
Marvel berjalan menuju ruangan markas milik keluarga Ferioz. Pandangannya yang selalu datar serta tatapannya yang sangat mengintimidasi siapa saja, membuat para bodyguard yang ada di sepanjang lorong menunduk dan membungkuk patuh. Memberi hormat kepada Tuan Muda mereka.
Membuka pintu dengan gerakan tak terbaca, lantas melangkah masuk ke dalam ruangan yang didominasi warna putih itu. Di samping meja kaca tersebut terdapat kursi putar tempat biasa ia duduk.
Sementara ada juga tiga kursi yang sama mengitari meja persegi empat tersebut.
"Ngebucin mulu. Telat kan, datengnya," ujar Juna menyambut kedatangan Marvel malam ini.
Ya, kalian gak salah kok. Marvel benar-benar mengurung Carlista selama seharian penuh. Dari pagi hingga malam tadi sebelum ia datang ke markas ini. Selepas ia mengantarkan pulang gadisnya, ia langsung bergegas ke markas untuk membahas tentang hal penting.
Menyangkut musuh keluarga Ferioz yang sempat melakukan penyerangan sekitar 12 tahun lalu di mana saat acara perusahaan Ferioz's Corporation di hotel milik keluarga Ferioz. Dan itu juga yang membuat Marvel dan Carlista terpisah.
Marvel duduk di kursi kebesarannya sambil memandang datar pada ketiga temannya itu. "Apa mereka semua memiliki hubungan? Atau, ini kasus yang berbeda?" tanyanya to the point.
Galang menaruh sebuah foto usang di mana itu adalah foto sepasang anak laki-laki dan anak perempuan yang berusia sekitar 5 tahun. "Make sense gak sih, kalo mereka berdua itu adalah saudara---kembar?" ujarnya sedikit ragu diakhir kalimat.
Marvel meraih sebuah foto yang Galang letakkan tepat di atas meja kaca tersebut. Memperhatikannya dengan jelas dan seksama. Terlihat jika gadis kecil itu tengah tersenyum dengan manis ke arah kamera. Sementara anak laki-laki itu hanya tersenyum tipis.
"Setelah gue perhatiin dari awal pertama kali kita nemu foto itu, gue udah punya feeling jika mereka berdua itu adalah saudara. Entah itu kembar atau memang adik kakak yang selisih sekitar 1 tahun aja," ujar Atharel mengeluarkan statementnya. Dan itu terlihat cukup serius dari raut wajahnya.
Marvel melirik pada Atharel sekilas lantas kembali memandang foto usang itu kembali. "Hm, masuk akal jika mereka memang bersaudara. Entah itu kembar atau hanya kakak adik," ujarnya dengan datar.
Prok! Prok!
Marvel bertepuk tangan sebanyak 2 kali. Seketika ruangan tersebut berubah menjadi gelap gulita. Tangan Marvel menyentuh pinggiran meja kaca tersebut, seketika meja kaca tersebut menyala dengan terang dan menampakkan tulisan-tulisan serta foto-foto termasuk artikel penting lainnya.
Keempatnya berdiri dan sama-sama memperhatikan layar di balik meja kaca tersebut. Persis seperti layar monitor 3D yang jika disentuh, ia seperti layar handphone atau iPad pada umumnya. Menampilkan beberapa gambar yang diambil beberapa tahun lalu.
Marvel menyentuh sebuah foto lantas menzoom fotonya sebanyak beberapa kali. Terlihat jika di dalam foto itu, terdapat seseorang yang tak terlalu jelas wajahnya karena tertutup masker hitam untuk menutupi setengah wajahnya. Yang terlihat hanya bagian rambut dan kedua matanya saja.
"Ini adalah foto yang sempat diambil dengan jarak jauh. Saat pencarian keluarga Marelley, beberapa tahun lalu di Jerman. Jika dilihat dari kedua matanya, itu memang mirip dengan kedua mata anak kecil itu." jelas Marvel.
