BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA

BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA
18 / Murid Baru?


__ADS_3

Carlista keluar dari ruangan Bu Fanny dengan wajah sedikit ditekuk. Langkahnya gontai dengan pandangan yang sedikit tidak bersahabat. Ketiga temannya tengah menunggu kedatangannya tepat di depan ruangan tersebut. Ternyata, terdapat Marvel, Galang, Juna serta Atharel juga.


Keempat cowok tampan itu tengah berada bersama ketiga teman Carlista. Entah apa yang keempatnya itu lakukan. Pandangan Carlista seketika tertuju pada kedua mata elang milik Marvel yang mana terus memperhatikan dirinya dengan intens, tetapi sedikit tajam.


"Bikin ulah apa lagi kamu?"


Nahkan, suara bariton yang cukup mendominasi itu, ternyata mampu membuat lorong depan ruangan kepala yayasan mendadak---hening. Tak ada yang bersuara setelahnya.


Marvel berjalan dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celananya. Dengan sorot mata yang datar dan pandangan yang tak putus menatap dan mengunci kedua mata Carlista. "Kenapa, hm?"


Carlista tak menjawab pertanyaan Marvel. Dirinya hanya terdiam dengan pandangan yang sama datarnya.


"Jangan nakal lagi," ujar Marvel terdengar lembut.


"Bukan gue yang salah. Tapi Vanesha duluan yang nyari masalah," ujar Carlista dengan datar, seperti sorot matanya.


Marvel menghela nafas perlahan. "Hm, aku tau kok. Gak papa," ujarnya dengan lembut lalu mengusap pelan puncak kepala Carlista, yang justru kali ini tak dapat penolakkan darinya.


"Lo---tumben, gak marah dan gak kasih hukuman buat gue? Biasanya kan, lo itu selalu ngehukum gue. Lari lah, ngepel lah, gak boleh in---"


Cup


Marvel baru saja mengecup bibir Carlista dengan singkat. Dan itu tepat di hadapan semua orang yang kebetulan ada di sana. Sementara Carlista sudah membolakan kedua matanya, tetapi Marvel malah terlihat sangat santai dan seolah tak terjadi apa-apa.


Ck, menyebalkan.


"Itu hukuman untuk kali ini. Kalo kamu mau dihukum terus menerus sama aku, kamu tinggal bikin ulah aja setiap saat," ujar Marvel dengan santai.


"Ehem! Ehem!"


"Ck, nyosor mulu!"


"Oh my bestie! Live actionnya sweet banget,"


Tiga dari keenam manusia-manusia jomblo itu mulai bereaksi. Sementara Carlista sudah mengepalkan kedua tangannya dan menatap penuh permusuhan kepada lelaki tampan yang ada di hadapannya saat ini. "Lo gila?! Gue udah bilang berkali-kali sama lo untuk jangan mesumin gue terus-terusan!" sarkasnya.


"Gue gak kenal sama lo! Gue juga gak pernah nerima lo jadi pacar gue! Dan stop untuk cium-cium gue!!" Carlista murka dan berbicara dengan kasar tepat di hadapan wajah Marvel. Karena lelaki itu yang memang sedikit menunduk untuk memandangi wajah cantik sang kekasih.


"Udah marah-marahnya, hm?" tanya Marvel dengan suara bariton yang sedikit serak dan aura Marvel yang kian mendominasi.


Carlista masih saja memasang raut wajah tak bersahabat. Menatap tajam dan nyalang dengan deru nafas yang cukup memburu. "Belum! Gue gak akan pernah berhenti marah-marah bahkan mengeluarkan umpatan-umpatan kasar selama lo masih gangguin gue dan muncul terus di hadapan gue!"


"Ssstt. Jangan marah-marah terus. Emangnya gak capek, hm? Ntar penuaan dini. Emang mau," ujar Marvel bermaksud menggoda gadis yang ada di depannya saat ini.


"Biarin! Biar lo gak mau sama gue dan lo pergi ninggalin gue!"


Marvel menggeleng samar lantas tersenyum manis. Ya, sangat manis. Bahkan, ketiga temannya Marvel saja baru melihat senyum itu kembali setelah belasan tahun lalu, mereka tak melihatnya. Dan bahkan, ketiga sahabat Carlista pun, ikut terpesona.


"Oh my bestie! Carlista yang disenyumin, kok jantung gue yang berasa mau copot!" decak Jenna dengan mendramatisir.


"Gila, cowok semenawan Marvel aja, Carlista tolak loh," seru Melody ikut menimpali.


"Enggak kok. Aku bakal tetep mau sama kamu. Mau kamu gendut sekalipun aku bakal tetep maunya sama kamu," ujar Marvel terdengar serius.


Carlista terdiam.


"Mau apapun bentuk kamu dan keadaan kamu saat ini, aku cuma mau sama kamu. Gak mau sama yang lain," sambung Marvel dengan intens. Sebelah tangan Marvel terangkat untuk menoel ujung hidung


Carlista. "Only you, Baby," ucapnya lalu mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


****! Bisa-bisanya gue baper, umpat Carlista dalam hati sambil merubah raut wajahnya menjadi biasa saja.


"Terserah," ujar Carlista lalu pergi menjauh dari hadapan Marvel, diikuti Metta, Jenna, dan Melody.


