena Marvel yang membopong tubuhnya hingga mereka memasuki area kantin dan mengundang atensi sekaligus decakan kagum dari para penghuni kantin AHS. Ia juga sudah menahan malu sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Marvel dan semakin memeluk leher Marvel dengan erat.
"Bagus ya lo, bikin gue malu," dengus Carlista di balik ceruk leher Marvel.
Marvel mengulum senyumnya. "Kamu kan pacar aku. Buat apa harus malu, hm," bisiknya.
Carlista hanya membalasnya dengan dengusan sinis.
●●●
__ADS_1
Marvel tersenyum tipis sambil menopang dagu ketika ia melihat gadis kesayangannya itu makan dengan begitu lahapnya. Apalagi ketika kedua pipinya yang menggembung ketika makanan itu memenuhi isi mulutnya. Ingin rasanya ia mengecupi seluruh wajahnya karena gemas.
Terhitung sudah dua piring nasi, dan satu porsi ayam bakar, Carlista habiskan. Dan kali ini, ia tengah menyantap mie ayam favoritnya. Tetapi, tanpa topping bakso. Stok baksonya habis karena Carlista datang sedikit terlambat. Dan itu cukup membuatnya sedikit kecewa.
Sebagai gantinya, ia meminta topping ayam lebih banyak dan juga tambahan mie serta pangsit goreng sebagai teman makannya. Tetapi, apakah kali tahu jika pinggang dan perut karetnya itu akan selalu ramping dan body goals. Mau ia makan sebanyak apapun, tetap saja sama.
Postur tubuh Carlista termasuk yang paling menjadi idaman para wanita. Belum lagi ia dan keempat temannya termasuk tinggi. Maka dari itu, salah satu sahabatnya---Jenna, pernah terpilih untuk mewakili sekolah menjadi model sampul remaja se ibukota. Terlebih, dia itu seorang Selebgram.
Okelah, kembali pada Carlista dan Marvel. Keduanya memang makan siang bersama. Lebih tepatnya Marvel yang menemani Carlista makan siang. Karena, saat Marvel baru menyelesaikan makan siangnya, Carlista sudah lebih dulu menghabiskan satu porsi ayam bakar dan dua piring nasi putih.
Dan kini, Marvel tengah memandangi Carlista yang tengah menikmati seporsi mie ayam lengkap dengan topping melimpah. Ya, maklum, masih dalam masa pertumbuhan. Jadi, sah-sah saja jika ia banyak makan.
"Pelan-pelan makannya, Carl," ujar Marvel, meraih tisu di dekat gelas lalu mengelap lembut ujung bibir Carlista yang terkena kuah mie ayam.
Seperkian detik, Carlista terdiam dan terpaku saat tangan Marvel berusaha mengelap ujung bibirnya. Namun, ia berdehem pelan dan kembali melanjutkan aktifitas makan siangnya.
Bangsat! Kenapa gue mendadak tremor gini,
Carlista menggeleng samar untuk membuyarkan pikirannya dan raut wajahnya. Bisa-bisa, Marvel tahu jika ia tengah salting. Kan gak lucu,
"Cantik," ucap Marvel disela-sela kegiatannya yang hanya memandangi Carlista sedari tadi.
Carlista tak menggubris ucapan Marvel, dirinya justru asyik dengan makanannya saat ini. Seolah-olah, tak ada yang bisa mengalihkan dunianya dari makanan favoritnya satu ini. Meski wajahnya terkesan biasa saja, tetapi jantungnya berdetak cukup cepat.
Tak butuh waktu lama Carlista dalam menghabiskan makan siangnya. Ia meraih es teh yang sedari tadi tak ia sentuh. Meneguknya tanpa menggunakan sedotan hingga tandas tak tersisa. Dan itu tak luput dari pandangan Marvel.
"Hah, kenyang," ucap Carlista, meraih tisu bermaksud untuk membersihkan bibirnya. Namun, pergerakkan tangan Marvel jauh lebih cepat darinya.
Marvel dengan telaten membersihkan bibir Carlista dan entah apa yang terjadi, dirinya justru hanya bisa terdiam. Tak mereog seperti biasanya. Mungkin, dirinya sudah mulai terbiasa dengan perlakukan kecil yang Marvel berikan.
"Udah," ucap Marvel lalu membuang tisu itu. "Aku anterin ke kelas," putusnya.
"Duh, duh, Vel. Kayaknya perut gue sakit deh. Kepala gue juga mendadak pusing," Carlista beralasan sambil memegangi perutnya dan juga kepalanya seolah-olah ia memang tengah sakit beneran.
"Yaudah kalo gitu, aku anter kamu ke UKS sekarang," ujar Marvel terdengar cukup---panik.
"E-eh gak usah repot-repot, Vel. G-gue kayaknya mau---ke toilet aja. Soalnya perut gue mules. Jadi... gue ke toilet aja," ujar Carlista lalu menunjukkan cengiran kudanya.
"Yaudah aku yang anterin,"
"Jangan." cegah Carlista. "Lo pasti mau ngintipin gue kan? Dasar mesum!"
Marvel mengerutkan dahinya. "Aku gak kayak gitu, Carl. Aku cuma khawatir sama kam---"
"Udah lah. Gue mau ke toilet dulu. Mules pala gue, eh---perut," putus Carlista lalu berjalan cepat dengan sedikit berlari meninggalkan kantin.
●●●
Carlista akhirnya bisa terbebas juga dari penjara yang Marvel buat khusus untuknya. Bisa menghirup udara bebas tanpa gangguan dari si cowok triplek seperti Marvel. Karena inilah yang ia butuhkan saat ini, refreshing sejenak dari kegiatannya yang cukup melelahkan itu.
