BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA

BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA
20 / Berusaha Mengingat?


__ADS_3

"Oke, rapat hari ini gue akhiri sampai di sini. Jika ada hal-hal yang mau kalian tanyakan, bisa kalian tanyakan sekarang seputar event tahunan Antariksa High School yang akan sebentar lagi diadakan." ujar Marvel terdengar sangat tegas dan berwibawa.


Pagi ini, Marvel dan yang lainnya tengah mengadakan rapat besar-besaran di ruang OSIS. Membahas tentang kegiatan tahunan sekolah ini. Yang mana acara pertandingan basket putra antar sekolah SMA se ibukota. Dengan Antariksa High School yang menjadi tuan rumahnya.


Setidaknya ada sekitar 10 perwakilan sekolah yang memang dipilih langsung oleh Marvel untuk mengikuti event tahunan yang selalu diselenggarakan di bulan Oktober. Terhitung 1 minggu sebelum acara berlangsung, para ketua dan wakil ketua OSIS masing-masing sekolah yang terpilih, datang dan mengikuti meeting hari ini.


"Tambahan sedikit, masing-masing dari sekolah yang daftar, boleh membawa anggota tim cheerleaders sekolah kalian. Dan satu anggota tim cheers maksimal 8 orang." ujar Carisa, selaku wakil dan moderator.


Para anggota yang hadir hanya menganggukan kepalanya tanda menyetujui peraturan yang ada. Dirasa tidak ada yang penting, akhirnya Marvel mengakhiri rapat pagi ini dengan sambutan terakhir dan ucapan terimakasih.


Satu persatu para peserta meeting meninggalkan ruangan OSIS. Dan hanya menyisahkan sang ketua dan wakil ketua serta beberapa anggota inti lainnya. Termasuk ketiga sahabat Marvel di dalamnya.


Marvel masih setia duduk di kursi putar kebesarannya. Sibuk dengan layar laptop yang sedari tadi terus menyala. Memperhatikan setiap tulisan yang ada di layar tersebut. Sementara Carisa dan yang lainnya sibuk beres-beres dan merapihkan meja kaca itu.


Menyalin beberapa data-data penting yang ada di laptop tersebut dan memindahkannya ke flashdisk lalu memberikannya pada Galang. Setelah dirasa tugasnya telah selesai, Marvel bangkit dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan OSIS tersebut.


Namun, baru hendak meninggalkan ruangan tersebut, ekor matanya melirik pada seseorang yang tengah membuka map merah di antara rak-rak buku tak jauh dari meja kaca tersebut. Tersenyum miring nan tipis, lalu pergi meninggalkan ruangan untuk mencari keberadaan gadis kesayangannya.


●●●


Tak butuh waktu lama, akhirnya Marvel bisa menemukan gadis kesayangannya. Tengah duduk di gazebo taman sekolah seorang diri. Sebenarnya ia tadi berempat bersama Metta, Jenna, dan Melody. Namun, ketiganya pergi saat Marvel berjalan ke arah mereka.


Memberikan ruang untuk Carlista dan Marvel berbincang-bincang dan---melepas rindu. Ya, Marvel yang rindu. Sementara Carlista? Ck, sudah dibilang, jika ia tak pernah menerima Marvel dalam hidupnya. Dan tak menganggapnya sebagai kekasih. Gimana mau rindu?


Cup


Belum sempat Carlista mengeluarkan umpatan kasarnya, Marvel telah lebih dulu membungkam mulutnya dengan bibirnya. Menempelkan sebentar lalu menggigit kecil bibir Carlista untuk ia bisa masuk dan menelusuri dalam mulutnya lebih dalam lagi.


Dan ini yang Marvel inginkan, Carlista membuka mulutnya meski harus dengan sedikit paksaan. Dengan begitu, Marvel bisa lebih leluasa untuk mengemut, menyencap, bahkan menyesap bibir manis gadisnya itu. Bahkan, bibir Carlista sudah menjadi candu untuknya.


Sementara Carlista justru kewalahan dengan permainan Marvel kali ini. Ingin memberontak, percuma. Karena tubuh kecilnya telah ada di dalam pangkuan Marvel dengan sebelah tangannya yang mengunci pinggang ramping Carlista dan sebelahnya lagi sudah berada di tengkuknya.


Kedua tangan Carlista mencegkram erat kedua lengan Marvel. Semakin sesak ia, semakin kuat cengkraman tangannya. Belum lagi Marvel yang semakin memperdalam ciumannya dan menguras habis oksigen yang ada dalam diri gadisnya itu. Seakan ingin membuat gadisnya pingsan jilid 2.


