BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA

BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA
15 / Wisata Masa Lalu


__ADS_3

12 tahun yang lalu.....


Keluarga Hilson saat ini tengah menuju ke sebuah hotel berbintang yang ada di Jakarta. Seano yang tengah menyetir dan di sampingnya ada sang istri---Rosalinda. Sementara anak mereka berada di jok belakang seorang diri sambil memegangi boneka beruang berwarna coklat kesayangannya yang ia namai Bunny.


Sepanjang perjalanan, Carlista terus memeluk boneka beruang tersebut pemberian dari seseorang yang pertama kali ia temui waktu acara dinner keluarga. Seorang anak lelaki yang sangat tampan yang juga anak dari keluarga rekan bisnis Hilson's Corp.


Carlista tidak tahu siapa nama anak itu. Karena, saat ia hendak menanyakan siapa namanya, anak laki-laki tersebut langsung pergi dan berlari begitu saja setelah memberikan boneka beruang tersebut, tanpa sepatah katapun. Alhasil, ia hanya mengingat wajahnya.


Tetapi, tidak tahu siapa namanya.


Mungkin, hari ini ia akan bertemu kembali. Mungkin.


Mobil Ferrari hitam telah memasuki area parkir depan hotel yang mereka tuju. Hotel mewah berbintang yang sepertinya sengaja disewa atau mungkin memang pemilik hotel tersebut yang punya acara semewah ini sehingga gadis 6 tahun tersebut dibuat terpana dan terpesona dengan keindahannya.


"Mom, kita ngapain dateng kesini?" tanya Carlista sambil memeluk boneka beruang tersebut.


Rosalinda yang sangat cantik dengan gaun pesta nya lantas tersenyum sambil menggenggam sebelah tangan Carlista. "Kita diundang ke acara ulang tahun perusahaan temen Daddy kamu, Sayang."


Carlista hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia tengah mencari seseorang yang mungkin ia kenali. Karena, ia selalu melihat orang-orang berjas dan bergaun mewah seperti dirinya dan sang Mommy pakai dan mereka seumuran dengan Rosalinda dan Arseno. Ia hanya berharap jika ia bertemu teman atau seseorang yang seumuran dengannya.


"Masuk yuk," ajak Seano pada keduanya.


Rosalinda menggandeng lengan Seano sementara tangan mungil Carlista di genggam oleh Seano dengan boneka beruang yang ada di dalam dekapannya itu. Hingga mata cantiknya menemukan seseorang yang seumuran dengannya yang ia sangat kenali wajahnya. Bocah lelaki yang memberinya boneka beruang coklat tersebut.


"Dad, anak itu yang memberikan boneka beruang ini waktu acara dinner lalu," ujar Carlista sambil menarik-narik tangan Seano.


Seano menoleh dan mengikuti arah pandang Carlista. "Apa kamu yakin, anak laki-laki itu yang memberikan boneka beruang itu untuk kamu?"


Carlista mengangguk. "Yes, Dad. Dia anak lelaki yang aku ceritain sama Daddy dan Mommy," ujarnya dengan yakin.


Seano melirik pada Rosalinda, sang istri kemudian mengangguk sambil tersenyum. Ia kembali menatap kepada Carlista yang terlihat imut dengan dress merah selutut serta jepitan mutiara disisi kanan rambutnya yang hitam legam sebahu.


"Daddy sama Mommy anterin kamu ketemu sama anak itu, mau?" ujar Seano sambil mengusap pelan puncak kepala Carlista.


Carlista terdiam sejenak sambil mengerjapkan matanya berulang kali, membuat Seano dan Rosalinda terkekeh akan tingkah menggemaskan anak semata wayang mereka.


"Mmm, yaudah deh, aku mau," ujar Carlista seperti bergumam.


Seano dan Rosalinda lantas mengulas senyum tipisnya. Mereka datang dan menghampiri satu keluarga yang juga pemilik hotel sekaligus pemilik acara malam hari ini.


"Tuan Hilson, kita bertemu kembali di sini," sapa Josh---pemilik acara sekaligus pemilik hotel.


Seano tertawa kecil. "Tuan Ferioz, apa kabar? Lama tidak bertemu," ujarnya.


