
Carlista mengerjapkan kedua matanya, dan memandangi langit-langit kamarnya sejenak. Ini adalah hari Minggu. Dan ia akan menghabiskan Minggunya dengan kegiatan yang biasa ia lakukan di hari Minggu. Ia akan memulai semuanya dari olahraga.
Carlista bangit dan merubah posisi menjadi duduk di tepian kasur. Mengumpulkan nyawa sejenak dan bangkit menuju kamar mandi. Sekitar 10 menit menyelasaikan rutinitas paginya, yaitu memenuhi panggilan alam. Ia berjalan menuju lemari pakaian dan menggeser lemari kaca itu.
Meraih beberapa potong pakaian berupa celana jogger putih, tanktop crop putih, dan jaket khusus olahraga berwarna hitam. Tak lupa ia mengambil sepatu converse khusus untuk olahraga karena ia akan jogging keliling komplek mansion itu.
Setelah ia mengganti kostum menjadi setelan olahraga, ia meraih ikat rambut hitam untuk mengikat rambut coklat dan biru di ujungnya itu. Keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju meja makan. Menarik kursi lalu mendaratkan bokongnya di sana.
Membuka penutup kaca lalu meraih beberapa helai roti sobek dan selai blueberry kesukaannya. Namun, saat ia membuka tutup selai itu, ia lihat jika selai kesukaannya justru habis. Dan yang tersisa hanyalah selai stroberi dan coklat. Di mana kedua rasa itu yang tak ia sukai.
Bukan tak suka. Lebih tepatnya tak terlalu.
Carlista mendengus. "Kok abis sih?! Gue kan mau sarapan. Selai favorit gue malah abis,"
Meraih pisau selai lalu meraih toples selai stroberi. Membuka tutup selai tersebut lalu mengambil selai itu, mengoleskannya pada beberapa helai roti yang tersedia di piring. Menumpukannya menjadi satu lalu melahapnya dan menghabiskannya dengan cepat.
Meraih sekotak susu putih lalu menuangkannya pada gelas lalu meraihnya untuk meminum susu itu. Namun, sebelah tangan Carlista telah lebih dulu dicegah oleh si pemilik tangan putih itu. Carlista tersentak dan melirik pada si pemilik tangan yang bertengger di pergelangan tangannya.
"Maaf, Non. T-tapi---susu yang Non mau minum itu---u-udah kadaluarsa. Jangan diminum, Non,"
Ternyata yang mencegah pergelangan tangannya itu adalah salah satu maid di mansion Hilson---Bi Elis. Maid yang sudah bekerja sejak Carlista berusia 2 tahun.
"Kadaluarsa?" beo Carlista. "Kok gak dibuang sih, Bi? Hampir aja aku minum tadi," sambungnya sambil menaruh gelas yang berisi susu itu.
"M-maaf, Non. Bibi lupa," ujar Bi Elis sedikit gugup.
Meraih gelas serta sekotak susu itu dari atas meja, lalu berjalan menuju wastafel dan membuang semua isi susunya itu ke dalam wastafel.
"Bibi bikinin susu yang baru, ya, Non," ujar Bi Elis sambil meraih susu kotak bubuk lalu membuka kaleng itu.
"Enggak usah, Bi. Aku minum air putih aja. Lagian, aku juga mau jogging," cegah Carlista lalu pergi meninggalkan ruang makan begitu saja.
Bi Elis hanya bernafas lega sambil memegangi dadanya.
.
.
.
Entah dorongan dari mana, seorang Carlista ingin keluar untuk jogging. Padahal, ia termasuk cewek yang malas melakukan kegiatan di luar rumah. Panas katanya. Padahal, ini kan masih pagi. Jadi matahari pagi itu sangat bagus untuk kesehatan kita.
Dan untuk gadis seperti Carlista, sebenarnya ia tak biasa jogging ataupun lari pagi. Dan untuk orang yang tak biasa lari pagi, atau tak rutin melakukan olahraga, badan kita akan terasa pegal hingga beberapa hari ke depan.