"Mmmfftt... "


Carlista berusaha memberontak di atas pangkuan Marvel. Ia terus bergerak bak cacing yang tengah kepanasan dan itu membuat Marvel menggeram tertahan dan melepaskan ciuman itu. Tubuh Carlista seakan melemas dan menghirup oksigen dengan sangat rakus.


Kepalanya saja sudah bersandar pada dada bidang Marvel dengan nafas yang memburu dan dada yang naik turun. Dengan segera ia melompat dari pangkuan Marvel dan berdiri sambil menatap tajam pada lelaki tampan yang hendak membuatnya pingsan.


"Berapa kali gue harus peringatin sama lo sih, Vel?! Kalo gue bukan pacar lo dan gue gak kenal sama lo!!" berang Carlista dengan dada yang naik turun.


"Gue gak mau jadi pacar lo dan gue gak mau sama lo!!"

__ADS_1


"Tapi aku pacar kamu, Carl. Kan kita udah jadian. Dan aku---"


"Gue gak mau dan gue gak terima!"


"Aku gak nerima penolakan, Carl. Sekali kamu pacar aku, kamu akan tetap menjadi milikku," ujar Marvel terdengar serius.


"Gue mau kita putus!"


Marvel menggeleng samar lalu bangkit dari posisi duduknya. "Aku gak terima kamu putusin aku, Carl. Aku pacar kamu dan sampai kapanpun, kamu akan tetap menjadi milikku," ujarnya dengan tegas.


"Dasar cowok gila!! Lo gak waras!! Lo stress!!" maki Carlista dengan sorot mata penuh kebencian.


"Iya, aku emang udah gila. Aku udah berkali-kali bilang sama kamu jika aku memang gila karena mu, sayang," ujar Marvel dengan intens.


"Aaaarrrggghh! Mesti berapa kali sih gue bilang, kalo gue gak mau jadi pacar lo!! Gue gak mau dan gue gak pernah terima lo ataupun terima cinta lo!! Gue harap lo ngerti, Marvel!!" deru nafas Carlista memburu dengan mata yang kian menatap nyalang.


"Gue gak kenal siapa lo dan untuk apa lo dateng ke sini jika hanya untuk membuat hidup gue gila dan berantakan!! Gue mohon sama lo, Vel! Please, gue mohon sama lo untuk jauhin gue dan jangan gangguin gue lagi!"


Carlista memohon sambil menangkup kedua tangannya di depan dada. Wajahnya yang sedikit memelas sambil sesekali menampakkan puppy eye nya dan itu cukup membuat Marvel gemas dan mengulum senyum gelinya. Ingin rasanya ia mengarungi gadis kesayangannya itu.


Marvel melangkah untuk memperkikis jarak di antara keduanya. "Kamu gak inget siapa aku, Carl? Kita pernah bertemu dua kali. Mungkin kamu lupa," ujarnya sambil mengunci pandangan.


Carlista terdiam.


Carlista terdiam, lagi.


"H-hadiah?" beo Carlista. "Hadiah apa sih yang lo maksud? Sumpah, Vel. Gue gak ngerti tentang hadiah apa yang lo bilang barus---"


Cup


Ucapan Carlista terhenti kala Marvel yang baru saja memberikan kecupan ringan tepat di bibirnya. "Aku pernah memberikan mu hadiah sebagai tanda perkenalan kita, Carl. Aku harap kamu bisa kembali mengingatnya,"


Carlista terdiam. Sejenak, ia memikirkan siapa yang pernah memberikannya hadiah. Dan, hadiah apa yang ia dapatkan dulu? Seingat Carlista, ia memang pernah mendapat hadiah dari anak laki-laki yang seumuran dengannya. Tapi, apakah itu---Marvel?


"Aarrgh! Gak tau ah! Pala gue pusing!" seru Carlista


lalu pergi meninggalkan Marvel.


Marvel hanya bisa menghela nafasnya perlahan.


●●●


Apa yang terbesit di benak kalian jika mendengar kata masa laku? Mungkin, kebanyakan dari kalian memiliki masa lalu yang indah. Ada juga beberapa dari kalian memiliki kenangan buruk tentang masa lalu yang kalian alami. Atau bahkan seperti roda kehidupan, kadang indah kadang buruk.

__ADS_1


Carlista juga memiliki masa lalu yang sama seperti roda kehidupan. Semua indah sebelum ia menginjak setidaknya usia 7 tahun. Namun, setelah ia memasuki usia 7 tahun, semua berubah seketika. Terlebih, saat ada penambahan anggota baru yang entah dari mana.


Carisa Dalena---diangkat sebagai anak oleh keluarga Hilson. Dan itu terkesan sangat mendadak. Bahkan, Carlista sebelumnya tidak tahu tetang rencana itu. Jika ia tahu, mungkin saja ia tak akan pernah setuju dengan kedatangan 'anggota keluarga baru'.


