BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA

BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA
16 / Cerita Siang ini


__ADS_3

3 hari kemudian...


Setelah kejadian demi kejadian yang cukup membuat siapa saja bergidik ngeri dan hampir membuat hidup Carlista dalam bahaya dan merusak mental serta psikisnya, dan belum lagi luka-luka yang didapatkan oleh Galang, Gabriel, dan Juna serta Atharel.


Kini suasana sekolah kembali kondusif. Sama seperti biasanya. Para siswa siswi menjalankan perannya masing-masing tanpa mendengar lagi suara baku hantam atau live action yang mempertontonkan dimana Galang beradu jotos dengan Gabriel.


Mereka berdua mendapatkan luka yang cukup serius di beberapa bagian wajah, serta perutnya. Sementara Juna dan Atharel, hanya terkena pukulan ringan. Ya, ringan bagi mereka yang sudah terbiasa dengan pertarungan. Terlebih, Marvel dkk adalah keturunan Mafia.


Bertarung dengan senjata tajam bahkan mungkin pistol mematikan juga sudah terbiasa. Karena mereka terlatih untuk bisa menggunakan senjata sedari mereka awal remaja. Dan untuk menghadapi para musuh keluarga mereka masing-masing.


Gabriel dan Galang pun, sempat dipanggil oleh Bu Fanny untuk diminta keterangan dan alasan apa yang membuat keduanya berantem dan beradu jotos hingga membuat satu AHS gempar dan keduanya babak belur.


Namun, mereka berdua hanya mendapat surat peringatan untuk tidak melakukan kegaduhan di dalam sekolah dan meminta keduanya untuk berdamai. Apakah keduanya resmi berdamai? Eits, tidak semudah itu. Mereka masih tetap tidak sudi untuk berdamai dan masih melakukan perang dingin.


Sementara untuk Marvel dan Carlista, keduanya bahkan masih sama, Marvel yang selalu mencari celah untuk bisa bersama Carlista dan Carlista yang selalu melakukan penolakan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah Carlista yang sengaja berpenampilan cupu agar tak ada yang menyukainya.


Ia rela merubah warna rambutnya menjadi hitam legam dan mengepang kedua sisi rambutnya agar Marvel ilfeel dengannya dan beralih untuk meninggalkannya. Tetapi, itu adalah ide yang buruk. Karena, Marvel malah menyukai penampilan barunya itu.


Kata Marvel sih, biarin. Lebih bagus kayak gitu. Cupu. Gak ada yang menyukainya selain dirinya. Jadi, peluang untuk dirinya mendapatkan Carlista semakin terbuka lebar. Gitu katanya kemarin-kemarin.


Yah, sia-sia Carlista berusaha. Pada akhirnya akan kalah dan berakhir dalam dekapan Marvel juga.


Dan, untuk kali ini, Carlista lagi-lagi merubah warna rambutnya menjadi coklat dengan biru terang dibagian bawahnya. Ya, perpaduan yang cukup unik untuknya kali ini.


Marvel dan yang lainnya tengah berada di ruangan OSIS. Tengah mempersiapkan untuk acara sekolah yang akan diadakan dalam waktu dekat ini. Seperti biasa, pertandingan basket putra antar sekolah elit se ibukota. Dan hanya sekolah-sekolah yang berprestasi yang bisa mengikuti kegiatan tersebut.


Selepas Gabriel yang tak lagi menjadi ketua OSIS saat ini, Carisa harus beradaptasi lagi dengan ketua OSIS baru kali ini. Ia tahu jika ketos AHS yang baru amatlah disiplin dan cukup---menyeramkan. Terlebih tatapannya yang setajam elang dan cukup mengintimidasi.


Menambah kesan keturunan Mafia itu semakin melekat padanya. Wajahnya yang selalu datar dan minim ekspresi menambah aura Marvel kian mendominasi ruangan OSIS tersebut. Dan itu dapat dirasakan oleh Carisa dan temannya---Aleana.