Berbanding terbalik dengan seseorang yang justru rutin melakukan olahraga. Sekali ia tak berolahraga, pasti akan ada yang kurang. Atau bahkan, akan terasa pegal karena kurang peregangan otot. Gitu katanya.
Baru setengah jalan saja, tubuh Carlista sudah merasa pegal dan lemas. Inilah efek untuk orang yang jarang berolahraga, macam dirinya. Ia hanya berolahraga ketika ada pelajaran olahraga saja. Selebihnya, ia tak melakukan kegiatan itu. Padahal, bodygoals banget loh, Carlista itu.
Carlista duduk di pinggiran trotoar jalan, menyelonjorkan kedua kakinya yang terbuka cukup lebar. "Huuft, capek."
"Belum satu keliling aja udah capek,"
Suara bariton serak itu muncul di balik tubuh Carlista. Si empunya lantas mendongak ke atas ketika ada usapan lembut dari puncak kepalanya. "Dunia sempit yah, kita bertemu lagi, Carlista," ujarnya dengan senyum termanisnya.
Sontak saja, Carlista berdecak dan langsung bangkit dari posisi duduknya menjadi berdiri. Dan sedikit menghindar dengan menjaga jarak setidaknya 2 meter dari si pemilik wajah tampan itu.
__ADS_1
"Apa kabar, Carl? Udah lama kita gak ketemu," sapa orang berhoodie hitam itu.
"Mau apa lo di sini?" desis Carlista dengan mata tajamnya.
Lelaki di balik hoodie hitam itu tersenyum tipis. "Mau ketemu sama lo, Carl. Gue kangen banget sama lo," ujarnya dengan lembut sambil berjalan untuk menghampiri Carlista.
Namun, Carlista perlahan mundur dengan tetap waspada dengan gerak-gerik lelaki yang ada di depannya saat ini. Jika malam itu ia berhadapan dengan anak buah yang dikirimkan olehnya. Sekarang, ia berhadapan langsung dengan 'Boss' mereka.
Ya, lelaki yang memakai hoodie hitam itu adalah Raskal Mateeno. Lelaki yang pernah mengirim anak buahnya untuk membawa paksa Carlista hanya untuk menjadikan Carlista sebagai pacarnya. Entah apa tujuannya menjadikan Carlista miliknya. Yang jelas, Carlista belum tahu sepenuhnya.
Dan, kenapa harus dirinya? Ia dan Marvel itu hampir sama gilanya. Bedanya, jika Marvel itu selalu muncul dan mengganggu dirinya di manapun ia berada. Tetapi Raskal, dirinya baru menampakan dirinya lagi setelah sekian purnama tidak bertemu.
Raskal hanya mengandalkan anak buahnya saja untuk menangkap Carlista. Ck, cemen. Tidak seperti Marvel yang datang dan terang-terangan mengklaim dirinya sebagai kekasihnya. Walaupun terkesan gila.
"Sayangnya---gue gak pernah kangen sama lo," ujar Carlista dengan tenang, tetapi dengan sorot mata yang selalu waspada.
Raskal tersenyum miring lantas menjilat bibir bawahnya dengan tatapan penuh nafsu. "Lo semakin cantik dan sexy, Carl. Bagaimana jika kita bermain-main dulu, hm?" ujarnya dengan nada sedikit menggoda.
"Stop! Gue bilang stop! Mundur atau gue yang akan nyakitin lo!!" desis Carlista dengan kedua tangan yang mengepal sempurna.
Raskal justru menunjukkan senyum smirknya. Terus berjalan menghampiri Carlista dengan tatapan yang sulit diartikan. Carlista sontak saja memundurkan langkahnya sedikit demi sedikit dengan kedua mata yang terus melirik ke sekeliling. Takut jika ia akan dikepung seperti malam itu.
