BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA

BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA
17 / Kantin AHS serta Kejadian di Dalamnya


__ADS_3

"Aaaahh... Marvel! Lo gila ya! Sakit tau!!" sentak Carlista yang mana bokongnya baru saja merasakan cukup nyeri karena Marvel yang memang membanting tubuh kecilnya ke atas brankar UKS.


Bukan membanting, lebih tepatnya menurunkan dirinya dengan pelan. Karena Carlista yang terus memberontak dan tak mau diam seperti cacing kepanasan, itu juga yang membuat bokongnya sakit dan hampir terjungkal ke belakang jika saja ia tak berpegangan pada kerah blazer milik Marvel.


Ck, benar-benar barbar gadis kesayangannya itu.


Tetapi, ia tetap mencintainya dan menerima dirinya apa adanya. Tak peduli penolakan apapun itu, yang jelas, ia akan terus berusaha untuk menaklukan hatinya dengan cara apapun.


Carlista hendak turun dari brankar UKS, namun pergerakkan Marvel lebih cepat darinya. Ia justru duduk di pinggir brankar UKS tersebut dan menahan pinggang ramping Carlista dan menggendongnya untuk berada di atas pangkuannya.


Sementara Carlista terus memberontak sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya yang memang tidak nampak itu. Ingin terlepas dari pelukan Marvel itu, bagaikan ingin bebas dari penjara setelah terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman. Mustahil, Shay!


"Eeeuunngghh... Vel!! Lep-pasin g-gue!! Aarrghh!!"


Carlista terus menerus bergerak bak cacing kepanasan dalam pangkuan Marvel. Jika laki-laki lain mungkin saja akan menggeram tertahan akibat ulah gadis yang ada dalam pangkuannya. Tetapi Marvel, dirinya justru nampak biasa saja dan bisa mengontrol hasratnya saat ini.


"Aaarrgghh!! Marvel gila!! Cowok mesum!! Keparat!! Dasar stress!! Lepasin gue Marvel gila!! Lepasin!! Gue gak mau di sini sama cowok gila plus mesum kayak lo!! Lepasin gue Marvel!!"


Dengan pemberontakkan yang cukup brutal itu, akhirnya Marvel menyudahi kegiatannya sejenak. Membuka kedua pahanya hingga tubuh Carlista jatuh ke pinggir brankar dan sedikit lebih rendah darinya. Tetapi, ia justru semakin mengunci kedua kaki Carlista dan menjepitnya hingga ia tak bisa bergerak.


"Aaarrgghh! Marvel gila!! Lepasin kaki gue!! Awas gue mau pergi!!"


"Ntar aja, sayang. Aku masih mau sama kamu," ujar Marvel dengan suara sedikit serak. Dan sapuan lembut pada sebelah pahanya.


Suara seraknya hampir mirip sama Idol idola gue lagi. Gue benci akui ini, tapi---aarrgghh, suaranya kek menggoda gue banget,


Jika kalian pernah mendengar suara bariton dan sedikit serak milik Kim Taehyung atau Felix Straykids, nah, kurang lebih seperti itulah suara Marvel. Berbicara biasa saja, terkesan seperti menggoda. Terlebih, ketika berbicara lembut dengan gadisnya.


Yah---gitulah.


Carlista membuang nafasnya kasar. "Gue gak mau dimesumin terus sama lo, Vel! Gue udah berkali-kali nolak lo, tapi lo malah semakin nekad untuk terus deketin dan ngejar-ngejar gue! Apa itu gak gila namanya?!!" sarkasnya.


"Dan gue bukan tipe cewek yang suka diatur-atur sama peraturan yang ada! Apalagi sama cowok asing kayak lo! Gue gak kenal siapa elo! Gue gak tau kita pernah ketemu di mana?! Gue gak tau lo siapa dan datang dari belahan bumi mana yang dengan gilanya lo mengklaim gue jadi pacar lo!!"


"Dan satu lagi, gue gak mau pacaran sama lo yang datang entah berantah dari mana datangnya! Dan gue gak suka lo selalu mesumin gue! Lo selalu nyosor terus kalo deket gue! Gue gak suka! Gue gak mau!!"