"Vel, gue udah cek nama-nama sekolah yang daftar dan bakal ikut event tahunan turnamen basket putra. Ada beberapa sekolah yang gak masuk klasifikasi dan persyaratan, tapi tetep nekad untuk daftar," ujar Carisa sambil berdiri di samping Marvel, dimana Marvel tengah duduk di kursi putar khusus ketua OSIS.


Marvel memperhatikan beberapa nama sekolah yang tertera di depannya saat ini. Tepat di layar laptop yang menyala, yang ditunjukkan oleh Carisa---sang wakil ketua OSIS.


"Apa seenggaknya kita blacklist aja dari daftar peserta?" tanya Carisa memastikan sambil memandangi wajah Marvel dari samping.


"Udah berapa kali lo cek?" datar Marvel, tanpa menoleh sedikitpun.


Carisa sedikit tersentak. Namun tak lama ia menormalkan kembali raut wajahnya. "Hah? U-udah dua kali,"


Marvel kembali memperhatikan daftar nama-nama sekolah elit tersebut, mulai dari sekolah SMA biasa hingga yang berbasis internasional serta boarding school juga. Semua sama-sama ingin mengikuti event tahunan itu yang akan diadakan di Antariksa High School.


"Accept semuanya. Jangan sampai ketinggalan," ujar Marvel dengan datar, namun sarat akan perintah.


Dan itu membuat Carisa cukup terkejut atas ucapan Marvel barusan. "Hah? Kan ada beberapa sekolah yang gak masuk klasifikasi yang kita buat Vel? Kenapa tiba-tiba lo ingin accept semuanya?" ujarnya cukup membuat nyalinya menciut.


"Ikutin aja perintah gue. Semuanya biar gue yang atur," balas Marvel tetap datar.


Carisa menelan salivanya kasar. Benar, aura Marvel sangat mendominasi saat ini. Tak jauh beda dengan Gabriel. Hanya saja, Gabriel masih memiliki sisi malaikat dan sedikit senyum. Berbeda dengan laki-laki tampan yang tengah mengincar Carlista ini, seperti iblis tampan yang akan membunuhnya secara halus.

__ADS_1


Jarang senyum, irit bicara, tatapan yang dingin dan sorot matanya yang tajam. Apa itu tidak seperti iblis berwujud manusia?


Carisa kembali ke tempat duduknya. Di mana itu tak jauh dari tempat duduk Marvel. Hanya meja kaca persegi panjang yang menjadi pembatas mereka.


Di meja kaca persegi panjang tersebut, terdapat deretan kursi sebanyak 6 pasang, saling berhadapan. Dengan 1 kursi yang berada di sebrang meja kaca dimana tempat Marvel berada.


Bedanya, meja itu digunakan untuk rapat OSIS. Dan jika rapat sedang berlangsung, meja kaca tersebut akan diisi oleh 12 anggota inti termasuk wakil ketua OSIS. Dan 1 kursi khusus untuk sang ketua.


Tak jauh dari meja kaca tersebut, terdapat rak-rak buku dan lemari untuk menyimpan berkas-berkas penting serta peralatan untuk mereka presentasi. Termasuk fasilitas gadget untuk membantu mereka mengerjakan tugas sebagai anggota OSIS.


Dan di dinding belakang kursi sang ketua OSIS, terdapat layar yang cukup besar untuk sang ketua dan wakil, membantu dalam menjelaskan materi presentasi dalam rapat penting OSIS. Dan semua itu amat sangat berguna bagi para anggota.


●●●


"Ehem! Mau melakukan aksi protes lagi kayak kemarin-kemarin, hm?"


Carlista hanya mendengus malas. Menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu sambil bersidekap dada. Seakan tak takut dan tak kapok dengan apa yang telah Marvel lakukan padanya kemarin-kemarin.


"Bagusan yang kemarin. Lucu. Imut juga. Kenapa ganti warna rambut lagi? Hm?" terdengar ada nada sedikit tidak suka pada perubahan warna rambut gadis kesayangannya itu.


Anjir! Bisa-bisanya pas gue cosplay jadi cewek nerd dibilang lucu dan imut. Sialan, batin Carlista.


