
Sorot mata Carlista terus memandang dingin pada lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Tepat di ruangan loker ini, berdirilah seorang lelaki berpakaian kaos basket hitam dengan tatapan intens padanya. Untung saja, Carlista sudah mengganti seragam cheers-nya.
Jika tidak, akan dipastikan setelah ini akan ada pertarungan jilid 2 antara Marvel dan---Raskal. Ya, lelaki tampan itu adalah Raskal. Si cowok gila setelah Marvel yang sama-sama terobsesi akan kecantikan Carlista. Marvel gila, karena ia telah lebih dulu tertarik dengan Carlista.
Raskal lebih gila lagi, ia sampai mengirim anak buahnya untuk membawa paksa dirinya dan memaksanya untuk menjadi miliknya. Dan untung saja, saat itu ada yang menolong Carlista saat hendak dilecehkan oleh salah satu anak buah Raskal---Dino.
Katakanlah jika Raskal dan Marvel itu gambaran dua cowok tampan dengan kadar kegilaan yang hampir sama nilainya. Namun, hanya Marvel yang perlahan dengan kesabarannya terus menunggu sekaligus menjaga gadisnya dari kejauhan. Termasuk dari si cowok bastard---Raskal.
Sementara Raskal, dirinya hanya berani mengganggu Carlista dan menyuruh anak buahnya untuk membawa paksa Carlista untuknya. Ck, pengecut!
"Pertemuan kita yang ke---tiga? Empat? Atau mungkin semesta yang mempertemukan kita kembali?" ujar Raskal membuka topik pembicaraan ini.
"Mau apa lo?" tanya Carlista dengan dingin.
Raskal tersenyum tipis. Menatap gadis cantik yang sukses membuatnya hampir gila karena terus memikirkannya. "Lo. Gue mau lo, Carlista."
Terdengar jika kalimat yang Raskal ucapan itu penuh dengan sensual. Sama seperti tatapannya yang terlihat sangat mesum.
Carlista tersenyum smirk. "Banyak wanita cantik yang lebih dari gue, di dunia ini. Bahkan, lebih sexy. Untuk apa lo datang dan muncul kembali? Bukankah lo itu sudah di Drop Out dari Cakrawala," ujarnya dengan tenang.
Raskal melangkah perlahan dan memperkikis jarak di antara keduanya. Dengan kedua tangan Carlista yang terlipat di depan dada. "Tapi---lo lebih cantik daripada wanita yang pernah gue---"
"Tiduri?" potong Carlista dengan senyuman tipisnya.
Seketika Raskal terdiam. "Bukannya lo hanya menginginkan tubuh gue? Dari tatapan lo yang selalu mesum ketika melihat wanita manapun tak terlebih itu gue, gue bisa tau jika lo hanya menginginkan tubuh gue," sambungnya terdengar sangat tenang.
"Ck, gue emang bodygoals. Tapi, gue bukan cewek murahan," dengus Carlista.
Raskal hanya terdiam dan tak bisa berkata-kata.
Bukan ia tak mampu menjawab ataupun membalas setiap kalimat-kalimat yang menohok dari Carlista. Namun, ia benar-benar terpana melihat bagaimana cantik dan sempurnanya pahatan Tuhan yang ada di hadapannya saat ini.
Sungguh, membuatnya hampir gila dan resah karena ingin memiliki gadis itu seutuhnya.
"Cantik," gumam Raskal dengan suara seraknya.
Tatapan matanya pun mulai berubah perlahan.
Carlista perlahan memundurkan langkahnya kala Raskal yang memajukan langkahnya dan menyudutkannya ke tembok. Bukan karena takut jika Raskal akan menciumnya, tetapi dengan apa yang Raskal keluarkan dari saku celana olahraganya.
Sebuah suntikan.
"Bagaimana jika kita bersenang-senang dulu, Carlista. Selagi tak ada yang mengganggu kita saat ini," serigai Raskal yang terdengar semakin serak. Kedua matanya pun memerah. Sungguh, Carlista terjebak dalam situasi yang tak ia inginkan.
