
Niat Carlista ingin pergi jogging seketika buyar kala ia yang diganggu oleh Raskal. Si makhluk yang cukup berbahaya untuknya. Terlebih lagi, ia yang hampir sama dengan Marvel. Sama gilanya. Lebih tepatnya tergila-gila akan kecantikan Carlista.
Katakanlah jika Marvel dan Raskal adalah gambaran dua cowok gila yang terkesan memiliki obsesi untuk memiliki. Marvel yang berusaha memiliki hatinya, dan Raskal yang berusaha memiliki tubuhnya.
Namun, entah mengapa Raskal cenderung santai dalam mengambil perhatian dan hati seorang Carlista. Berbeda dengan Marvel yang cenderung lebih menggebu dan secara terang-terangan mengakui dan mengklaim jika Carlista adalah miliknya.
Seperti saat ini, ternyata Marvel membawanya menuju apartemen pribadinya yang kebetulan tak jauh dari lokasi di mana Carlista dan Raskal berada. Sebenarnya Marvel juga hendak berolahraga dengan berkeliling apartemen. Tetapi, ia tak sengaja melihat Carlista tengah bersama orang lain.
Seketika kobaran api amarah dan cemburu timbul dan kian memuncak. Datang menghampiri dan tanpa aba-aba, langsung memberikan tanda ucapan selamat pagi untuk Raskal. Bahkan hingga tersungkur dengan sudut bibir yang berdarah.
"Ehem!"
Carlista terdiam.
"Ehem! Ehem!"
"Kalo keselek, minum." ujar Carlista datar tanpa menoleh sedikitpun.
Keduanya tengah berada di dalam apartemen, lebih tepatnya di dalam kamar Marvel. Aroma harum dan wangi maskulin dari kamarnya itu cukup mendominasi kamar ini. Terlebih, pemandangan langsung ke alam yang masih hijau dengan kolam renang di bawah apartemen itu.
"Ck, ada pacarnya yang ganteng di depan sini. Kepalanya malah nunduk mulu liatin handphone," gerutu Marvel yang ternyata tak digubris oleh Carlista.
Marvel mendengus lalu merebut handphone Carlista lantas membuangnya ke arah kasur. Jarak dari kasur ke sofa tempat mereka duduk cukup berjarak. Mungkin, sekitar 4 sampai 5 menteran. Itu membuat Carlista berdecak.
"Lo apa-apaan sih, Vel?!" bentak Carlista. "Kenapa handphone gue lo buang, coba?! Gue kan lagi chattingan sama temen-temen gue!" sambungnya dengan sarkas.
Marvel mengambil posisi untuk duduk tepat di samping Carlista. Bertepatan dengan Carlista yang hendak bangkit untuk mengambil handphonenya di kasur empuk itu, namun tangan Carlista telah lebih dulu ditarik oleh Marvel hingga ia terjatuh tepat di atas pangkuan Marvel.
"Ck, lepasin gue, Marvel! Gue mau ambil handphone gue! Ck, Vel! Awasin tangan lo!"
Bugh!
Bugh!
Tangan Carlista terus memukul-mukul lengan kekar Marvel yang tengah melilit perut rampingnya itu. Padahal, Carlista itu belum mandi. Tetapi, Marvel malah sibuk mengendus-endus leher Carlista dan sesekali juga memberikan kecupan-kecupan basah di ceruk leher putihnya.
"Aaarrgghh! Dasar cowok mesum! Lepasin gue, Marvel gila! Lepasin! Aarggh!"
Carlista terus menggelinjang dan berontak bak cacing kepanasan dalam pangkuan Marvel. Sementara Marvel justru tak melepaskannya dan tak memberikan gadisnya itu celah sedikitpun. Ia tak mau melewatkan kesempatan untuk berduaan dengan gadisnya.
"Diem, Carl. Aku cuma mau peluk kamu aja," gumam Marvel di balik ceruk lehernya. Bahkan, terdengar seperti geraman tertahan.
"Ck, lo itu mesumin gue terus setiap saat! Gue gak mau! Berkali-kali gue bilang kalo gue bukan cewek lo! Dan gue gak mau jadi pacar lo!!" sarkas Carlista dengan badan terus menggeliat bak cacing kepanasan.
"Aarrggh! Marvel! Stop it! Gue mau ambil handphone gue! Aaarrgghh!"
"Marvel gila!! Dasar cowok mesum! Keparat! Cowok triplek! Stress! Aarrggh, Marvel lepasin gummmpptt---"
Dikarenakan Carlista yang terus mereog dan terus bergerak seperti cacing kepanasan, alhasil Marvel membungkam mulutnya dengan mencium bibirnya dengan gerakan kasar. Dan itu membuat Carlista semakin memberontak dalam dekapan Marvel.
Marvel justru menahan tengkuk Carlista guna memperdalam ciumannya dan sebelah tangannya lagi untuk merengkuh pinggang ramping miliknya. Ia tak akan membiarkan gadis yang ada dalam pangkuannya itu terlepas dan terus mereog padanya.
