
"Kenapa lo gak terima Marvel jadi pacar lo aja, Carl?" ujar Melody dengan bingung. "Ganteng gitu," lanjutnya.
Carlista yang hendak menyuap nasi beserta ayam bakar pun seketika menoleh sekilas pada Melody. "Lo gila? Cowok gak jelas kayak gitu. Baru pertama kali gue ketemu sama dia, trus tiba-tiba gue diminta sama si cowok triplek itu buat jadi pacarnya, gila gak tuh?!"
Cowok seganteng Marvel malah dipanggil cowok triplek. Ck, mulut Carlista emang gak ada filter.
"Ditambah lagi, dia maksa banget buat gue jadi pacarnya. Kayak si Raskal," sambung Carlista dengan dengusan sinis.
Metta yang mendengar nama Raskal seketika memberhentikan aktifitas makan siangnya. "Btw, gimana soal kemarin malem? Lo berhasil basmi mereka sendirian?"
Carlista menoleh. "Yoi! Gue berhasil basmi parasit kek mereka sendirian," sombongnya. "Tapi ada yang aneh sama apa yang gue alamin kemarin malem," sambungnya.
"Aneh gimana?" tanya Metta penasaran.
"Ya---aneh aja. Gue ngerasa kalo ada yang nolongin gue kemarin," ujar Carlista. "Dan Raskal yang DM gue, dia malah nanyain si Dinosaurus sama gue," sambungnya mendengus.
Jenna yang tengah sibuk dengan Instagramnya lantas mendongak dan menatap pada Carlista.
"Dinosaurus?" beo nya. "Kan makhluk kayak gitu udah punah kemakan zaman, Carl."
"Ck, maksud gue si Dino." decak Carlista malas.
"Bukan cuma nanya sama lo doang, Carl. Tapi sama gue juga, gue gak tahu Raskal dapet nomor gue dari mana, yang pasti dia chat gue dan nanyain di mana keberadaan Dino dan anak buahnya yang lain," ujar Melody dengan serius lalu menujukkan bukti chat dari nomor yang tak dikenal.
"Soalnya kan, terakhir kali lo lawan anak buah Raskal sendirian. Nah, beberapa dari mereka gak ada. Termasuk si Dinosaurus," ujar Melody.
Carlista terdiam sejenak. Ia berusaha kembali mengingat akan kejadian malam itu. Ia ingat jika Dino berusaha melecehkan dirinya dan ingin mencium bibirnya.
Namun, disaat Carlista benar-benar ingin dilecehkan, hal itu tidak kesampaian lantaran mereka telah lebih dulu tumbang sebelum dirinya ikut tumbang dan tak sadarkan diri.
Carlista juga ingat di mana dirinya yang tiba-tiba saja merasakan melayang seperti ada orang yang menggendongnya sebelum akhirnya ia benar-benar tak sadarkan diri dan berakhir di kamar mewahnya di mansion Hilson.
Dan itu semua ia ceritakan kepada ketiga sahabatnya tanpa ada yang terlewat sedikitpun.
"Kayak ada yang janggal, dari cerita lo, Carl," ujar Jenna.
Metta mengangguk samar. "Hm, pertanyaan gue, siapa yang udah bawa lo pulang, kalo elo aja gak sadarkan diri setelah itu?"
Carlista terdiam sejenak. "Gue gak tau. Pokoknya pas gue hilang kesadaran, tiba-tiba gue udah gak inget apa-apa. Pas bangun, gue udah ada di kamar," ujarnya.
__ADS_1
Metta, Jenna, Melody saling melempar pandang. Mereka benar-benar dibuat bingung dengan semua yang dialami oleh Carlista. Siapa yang sudah menyelamatkan sahabat mereka? Metta yang memang paling pintar di antara yang lain saja, juga bingung dengan semua ini.
"Gak mungkin, Raskal, kan?" ujar Jenna seperti bergumam.
●●●
"Bel masuk udah bunyi. Masuk kelas," titah Marvel dengan datar.
Carlista yang memang tengah berada di tribun seorang diri untuk sekedar mencari angin dan menikmati kesendirian pun, lantas mendengus. Menatap malas pada manusia triplek yang ada di hadapannya saat ini.
"Gue lagi pusing pelajaran matematika. Gue gak mau masuk kelas." ujar Carlista dengan ketus.
Marvel membuang nafasnya kasar. "Masuk kelas, atau dihukum?"
"Terserah. Lo mau kasih gue hukuman apalagi? Lo mau bikin gue koit beneran?" cecar Carlista dengan malas.
"Siapa yang mau bikin lo koit? Gue cuma nawarin lo dua pilihan," ujar Marvel dengan datar.
Carlista tersenyum miring lantas bangkit dan menghadap langsung pada Marvel satu tingkat lebih tinggi dari tempat Marvel berdiri. "Tapi pilihan dari lo itu gak make sense buat gue," ujarnya ketus.
Marvel menaikkan sebelah alisnya. "Make sense kok. Lo tinggal pilih, mau kena hukuman terus dari gue atau lo jadi pacar gue dan terbebas dari hukuman," ujarnya dengan santai.
Carlista justru menatap tajam pada Marvel dengan kedua tangan terangkat seperti orang yang hendak menggaruk wajah tampan yang ada di hadapannya saat ini. "Aaaarrgghhh... lo bisa gak sih, kalo gak bikin gue depresot dengan pilihan lo yang gak make sense itu?!" ujarnya menggebu.
