BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA

BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA
24 /


__ADS_3

Marvel melangkah untuk menghampiri Carlista. Kebetulan, tempat di mana Carlista dan ketiga temannya berada sejajar dengan kursi panjang tempat Marvel dan yang lain tengah istirahat. Dan dibagian tribun itu memang hanya ada mereka berempat saja.


Dengan keringat yang masih mengucur dan membasahi wajah dan tubuh kekarnya, Marvel semakin digilai kaum hawa. Tak sedikit pula para ciwi-ciwi yang melirik-lirik tipis saat berpapasan dengan Marvel. Namun, pandangan Marvel hanya tertuju pada gadis cantik berambut unik itu.


Cup


"Morning kiss, Baby,"


Carlista sontak saja tersentak kaget ketika sebelah pipinya langsung dikecup oleh seseorang yang sedari tadi memang memperhatikan dirinya. "Ck, nyosor mulu! Nyosor mulu! Dasar mesum!" sarkasnya.


"Ehem! Carl, keknya daripada kita cuma jadi nyamuk doang. Mending kita pergi aja ya, iya gak guys?!" ujar Jenna sambil melirik pada kedua temannya.


"I-iya, bener tuh," timpal Melody.


Sementara Metta hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.


Seakan mengerti jika Marvel dan Carlista butuh waktu untuk berdua. Ketiga temannya itu melipir ke pinggir tribun dan memilih untuk bergabung bersama anak basket putra yang tengah beristirahat.


Kini tinggal lah Marvel dengan Carlista hanya berdua di antara banyaknya penonton yang memperhatikan mereka berdua.


Lebih tepatnya interaksi keduanya yang masih seperti malu-malu. Bak couple yang baru pertama kali berpacaran. Padahal, ini sudah lebih 2 minggu mereka pacaran. Tapi, Carlista masih belum bisa menerima Marvel dalam hatinya.


"Ngapain sih lo ke sini?! Bukannya duduk aja di sana sama temen-temen lo!"


"Aku maunya duduk sama kamu di sini," ujar Marvel dengan santai.


Carlista membuang nafasnya kasar. Melirik sekilas pada lelaki tampan yang lebih tinggi darinya. "Tapi gue gak mau duduk sama lo," tolaknya mentah-mentah.


"Jangan gitu sama pacar sendiri. Tar kalo aku diambil orang, kamu ngereog lagi," ujar Marvel sambil menoel dagu Carlista.


Carlista mengerutkan dahinya. "Siapa yang mau sama cowok triplek tapi mesum kayak lo? Cuma cewek katarak yang mau jadi pacar lo,"


Ujung Marvel berkedut ingin tersenyum. Namun, ia hanya bisa mengulum senyumnya sambil mengacak pelan puncak kepala Carlista.


"Beneran gak akan cemburu nih, kalo aku diambil sama orang lain, hm?" goda Marvel sambil menaik turunkan alisnya.


"Gak!" singkat Carlista sambil melipat kedua tangannya.


"Yaudah. Kalo gitu, aku terima hadiah dari cewek-cewek yang ada di sana tuh," tunjuk Marvel pada sekumpulan gadis yang memakai seragam cheers merah putih super ketat.


Arah pandang Carlista seketika tertuju pada segerombolan anggota cheerleaders. Terutama si ketua cheers yang memakai pakaian super mini di antara anggota yang lain. Siapa lagi jika bukan Vanesha Anggiani. Si ketua cheers dan wakil ketua KDC.


Tubuh langsing dengan kulit putihnya itu selalu menjadi kebanggaan dari seorang Vanesha. Oleh karena itu, ia dipercaya untuk menjadi ketua cheerleaders Antariksa High School. Menggantikan posisi Nagita---kakak kelas mereka dulu.


"Tuh, kamu liat. Ada yang bawa coklat. Ada yang bawa snack juga. Terus ada yang bawa minuman ion kesukaan aku," seru Marvel dengan terus menggoda Carlista. "Yakin, gak cemburu?" sambungnya.


Meski bukan untuk pertama kalinya Marvel terus menggoda dan mengganggu dirinya. Namun, entah mengapa ada sedikit rasa tidak suka ketika melihat segerombolan ciwi-ciwi kurang bahan itu tengah memegangi berbagai macam hadiah yang katanya


akan diberikan untuk Marvel.


"Dasar genit! Ambil aja semuanya!" ujar Carlista dengan ketus, lalu pergi sambil menghentakkan kakinya.


Marvel mengulum senyumnya. Lalu pergi untuk mengejar Carlista. Namun, pergerakan Marvel terhenti ketika ada seseorang yang berusaha untuk menahannya tangannya dari belakang.