Deru nafas Carlista benar-benar memburu dengan dada yang naik turun. Kilatan amarah pun, terpancar dari balik kedua matanya. Belum lagi pemberontakkan yang ia lakukan dengan brutal, benar-benar menggambarkan seorang gadis yang sangat barbar. Sungguh,


Dan ternyata pertahan Marvel hampir runtuh dan menahan hasrat untuk tidak menjamah dan kembali memesumi sang gadis kesayangannya itu. Ia lelaki normal, sementara gadis yang tengah ia dekap terus menggeliat seperti cacing kepanasan. Dan itu berefek untuk dirinya.


Mau tak mau, rela tak rela, ia melepaskan dekapannya dan membiarkan Carlista terbebas dari penjara tangan kekarnya. "Maaf, aku udah egois sama kamu," ujarnya dengan suara serak yang kian memberat.


Carlista turun dan langsung berbalik badan menghadap Marvel. Dengan kedua mata yang masih menajam. Sejenak, ia memperhatikan wajah Marvel yang memang sangat tampan tanpa celah. Benar-benar bak dewa Yunani. Begitu pikirnya.


Cup


Marvel mengecup singkat bibir Carlista. "Maaf,"


ucapnya dengan lembut.


"Iiihh! Udah gue bilang jangan mesumin gue terus! Kenapa lo selalu nyosor gue setiap saat?!!" sarkas Carlista sambil memukul-mukul kedua paha Marvel.


"Iya, iya, maaf sayang. Aku gak bisa kalo enggak cium kamu,"


"Dasar cowok gila plus mesum!!" sentak Carlista lalu pergi meninggalkan ruangan UKS dengan dengusan sinis.


Sementara Marvel menyugarkan rambutnya lantas tersenyum tipis. "Lucu," gumamnya.

__ADS_1


●●●


"Carl, lo kesambet dimana? Lo gak lagi kesurupan, kan?"


"He'em, Carl. Lo gak makan selama seminggu?"


"Cantik-cantik, makannya banyak yah bund,"


Ketiga teman Carlista saat ini tengah berada di kantin bersama dengan Carlista. Mereka bertiga tengah menatap gadis yang sedang asyik makan mie ayam bakso dimana itu adalah mangkok yang ketiga yang ia pesan barusan.


Dan itu yang membuat ketiganya bingung dan mulai mengeluarkan komentar-komentar yang nyatanya tak digubris oleh si cewek yang tengah makan itu. Carlista malah dengan santainya menikmati suapan demi suapan mie ayam bakso itu ke dalam mulutnya.


"Carl? Are you okay?" tanya Melody memastikan. Takut jika ada jiwa lain yang bersemayam dalam diri Carlista keluar.


"Hm," balas Carlista sambil menyuap mie ayam bakso ke dalam mulutnya.


"Oh my bestie! Sumpah, ini pasti bukan Carlista, kan? Ini pasti jin tomang yang nyamar jadi temen kita." ujar Jenna asal sebut. "Oh, atau jangan-jangan temen kita kesurupan!"


Plak!


"Ini gue! Bukan jin tomang apalagi jin dalam botol!" berang Carlista. "Gue lagi bad mood! Gak usah nambah-nambahin kadar ke-bad mood-an gue makin tinggi! Gue telen lo lama-lama!" sambungnya.


Jenna mengusap pelan lengannya yang baru saja terkena keplakan tangan Carlista yang masih terasa cukup panas. "Ih, temen makan temen namanya." serunya.


Carlista hanya mendengus dan memutar bola matanya malas.


"Pasti Marvel," tebak Metta yang sialnya memang benar.


"Dia ngapain lo lagi, Carl?" tanya Melody penasaran.


Carlista membuang nafasnya kasar. "Dia mesumin gue mulu! Gue kesel banget! Bentar-bentar nyosor! Bentar-bentar meluk! Bentar-bentar nyium! Udah gitu selalu nongol di manapun gue berada! Persis kek jalangkung!" ujarnya dengan kobaran api yang ternyata masih menyala dalam dirinya.