Carlista lantas bergidik ngeri kala melihat wajah Marvel dengan seringaian tipis seperti itu. Meski Carlista memang tak takut dengan siapapun, termasuk laki-laki. Bukan berarti ia tak punya rasa takut, ya.
Ia juga takut, siapa tau Marvel itu cowok mesum stadium akhir yang siap kapan saja mengunboxing dirinya. Iih, mau---eh, ngeri, maksudnya.
Carlista tahu kemana arah pembicaraan Marvel saat ini. Dari tatapan Marvel yang tak biasa, ia bisa tahu jika cowok yang ada di hadapannya saat ini benar-benar tertarik padanya dan ingin menjadi kekasihnya.
"Gue tetep gak mau." tolak Carlista mentah-mentah.
"Gue gak terima penolakan," ujar Marvel dengan dalam.
"Dan gue gak suka diatur-atur," sela Carlista. "Apalagi sama orang asing kayak lo!" Sambungnya dengan menohok.
"Gue gak mau tau, pokoknya lo harus jadi pacar gue," ujar Marvel datar namun sarat akan interupsi.
Carlista mengepalkan kedua tangannya dan menatap nyalang pada Marvel. Sementara si cowok triplek itu hanya menatap datar dengan kedua tangan yang berada di dalam saku celananya. "Dasar, Marvel gila!" sentaknya.
__ADS_1
Marvel terkekeh ringan. "Maybe, I'm crazy," ujarnya santai. "'Cause you," sambungnya dengan sangat deep.
Carlista seketika merinding dibuatnya. Baru kali ini, Carlista merasa sedikit takut dengan laki-laki. Biasanya, ia akan berani melawan dan memukul laki-laki manapun tanpa ampun. Tetapi, entah mengapa ia merasa sedikit lemah di hadapan Marvel. Mungkin, efek pingsan tadi karena kelelahan.
"Aaaarrrggghhhh... kenapa harus gue?! Kenapa gak cewek lain aja?!" ujar Carlista sambil mengacak rambutnya kasar.
"Karna hanya lo yang gue mau," ujar Marvel dengan intens.
"TAPI GUE GAK MAU JADI PACAR LO!!" sentak Carlista dengan menggebu.
"Gue gak terima penolakan," ujar Marvel datar.
"Lo gila! Stress! Gak waras tau gak!!" sentak Carlista.
Raut wajah Marvel yang tadinya datar berubah 180 derajat menjadi serius dan terus menatap dalam pada Carlista. Ia semakin mendekatkan wajahnya kepada Carlista. Carlista yang ditatap seperti itu sontak dengan perlahan memundurkan langkahnya karena Marvel terus melangkah ke arahnya.
"V-Vel, g-gu-gue c-cuma bercanda, b-beneran, Vel," cicit Carlista dengan terbata.
Marvel justru semakin gencar untuk menggoda Carlista. Ia pikir, jika gadis barbar yang ada di hadapannya saat ini tak akan takut atau justru menantangnya. Tetapi, Carlista sendiri justru memundurkan langkahnya.
Marvel tersenyum miring dan tipis, nyaris tak terlihat. "Mau hukuman apa?" ujarnya dengan suara sedikit serak dan tatapan yang sulit diartikan.
Carlista menelan salivanya susah payah. "Stop! Stay away!! Marvel gila!!"
Saat Marvel hendak mengusap rambut Carlista, tangannya telah lebih dulu ditepis kasar oleh Carlista. "Don't touch me!!" Desisnya.
"Lo tinggal piih, mau dapet hukuman dari gue setiap hari dengan cara gue sendiri, atau---lo mau jadi pacar gue dan terbebas dari hukuman," ujar Marvel dengan santai.
"SEKALI GUE GAK MAU, YA GAK MAU!! GUE GAK MAU JADI PACAR LO, MARVEL GILA!! DASAR COWOK TRIPLEK!! COWOK FREAK!! KULKAS 12 PINTU!! DASAR GAK JELAS!!"
Marvel mengedikkan bahunya acuh. "Oke. Mulai detik ini, lo jadi pacar gue." ujarnya keputusan final.
Carlista mengacak rambutnya penuh keprustasian. Ia benar-benar merasa depresot lantaran menghadapi sikap Marvel yang keras kepalanya melebihi batu. "Lo budeg?! Gue gak terima lo jadi pacar gue!!"
Marvel membalikkan tubuhnya dan berjalan santai meninggalkan Carlista yang masih mematung dengan wajah yang setengah depresot.
"Gue gak terima penolakan." ujar Marvel, lantas memberhentikan langkahnya dan menoleh dengan wajah datarnya. "Inget, lo mulai saat ini adalah pacar gue," ujarnya lagi lalu mengedipkan sebelah matanya.
Carlista bergidik ngeri lantas mengacak-acak rambutnya frustasi. "Aaaaarrrgghhhh.... gila gue lama-lamaaa!!" erangnya penuh frustasi lantas meraih sebelah sepatunya dan melemparkannya ke sembarang arah.
__ADS_1
"Aaaarrghhh! ******!! Dasar, Marvel gila!!" berang Carlista.
●●●