"Tetapi, pada saat bodyguard menangkap wanita itu, ternyata ia hanya orang biasa. Yang kebetulan saja hanya mirip dengan kedua mata anak yang ada di foto ini," sambung Marvel terdengar serius.
Galang, Juna, dan Atharel terdiam sambil terus memperhatikan layar meja monitor itu tanpa terlewat sedikitpun. Sementara Marvel terus menjelaskan.
"Dan ini adalah artikel yang membuat kita sempat terkecoh. Di artikel ini menyatakan jika keluarga Marelley sudah benar-benar meninggal akibat kecelakaan pesawat 3 tahun lalu. Dan berita ini membuat gempar hampir 1 Eropa," ujar Marvel dengan datar.
Artikel itu memang sempat menjadi perbincangan dan juga menggemparkan hampir se Eropa kala itu. Karena Marelley's family merupakan keluarga Mafia terkenal dan cukup kuat asal Italia. Keberadaan keluarga itu sempat menghilang bak ditelan bumi setelah keluarga Marelley terlibat dalam pembunuhan terhadap keluarga Ferioz.
Setelah keluarga Mafia asal Italia itu terlibat dalam pembunuhan satu anggota keluarga Ferioz, keluarga Marelley menghilang dari Italia. Bukan hanya menghilang dari Italia saja, tetapi juga tak diketahui di mana keberadaannya hingga muncul pemberitaan itu.
Tetapi, untuk mengetahui suatu kebenaran tentang keluarga Marelley. Josh Ferioz beserta para anak buahnya mulai melakukan pencarian jasad anggota inti keluarga Marelley yang katanya berjumlah 4 orang itu. Tetapi, tak ditemukan satupun jasad yang diidentifikasi itu adalah gen keluarga Marelley.
Hingga terakhir kali mereka mendengar kabar jika keluarga Marelley itu masih hidup. Namun, masih dalam persembunyian dari dunia luar. Karena dalam dunia Mafia, identitas seorang Mafia tidak akan mudah diretas begitu saja. Termasuk keberadaannya saat ini.
"Dan---pada kenyataannya, keluarga itu masih hidup dan tengah bersembunyi," sambung Juna terdengar serius.
"Hm, itu kemungkinan terbesarnya, jika keluarga Marelley benar masih hidup," sahut Marvel seperti gumaman.
Hening sejenak.
"Dan---soal Raskal?" tanya Galang to the point.
__ADS_1
Marvel seketika merubah raut wajahnya menjadi kian
dingin dan datar. Sebelah tangan mengepal kala mengingat kejadian tadi pagi. "Cukup awasi pergerakannya. Dan jangan sampai melukai gadis kesayanganku," ujarnya seperti mendesis.
"Siapa gadis kecil yang ada di dalam foto ini?" ujar Atharel seperti bergumam, sambil memperhatikan foto yang sama di layar meja monitor itu.
●●●
H-3 Event Tahunan Antariksa High School. Marvel serta para anggota OSIS sibuk dengan berbagai macam kegiatan yang menyangkut per-OSIS-an. Termasuk pembentukan tim basket yang akan turun untuk bertanding pada hari Sabtu nanti.
Hari ini adalah tahap penyeleksian para anggota tim basket. Sementara untuk para wanita yang tergabung dengan anggota cheerleaders juga sama tengah melakukan tahap seleksi dan membentuk satu regu cheers yang berjumlah delapan orang.
Seperti saat ini, para anggota tim basket AHS tengah melakukan latihan pertandingan basket dengan dibagi menjadi dua regu. Regu pertama memakai kaos berwarna merah dan regu kedua memakai kaos warna hitam.
Namun, ada yang berbeda dari pemandangan di gedung olahraga kali ini. Banyak siswi yang berbondong-bondong mendatangi gedung tersebut bahkan memenuhi tribun penonton hanya untuk menyaksikan latihan pertandingan basket antar siswa AHS.
Mereka rela datang dan menunggu kedatangan para anggota tim basket yang akan bergabung pada hari ini juga, sekaligus untuk turun langsung ke lapangan saat Event hari Sabtu nanti. Tidak ikut seleksi pun, mereka pasti akan terpilih untuk mewakili sekolah.