"Sabar bro. Masih ada besok," ujar Galang dengan datar, seperti raut wajahnya.


Marvel melirik sekilas dan hanya mendengus.


●●●


Carlista baru saja menyelesaikan rutinitas mandinya. Keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju walk in closet untuk memakai setelan rumah berupa kaos hitam oversize dengan celana pendek yang tenggelam di balik kaos hitamnya. Berjalan menuju meja rias dan berkaca sebentar.


Menarik kursi lalu mendudukkan dirinya di bangku. Membenarkan sedikit rambutnya lalu memperhatikan pahatan Tuhan yang hampir sempurna itu. Cantik, tanpa celah sedikitpun. Ia pun mengakui jika wajah yang ia punya benar-benar cantik.


Pantas saja yang mau menjadikan Carlista sebagai pacarnya. Jika wajahnya saja benar-benar secantik ini. Yah, sebelas dua belas lah, sama Danielle Marsh. Iya, yang member tercantik NewJeans itu loh,


"Ck, pantesan gue jadi rebutan. Ternyata, muka gue emang secantik ini," gumam Carlista sambil terus memperhatikan pantulan dirinya.


"Tapi, kenapa harus gue yang dikejar-kejar sama Marvel dan Raskal? Padahal, Jenna juga cantik. Selebgram juga. Kenapa semuanya maunya gue sih?!"


Carlista hanya bisa berdecak malas lantas membuang nafasnya kasar.


Entah kemana ia selama ini, ia baru menyadari jika wajah dan kecantikan yang ia punya dapat memikat hati siapa saja. Bahkan, tak sedikit orang yang berkomentar di kolom Instagram pribadinya yang mengatakan jika ia sangat mirip dengan salah satu member NewJeans itu.


Kecantikan seseorang terkadang bisa menjadi boomerang untuk diri orang itu juga. Terkadang, semakin cantik ia, tak sedikit juga bahaya yang akan ia dapatkan dari para pengagum rahasianya. Cukup berbahaya, bukan?


Ting!


Satu notifikasi muncul dari handphone ungu lipat milik Carlista. Oh iya, ia kembali membeli handphone baru setelah handphone berlogo apel hitam itu, hancur berserakan di lantai marmer waktu itu. Ia yang hampir gila dan depresi karena ulah Marvel kepadanya.


Kebetulan handphone itu memang berada di meja rias dekat skincare yang biasa ia pakai ketika malam dan pagi sebelum ia pergi ke sekolah. Ia raih handphone itu dan membukanya untuk mengecek siapa yang telah mengiriminya pesan malam-malam begini.


Selamat malam, sayang. Jangan lupa makan malamnya. Jaga kesehatan dan jangan begadang. Ingat, kalo mata kamu kayak panda, kamu makin jelek, hehe... canda sayang. Kamu tetep cantik di mata aku. Apapun bentuk dan keadaan kamu


Have a nice dream. Sampai bertemu di dalam mimpi, Ita


"Ita... " lirih Carlista sambil menatap layar handphone miliknya.


"Lo tuh siapa sih sebenernya, Vel? Kok gue gak inget kalo kita pernah ketemu sebelumnya," gumamnya.


Menaruh handphone tersebut di tempat semula, ia beranjak dari kursi dan beralih pada tempat tidur dengan duduk di tepian kasur. Meraih boneka beruang coklat berukuran sedang miliknya yang berada di meja nakas.


Boneka beruang pemberian seseorang yang hingga saat ini, ia belum bisa mengingat siapa nama anak itu. Karena ia mendapatkan itu dari acara dinner keluarga sekitar 11 tahun yang lalu. Ada seorang anak laki-laki yang menemuinya dan memberikan boneka itu.


Carlista sebenarnya sudah bertemu dengan anak itu sebanyak dua kali. Ia sempat berkenalan dan mengobrol sebentar. Tetapi, karena pada saat itu, ada peristiwa penyerangan di hotel tempat acara berlangsung, ia jadi melupakan semuanya. Termasuk seorang anak lelaki yang memberinya boneka itu.


Ia hanya bisa mengingat wajahnya, tetapi tidak dengan namanya. Dan saat ia memandang wajah seorang Marvel, ia kembali mengingatkannya pada seseorang yang pernah ia temui di masa lalunya. Tetapi, bukankah wajah dapat berubah seiring berjalannya waktu?


Kemungkinan saja, itu yang mengingatkan Carlista akan sosok laki-laki seumuran dengannya yang pernah ia temui dulu. Karena, kemiripan wajah bisa menjadi faktor utama untuk kita kembali mengingat atau mengenang sesuatu kejadian yang pernah kita alami dulu.


"Dan boneka ini, gue lupa siapa yang udah ngasih boneka ini untuk gue,"


Carlista merubah posisi menjadi berbaring, menaruh boneka beruang coklat itu di samping bantal, lantas menarik selimut dan mematikan lampunya.