"Dan gue gak tau siapa dia sebenernya dan untuk apa dia datang dan mengklaim gue sebagai pacarnya?! Bahkan terkesan memaksa! Kan gila namanya," dengus Carlista.


Jenna dan Melody saling pandang, sementara Metta, dirinya hanya terdiam dan tak ingin menanggapi.


"Lo---yakin gak inget siapa dia, Carl? Mungkin, Marvel temen SD kita kali, Carl. Dan lo lupa gitu aja," ujar Jenna.


"Gak mungkin. Temen cowok yang gue punya cuma Gabriel aja. Selebihnya gak ada yang namanya Marvel dan anak kecil yang mengingatkan gue dengan muka tripleknya dia," ujar Carlista dengan penuh keyakinan.


Ketiganya kembali terdiam. Namun tak lama, Carlista mengalihkan pandangan ke arah Metta. "Lo pasti tahu sesuatu tentang keluarganya Marvel, kan?" tanyanya penuh intimidasi.


Metta tersentak, namun tak lama ia mengalihkan pandangan ke arah lain. "Hah? E-enggak. Lagian, gue gak kenal siapa Marvel sebelumnya. Gue cuma tau title keluarganya yang sama-sama keturunan Mafia kayak gue. Udah, itu doang," serunya setenang mungkin.


Carlista terdiam sejenak. Tetapi ia tahu, jika salah satu sahabatnya yang mana juga keturunan Mafia asal Jepang itu, menutupi sesuatu yang tak ia ketahui.


Tak seperti Jenna dan Melody yang selalu mengoceh setiap saat. Bahkan, tak jarang mereka juga menceritakan hal-hal yang terkesan konyol dan juga tak berguna. Tetapi, itulah pertemanan. Suka dan duka mereka lalui bersama.


"Gak ada yang elo tutup-tutupi dari gue kan, Met?" ujar Carlista sambil memicingkan kedua matanya.


Metta mendengus. "Enggak, Carl."


BRAK!


"Elo itu cuma anak baru di sini! Gak usah sok-sokan untuk jadi pahlawan kesiangan! Pake nolongin orang cupu segala! Lo gak ngaca, kalo penampilan lo aja jauh lebih cupu dari cewek tadi!!"


Seketika suasana kantin menjadi heboh dan itu mengundang atensi semua orang penghuni kantin, termasuk Carlista dan ketiga temannya.

__ADS_1


Pemandangan ini bukanlah hal yang biasa. Terlebih, untuk para penghuni kantin lantai dua. Tempat terfavorit untuk Carlista dan ketiga temannya.


Suasananya seperti ala-ala cafe rooftop. Yang membedakan adalah kantin itu memakai atap sebagian berupa genting kaca dan beberapa sofa yang ada di dekat jendela. Sehingga menampakkan pemadangan luar yang menunjukkan gedung-gedung tak jauh dari lokasi AHS.


Back to story. Carlista dan ketiganya sudah tahu suara siapa itu. Suara sarkas dari seorang wanita yang mana itu adalah suara Vanesha dan ada juga ketiga temannya---Lyora, Tammy, Herin.


"A-ampun, hiikkss... g-gu-gue g-gak b-ber-maksud un-tuk ikut campur s-sama u-urusan l-lo, hiikkss," ujar gadis berkacamata itu dengan terbata.


"Halah! Lo itu cupu! Lebih cupu daripada cewek tadi! Untuk apa lo dateng ke hadapan kita dan ngehadang gue?! Anak baru kayak lo mending gak usah ikut-ikutan!"


BRAKH!


PRANG!


Gadis berkacamata itu terjatuh dan tersungkur tepat di bawah kaki meja kantin yang mana di meja tersebut terdapat beberapa gelas jus dan piring bekas para murid menyelesaikan makan siangnya. Gelas serta piring tersebut pecah hingga tangannya tak sengaja terkena goresan dari pecahan gelas tersebut.


"Bangun lo!" titah Vanesha dengan tidak tau diri.


Padahal, tangan gadis itu terkena pecahan gelas, tetapi Vanesha dan yang lainnya hanya terdiam dan menyaksikan semuanya. Tanpa ada yang mau membantu ataupun ikut campur.


