BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA

BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA
11 / Keluarga Carlista dan Sebuah Pelukan


__ADS_3

"Aaarrgghh! Kenapa hidup gue semakin merana?! Dan kenapa juga ada cowok gila yang mengklaim gue sebagai kekasihnya?! Dan belum lagi dia anak keturunan Mafia. Bisa mati ditembak gue, kalo gue harus berurusan dengan si cowok triplek alias si Marvel gila."


"Gak bisa, gak bisa. Ini gak bisa dibiarin. Gue akan terus berusaha untuk membuat masalah dan bikin kegaduhan di sekolah, supaya si cowok gila itu berhenti untuk mengganggu hidup gue dan pergi selama-lamanya dari hidup gue,"


Carlista saat ini tengah rebahan di atas kasur kingsize miliknya. Kamar yang didominasi warna putih dan pastel, dengan motif awan di langit-langit kamarnya. Ia saat ini seorang diri. Setelah kepulangan Marvel, ia langsung beringsut ke kamar.


Mengganti baju piyamanya dengan setelan piyama merah lengan pendek. Celana piyamanya pun sangat pendek, tak mampu menutupi paha mulusnya yang sangat terekspos itu. Biarkan sajalah, namanya juga di kamar seorang diri, tak ada yang mau datang juga kan ke kamarnya secara tiba-tiba.


Memijit pelipisnya pelan, lantas mengusap wajahnya kasar. Carlista benar-benar merasa hampir gila. Sudah dua hari semenjak Marvel datang dan mengklaim Carlista sebagai kekasihnya, dua hari pula ia merasa hampir gila.


Entah mengapa ada lelaki tampan seperti Marvel yang justru dengan kegilaannya malah mengklaim Carlista dan memaksanya untuk menjadi kekasihnya. Padahal, wanita cantik tak hanya satu di dunia. Tapi, Marvel malah menginginkan dirinya.


Carlista bangkit dan merubah posisi menjadi duduk dengan kedua kaki yang bersila. Menopang dagu dengan tangan kanannya. Ia tengah memikirkan hal apa yang sekiranya cocok untuk membuat Marvel menjauhi dirinya.


Berpakaian sexy dengan dandanan nyentrik dan menor? Baru tadi pagi ia melakukannya. Berbuat onar dengan Vanesha and the geng? Ck, terlalu biasa.


Carlista terus berfikir cara apa yang akan ia lakukan supaya Marvel bisa menjauh darinya dan juga menghilang dari hidupnya. Seketika Carlista tersenyum penuh arti. Mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan dengan senyuman iblis yang mungkin saja bersemayam dalam tubuh gadis cantik itu.


Entah apa yang ada di pikiran Carlista saat ini, yang jelas ia tak akan tinggal diam dan terus berbuat ulah agar Marvel pergi meninggalkannya.


●●●


Hari ini adalah hari Sabtu. Hari di mana Carlista dan seluruh murid AHS akan menyambut hari Minggu. Sekaligus hari terakhir mereka belajar dan masuk sekolah dalam Minggu ini. Untuk Carlista sendiri, ia sebenarnya tak berniat untuk sekolah dan datang.


Ditambah, Marvel yang mungkin saja akan selalu berada di manapun ia berada. Selalu mengganggu dan berbuat mesum kepadanya. Mencium bibir Carlista tanpa henti dan membuatnya kian bengkak. Terlebih, bibirnya itu sedikit bervolume.


Terkadang, Carlista juga bingung dengan semua ini. Mengapa banyak sekali gangguan dari orang-orang yang hendak memilikinya. Mulai dari Raskal, hingga si tampan Marvel. Terlahir sebagai orang cantik, ternyata cukup menjadi ancaman untuk dirinya.


"Carl, sarapan dulu. Mommy udah masak untuk kita. Ayo sarapan bareng, Carl,"


Carlista melirik sekilas pada Carisa. "Gak usah pura-pura baik. Gue gak sudi makan bareng satu meja sama lo," ujarnya dengan nada ketus.


Carisa seketika terdiam.


"Carlista! Mommy tidak pernah mengajarkan kamu untuk tidak sopan terhadap saudara kamu sendiri!" tegur Rosalinda dengan tegas. "Minta maaf sama Carisa sekarang." titahnya.