●●●


Marvel pagi ini tengah berjalan menyusuri lorong koridor lantai empat untuk menuju ruangan OSIS berada. Dengan langkah angkuh dan sorot mata yang datar, membuat siapa saja yang melihat cukup menunjukkan berbagai macam ekspresi. Kedua tangan yang senantiasa berada di dalam saku celananya.


Kebiasaan itu yang membuat seorang Marvel semakin digilai kaum hawa. Wajah yang tampan paripurna dengan rahang yang tegas dan kokoh. Hidung mancung serta bibir tipis yang merah alami membuatnya semakin terlihat tampan dan menawan. Sungguh,

__ADS_1


Brukh!


Marvel tak sengaja menubruk seorang gadis berkacamata yang tengah membawa tumpukan buku hingga buku-buku tersebut jatuh berserakan di bawah lantai lorong dekat kelas. Terlihat jika gadis berkuncir dua dengan kacamata hitam minus tersebut, tengah membereskan buku-buku di lantai.


"Sorry," ucap Marvel dengan datar.


Gadis tersebut sedikit tersentak. "Hah? Mmm, i-iya, gak papa," balasnya sambil membereskan buku-buku itu.


Setelah Marvel mengatakan itu, ia pergi meninggalkan gadis itu begitu saja tanpa ada niatan untuk menolongnya sedikitpun. Sementara gadis berkacamata itu hanya bisa memandangi punggung Marvel yang perlahan menghilang dari pandangannya.


Kini sampailah Marvel pada ruangan yang ia tuju. Meraih satu map merah lantas membuka map tersebut. Ia melihat-lihat sekilas lantas kembali menutupnya. Ternyata, bukan map itu yang ia maksud. Ia kembali meraih map merah yang satunya dan membuka serta membaca dengan detail isi map tersebut.


"Itu map yang kemarin dia kasih ke ruangan OSIS, Vel. Dan itu, adalah identitas dirinya dan tertera juga asal sekolahnya,"


Marvel tanpa menoleh pun, ia tahu suara siapa itu. Itu adalah suara datar milik Galang. Dan ada juga Juna serta Atharel yang berada di sisi kiri dan kanan Galang. Sama-sama tengah berdiri dengan pandangan datarnya menatap Marvel yang tengah fokus membaca isi map tersebut.


Isi map tersebut kurang lebih seperti:


Nama : Celine Arbella


Tempat, tanggal lahir: Amsterdam, 12 Desember 2005


Asal sekolah : Amsterdam High School


Marvel tersenyum miring, nyaris tak terlihat. Dan tepat di sisi pojok kanan bawah, terdapat sebuah foto dirinya. Foto yang sama dengan orang yang ia tak sengaja tabrak barusan hingga buku-buku yang gadis itu bawa berserakan di bawah lantai.


"Simpen baik-baik. Gue akan menyuruh sekretaris untuk mendata anak baru itu." ujar Marvel tak kalah datar dan memberikan map itu pada Galang.


"Hm," balas Galang sambil menerima map merah tersebut.


●●●


Carlista memberhentikan langkah kakinya karena terdapat seseorang yang memang tengah menghadang jalannya saat ini. Tepat di depan matanya, terdapat seseorang yang memakai seragam AHS sama seperti dirinya. Dan kacamata minus yang bertengger di hidung mancungnya.


Ia baru pertama kali bertemu dengan murid baru itu, dan melihatnya secara langsung. Setelah kemarin ia yang tak sengaja melihat Vanesha dan antek-anteknya tengah membully gadis berkacamata itu. Hingga akhirnya ia yang kembali dipanggil oleh Bu Fanny.


"Makasih, kemarin---l-lo udah nolongin gue," ujar gadis itu dengan sedikit menunduk.


Carlista terdiam sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Menaikkan sebelah alisnya sambil memperhatikan gadis berkacamata itu. "Kenapa lo? Takut sama gue, sampe-sampe lo gak berani natap muka gue?" sarkasnya.


Gadis tersebut sedikit tersentak dan mengangkat pandangan ke arah wajah Carlista, meski sedikit takut. "Mmm, s-sorry. G-gue cuma gak b-biasa ngomong s-sama cewek populer kayak lo,"


Carlista memutar bola matanya malas. "Gue bukan cewek populer,"


"Tapi kan, lo emang paling cantik dan populer di sini,"


Carlista terdiam sejenak. "Semenjak kapan lo jadi anak baru di sini?" tanyanya sekedar basa basi.


"Kemarin," jawab gadis itu.


Carlista mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan dengan kedua mata yang menyorot pada name rag cewek itu yang bertuliskan Celine Arbella. Lalu naik ke wajah gadis itu.


"Lo---bukan orang Asia?" tebak Carlista membuat Celine tersentak dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


"G-gue lahir di Belanda. Tetapi, kakek gue orang Jerman. Jadi, gue masih a-ada darah Jermannya, gitu," ujar Celine sedikit kikuk.


Carlista hanya menipiskan bibirnya.


Seketika Celine berlalu pergi meninggalkan lorong koridor gedung utama bertepatan dengan kedua matanya yang tak sengaja menangkap sorot mata tajam milik seseorang.

__ADS_1


●●●


__ADS_2