"Sakitin gue aja, Carl. Ayo pukul gue. Gue akan terima dan gue akan merasa lebih senang jika tangan lo menyentuh tubuh gue," ujar Raskal dengan suara bariton yang kian serak.
"DASAR RASKAL BANGSAT!! GUE BILANG MUNDUR!!"
BUGH!
BRUKH!
"Beraninya cuma sama cewek. Lawan lo gue. Dan jangan pernah gangguin cewek gue lagi, bangsat!"
BUGH!
bibirnya.
Raskal terkekeh sinis. "Ternyata lo lebih cepat daripada perkiraan gue, Marvel,"
Marvel tersenyum miring. "Sudah gue bilang bukan, jika gue akan memiliki Carlista. Bahkan jauh sebelum lo kenal dengannya," seringainya.
Raskal mengepalkan kedua tangannya dan menatap nyalang pada lelaki yang ada tepat di depan Carlista. Lebih tepatnya Marvel yang melindungi gadis kesayangannya. Sementara Marvel hanya memandang datar pada lelaki berhoodie hitam itu.
"Marvel... Marvel... seorang anak Mafia terkenal asal Amerika Serikat. Ternyata memiliki obsesi untuk memiliki seorang Carlista. Ck, jelas-jelas Carlista selalu menolak dan gak mau jadi pacar lo," ujar Raskal dengan nada meremehkan.
"Itu bukan obsesi. Dan gue memang mencintai Carlista," ujar Marvel sedikit mendesis.
Raskal maju beberapa langkah dengan Marvel yang sama maju beberapa langkah hingga kedua mata tajam mereka saling bertemu dan semakin menajam. Terlihat jika keduanya sama-sama menaruh dendam antara satu sama lain.
"Lo bukan mencintainya. Tapi itu hanya obsesi lo sebagai seorang anak Mafia," ujar Raskal dengan tajam.
Kedua tangan Marvel mengepal dengan kuat. Dan semakin tajam saja pandangannya terhadap lelaki bastard yang satu ini. "Cinta dan obsesi itu berbeda. Jika lo memang mencintainya, seharusnya lo menjaganya. Bukan menyuruh anak buah lo untuk menculik dan membawa paksa dia ke hadapan lo," desisnya dengan gigi mengerat tajam.
"Dan gue peringatkan lagi sama lo jangan pernah mengganggu cewek gue lagi. Jika lo gak mau berurusan dengan gue," sambung Marvel dengan desisan tajam.
Raskal tersenyum smirk sambil memperkikis jarak di antara keduanya. Dan mereka benar-benar seperti dua orang musuh bebuyutan yang dipertemukan kembali di atas ring tinju. Carlista saja yang melihatnya sedikit ngeri.
__ADS_1
Niat Carlista pergi keluar untuk jogging. Dirinya justru terjebak masalah dan berhadapan langsung dengan dua cowok yang sama-sama menginginkan dirinya. Ia hanya bisa terdiam sambil memeluk tiang listrik yang tak jauh dari keberadaan kedua lelaki itu.
"Punya muka cakep kek gue, ternyata bikin gue bermasalah dengan dua cowok ganteng sekaligus," dengus Carlista pelan.
"Gue cuma gak sengaja bertemu dengan Carlista aja. Gue kangen dengannya. Cuma ingin liat dari dekat, betapa cantiknya ia sekarang," ujar Raskal dengan seringaian tipis, dan itu mampu membuat Marvel terpancing emosi.
Kedua tangan Marvel dengan cepat mencengkram kerah hoodie Raskal dengan kencang. Kilatan amarah yang terpacar dari kedua mata Marvel memperlihatkan betapa bencinya ia terhadap lelaki yang ada tepat di hadapannya saat ini. Dan belum lagi nafas yang kian memburu.
Ingatkan Marvel untuk jangan membunuhnya lebih dulu. Karena lelaki tampan yang tengah Marvel cengkram ini adalah lelaki yang berbahaya untuk Carlista. Kenapa? Karena ia tak rela jika gadisnya disentuh oleh lelaki bastard seperti lelaki yang ada di hadapannya itu.