Carlista memutar bola matanya malas. "Gak mau! Aku gak salah. Untuk apa aku minta maaf,"


"Carisa itu saudara kamu. Kurang baik apa dia sama kamu? Saat kamu sakit, Carisa yang sudah mau merawat kamu dan menemani kamu. Membawakan kamu makan hingga membantu kamu agar kamu tidak dihukum lagi," ujar Rosalinda dengan nada naik 1 oktaf.


"Ck, tukang ngadu," umpat Carlista sambil melirik tajam pada Carisa.


Sementara Carisa hanya bisa menunduk. Tak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


Carlista berjalan sambil menyandang tas hitamnya. Saat ia melangkah menjauh dari meja makan, tiba-tiba saja sang Daddy datang dengan aura yang cukup mendominasi. Menenteng tas laptop di tangan kanannya hendak menuju ruangan makan.


"Sarapan dulu sebelum berangkat, Carlista." ujar lelaki paruh baya tersebut dengan datar, namun sarat akan perintah.


Carlista membalikkan poros tubuhnya. "Aku udah kenyang, Dad. Daddy aja sama Mommy dan---" melirik sekilas pada Carisa. "Anak baru kesayangan kalian," ujarnya tak kalah datar.


"Carlista! Daddy dan Mommy tidak pernah membeda-bedakan kalian berdua dalam memberikan kasih sayang. Hanya kamu saja yang perlahan menjauh dan tidak mau menerima Carisa dalam keluarga," ujar Seano sedikit menohok.


"Kamu menjadi anak yang sulit diatur dan suka membuat masalah ketika kamu di sekolah. Seharusnya kamu berterima kasih kepada Carisa, karena dia, kamu tidak jadi di keluarkan dari sekolah," sambung Seano membuat Carlista sedikit terkejut sekaligus muak.


Terkejut karena penuturan sang Daddy, sekaligus muak karena hampir disetiap ia bersama dengan kedua orangtuanya, mereka selalu membahas tentang saudara tirinya---Carisa. Ya, itulah yang membuat Carlista sangat muak.


"Dad! Mom! Bisa gak sih, kalo sehari aja gak ngebahas tentang Carisa?! Aku tuh muak dengerin kalian yang selalu berbicara dan membahas tentang Carisa! Ini itu Carisa! Di sekolah Carisa! Di rumah, juga Carisa! Kenapa semua orang selalu membawa-bawa Carisa?!" ujar Carlista dengan ada yang amat tidak suka sekaligus jengah dengan semuanya.


"Aku juga anak kalian berdua! Aku bukan orang lain. Kenapa kalian selalu mengutamakan anak angkat ketimbang ANAK KANDUNG KALIAN SENDIRI?! KENAPA, MOM?! DAD?! KENAPA?!!"

__ADS_1


BRAK!


Seano memukul meja makan dengan sangat kencangnya hingga air yang berada di dalam gelas ikut bergetar. Kedua matanya menunjukkan kilatan tajam dengan amarah yang tertahan. Ia benar-benar ingin menampar Carlista saat ini juga. Namun, ia tak bisa.


Sementara Carisa sudah menangis dan menjatuhkan air matanya tepat di meja kaca ruang makan keluarga. Air matanya luruh begitu saja bertepatan dengan ia yang bangkit dan berjalan ke arah Carlista.


"Hiikkss, s-sorry, Carl. Aku gak bermaksud bikin keluarga kamu hancur dan berakhir kamu menjadi seperti ini. Hiikkss, aku gak pernah sedikitpun berniat untuk mengambil dan merebut semua yang kamu punya. Aku gak bermaksud kayak gitu sama kamu, Carl," lirih Carisa dengan air mata yang kian meluruh jatuh ke bawah.


Carlista berdecih. "Gak usah pura-pura. Air mata buaya lo gak akan mempan. Drama aja bisanya."


"CARLISTA!" bentak Seano membuat Carlista dan Carisa serta Rosalinda tersentak kaget. Seano melangkah mendekati Carlista, dan.....


PLAK!


Pipi kanan Carlista memerah seketika akibat tamparan keras yang dilayangkan oleh Seano padanya. Tamparan keras yang terasa dan menjalar ke seluruh area wajah dan tubuhnya. Sakit dan perih, sungguh.