Dan di situlah awal mula kehidupan Carlista berubah 180 derajat. Tak ada lagi Carlista yang selalu ceria dan disayang kedua orangtua. Yang ada hanyalah Carlista, si badgirl dengan sejuta masalah dalam hidupnya. Semua kasih sayang yang dulu ia dapat justru teralihkan untuk Carisa.


Ya, itulah mengapa Carlista sangat membenci saudara tirinya itu. Seakan menjadi duri dalam keluarga. Yang perlahan, ingin membunuhnya dengan segala siksaan dan tekanan yang tak kasat mata itu. Perlakuan yang berbeda itulah yang membuatnya merasa tertekan.


Ia lampiaskan semuanya lewat kelakuan barbarnya itu. Termasuk gaya rambutnya yang selalu berubah-ubah mengikuti suasana hatinya. Hingga julukan Queen of Badgirl, justru melekat pada dirinya. Dan yang pasti, Queen of AHS, juga melekat untuknya.


Demi mengingat tentang masa lalu dirinya yang pernah bertemu dengan Marvel, Carlista berusaha membuka kembali sebuah album foto masa kecilnya di mana setiap pertambahan usianya, ia selalu merayakan hari ulang tahun itu.


Terlihat jika Carlista kecil memiliki wajah kebule-bulean karena memang ia lahir hingga menginjak usia 1 tahun di Sydney, Australia. Karena pada saat itu, keluarga Hilson sedang ada perjalanan bisnis di sana. Ia juga melihat sebuah foto di mana ia dan Gabriel yang sama-sama merayakan hari ulang tahun yang ke 5.


Carlista ingat semuanya, termasuk perayaan ultah yang ke 7 tahun bersama teman-temannya, Metta, Jenna, serta Melody. Itu perayaan pertama Carlista bersama teman-teman sekolahnya sekaligus menjadi perayaan terakhir bersama kedua orangtuanya.


Ya, setelah kedatangan Carisa beberapa bulan setelah itu, semuanya berubah.


"Hadiah apa yang Marvel maksud? Apa iya ada orang yang gak gue kenal tiba-tiba ngasih gue hadiah?" gumam Carlista seorang diri.


Carlista bangkit lalu membawa buku album itu ke pinggir kasur. Berusaha mengingat kapan ia bertemu dengan seorang anak lelaki yang pernah memberikannya hadiah dulu. Marvel tak menyebutkan hadiah itu.


Tetapi, jika diperhatikan dari guratan wajahnya, ia seakan mengingat sesuatu. Soal anak laki-laki tampan yang memang pernah memberinya boneka beruang coklat. Tetapi, apakah itu orang yang sama dengan yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Marvel... Avel... hampir sama,"


Carlista meraih boneka beruang yang selalu menemaninya setiap tidur. Ia perhatikan kembali boneka beruang itu. Sejenak, ia kembali mengingat peristiwa tentang penembakan malam itu. Ia hampir saja kehilangan kedua orangtuanya saat itu.


Terlebih, suara tembakan dan baku hantam yang kian tak terkendali. Dan apa yang anak kecil berusia 6 tahun itu lakukan selain menangis di pojokkan dekat meja sambil menutup kedua telinganya. Lalu berteriak ketika suara tembakan itu terdengar.


"Apa mungkin, lo adalah orang yang sama, Vel?" gumamnya.


Menaruh kembali boneka beruang itu, lantas bangkit dan berjalan ke arah balkon. Suasana malam hari yang begitu sepi dan sunyi. Ia mendongak ke atas, terlihat jika malam ini hanya bertabur bintang. Tak ada bulan yang menghiasi malam indah ini.


"Tapi, kenapa harus gue? Kenapa dia datang dan justru mengklaim gue jadi kekasihnya? Bahkan, terkesan memaksa,"


"Gue jadi ragu kalo si cowok triplek itu adalah Marvel yang sama dengan laki-laki yang pernah ngasih gue boneka,"


Carlista membuang nafasnya kasar. Menyugarkan rambutnya perlahan lalu kedua tangan yang berada di besi pembatas balkon. Jika itulah adalah benar, apa yang akan ia lakukan selanjutnya? Ia bahkan tak mencintai Marvel.


Terkadang, dunia itu sempit. Kita akan bertemu kembali dengan orang-orang yang pernah kita temui di masa lalu. Seperti Carlista dan Marvel, contohnya. Bertemu kembali setelah belasan tahun tak bertemu. Apa itu takdir?


Entahlah, obsesi Marvel, mungkin. Yang ingin menjaga, melindungi, sekaligus memiliki gadis cantik itu. Karena menurutnya, semua ada hubungannya dengan kejadian masa lalu yang mengakibatkan ia harus kehilangan.

__ADS_1


●●●


__ADS_2