"Jauhin suntikan itu dari depan gue sekarang, Raskal," desis Carlista menajam.
Raskal menggeleng lirih. "Biarkan Marvel menyaksikan bagaimana permainan kita, sayang," ujarnya menyeringai tipis.
"Enggak! Gue bilang jauhin benda itu atau lo yang berhadapan langsung dengan gue," desis Carlista dengan deru nafas cukup memburu.
Sebelah tangan Carlista berhasil dicekal oleh Raskal dengan erat. Sontak itu membuat Carlista memberontak dan sempat memberikan perlawanan dengan cara menginjak kedua kaki Raskal dan menendang tulang keringnya dengan kencang.
BUGH!
"Sssstt, ****!"
Raskal mengumpat sekaligus menggeram tertahan karena harus menahan rasa sakit dan nyeri pada kakinya sekaligus tulang keringnya. "Jangan coba-coba untuk kabur, Carlista. Lo adalah milik gue sekarang!"
"Lepasin tangan gue, Raskal! Sakit!"
"Gak akan gue lepasin sebelum lo kena suntikan ini. Bersiaplah untuk mengucapkan selamat tinggal pada Marvel. Karena setelah ini, lo akan menjadi milik gue," ujar Raskal tersenyum lebar. "Selamanya," sambungnya tepat di telinga Carlista.
__ADS_1
Raskal pun sejenak menghirup aroma tubuh Carlista yang amat memabukkan dirinya. Hingga ia kembali menggeram dan menahan hasratnya. Sementara Carlista, dirinya sebisa mungkin mencari celah untuk bisa kabur dan menghajar lelaki bastard yang ada di depannya saat ini.
Kedua matanya terus memperhatikan setiap pergerakan kecil Raskal. Jangan sampai ia lengah dan berakhir dirinya kalah hanya suntikan kecil itu.
Dirinya saja pernah membuat anak buah Raskal tumbang seketika. Kan gak lucu kalo tiba-tiba Carlista kalah dengan suntikan kecil itu,
BUGH!
"Gak usah macem-macem sama gue, bangsat!"
Carlista berhasil memukul perut Raskal dengan sebelah tangannya, karena sebelah tangannya lagi dicekal erat oleh Raskal dan belum dilepaskan olehnya. Namun, karena pukulan itu yang cukup keras, akhirnya Raskal ambruk ke bawah dan suntikan itu terjatuh seketika.
Ini adalah kesempatan Carlista untuk mengambil suntikan itu dan membawanya pergi menjauh dari hadapan Raskal. Carlista tidak bodoh, karena ia tahu, jika suntikan yang berisi cairan merah gelap itu adalah cairan perangsang dengan dosis cukup tinggi.
BUGH!
BUGH!
BRUKH!
Carlista kembali memukul Raskal saat ia hendak bangkit dan kembali tersungkur ke bawah. Pukulan dan tendangan Carlista tak bisa diremehkan begitu saja. Tetapi, saat tangan Carlista hendak meraih suntikan itu, tangannya lagi-lagi terkena cekalan tangan Raskal dan menariknya hingga terjatuh.
Hal itu dimanfaatkan oleh Raskal untuk mengambil suntikan itu sekaligus mengukung tubuh kecil Carlista. Posisi mereka benar-benar sangat intim. Ia bahkan sudah mencengkram kedua tangan Carlista sehingga ia nyaris tak bisa memberikan perlawanan.
"Kau terlalu cantik untuk dilewatkan. Bagaimana jika mulai permainannya," seringaian itu terbit di wajah Raskal dengan tatapan penuh nafsu.
Deru nafas Carlista memburu dengan terus memberontak dalam kukungan tubuh kekar itu. Ia terus menggeleng ke kiri dan kanan untuk menghindari saat Raskal hendak menciumnya. Terutama pada bibirnya yang sudah ia katupkan dengan rapat.
