
Marvel, Galang, Juna, dan Atharel, tengah berada di ruang OSIS. Mereka sedang berkumpul bersama beberapa anggota OSIS yang lain pagi-pagi sekali. Karena acara Event Tahunan itu akan berlangsung sekitar 2 hari lagi. Mereka akan kembali melakukan rapat singkat.
Hanya para anggota inti saja yang ada di dalam sana. Sedangkan anggota yang lain akan bergabung besok dalam rapat penutupan. Selepas Gabriel yang tak lagi menjabat menjadi ketos AHS, peraturan dalam organisasi dan juga sekolah semakin ketat.
Salah satunya adalah dalam warna rambut. Padahal, Carlista sudah pernah kena semprot Marvel beberapa kali. Bahkan, sering. Tapi, namanya juga Carlista. Larangan adalah suatu perintah untuknya. Jika dilarang mewarnai rambutnya selain hitam dan coklat, maka bagi Carlista, itu adalah sebaliknya.
Oke lah, lupakan tentang gadis kesayangan Marvel itu. Mari kita fokuskan pada Marvel yang dengan gagahnya mencoba mempresentasikan tentang agenda-agenda penting Antariksa High School.
Memang ada beberapa agenda penting untuk beberapa bulan ke depan. Salah satunya adalah Event Pertandingan Basket AHS pada bulan Oktober ini.
"Itu adalah beberapa agenda penting Antariksa High School untuk beberapa bulan ke depan. Jangan lupa untuk menempelkan brosur ini di mading sekolah. Dan juga posting di sosmed." ujar Marvel dengan tegas.
"Untuk lo, Carisa. Tugas lo pantau dan cek seluruh murid yang terpilih untuk tampil dan tanding dalam event tahunan ini. Jangan lupa untuk mencatat siapa aja yang akan terpilih dalam anggota cheers dan pembuka event hari sabtu nanti," sambung Marvel memandang datar pada Carisa.
"Hm, iya, Vel," balas Carisa dengan senyuman tipisnya.
"Dan serahkan ke gue," ujar Galang dengan datar.
Carisa mengangguk. "Hm,"
.
.
.
"Vel, gue mau nanya sebentar aja,"
Marvel menoleh sekilas pada si empunya yang tengah berdiri sambil memegangi buku besar. "Hm, apa?" datarnya.
"Mmm---a-apa---hubungan lo dengan---Carlista?" tanya Carisa dengan penuh kegugupan.
Karena keduanya tengah berada di ruang OSIS hanya berdua saja. Jadi, Carisa hanya ingin memastikan jika Carlista dan Marvel memang benar-bemar memiliki hubungan atau hanya Marvel saja yang mencintainya.
"Kenapa?" tanya Marvel tanpa menoleh sedikitpun karena memang tengah fokus mengetik.
"Hah? E-enggak, g-gue cuma kesian aja sama Carlista. Kalo di rumah, dia sering ngurung diri di kamar. Dan---sedikit tertekan," ujar Carisa dengan gumaman diakhir.
Marvel hanya fokus dengan layar laptopnya tanpa mau menggubris ucapan Carisa itu.
"Gue harap... lo bisa jadi penyembuh untuk hati Carlista. Karena, selama ini, dia merasa sendiri dan kesepian," ujar Carisa dengan perlahan.
Marvel memberhentikan kegiatan mengetiknya sejenak. "Gak perlu dikasih tau juga, itu yang gue lakuin selama ini," ujarnya dengan datar, lalu kembali mengetik.
Carisa hanya tersenyum kikuk. "Hm. Yaudah, Vel. Kalo gitu, gue pergi dulu. Mau jalanin tugas dari lo,"
pamitnya.
"Hm," balas Marvel tanpa menoleh sedikitpun.
Bahkan, Carisa juga ingin jika Carlista bahagia. Bukankah itu adalah bentuk support sebagai saudara---tiri?
●●●
Sesuai dengan perintah Marvel, saat ini Carisa tengah menuju gedung ekstrakulikuler. Di gedung tersebut, terdapat beberapa ruangan termasuk ruangan untuk latihan cheerleaders dan dance juga. Berhubung Event tersebut tinggal 2 hari lagi, Vanesha dan ketujuh teman anggota cheers-nya, tengah latihan di dalam ruangan.
Ruangan cheerleaders memang kebetulan bersebelahan dengan ruangan dance. Bedanya, jika ruangan cheers itu seperti ruangan biasa tetapi cukup luas, sementara ruangan dance didominasi dengan cermin di ketiga sisi ruangan tersebut.
"Gue mau mendata siapa aja yang bakalan tampil di acara Event Tahunan AHS hari Sabtu, nanti. Khusus anak-anak cheerleaders sama KDC." ujar Carisa sambil setia membawa buku besar tersebut.
__ADS_1
"Ya, udah pasti kita berdelapan. Jangan lupa catet nama gue di KDC juga. Gue juga bakal tampil saat opening." ujar Vanesha. "Gue kan wakil KDC juga. Juga gue akan tampil," sambungnya sedikit menyombongkan diri.