"Baik, baik," ujar Josh. "Kau datang bersama anak dan istrimu," sambungnya.


"Selamat malam, Tuan Ferioz, kita bertemu kembali di sini," sapa Rosalinda.


"Selamat malam kembali, Nyonya Hilson," balas Josh.


Josh tersenyum tipis. Pandangannya beralih pada Carlista yang tengah memegang boneka beruang yang pernah ia lihat sebelumnya. Lantas ia melirik pada anak laki-laki yang tengah berdiri dengan pandangan dinginnya. Akhirnya ia mengerti satu hal tentang maksud ini semua. Senyuman tipis terbit di wajah Josh.


"Dimana Nyonya Ferioz? Saya tidak melihatnya," ujar Seano.


"Sebentar lagi ia datang," jawab Josh. Selang beberapa detik, sesosok wanita cantik datang dengan dress hitamnya. Wanita tersebut adalah Isabelle---istri dari Josh Ferioz.


"Good evening, Tuan Hilson?" sapa Isabelle dengan senyuman.


Seano mengangguk dan tersenyum. "Nyonya Ferioz, perkenalkan, ini Rosalinda, istri saya," ujarnya seraya memperkenalkan sang istri padanya.


Rosalinda memang baru pertama kali bertemu dengan Isabelle malam ini. Karena, pada saat acara dinner, Isabelle berhalangan hadir lantaran ia yang pergi ke luar negeri karena ada urusan penting.


"Rosalinda," ucap Rosalinda sambil mengulurkan tangannya.


"Isabelle," balas Isabelle membalas uluran tangan Rosalinda. Lalu pandangannya beralih pada anak perempuan cantik yang memegangi boneka beruang coklat. "Siapa nama kamu, anak manis?"


Carlista tersenyum kikuk. "A-aku, Carlista, Tante,"

__ADS_1


"Nama yang indah," puji Isabelle.


"Apakah anak laki-laki itu adalah anakmu?" tanya Seano pada Josh.


Josh tertawa kecil. "Ya, dia anakku, Marvel, kemarilah," ujarnya.


Marvel berjalan dan berdiri tepat di samping Josh. "Yes, why, Dad?"


"Bukankah anak perempuan itu yang kau temui pertama kali saat acara dinner beberapa bulan lalu?" ujar Josh pada Marvel.


Marvel menatap datar pada gadis imut berusia 6 tahun tersebut. "Hm,"


"Dan boneka itu?"


"Dad. Itu urusanku." ujar Marvel cepat.


Josh, Isabelle, Seano dan Rosalinda terkekeh melihat ekspresi Marvel yang seperti menahan malu. Sementara Carlista hanya mengerjapkan matanya dua kali karena merasa bingung dan tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan semua itu tak luput dari perhatian Marvel.


"Lucu," gumam Marvel dalam hati.


"Ya sudah, lebih baik kalian berdua bermain-main saja dulu, Mommy dan Daddy masih banyak urusan," ujar Seano pada Carlista.


"Avel, tolong jaga Carlista, karena Daddy dan Mommy beserta Om Seano dan Tante Rosa masih ada urusan penting, kalian bermain saja," ujar Josh pada Marvel dan Carlista. "Tapi ingat, mainnya jangan jauh-jauh,"


Marvel menggangguk. "Hm, ya, Dad."


Rosalinda mengusap pelan puncak kepala Marvel dan Carlista bergantian. "Avel, Tante titip Ita sama kamu, yah, mainnya jangan jauh-jauh," ujarnya yang dibalas anggukan oleh Marvel.


"Ya, Mom," balas Carlista.


Kini Marvel dan Carlista berada di luar gedung. Mereka sebenarnya tidak berdua, tetapi ada beberapa bodyguard keluarga Ferioz yang mengawasi keduanya. Takut-takut terjadi sesuatu hal yang tidak mereka inginkan.


Terlebih, keluarga Ferioz adalah keluarga Mafia asal Amerika Serikat. Banyak musuh yang bisa saja membahayakan mereka.


Mereka berdua berjalan-jalan kecil dengan Carlista yang setia memeluk Bunny---boneka beruang yang diberikan oleh Marvel padanya. Hingga mereka berdua berhenti di sebuah taman dengan bangku kayu bercat putih yang tak jauh dari hotel tersebut.