Suara sorak sorai dan tepuk tangan saat ini memenuhi seisi gedung olahraga. Saat keempat lelaki tampan yang kompak memakai seragam basket merah mereka, datang dan berjalan menuju tengah lapangan. Di mana terdapat para anggota tim yang lain termasuk seorang wasit bertopi oranye itu.
"Aaaarrrggghhh! Marvel! Ganteng parah!!"
"OMG! Empat pangeran sekaligus! Apa enggak diaebetes dadakan?!"
"Gila! Vibesnya gak ada lawan! Empat-empatnya gak ada yang burik!"
"Skincarenya apa njirr?! Muka mereka licin-licin banget!"
"Kakak kelas terfav ini mah!! Aaarrghh!"
Jadi, maklum lah. Baru ngeliat cowok ganteng bak visual Idol semua.
"Ehem! Ehem! Merhatiin terus dari tadi, Car. Ngeliatin siapa sih? Marvel atau Gabriel, nih? Hm?" ujar Aleana dengan nada menggoda sambil menyenggol pelan bahu Carisa yang tengah memandang lurus ke arah lapangan basket.
Carisa sontak tersentak kaget dan mengalihkan pandangan ke arah lain. "A-ah, e-enggak. Siapa yang lagi merhatiin mereka sih," elaknya dengan kedua pipi yang bersemu merah, namun tidak terlalu kentara.
Keduanya memang sedang tak ada kegiatan untuk OSIS pagi ini. Jadi, mereka berdua memiliki kesempatan untuk bisa duduk di tribun dan menonton langsung latihan pertandingan basket pagi ini. Yang mana ada Marvel dan ketiga temannya sekaligus.
Sementara disisi lain, Carlista dan ketiga temannya saat ini tengah berada di parkiran mobil. Mereka berempat baru sampai karena memang hari ini kegiatan belajar mengajar ditiadakan lebih dulu. Karena untuk melakukan persiapan menuju Event Tahunan Antariksa High School.
Inilah yang Carlista tunggu-tunggu. Tidak belajar alias free. Jadi, mereka berempat berniat bolos dan kabur dari sekolah ini. Namun, saat keempatnya hendak kabur dan melarikan diri, suara keramat dari salah satu guru terkiller di AHS pagi ini memberhentikan aksi mereka.
Ya, siapalagi jika bukan Miss Tisa. Suara keramat yang begitu familiar untuk telinga mereka berempat.
"Mau coba-coba untuk kabur kemana lagi kalian, hm?"
Mampus!
Carlista mengumpat dalam hati. Gerakkan mereka terhenti begitu saja dan sama-sama berbalik arah menengok ke belakang dengan sedikit slowmo. Sama-sama menampakkan cengiran kudanya, mereka berempat berdiri sejajar sambil menghadap Miss Tisa.
"Good morning, Miss Tis," sapa Carlista dengan cengiran kuda yang kian lebar.
"Hm, morning too," balas Miss Tisa dengan datar. "Mau kemana kalian berempat? Kompak banget," sambungnya dengan sorot mata yang cukup mengintimidasi.
__ADS_1
"Hah? Hmm, a-anu, Miss Tis---kita mau---" Jenna sengaja menggantungkan ucapannya karena melirik sekilas pada keempatnya untuk meminta jawaban yang make sense. "---mau ke... gedung olahraga." cetus Melody. "I-iya, Miss Tis. Kita berempat mau ke sana," sambungnya dengan cengiran kudanya.
"Nah, iya, Miss. Kita mau ke sana. Mau nonton latihan pertandingan basket." sambung Metta dengan raut wajah tenang.
Miss Tisa hanya menghela nafas perlahan. Untuk guru killer yang satu ini, tak ada seorangpun yang bisa mengkadalinya. Kenapa? Karena ia bisa berada di mana saja. Mistis, bukan?
Muncul mulu. Kek jalangkung. Gitu kalo kata Carlista.
"Yaudah sana! Miss juga mau liat pertandingan itu," seru Miss Tisa sambil membenarkan kacamatanya.