Carisa yang tengah mencatat nama-namanya, seketika berhenti sejenak. Mengangkat pandangannya pada Vanesha. "Sorry, Van. Tapi---lo 'kan udah di cheerleaders. Jadi, lo gak bisa untuk tampil di KDC nanti. Kasih kesempatan yang lain untuk tampil juga." ujarnya dengan nada serius.
Vanesha mendengus. "Kalo gue mau tampil untuk opening dan juga di cheers, emangnya kenapa?! Gue ketua di cheers dan gue wakil di KDC! Jadi, gue berhak untuk tampil di keduanya!"
"Gak bisa, Van! Ikuti peraturan yang ada. Lo gak boleh tampil di dua eskul sekaligus. Jadi, jika lo mau tampil di opening nanti, lo gak usah gabung di cheers."
Seketika Vanesha mendorong kencang tubuh Carisa hingga mentok ke belakang tembok. "Lo itu cuma ditugaskan oleh Marvel untuk mendata dan mencatat. Bukan untuk membantah dan membuat peraturan yang baru." desisnya.
Sementara Carisa sudah menjatuhkan buku besar tersebut sekaligus pulpen yang sebelumnya berada di tangannya. Nafasnya terengah dan rasa sesak yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Siapapun pasti akan merasa tertekan ketika lehernya dipegang secara kencang seperti orang mencekik.
Uhuukk... uhuukk...
"Van---le-pas-sin g-gu-e... "
"Van, Van. Udah, Van. Kesian si Carisa. Nanti lo yang kena hukuman kalo dia sampe ngadu ke Marvel!" cegah Lyora sambil menarik tangan Vanesha.
"Ck, gue gak takut sama Marvel. Dia gak akan ngehukum gue hanya karena ngebela wakilnya yang lemah ini," ujar Vanesha dengan tajam.
"Lepasin dia, Vanesha."
Suara yang terdengar dingin itu justru membuat kedelapan manusia berpakaian seragam cheers itu seketika menoleh ke samping. Tepatnya di dekat pintu ruangan tersebut. Seketika Vanesha melepaskan cekalan tangan yang berada di leher Carisa itu.
Carisa merasa lemas dan menghirup pasokkan udara sebanyak-banyaknya. Tubuhnya yang melemas hampir saja terjatuh jika tidak ditahan oleh kedua anggota cheers lainnya. Dan satu anggota lainnya membantu untuk mengambil buku dan pulpen yang terjatuh ke lantai.
●●●
Carlista mendengus ketika ia yang tengah menikmati makan siang dengan tenang dan tanpa gangguan sebelumnya, kini justru datang seorang yang amat menyebalkan dan terus mengganggu dirinya. Bukan hanya mengganggu, tetapi sesekali juga mencuri satu kecupan.
Ya, gak perlu dispil karena emang kalian tahu siapa orangnya jika bukan Marvel. Si cowok tampan sekaligus pacar Carlista.
"Besok aku latihan basket lagi, Carl. Kamu nonton, yah. Supaya aku semangat latihannya,"
Carlista melirik sekilas. "Ogah! Males,"
"Dih! Ntar kalo aku diambil orang, gimana? Kamu gak cemburu pacar terganteng kamu, diambil sama cewek lain?" ujar Marvel sedikit menggoda.
"Gak!" balas Carlista singkat.
Marvel hanya mendengus.
"Lagian, siapa juga yang mau sama cowok mesum plus triplek kayak lo?! Cuma cewek yang lagi katarak yang mau sama lo!" seru Carlista dengan malas.
"Oh my bestie! Banyak kali, Carl, yang mau sama Marvel. Semua ciwi-ciwi satu AHS tergila-gila sama pacar lo itu!" sambar Jenna yang memang duduk tak jauh dari Carlista dan Marvel berada.
Carlista memutar bola matanya malas. "Kecuali gue,"
"Awas, nanti bucin parah lo sama Marvel! Kalo ngeliat Marvel deket sama cewek lain atau digodain sama cewek-cewek kurang belaian, lo ntar ngereog lagi," sahut Melody.
"Gak akan," balas Carlista dengan datar.
"Yakin, gak cemburu, hm?" goda Marvel sambil menoel dagu Carlista. "Kemarin kenapa kamu pergi ninggalin aku gitu aja, saat anak-anak cheers mau kasih hadiah sama aku, hm?" sambungnya dengan gencar terus menggoda Carlista.
"Siapa juga yang cemburu! Gak tuh," ujar Carlista sedikit mengembungkan pipinya.
"Masa?"
"Hm," dengus Carlista.
__ADS_1
Marvel mengangguk-anggukan kepalanya singkat. "Yaudah kalo gitu. Besok aku sama yang lain mau latihan untuk persiapan hari Sabtu. Kalo ada yang ngasih minum atau ngasih semangat untuk aku... kamu jangan cemburu," ujarnya sambil menatap intens wajah cantik Carlista.