"Daddy sudah bilang berkali-kali sama kamu, Ita! Anggap Carisa sebagai saudara kamu sendiri! Jangan perlakukan dia layaknya orang asing di rumah ini! Dan dia sudah banyak membantu kamu dalam hal sekolah! Seharusnya kamu bisa berterima kasih dan menerima Carisa! Bukan malah menyudutkannya!" ujar Seano dengan tegas dan tajam.


"DIA BUKAN SAUDARA AKU!! SAMPAI KAPANPUN AKU GAK AKAN PERNAH MAU MENERIMA DIA YANG JELAS-JELAS UDAH MEREBUT SEMUA YANG AKU PUNYA! KASIH SAYANG DADDY DAN MOMMY! PERHATIAN ORANG-ORANG SEKITAR TERMASUK DUNIA AKU! SEMUA DIREBUT SAMA CARISA!"


"GUE BENCI SAMA LO, CARISA! GUE BENCI!!"


Carlista menangis sambil memegangi sebelah pipinya yang terasa sakit dan perih. Ia memilih untuk berlari ke luar meninggalkan ruangan tempat makan dengan Carisa yang lagi-lagi hanya bisa menangis dalam diam.


Bukan maksud Carisa mengambil semuanya dari Carlista. Semua terjadi begitu saja, dan itu di luar kehendaknya.


Seano mengusap wajahnya kasar lantas memandangi sebelah tangannya yang baru saja menampar darah dagingnya sendiri.


Maafkan Daddy, sayang, lirih Seano dalam hati.


●●●


"Hiikkss, siapa sih lo sebenarnya?! Kenapa dengan mudahnya Mommy dan Daddy menyayangi lo layaknya anak kandung mereka?! Sebelum lo hadir, keluarga gue baik-baik aja. Dan semenjak lo hadir, keluarga dan rumah bagaikan neraka buat gue,"


Bugh! Bugh! Bugh!


Carlista memukul-mukul stir mobil dengan brutal. Melampiaskan amarahnya lewat pukulan itu. Bersamaan dengan air mata yang mengalir tanpa diminta dan rasa perih yang teramat sangat.


"Aaarrgghh! Hiikkss,"


Carlista mengusap air matanya kasar. Menyalakan stir mobil lalu melajukan mobil sport kuning itu dengan kecepatan tinggi. Sebelumnya, ia memakai kacamata hitam untuk menutupi kedua matanya yang lebam.


Ia terus mengendarai mobil mewah tersebut seperti orang yang tengah berada di arena balap. Suara decitan ban mobil yang bergesekkan dengan aspal tak membuat dirinya berniat memberhentikan mobilnya. Justru ia juga meninggalkan tapak hitam di tikungan aspal tersebut.


●●●


Carlista memberhentikan laju mobilnya di pinggir jalan aspal tak jauh dari jalan utama. Keluar dari mobil lantas berjalan menuju tempat di mana terdapat kursi taman yang tak jauh dari danau. Suasanya sangat sepi. Hanya dirinya seorang diri.


Duduk di kursi taman dengan pandangan yang lurus ke depan. Kacamata hitam masih bertengger di hidung mancung miliknya. Suasana alam yang cukup menenangkan mampu membuat suasana hatinya tenang dan damai.


"Kenapa? Ada masalah?"


Carlista menghembuskan nafasnya perlahan, tanpa menoleh pun, ia tahu siapa yang tengah duduk di sampingnya. Dan ia sangat familiar dengan suara bariton dan sedikit serak itu.


"Carisa lagi, hm?"


Carlista terdiam.


Menghembuskan nafasnya perlahan, Gabriel meraih dagu Carlista, bermaksud untuk melihat keadaan wajahnya. Dan Gabriel cukup terkejut dengan apa yang ia lihat. Sebelah pipi kanan Carlista memerah matang. Dan terlihat juga bekas tangan yang menamparnya.

__ADS_1


"Perlu gue yang bicara dengan keluarga lo, Carl? Apa perlu gue juga yang turun tangan untuk bicara langsung pada Carisa?" terdengar datar dan cenderung dingin.


"Gak usah," ujar Carlista. "Udah biasa," sambungnya.


Gabriel terdiam sejenak. Tetapi, tidak dengan kedua matanya yang memancarkan amarah dan tangan yang mengepal erat.