"Vel, jangan dikejar," cegah orang yang menahan tangannya itu.


Tanpa menoleh pun, Marvel tahu suara siapa ini. Dengan cepat, ia menarik tangannya dengan kasar lalu pergi untuk mengejar Carlista. Ia tak menghiraukan ucapan dari gadis itu.

__ADS_1


●●●


"Carl! Carlista! Tunggu aku, Carl! Aku cuma becanda tadi! Aku gak bermaksud untuk bikin kamu cemburu!"


"Carlista, sayang! Hey, tunggu aku!"


"Ita! Jangan marah dong! Maafin aku!"


"Berisik! Gak usah manggil-manggil nama gue!"


"Carl! Makanya tungguin aku dulu!"


Marvel berhasil meraih pergelangan tangan Carlista sekaligus memutar poros tubuhnya hingga berhadapan langsung dengannya saat ini dengan jarak yang terbilang sangat dekat. Bahkan, nyaris tanpa jarak karena hidung mereka sama-sama bertemu.


Deru nafas mereka saling bersahutan dan sama-sama saling menatap dalam diam selama beberapa detik. Saat Carlista yang sadar jika jarak antara dirinya dengan Marvel sangatlah dekat, ia segera memutus pandangan itu dan hendak mundur.


Namun, kedua tangan Marvel justru merengkuh erat pinggangnya hingga tubuh mereka menyatu kembali dengan sempurna, bahkan terlihat sangat intim. Carlista pun bisa menghirup aroma maskulin yang terus menyeruak di hidungnya. Padahal, Marvel itu baru selesai bermain basket.


Entah kemana aroma keringat itu. Yang jelas, Carlista tak mencium bau keringat sedikitpun. Sungguh,


"Kenapa pergi, hm?" tanya Marvel dengan suara rendah. Dan kedua mata yang mengunci pandangan Carlista.


"Cemburu, hm?" tanya Marvel kembali.


Carlista terdiam.


"Kalo cemburu, bilang aja." ujar Marvel dengan lembut sambil mengusap pelan surai rambut Carlista dari atas hingga bawah. "Aku lebih seneng kalo cemburu, tau," sambungnya lalu mengedipkan sebelah matanya.


Carlista hendak menjauhkan wajahnya dengan memundurkan kepalanya perlahan, namun sebelah tangan Marvel justru menahan tengkuknya hingga kening mereka menyatu. Dan ini benar-benar pemandangan yang akan membuat siapa saja baper ketika melihatnya.


Tetapi, karena di lorong koridor dekat ruang loker itu sepi. Jadi, hanya mereka berdua saja yang ada di sana.


Carlista lagi-lagi terdiam dengan sorot mata yang tak terbaca.


"Gak papa, kalo kamu gak mau jawab juga. Terus kayak gini yah, selalu marah kalo ada yang berusaha deketin aku," gumam Marvel dengan sangat intens.


Marvel mengecup singkat bibir Carlista sebanyak dua kali. Namun, bukan Marvel namanya jika tidak mesum. Ia kembali menempelkan bibirnya pada bibir merah itu selama beberapa detik. Dirasa tak ada penolakan dari gadisnya, Marvel mulai menggerakan bibirnya.


Menggigit kecil guna Carlista membuka katupan bibirnya dan Marvel yang semakin bisa menguasai bibir manis itu. Marvel semakin menggila kala ia yang terus mengemut bibir itu penuh nafsu. Entah itu karena nafsu atau memang karena ia sangat mencintai gadisnya.


Setiap ciuman yang Marvel berikan itu bervariasi. Ada ciuman yang karena ia tengah menyalurkan amarah, ada ciuman yang menggebu karena rindu yang tertahan, dan ada juga ciuman yang begitu lembut namun menuntut untuk dibalas.


Dan kali ini, Carlista merasakan ada yang berbeda dari diri Marvel. Ciuman itu terasa begitu dalam dan menuntut. Tak hanya mengemut bibir bawahnya saja, ia juga sesekali bergantian untuk mengemut bibir atasnya yang lebih tipis ketimbang bibir bawah Carlista.


Dan itu, Marvel lakukan secara bergantian sehingga Carlista kewalahan dan seakan melemas seketika. Oksigennya terkuras habis dengan kedua tangan yang semakin mencengkram erat kedua lengan Marvel. Seakan mengerti, Marvel segera melepaskan ciuman panjang itu.


Memgusap lembut kedua bibir Carlista yang basah sekaligus bengkak karena ulahnya. Belum lagi bibirnya kian terlihat sexy dan merah. Terlihat sangat menggemaskan di mata Marvel.


"Maaf, aku gak bermaksud bikin kamu cemburu," bisik Marvel dengan lembut lalu memeluk erat tubuh kecil Carlista.