Carlista melirik sekilas dengan tatapan sengit. "Dasar ganjen," cibirnya.
Marvel hanya mengulum senyumnya. Ia lebih senang ketika respon gadisnya seperti itu. Percayalah, jika sebenarnya itu bentuk dari rasa cemburu Carlista yang tertutupi oleh gengsi yang segede gaban. Atau mungkin, ia tak menyadarinya.
●●●
H-1 menuju Event Tahunan AHS, Marvel dan ketiga temannya tengah berada di lapangan basket bersama yang lainnya. Mereka tengah latihan untuk pertandingan basket besok pagi. Seperti biasa, tim yang dipimpin oleh Marvel, selalu menang telak.
Suara tepuk tangan yang begitu gemuruh serta jeritan tertahan membuat satu gedung olahraga itu kian ramai. Terlebih dari para anggota cheers yang terus meneriaki nama Marvel dan ketiga temannya. Karena Marvel yang kali ini menjadi kapten.
"Marvel!! Lo ganteng banget!! Aarrgghh, gak tahan!!"
"Oh my God! Kalo keringetan kayak gitu, makin ganteng!"
"Marvel!! Lo keren banget!"
Vanesha terus menerus meneriaki nama Marvel. Membuat siapapun yang mendengar dan memperhatikan interaksinya semakin memandang jijik pada si gadis berpakaian kurang bahan itu. Terlebih lagi Carlista yang entah mengapa ada perasaan sedikit tidak suka pada Vanesha.
Terlihat dari tatapan mata Carlista yang menatap tidak suka pada Vanesha. Terlebih saat ini, Vanesha berjalan dengan lenggak-lenggok khas dirinya menghampiri Marvel dan yang lainnya. Di tangan kanannya sudah ada sebotol air minum, yang sepertinya akan diberikan kepada Marvel.
"Marvel! Gue ada sebotol minum buat lo,"
Marvel yang tengah duduk sambil mengelap keringat dengan tisu yang memang sudah disediakan khusus untuk mereka, mengangkat pandangannya dengan datar. Terlihat jika gadis cantik dengan pakaian sexy itu tengah berdiri di tepat hadapannya.
Pandangannya turun melihat jika tangan gadis itu mengulurkan sebotol minum untuknya. "Thanks," ucapnya sambil meraih botol itu.
Vanesha tersenyum lebar. "Hm, sama-sama, Vel,"
"Ehem! Nanti Carlista cemburu, Vel," sambar Juna sambil melirik-lirik tipis pada Vanesha.
Marvel hanya terdiam dan tak menanggapi ucapan temannya yang terkenal absurd itu. Ia membuka tutup botol dan hendak untuk meminumnya. Namun, botol tersebut tiba-tiba saja terjatuh karena terkena pantulan bola basket yang entah dari mana.
Marvel, Vanesha, dan yang lainnya mengalihkan pandangannya ke arah bola tersebut berasal. Terlihat jika seorang gadis cantik tengah berjalan santai ke arah mereka dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Lo lagi! Lo lagi!" decak Vanesha dengan kedua tangan mengepal.
Carlista menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?" ucapnya dengan tenang.
Vanesha berjalan untuk menghampiri Carlista. "Pasti lo yang sengaja ngelempar bola basket itu ke arah Marvel supaya minuman dari gue tumpah dan gak jadi diminum sama Marvel?!" bentaknya hingga suara itu memenuhi seisi gedung olahraga.
"Gue gak sengaja," ujar Carlista dengan cuek.
"Lo pikir, gue bakalan percaya?! Pasti lo cemburu kan sama gue yang berhasil ngasih minum itu ke Marvel?! Dan Marvel menerimanya dengan senang hati." ujar Vanesha.
Carlista terdiam.
"Makanya... jadi cewek gak usah sok jual mahal! Giliran ada yang ngedeketin Marvel, lo malah gak suka! Giliran Marvel selalu mengejar lo, lo malah menolak kehadirannya. Jangan salahin jika gue yang akan ngambil perhatian Marvel," ujar Vanesha dengan sindiran keras.
"Daripada gue kayak lo. Terlalu murahan," desis Carlista.
Carlista melirik pada Marvel yang terlihat cuek dan sedikit datar padanya. Jujur, ada rasa kecewa di dalam hatinya. Terlebih, pandangan dan tatapan mata Marvel yang terlihat berbeda kali ini. Tak seperti biasanya ia melihat Marvel dengan tatapan yang cenderung datar.
"See?" Vanesha tersenyum penuh kemenangan saat reaksi Marvel yang terkesan cuek dan datar pada Carlista.
Carlista mendengus lantas pergi dari hadapan Vanesha dengan perasaan dongkol. Sungguh, ia tak mengerti dengan semua ini. Mengapa hatinya tidak terima melihat Marvel menerima minum dari orang lain?
Perasaan apa ini?
__ADS_1
●●●