Wajah Raskal justru beralih pada leher putih itu. Ia beberapa kali menghirup aroma tubuh itu dengan penuh nafsu. Sungguh, benar-benar membuatnya hilang akal sekarang juga.
"Lepasin gue, Raskal bangsat!!"
"No, kamu milikku mulai saat ini," balas Raskal penuh sensual.
"LEPASIN GUE, BANGSAT!! SINGKIRIN MUKA BASTARD LO DARI HADAPAN GUE!!"
PLAK!
PLAK!
Tamparan keras itu Carlista dapatkan dari Raskal sebanyak dua kali. Hingga kondisi Carlista tak sadarkan diri. Bukankah ini adalah kesempatan untuknya membawa Carlista, di saat Marvel tengah sibuk dengan tugasnya?
"Maafkan aku, Carlista. Kamu yang memaksaku untuk melakukan itu padamu," gumam Raskal sambil mengusap pipi Carlista yang memerah karena tamparan keras itu.
Raskal bangkit dari atas tubuh Carlista, membawa tubuh kecil itu ke dalam gendongannya lalu bangkit. Belum sempat ia memutar poros tubuhnya berbalik ke arah pintu, kepalanya telah lebih dulu ditodongkan pistol oleh seseorang.
"Lepaskan gadisku jika kau masih ingin menghirup udara bebas."
Suara berat nan dingin itu datang dari balik tubuhnya.
●●●
Beberapa saat sebelumnya...
Marvel saat ini tengah terlihat gelisah dan gusar. Ia yang memang harus menghandle Event tersebut, harus dibuat resah karena ia tak melihat keberadan gadisnya. Ia pun tak menemukan di mana gadisnya berada sekaligus ketiga sahabat Carlista.
Ia hendak mencari, namun ia juga tak bisa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai ketua OSIS sekaligus Tuan Rumah acara tersebut. Karena saat ini terdapat Raskal yang bisa kapan saja menculik atau membawa paksa gadis kesayangannya itu.
Membuang nafasnya berulang kali sambil nengusap wajahnya kasar. Marvel benar-benar merasakan ada sesuatu yang aneh dalam hatinya. Tak seperti biasanya ia akan merasa segusar ini. Terlebih menyangkut gadis kesayangannya itu.
Marvel memang sempat mengantar Carlista untuk mengganti baju di ruangan ganti dekat ruang loker. Namun, Carlista dan ketiga temannya mengatakan akan pergi ke kantin untuk mengisi perut mereka. Ia tak bisa ikut karena jadwalnya yang memang tak bisa dikosongkan.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, salah satu teman Marvel, yaitu Atharel. Mengatakan bahwa, jika ia hanya melihat ketiga teman Carlista saja. Ia tak melihat Carlista di kantin. Terlebih, pertandingan antara Cakrawala dan AHS sudah selesai.
Marvel sempat mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Tepatnya pada segerombolan anak-anak Cakrawala. Di situlah Marvel sadar akan satu hal. Tidak ada Raskal disekumpulan anak-anak Cakrawala. Itu artinya...
****!
"Raskal," Marvel menggeram dengan gigi bergemelatuk tajam. Pandangannya pun kian dingin dan tajam menusuk.
Langkah lebarnya membawanya keluar gedung olahraga dan menyerahkan semua tugasnya untuk dihandle oleh ketiga temannya. Sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya memikirkan keadaan gadisnya yang mungkin saja dalam bahaya.
Hingga langkah Marvel terhenti ketika mendapati seorang gadis berkacamata telah menghadang jalannya. Dengan gemetar, gadis tersebut berusaha untuk mengangkat pandangannya ke arah Marvel dengan sedikit takut.
"C-Carlista mau di---lecehin sama, R-Raskal, di ruang l-loker,"
Celine benar-benar merasa gugup sekaligus tremor. Untuk pertama kalinya ia kembali berhadapan dengan cowok dingin bermata tajam seperti Marvel.