Sementara dari kejauhan, tepatnya di sebuah pertigaan lorong tak jauh dari mereka berada. Terdapat sepasang mata yang terus memperhatikan keduanya dengan kedua mata yang kian mengkilat tajam. Mengepalkan kedua tangannya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


.


.


.

__ADS_1


"Jika lo menyakiti dia, itu sama aja seperti lo bunuh diri," ujar seseorang yang berada di sebelah kanan dirinya.


Ia menoleh sekilas lantas tersenyum miring. "Jika itu adalah jalan satu-satunya, lo mau apa?"


Mendengus sinis. "Siap-siap aja untuk menemui kematian lo,"


"Yang penting gue mendapatkan apa yang gue harapkan," balasnya dengan tenang, namun sarat akan keseriusan.


●●●


BRUKH!


Seorang gadis berkacamata terjatuh ketika Carlista tak sengaja menabrak pundaknya di perbatasan tangga menuju rooftop. Ia melihat jika gadis yang baru saja ia tubruk tadi adalah---Celine Arbella.


Kalian ingat bukan, seorang gadis berkacamata yang sempat dibully oleh Vanesha dkk?


Ya, dia lah orangnya. Celine si cewek nerd di Antariksa High School. Meski begitu, wajah Celine memang sedikit kebule-an. Entahlah, waktu itu ia bilang, jika ia memiliki darah Jerman dari kakeknya.


"Sorry, sorry. Gue gak sengaja," ujar Carlista dengan sedikit tergesa.


Celine bangkit dan membenarkan kacamata minusnya. "Gak papa," ujarnya dengan senyuman tipis.


"Bentar, bentar. Lo itu---anak baru itu kan? Yang pernah dibully sama Vanesha, pas di kantin?"


Celine tersenyum kikuk. "Hm, iya. I-itu gue," ujarnya.


"Ternyata... lo masih inget sama gue," senyumnya.


"Y-ya---inget sih," balas Carlista seadanya. "Tapi, lo abis dari mana?" tanyanya. Lalu melirik ke tangga putih itu dan di pinggir tembok tersebut terdapat tulisan ROOFTOP beserta tanda penunjuk arah. "Rooftop?" sambungnya sedikit mengernyitkan alisnya.


"Hah? E-enggak. Gue kebetulan cuma lewat aja. Abis dari gudang buat naruh buku-buku bekas. Amanah dari Miss Tisa," ujar Celine.


Carlista hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Yaudah, kalo gitu... gue pergi dulu ke bawah," pamit Celine dengan tergesa.


Carlista yang memperhatikan Celine sedari tadi menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Dih, kenapa dah? Aneh banget," gumamnya dengan bingung.


"Aneh? Siapa yang aneh?"


Hingga suara itu muncul di balik punggungnya membuat Carlista sedikit tersentak dengan sambutan tangan kekar yang kini melingkar di pinggang rampingnya. Seketika aroma maskulin itu kembali menyeruak saat pertama kali munculnya suara itu.


"Ngapain sih, di sini sendirian, hm? Mau jauh-jauh lagi dari aku? Atau---kamu masih marah karena kejadian tadi pagi, hm?"


Suara lembut itu begitu mendayu di telinga Carlista saat ini. Belum lagi usapan lembut tangan Marvel yang bertengger di perut Carlista. Membuatnya kian merinding tak karuan. Ingat, Marvel bukan mesum. Tapi itu adalah love language Marvel untuk Carlista.


"Ish, lepasin, Vel. Pasti lo mau mesumin gue lagi kan, kayak tadi pagi?!" dengus Carlista sambil memberontak untuk melepaskan diri.


"Siapa yang mesumin kamu. Orang aku cuma kangen sama kamu," ujar Marvel seperti bergumam di balik ceruk leher Carlista.


"Ck, itu namanya lo mesum! Bentar-bentar nyosor! Bentar-bentar meluk! Gitu aja kerjaan lo setiap hari sama gue," omel Carlista tanpa jeda. Persis seperti orangtua yang memarahi anak-anaknya.


Sementara Marvel sudah mengulum senyum gelinya dan semakin merapatkan pelukannya dengan wajah yang ia sembunyikan di balik ceruk lehernya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Carlista.


"Lepasin gue, Vel. Gue mau ke kelas," decak Carlista sambil berusaha melepaskan pelukan Marvel.


"Jangan dulu. Biarin kayak gini dulu. Sebentar... aja," gumam Marvel sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Carlista hanya mendengus malas. Malas menanggapi lagi dan malas juga untuk memberontak. Karena apa? Karena Marvel akan selalu bisa menemukannya, di manapun ia berada.


●●●


__ADS_2