Satu kata yang menggambarkan suasana malam ini. Carlista dan Marvel sama-sama terdiam dan tak ada pembicaraan di antara keduanya. Carlista memperhatikan wajah Marvel dari samping dengan lekat.


"M-makasih," ucap Carlista memecah keheningan di antara keduanya.


Marvel menoleh. "Buat apa, kamu bilang makasih?"


Carlista melirik pada boneka beruang coklat yang ia pegang. "Ini, boneka beruang pemberian dari kamu," ujarnya. "Aku kasih nama Bunny," sambungnya dengan sedikit malu-malu.


Marvel tersenyum. "Hm, sama-sama." balasnya. "Tolong dijaga, karena itu---sebagai tanda perkenalan aku sama kamu," ujarnya.


Carlista menggangguk antusias. "Hm, aku jaga kok, buktinya beruangnya masih ada, nih," ujarnya dengan polos. "Oh iya, kita kan belum kenalan, aku Ita, kamu siapa?" ujarnya sambil menyodorkan sebelah tangannya.


"Aku Avel," balas Marvel dengan uluran tangan.


"Oh, nama kamu, Avel," gumam Carlista.


DOR!


DOR!


DOR!


Suara tembakan sebanyak tiga kali membuat kericuhan yang ada di dalam hotel tersebut. Carlista yang memang tengah bersama Marvel di taman samping hotel lantas kaget dengan Carlista yang menjerit histeris dan menangis sambil memegangi boneka Bunny kesayangannya.


Sementara di dalam hotel tersebut, terdapat beberapa orang bersenjata yang memakai pakaian serba hitam telah mengepung area hotel tersebut. Dan beberapa orang juga terkena sandera termasuk kedua orangtua Carlista.


Josh dan Isabelle yang memang mengetahui jika yang menyerang acara mereka adalah musuh keluarga Ferioz lantas mengintruksikan kepada para bodyguard untuk menjaga Carlista dan Marvel yang memang tengah berada di luar gedung.


"Mas, gimana sama anak kita? Aku takut kalo Ita kenapa-kenapa?" ujar Rosalinda dengan panik.


"Kamu tenang, Rosa. Anak kita tidak akan kenapa-kenapa, percayalah, jika anak buah keluarga Ferioz bisa menjaga dan membuat situasi kembali kondusif." ujar Seano berusaha menenangkan sang istri.


"Tapi aku hanya khawatir dengan Ita, Mas," ujar Rosalinda dengan wajah gusar.

__ADS_1


Seano mendekap tubuh Rosalinda dengan erat. "Percayalah, semoga anak kita tidak terjadi apa-apa," ujarnya.


Sementara Josh dan Isabelle tengah berusaha mencari keberadaan Seano dan Rosalinda. Karena, mereka tak melihat keberadaan keduanya termasuk anak mereka.


Di dalam hotel yang mewah tersebut, terjadi baku hantam antara bodyguard keluarga Ferioz dengan anak buah dari musuh keluarga Ferioz. Tak terhitung berapa jumlahnya yang sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.


BUGH!


BUGH!


DOR!


Suara baku hantam dan tembakan kembali terdengar dari dalam hotel. Carlista yang panik akhirnya masuk hendak menemui kedua orangtuanya yang menjadi sandera dari anak buah musuh keluarga Ferioz.


Marvel, yang melihat Carlista berlari masuk ke dalam hotel lantas ikut masuk untuk melindungi dirinya. Padahal, para bodyguard keluarga Ferioz sudah melarang mereka untuk masuk.


"Mommy! Daddy! Ita takuuut!" jeritan Carlista ternyata membuat Seano dan Rosalinda merasa semakin merasa khawatir. Hingga beberapa bodyguard datang dan menghantam pria berbadan kekar tersebut dengan bangku untuk melepaskan Seano serta Rosalinda dari tawanan mereka.


Josh saat ini sudah memegang beberapa anak panah kecil dan satu buah pistol untuk berjaga-jaga jika ada yang berusaha untuk menyerang dirinya atau orang-orang terdekatnya. Ia juga sudah siap memasang earpiece yang terhubung langsung dengan asisten pribadinya---Robby.