Melelahkan, karena Marvel yang terus mengganggu dirinya tanpa henti. Dan itu benar-benar menguras tenaga serta pikirannya saat ini. Sudah berkali-kali ia menolak dan berkata kasar pada lelaki tampan itu. Tetapi, tetap saja, Marvel masih terus mengejar bahkan bertindak seolah-olah Carlista adalah pacarnya.
Carlista bisa bernafas lega dan menghirup udara segar. Menikmati kesendirian dalam gedung olahraga. Lebih tepatnya di tribun yang mana berhadapan langsung dengan lapangan basket. Di samping gedung olahraga, terdapat kolam renang dan juga ruang ganti olahraga.
Oh iya, yang tadi itu hanyalah bullshit. Alasan ia untuk pergi ke toilet hanyalah omong kosong belaka. Sebenarnya ia hanya ingin pergi dan tak mau masuk kelas karena mata pelajaran kelasnya kali ini adalah fisika. Mata pelajaran yang sangat ia musuhi.
"Iiih, Metta! Blazer gue basah tau! Tuh kan! Basah beneran! Aaahh, Metta! Nanti gue masuk kelas gimana?! Masa iya gue gak pake blazer sih?! Dah tau seragam gue kecil, pendek lagi! Kalo gue angkat tangan ntar puser gue keliatan!"
"Ck, gak papa. Lo gak usah angkat tangan kalo ditunjuk sama guru. Lagian, emang guru fisika mau nunjuk murid bego kayak lo?!"
__ADS_1
"Metta jahad sama Mel!!"
Carlista sangat familiar dengan suara ribut-ribut itu. Suara kedua temannya yang cukup nyaring berasal dari samping gedung olahraga. Lebih tepatnya di dekat kolam renang. Entah apa yang keduanya lakukan di sana. Sebaiknya Carlista segera menuju ke arah sumber suara.
"Kalian berdua---ngapain di sini? Jenna mana? Terus, kenapa si Melon cemberut gitu?"
Melody dan Metta menoleh ke arah sumber suara. Ternyata, ada Carlista juga. Kebiasaan kalo membolos pasti ke gedung olahraga. Jadi, kalo jam pelajaran tengah berlangsung, mereka berempat pasti ada di sini.
"Blazernya jatoh ke pinggir kolam. Gak sengaja gue jatohin." seru Metta.
"Bohong! Jelas-jelas lo sengaja mau jatohin blazer gue ke dalam kolam renang, eh gak taunya jatoh beneran. Kan jadi basah," ujar Melody mencak-mencak sambil menghentakkan kakinya.
"Itu sama aja gak sengaja," balas Metta.
"Tapi kalo lo gak ambil blazer gue dan lo gak ada niatan untuk nyeburin blazer gue, gak akan basah!"
"Ya kan gue bilang gak sengaja."
"Sama aja, lo itu sengaja namanya."
"Dih, orang gue gak sengaja,"
"Sengaja, Metta!"
"Enggak, Melon!"
"Lo sengaja karena lo itu orangnya jail. Suka ngeledekin gue!"
"Gue ngeledikin lo karena lo kayak bocil,"
"Iiihh, sebel! Sebel! Sebel!" Melody menghentak-hentakkan kakinya lantas pergi begitu saja. Sambil menenteng blazer merah marun yang mana sebelah tangannya basah karena tercebur kolam.
Carlista yang sedari tadi menyaksikan keduanya hanya melongo. Tak ingin ikut campur dengan urusan keduanya. Kini hanya tinggal Metta yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada, dengan sebelah kaki yang ia ayunkan seperti menendang angin.
"Ada hal yang mau gue tanyain sama lo, Met," terdengar cukup datar, Carlista melangkahkan kakinya perlahan menuju pinggir kolam dekat Metta berada.
Metta mengerutkan dahi. "Apa?"
"Pasti lo tau kan, asal usul keluarga Ferioz. Termasuk tujuan Marvel ke sini," tebak Carlista dengan pandangan yang cukup mengintimidasi.
"Enggak. Gue gak tau apa-apa," balas Metta setenang mungkin.
Carlista tersenyum miring. "Kita kenal udah lama, Met. Dari kita SD. Dan lo---adalah keturunan Mafia. Pasti lo tau kan, soal keluarga Ferioz,"
Metta menghela nafas perlahan. Menatap datar pada gadis berambut ombre coklat biru itu. "Gue gak tau apa-apa, Carl. Yang gue tau, kalo Marvel dan temen-temennya adalah keturunan Mafia. Dah, itu aja,"
Carlista memicingkan matanya dan semakin menyipitkan kedua matanya. "Kok, gue gak percaya, yah," ujarnya dengan sedikit keraguan.
Metta menyugarkan rambutnya perlahan. "Gue juga gak berharap lo percaya sama gue," santainya.
"Tapi hati gue berkata, kalo lo itu tahu tentang semuanya, Met," ujar Carlista terdengar cukup serius.
"Gue bukan peramal, Carl. Gak mungkin lah, gue tahu semuanya," ujar Metta sedikit tertawa kecil.
Carlista terdiam.
Terdengar helaan nafas yang mencelos dari mulut Metta. "Lo inget-inget, Carl. Pasti lo inget sesuatu tentang masa lalu. Otak lo sehat, masih berfungsi dengan baik. Gue yakin lo gak lupa dengan semua yang lo alami dulu," ujarnya lalu pergi meninggalkan Carlista seorang diri.
Keduanya sempat berkontak mata selama beberapa detik sebelum akhirnya Metta yang memutuskan pandangan.
__ADS_1
●●●