"Hiikkss, t-tangan g-gue s-sakit, sstt... "


"Ck, lemah lo! Gue bilang bangun ya bangun!" sentak Vanesha membuat satu kantin kian mencekam. Ia mencengkram erat kerah seragam anak baru itu dengan kuat sehingga gadis cantik berkacamata itu terbangun dengan sendirinya.


Dan itu mengundang reaksi heboh dari para siswa siswi yang ada di kantin tengah ikut menyaksikan live action di mana Vanesha benar-benar menujukkan kuasanya dengan cara membully dan merendahkan orang lain yang menurutnya memang pantas untuk mendapatkannya.


BUGH!


BRUKH!


Vanesha tersungkur di bawah akibat pukulan keras yang dilayangkan seseorang padanya bersamaan dengan gadis berkacamata itu, yang sama-sama terjatuh karena ikut tertarik oleh cengkraman erat kerah seragamnya oleh Vanesha.


"Vanesha!" pekik ketiga teman Vanesha secara bersamaan.


Sementara, orang yang telah memukulnya itu berdiri dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Menatap remeh pada Vanesha yang tengah dibantu berdiri oleh ketiga temannya. Pukulan yang keras ternyata mampu membuat sudut bibir gadis itu sobek dan mengeluarkan sedikit darah.


"Kalo lemah, gak usah sok-sokan menindas yang lemah. Buang-buang energi. Kalo cuma mau populer, gak dengan cara rendahan kayak gini," ujar Carlista dengan nada menyindir yang kentara.


Vanesha berjalan beberapa langkah dan memperkikis jarak di antara keduanya. Dengan kedua tangan yang terkepal dan tatapan setajam silet. "Ini urusan gue. Bukan urusan lo," desisnya.


Carlista tersenyum miring, semakin memperkikis jarak di antara keduanya dengan tatapan yang sama tajamnya. "Ini emang bukan urusan gue. Gue emang gak peduli mau lo bully siapapun yang ada di dunia ini. Tapi, lo udah ngancurin mood gue yang emang lagi bad mood. Jangan salahin gue jika setelah ini, hidup lo gak akan bertahan lama di sekolah ini," ujarnya dengan tajam.


Vanesha menyunggingkan senyum miring dan tipis. "Dan lo---lo juga udah ngancurin aksi gue untuk ngasih pelajaran sama cewek cupu itu. Jadi awal mula yang memancing keributan antara kita berdua siapa? LO ATAU GUE?!" ujarnya sambil menarik kerah seragam milik Carlista.


Carlista tertawa sumbang. "Hah? Gue gak salah denger, hm? Lo atau gue yang mancing keributan," ujarnya mengulangi perkataan Vanesha dengan nada meremehkan. Sedetik setelahnya, tangan Carlista yang kini sudah berada di kerah seragam Vanesha. "Jelas-jelas, lo duluan yang selu nyari masalah di sini!!" sarkasnya.


Vanesha dan Carlista sama-sama saling mencengkram dan menarik kerah seragam keduanya. Namun, sepertinya cengkraman Carlista berkali-kali lipat lebih kuat. Terlihat jika Vanesha sedikit kesulitan untuk bernafas.


BRUKH!


Sedetik setelahnya Carlista yang mendorong tubuh Vanesha hingga terjatuh ke bawah dan langsung menghirup pasokan oksigen sebanyak-banyaknya. Sementara Carlista sedikit berjongkok dengan sebelah tangan yang menjadi tumpuannya. Mencengkram erat rahang Vanesha.


"Harga seragam gue, bahkan jauh lebih mahal daripada harga diri lo yang hanya sebagai ****** sewaan. Camkan itu, Vanesha Anggiani," ujar Carlista terdengar cukup sarkas.


"CARLISTA!! IKUT KE RUANGAN IBU SEKARANG!!"


Entah semenjak kapan, si ketua yayasan itu berada di antara kerumunan para murid AHS. Tanpa ada yang menyadari, salah satu di antara kerumunan itu tersenyum miring, nyaris tak terlihat.

__ADS_1


●●●


__ADS_2