Kedua tangan Marvel kian mengerat dengan tatapan yang kian menajam. Deru nafasnya pun kian memburu dan gigi yang mengerat sempurna. Dengan langkah lebarnya ia terus menyelusuri lorong demi lorong koridor, berharap jika Carlista akan baik-baik saja.
Ternyata benar apa yang Atharel sempat katakan padanya waktu itu. Meski profil Raskal hanya orang biasa, tetapi, ia cukup berbahaya.
●●●
Raskal diam dan tak melakukan perlawanan apapun. Masih dalam posisi yang sama, yaitu Raskal yang menggendong Carlista dan Marvel yang berada tepat di belakangnya dengan pistol yang Marvel todongkan dan siap untuk menarik pelatuk itu kapan saja ia mau.
"Lepaskan Carlista. Maka akan gue beri lo udara bebas setelah ini," ujar Marvel dengan suara yang kian dingin.
"Bagaimana jika gue gak akan mau melepaskan gadis ini? Lo mau menghabisi nyawa gue sekarang juga? Di tempat ini?" cecar Raskal dengan nada tenang dan cenderung santai. Tanpa Marvel ketahui, jika arah pandangan mata itu turun memandangi Carlista.
Jika saja Marvel tahu, maka akan dipastikan setelah ini, kedua mata Raskal tidak akan berfungsi dengan baik.
"Why not, karena lo adalah salah satu orang yang hanya akan membahayakan Carlista." desis Marvel mengerat.
"Gue akan melepaskan gadis cantik ini," ujar Raskal tanpa menoleh sedikitpun. "Tetapi---setelah gue menghabiskan waktu bersama gadis ini," seringainya tanpa sepengetahuan Marvel.
Sedetik setelahnya, Marvel dengan sadar menjatuhkan pistolnya ke bawah. Raskal memutar poros tubuhnya dan senyuman miring tercetak jelas tepat di wajahnya. "Kenapa? Lo mengakui kekalahan lo?"
Marvel terdiam. Tetapi, tidak dengan ekor matanya yang terus memperhatikan sekitar termasuk pergerakan Raskal saat ini.
BUGH!
Marvel berhasil memukul rahang Raskal dengan gerakan tak terbaca. Dengan sigap, ia merebut tubuh kecil gadis itu saat keseimbangan Raskal mulai goyah dan hendak terjatuh. Masih dalam gendongannya, Marvel terus menendang tubuh Raskal dengan brutal dan tanpa henti.
Sementara Raskal mungkin sudah tak berdaya jika saja Marvel terus menghajarnya dengan kedua tangannya. Karena ia juga terus menahan tubuh Carlista, sehingga ia tak bisa leluasa untuk menghajar orang itu.
BUGH!
Pukulan terakhir datang dari Galang yang datang membantu Marvel. Tak hanya ada Galang, tetapi ada Juna dan Atharel, serta Metta, Jenna, Melody. Masing-masing dari teman mereka berkumpul di dalam ruangan loker yang luas itu. Memang kebetulan, ruangan tersebut berada di sudut lorong.
Jarang ada orang yang datang kecuali untuk menghampiri loker mereka untuk menaruh sesuatu atau sekedar mengambil baju ganti.
"Lo cepet bawa Carlista pergi jauh dari sini, Vel. Biar Raskal sama anak buahnya jadi urusan kita," ujar Galang dengan datar, namun sarat akan perintah.
Tanpa disuruh pun, Marvel akan segera membawa Carlista pergi jauh dari sini. Meninggalkan sekolah demi keselamatan hidupnya.
Dan ternyata, Marvel baru mengetahui satu hal tentang Raskal dan para anggota basket yang dikirim langsung oleh SMA Cakrawala, bukanlah siswa resmi dari SMA tersebut. Terlebih Raskal, yang memang sudah di DO dari Cakrawala.
Lantas, bagaimana Raskal bisa kembali di SMA itu?
Haruskah Marvel dan ketiga temannya menaruh curiga pada pimpinan Cakrawala itu?
●●●
__ADS_1