"Gue peringatin sekali lagi sama lo, jangan pernah lo tunjukkin muka bastard lo itu di hadapan Carlista ataupun gue. Carlista sekarang adalah milik gue. Dan dia, hanya untuk gue. Bukan cowok bastard kayak lo," peringat Marvel dengan gigi bergemelatuk.
"Santai bro. Carlista belum sepenuhnya menjadi milik lo. Jadi, gue masih memiliki kesempatan yang sama untuk memilikinya," ujar Raskal terdengar santai, namun Marvel bisa menangkap ada maksud tersembunyi dari setiap ucapannya itu.
"BANYAK BACOT LO!"
BUGH!
Marvel dengan cepat langsung memukul Raskal tepat di bagian perutnya. Tetapi cengkraman tangannya tak berpindah dari kerah hoodie yang Raskal kenakan saat ini. Sehingga si empunya msnggeram tertahan karena sakit yang ia rasakan tepat di perutnya.
"Sialan lo!" umpat Raskal.
BUGH!
****!
"OMG! Marvel!" pekikan itu datang dari Carlista yang secara tak sengaja dirinya justru terkesan mengkhawatirkan Marvel.
Rahang Marvel terkena bogeman dari Raskal dengan cukup keras. Sehingga cengkraman tangannya terlepas dari kerah hoodie Raskal untuk menyeka darah di sudut bibirnya. Menolah ke belakang lantas tersenyum tipis. "Aku gak papa, Carl," ucapnya dengan lembut.
"Ck, sudut bibirnya bedarah aja, dia malah bilang gak papa?!" gumam Carlista dengan raut wajah bercampur antara bingung sekaligus khawatir.
Tangan Raskal hendak kembali melayangkan pukulannya pada wajah Marvel, namun tangan Marvel telah lebih dulu menangkisnya dan sedetik berselang, tubuh Raskal tersungkur dengan bogeman tangan Marvel.
BUGH!
BRUKH!
Marvel berjongkok sambil mencengkram erat kerah hoodie Raskal. Menatap tajam pada si pemilik hoodie itu dengan kobaran api amarah yang kian memuncak. "Gue peringatin lagi sama lo. Jangan pernah lo muncul dan mengganggu Carlista. Dan lawan lo saat ini bukanlah gue. Tapi tunggu tanggal mainnya," desisnya dengan gigi bergemelatuk tajam.
Marvel menghempaskan tubuh Raskal ke sembarang arah. Dengan entengnya ia melakukan itu seperti tengah membuang anak kucing. Ya, kekuatan Marvel memang tak usah diragukan lagi. Ia bangkit dan berjalan ke arah Carlista yang cukup menegang sambil memeluk tiang listrik.
Kelakuan Carlista yang terkesan absurd ini lah yang membuat kobaran api di mata dan dada Marvel seakan menghilang begitu saja. Terlebih melihat ekspresi Carlista yang seperti anak kecil polos yang tak tahu apa-apa. Itu semakin membuatnya terlihat menggemaskan.
"Apa?" pertanyaan bodoh itu justru mencelos begitu saja dari mulut Carlista. Bersamaan dengan ia yang mengerjapkan kedua matanya sebanyak dua kali.
Marvel mengulum senyum gelinya. Ingin rasanya ia menghujani gadisnya itu dengan kecupan-kecupan gemas di seluruh wajahnya polosnya itu. "Lucu," gumamnya dengan nada gemas.
"Yuk," ajak Marvel.
Carlista terdiam sejenak untuk berfikir. "Gak mau.
Gue mau pulang aja---Marvel! Turunin gue!!"
Marvel yang belum mendapat persetujuan dari Carlista langsung saja menggendong gadisnya ala karung beras. Membawanya pergi kemana saja, yang penting tak bertemu kembali dengan Raskal.
__ADS_1
Ck, sungguh menyebalkan.
●●●