Emang bener kok. Sumpah, Carlista bukannya terlihat seperti cewek nerd, ia malah terlihat seperti gadis imut yang baru lulus sekolah menengah pertama. Terlebih kacamatanya dan poni belah di kedua sisi wajahnya. Uuuhh... gemesin banget, kalo kata Marvel.


"Bukan urusan lo!" sarkas Carlista.


Marvel melangkah perlahan ke arah Carlista hingga ia refleks mundur ke belakang beberapa langkah hingga tubuhnya merasakan terbentur oleh tembok lorong koridor lantai dasar. Dan itu cukup membuatnya---terancam. Kenapa? Karena Marvel yang sudah mengunci pergerakannya dengan kedua tangan kekarnya.


"Peraturan di sekolah ini, gak boleh mewarnai rambutnya selain coklat, sayang," ujar Marvel seperti bergumam.


Carlista menaikkan sebelah alisnya. "Ini warna coklat. Lo gak liat?" ujarnya sedikit nyolot.


"Yang bawah?" tanya Marvel dengan suara yang kian merendah. Dan tatapan yang tak putus memandang kedua bola mata Carlista.


"Biru," jawab Carlista dengan wajah polosnya.


Marvel benar-benar tak tahan untuk tidak mengecup bibir mungil yang sedikit bervolume itu. Dan untuk bibir ukuran bibir Carlista, termasuk idaman para laki-laki.


Cup


Nahkan, baru dibilang jika Marvel itu tak tahan untuk tidak mengecup bibir Carlista. Ia saja sudah nyosor duluan. Dan FYI, itu adalah salah satu love language Marvel, loh. Bukannya mesum ya. Tapi terkadang, cara orang mengekspresikan rasa cinta itu, beda-beda.


Terserah kalian mau bilang Marvel si cowok mesum, atau si tukang nyosor. Tapi itulah Marvel. Dan love languagenya adalah psychal touch. Jika ia mencium bahkan memeluk Carlista setiap saat, itu artinya pula Marvel sangat mencintainya setiap saat.


"Iih, Marvel! Lo gila ya! Gue gak mau jadi pacar dari cowok gila plus mesum kayak lo!" sentak Carlista dengan raut wajah yang sangat tidak bersahabat.


Bibir Marvel berkedut ingin menyunggingkan senyum. Sungguh, wajah Carlista yang tengah tidak bersahabat inilah yang membuat Marvel semakin tidak tahan untuk tidak mengecupi seluruh area wajahnya.


"Tapi, aku maunya cuma kamu yang jadi kekasihku, Baby," ujar Marvel dengan suara serak dan pandangan yang mengunci.

__ADS_1


Marvel semakin menghimpit tubuh kecil Carlista dan semakin menyudutkannya ke tembok. Kedua tangan kekarnya pun, sudah terlipat dimana siku kedua tangannya yang menjadi tumpuan tubuhnya agar tidak menghimpit tubuh kecil yang ada di depannya saat ini.


Deru nafas mereka saling bersahutan. Aroma mint dan aroma maskulin yang Carlista hirup mengingatkan dirinya dengan apa yang telah Marvel lakukan padanya sekitar 3 hari yang lalu. Ia juga sampai menelan salivanya susah payah dengan nafas yang hendak terputus-putus.


Belum lagi sapuan lembut dari sebelah tangan Marvel tepat di pipi kirinya, membuat ia kian menegang dan hendak menghilang saat ini juga. Andai ada pintu Doraemon, itu sangat berguna untuk Carlista saat ini. Sungguh,


"Cantik," bisik Marvel. "Seperti saat kita bertemu dulu," sambungnya yang membuat Carlista kian bingung sekaligus tremor.


Entah berapa kali ia meneguk salivanya dengan susah payah. Carlista benar-benar dibuat bingung sekaligus bertanya-tanya, siapa Marvel? Mengapa si cowok gila plus mesum ini bilang pernah bertemu dengannya dulu? Tetapi, kapan? Dan---dimana?


"Vel---" Carlista tak bisa berkata-kata setelahnya, karena Marvel telah lebih dulu menyesap bibirnya dengan gerakan cukup cepat.