Maklum, Miss Tisa adalah guru termuda di AHS. Umurnya aja, berkisar 25 tahun. Genit dikit, gak apalah ya,
●●●
"Oh my bestie! Liat deh, Marvel sama temen-temennya ganteng-ganteng banget! Sumpah! Kek berasa nonton para Idol yang lagi main basket!"
"Asli, ini mah sekumpulan cogan yang udah overload!"
Saat kedua sahabat Carlista tengah sibuk dengan para cogan yang tengah bertanding basket di lapangan. Ia dan Metta hanya bisa memutar bola matanya malas dan mendengus hampir bersamaan. Apalagi saat Marvel yang berkali-kali berhasil memasukkan bola oranye itu ke dalam ring, suara teriakan itu benar-benar seperti supporter bola.
"Atha, kenapa ganteng banget sih?! OMG! Apa gue suka ya, sama Atha?!" decak Jenna mendramatisir, sambil tersenyum ke arah si pemilik kaos merah itu yang mana tengah mendribble bola oranye itu.
Metta memutar bola matanya malas. "Ck, genitnya kumat lagi, kan. Dasar, Selebgram centil," gerutunya.
Sementara Carlista, saat ini tengah memperhatikan setiap pergerakkan para pemain, termasuk Atharel yang baru saja memasukkan bola ke ring dan langsung mencetak 3 point. Bola diambil alih oleh tim lawan, namun gerakkan Marvel yang cenderung gesit berhasil merebut bola itu dari tangan lawan.
Kini giliran Marvel yang tengah mendribble bola itu menuju ke ring lawan. Namun, pergerakkannya sempat dihadang oleh Gabriel. Sempat beradu pandang selama dua detik sebelum Marvel yang memutuskan kontak mata itu dan langsung memasukkan bola dari jarak yang terbilang cukup jauh.
Suara sorak sorai kembali terdengar. Terlebih para ciwi-ciwi yang terus meneriaki nama Marvel dengan cuitan-cuitan receh mereka. Namun, pandangan mata Marvel hanya tertuju pada si pemilik rambut coklat ombre biru itu dan melemparkan senyuman dan kedipan mata limited edition miliknya.
"Aaaarrgghh! Carlista yang dikedipin, gue yang salbrut anjiiirr!!"
"Parah! Parah! Parah! Senyuman limited edition punya Marvel, bikin terserang diabetes dadakan, njir!"
"Gila sih, pesona Marvel dan teman-temannya emang gak ada obat!"
Sementara Carlista hanya bisa mengalihkan pandangan ke arah lain dengan kedua pipi yang mulai merah merona. Ditambah Jenna dan Melody yang sudah menggoda sambil sesekali menoel pipi merah Carlista.
"Cie! Dikedipin sama pangeran sekolah tuh," ujar Jenna dengan nada menggoda.
"Ehem! Ehem! Mata lo katarak sih, kalo nolak pesona Marvel." seru Melody.
Carlista mendengus. "Sok ganteng,"
"Tapi emang beneran ganteng, Carl. Circle Marvel gak ada yang burik." timpal Jenna yang diangguki oleh Melody.
Priiitt!
Suara peluit dibunyikan oleh wasit menandakan pertandingan selesai dengan Marvel yang mencetak angka sebagai penutup latihan pagi ini. Dan latihan tersebut akan berlangsung kembali sekitar 15 menit setelah mereka istirahat.
Para pemain melipir ke pinggir lapangan untuk duduk dan beristirahat. Termasuk keempat pangeran tampan yang sukses mencuri perhatian sekaligus center pada pagi hari ini. Duduk di bangku panjang yang memang sudah disediakan untuk para siswa siswi selepas olahraga.
Marvel meraih botol minum lalu membukanya dan menenggaknya hingga setengah botol. Tetapi, pandangan matanya tak terlepas dari Carlista yang tengah duduk di tribun baris ketiga dari lapangan. Ya, bisa dibilang cukup dekat lah dengan posisi Marvel saat ini.
__ADS_1
"Cantik," gumam Marvel.
●●●