"Maaf, gue gak bisa jagain lo terus-terusan. Karena---" Gabriel memang sengaja memberhentikan ucapannya sejenak. Melirik sekilas pada gadis cantik yang ada di sampingnya. "---yah, karena gue emang gak bisa," kekehnya.


Carlista mendengus. "Makanya... kalo gak bisa, gak usah sok-sokan jagain gue,"


Gabriel mengusap tengkuknya yang tak gatal. "Gue selalu jagain lo kok," ujarnya membuat Carlista menoleh. "Tapi dari jauh," sambungnya.


Carlista membuang nafasnya kasar. "Jangan bilang, lo gak berani karena ada Marvel di sekitar gue,"


Gabriel terdiam.


"Cemen lo! Cuma sama si cowok triplek aja, lo gak berani." ejek Carlista.


Gabriel tersenyum tipis. "Gue bukannya gak berani," ucapnya. "Tapi---gue hanya gak mau berimbas sama hubungan lo dan Marvel,"


"Gue bukan pacarnya. Siapa juga yang mau jadi pacar dari si Marvel gila, itu!" ujar Carlista dengan menggebu.


tangan Gabriel terangkat, mengacak pelan puncak rambut merah Carlista. "Iya, iya. Tapi ganteng, kan?" godanya sambil menaik turunkan alisnya.


"Ck, mukanya datar. Kek triplek. Mana ada ganteng-gantengnya," cibir Carlista.


Gabriel hanya terkekeh kecil.


Hening


Satu kata yang menggambarkan suasana di antara kedua anak manusia. Baik Carlista maupun Gabriel hanya terdiam. Tak lagi berbicara dan tak ada pembahasan lagi. Masih berkutat pada pemikiran masing-masing. Entahlah, mereka sedang memikirkan apa.


Hingga satu persatu bulir-bulir air mata itu, berjatuhan dari kedua mata Carlista. Di balik kacamata hitamnya yang masih setia bertengger di hidung mancungnya. Ia menangis dalam diam. Mungkin, Gabriel tidak tahu jika gadis di sampingnya tengah menangis.


Tetapi, itu hanya perkiraan Carlista saja. Kenyataannya, sebelah tangan Gabriel menengadah dan menampung air mata Carlista yang perlahan berjatuhan.


"Tadi katanya gak papa. Sekarang malah nangis," ujar Gabriel terdengar lembut.


"Hiikkss, gue capek, El. Gue muak dengan semuanya. Terutama Carisa yang udah ngerebut semuanya. Semua yang gue punya. Kenapa semesta gak pernah berpihak sama cewek kayak gue? Kenapa, El?"ujar Carlista dengan suara yang tercekat di tenggorokan.


Gabriel terdiam.


"Kenapa semua masalah selalu menimpa hidup gue? Gue hampir gila karena masalah yang gue hadapin sejak kedatangan Carisa. Dan sekarang... malah ada cowok gila yang datang ke dalam hidup gue dan mengklaim gue jadi pacarnya. Gue hampir gila, El!"


Carlista menangis tersedu-sedu. Dan itu cukup untuk membuat hati seorang Gabriel sedikit tersayat. Ikut merasakan rasa sakit yang Carlista rasakan.


"Gak semua hal yang datang adalah masalah, Carl. Mungkin---ini adalah proses untuk lo menuju kebahagiaan. Seseorang yang datang dalam hidup lo, dan mungkin aja, dia sebagai pengganti sumber kebahagiaan lo nanti," ujar Gabriel.


Carlista menoleh. "Maksud lo?"


Gabriel tersenyum tipis. "Jika keluarga lo adalah penyumbang rasa sakit terbesar dalam hidup lo, maka Tuhan mengirim seseorang yang akan menjadi sumber kebahagiaan lo,"


Carlista terdiam sejenak. Mengusap air matanya perlahan. "Can I hug you?" lirihnya.


Gabriel tersentak. Namun tak lama ia mengangguk samar. "Hm,"


Carlista mendekat pada Gabriel dan langsung masuk ke dalam pelukan hangat tubuh kekar Gabriel. Menumpahkan air matanya yang kian deras dan usapan lembut dari tangan Gabriel membuatnya menangis tersedu-sedu.


●●●

__ADS_1


__ADS_2