"Terus awasi pergerakan musuh. Pastikan seluruh keluarga yang menjadi tawanan mereka, selamat. Termasuk keluarga Hilson." ujar Josh dengan penuh interupsi.


Sementara Robby yang saat ini tengah bersembunyi sembari memperhatikan pergerakan mereka lantas mengangguk samar. "Siap, Tuan Josh." balasnya.


Robby terus mengawasi sambil berjalan perlahan. Tak lupa pula dengan beberapa anak panah kecil yang dapat melumpuhkan lawan dalam sekejap.


Pandangannya beralih ketika ada seorang anak kecil perempuan yang tengah memegangi boneka beruang coklat tengah menangis di pojokkan dekat meja sudut ruangan. Namun tak lama dibawa pergi oleh seorang anak lelaki seusia dengannya.


Saat Robby hendak menyusul keduanya, tiba-tiba saja dirinya dihadang oleh dua orang musuh yang sama-sama menodongkan pistol tepat di kepalanya. Sehingga pergerakannya terhenti. "Mau apa kalian?" ujarnya dengan dingin.


"Dimana Tuan dan Nyonya Ferioz?" ujar salah satu musuh yang berkepala botak di tengah tersebut.


"Saya tidak akan memberitahu kalian." ujar Robby dengan tegas.


"Cepat beritahu kami dimana keberadaan mereka berdua!!"


"Sampai kapanpun, saya tidak akan memberitahu kalian di mana mereka," balas Robby terdengar sangat tenang.


Kedua orang yang tengah menodongkan pistol pada kepala Robby sama-sama mengangguk samar. Seperkian detik setelahnya.....


DOR!


Salah satu dari mereka menarik pelatuk pistol tersebut dan tepat mengenai kepala salah satu dari mereka. Robby berguling dengan segera mungkin lantas menembak kaki salah satu musuh yang diketahui sudah menembak dan sialnya melesat terkena kepala rekannya sendiri.


DOR!


"Bodoh! Kau pikir kau bisa melumpuhkanku," ujar Robby dengan seringaian tipisnya.


Sementara Carlista kini tengah bersama kedua orangtuanya. Ia terus menangis sambil memeluk erat boneka beruang tersebut. Dan laki-laki yang mengajak pergi bukanlah Marvel, melainkan orang lain dan itu pertemuan pertama mereka.


Entah siapa anak lelaki itu, yang pasti, ia ingin berterimakasih karena telah membantunya untuk menemukan kedua orangtuanya.


DOR!


"AAAAAHHH...."


Carlista berteriak dengan kencang di dalam pelukan Rosalinda. Sang Mommy lantas mengusap pelan puncak kepala Carlista. "Ada Mommy sama Daddy, Sayang. Kamu jangan takut, yah," ujarnya dengan pelan.


Hingga kedatangan salah satu dari orang-orang mereka, membuat Rosalinda dan Seano kian waspada dan memeluk erat Carlista.


"Tuan dan Nyonya Hilson, saya Robby, asisten pribadi Tuan Ferioz. Saya ditugaskan untuk mengawal keluarga Hilson untuk keluar dari hotel ini demi keselamatan kalian semua." ujar Robby dengan tegas. "Mari saya antar,"


Seano dan Rosalinda saling pandang dengan ragu. Robby yang merasa jika kedua orangtua Carlista sedikit ragu, akhirnya hendak menunjukkan identitasnya. Tetapi, Isabelle dan Josh datang bersamaan dengan Marvel dengan wajah panik ketiganya.


"Tuan dan Nyonya Hilson sebaiknya segera keluar dan pulang dari hotel ini. Karena situasi di sini sudah tidak aman lagi, silahkan kalian keluar dengan asisten pribadi saya yang akan mengawal kalian," ujar Josh dengan penuh interupsi.


Tanpa banyak basa-basi, keluarga Hilson langsung diboyong keluar oleh Robby dan tiga bodyguard lainnya. Meninggalkan keluarga Ferioz di dalam hotel serta bunyi tembakan dan baku hantam yang semakin tak terkendali.


●●●

__ADS_1


__ADS_2