Dan ciuman Marvel kali ini membuat Carlista merasakan sedikit ada yang berbeda. Jika sebelum-sebelumnya ia akan merasa pingsan hingga tak sadarkan diri. Kali ini ia masih bisa bernafas, meski sesak karena hidung mancungnya tertekan oleh pipi Marvel.


Bugh!


"Eeuugghhh... "


Carlista melenguh dan semakin memcengkram erat kedua lengan Marvel, mungkin jika ia tak memakai blazer AHS, kuku-kuku jari lentiknya sudah menembus kulitnya yang setebal kulit badak itu. Nafas Carlista benar-benar dikuras habis olehnya.


Bahkan, tubuh Carlista saja hendak ambruk jika saja sebelah tangannya tak merengkuh pinggang rampingnya dan sebelah tangannya lagi menahan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya. Bisa-bisa, ia akan membuat gadisnya pingsan jilid 2.


Dirasa tubuh Carlista semakin tak berdaya, Marvel melepaskan ciumannya, dan benar saja---Carlista lemas dan hendak ambruk saat itu juga. Tetapi, tidak sampai pingsan. Hanya tubuhnya yang lemas dengan kepala yang bersandar pada ceruk lehernya.


Nafas Carlista memburu, menghirup oksigen banyak-banyak dan terengah-engah. Dadanya naik turun bersamaan dengan oksigen yang ia hirup dalam-dalam.


"Maaf, Carl. Tapi, bibir kamu sangat candu untukku," bisik Marvel dengan suara seraknya.


Carlista dengan susah payah berdiri, meski bertumpu pada tembok belakang lorong koridor yang nampak sepi itu. Pandangannya naik pada laki-laki yang justru dengan santainya menatap padanya dan seakan tak ada objek lain yang menarik selain dirinya.


Bugh!


Carlista memukul lengan Marvel sekuat tenaganya. Meski tenaganya terkuras habis, sedikit demi sedikit ia masih bisa untuk memukul cowok gila yang ada di hadapannya saat ini. "Dasar mesum! Gila! Keparat! Bisa-bisanya lo mesumin gue terus-terusan!!"


"Gue udah bilang berkali-kali sama lo kalo gue bukan cewek lo dan sampai kapanpun gue gak akan pernah mau jadi cewek lo!!" sarkas Carlista dengan kedua tangan yang mengepal dan kedua mata yang menajam. Belum lagi dada yang naik turun.


"Tapi kamu adalah milikku, Carl. Sampai kapanpun akan tetap seperti itu," ujar Marvel terdengar serius dan intens.


"Aaarrghh!! Please, gue gak mau jadi pacar lo!! Banyak cewek lain yang jauh lebih cantik di dunia ini, kenapa harus gue?!! Arrrggh!"


"'Cause only you that I want, Baby," ujar Marvel dengan suara dan tatapan yang deep.


"Tapi gue gak mau sama lo, Marvel!! Lo itu gila!! Mesum!! Freak!! Kulas 12 pintu!! Gue gak suka sama lo!!" berang Carlista dengan deru nafas yang kian memburu.


Marvel justru mengedikkan bahunya acuh. "Terserah kamu mau bilang atau mau ngatain aku apa. Yang jelas, aku itu pacar kamu. Dan sampai kapanpun, kamu akan menjadi milikku," santainya dengan senyuman manis yang teramat menyebalkan dimana Carlista. Belum lagi kedipan sebelah matanya.


"DASAR STRESS!! GILA!! LO GAK WARAS!! LO---AARRGGHH TURUNIN GUE MARVEL GILA!! WOY!! TURUNIN GUE!! TURUNIN!! EMANG LO KIRA GUE KARUNG BERAS APA?! TURUNIN GUE WOY!! MARVEEEL!!"


Carlista terus memberontak karena Marvel yang memang menggendongnya ala karung beras. Meski kedua tangan Carlista sudah memukul-mukul punggungnya hingga berbunyi dentuman-dentuman, tetap saja, Marvel si pemilik kulit badak itu terus berjalan dengan gagahnya sambil membawa gadisnya entah kemana.

__ADS_1


●●●


__ADS_2