Bahkan, kedua tangan Carlista saja sudah mencengkram kedua lengan Marvel. Nyaris hingga mengerat dan kukunya menancap ke balik jaket Marvel.
"Eeeuungghh... "
Carlista melenguh kala Marvel semakin memperdalam lagi ciuman itu. Dan entah dorongan darimana, Marvel mengukung Carlista dengan kedua bibir yang masih bertaut. Ciuman itu berubah menjadi lembut dan itu membuat Carlista sempat terlena.
__ADS_1
Tangan Carlista hendak mendorong tubuh Marvel dari atas tubuhnya. Namun, kedua tangan Carlista ia genggam dengan erat sehingga ia tak bisa melakukan penolakan.
Marvel melepaskan ciumannya dengan nafas yang cukup memburu. Berbeda dengan Carlista yang sudah meraup oksigen dengan rakus. Terlihat jika bibir Carlista benar-benar memerah dan bengkak karena ulah bibir nakalnya itu.
"Cantik. Selalu terlihat cantik," gumam Marvel menyerupai bisikan.
Bibir Marvel kini beralih pada leher putih Carlista yang terekspos. Karena ia hanya memakai tanktop crop putih tali spageti dibalut dengan jaket olahraga berwarna hitam. Yang mana restleting itu sengaja tak sampai atas, hanya sampai setengah tubuh.
Bibir Marvel masih setia bermain-main di permukaan kulit putih itu. Sementara kedua tangan itu masih bertautan tanpa ada niatan untuk Marvel melepaskan genggaman tangan itu.
"Eeeuunngghhh... Veeel, j-jangan kayak gini... gue gak nyaman,"
Carlista melenguh kala ia merasakan sensasi geli yang menggeliat di setiap permukaan lehernya itu. Belum lagi ketika Marvel yang sedikit nakal dengan menggigit gemas di bagian tertentu. Ia hanya bisa menggigit bibirnya kala ia merasakan sensasi geli itu.
"Vel, please! Jangan kayak gini. Gue gak mau, Vel. Gue gak nyaman," lirih Carlista.
Seakan mendapat kesadaran kembali, Marvel melepaskan genggamannya. "Maaf, Carl. I lost my head," lirihnya dengan jarak keduanya yang terbilang sangat dekat dan intim.
"Maafin aku, Carl. Maaf, sudah membuatmu tidak nyaman ketika bersamaku,"
Carlista terdiam.
"Maaf, aku hanya mengekspresikan perasaan cinta aku ke kamu," gumam Marvel dengan deep. "Sudah, itu saja," sambungnya dengan berbisik.
"Cinta gak kayak gini, Vel. Lo selalu membuat gue gak nyaman ketika lo selalu---" Carlista memberhentikan ucapannya, karena ia merasa tak sanggup untuk melanjutkannya. Namun, ia kembali melanjutkannya dengan terbata. "L-lo selalu kayak g-gini ke gue," sambungnya seperti lirihan.
"Maaf, Carl. Maafin aku," lirih Marvel sambil membelai wajah lembut Carlista.
Cup
Marvel mengecup singkat bibir Carlista. "Maaf, Carl. Sekali lagi, aku udah bikin kamu gak nyaman," gumamnya.
●●●
Sudah sejak tadi pagi, Carlista terus terdiam dan merajuk. Tak mau berbicara ataupun sekedar menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang terlontar dari mulut Marvel. Terlebih lagi, ia hanya sibuk bermain handphonenya.
Tidak bertukar pesan, melainkan bermain game offline di handphone. Ya, dia sedang bermain Candy Crush. Terhitung sudah hampir 2 jam lamanya, Marvel dicuekin olehnya. Tak diajak berbicara ataupun sekedar menoleh ke arahnya. Barang hanya sekilas.
Seakan memiliki dunianya sendiri, Carlista sangat asyik bermain ponsel. Sementara Marvel, dirinya justru tengah sibuk memandangi wajah cantik ciptaan Tuhan itu. Yang tak sengaja sudah membuat gadis cantik itu mendadak bad mood dan tak nyaman.
Menghela nafas perlahan, Marvel sudah menyiapkan sarapan untuk Carlista. Bukan sarapan, lebih tepatnya makan pagi. Karena ini sudah jam 10 lewat. Hampir setengah sebelas. Jadi, Marvel menyiapakan semuanya untuk dirinya dan juga Carlista.
"Carl, makan dulu yuk. Aku udah siapin makan pagi untuk kamu," ujar Marvel dengan lembut, sekaligus membuka pembicaraan kembali setelah beberapa menit tak ada percakapan di antara keduanya.
Bukan, lebih tepatnya Marvel yang terus berbicara. Sementara Carlista hanya terdiam saja. Seperti saat ini, Marvel terus membujuk gadis kesayangannya itu untuk makan, namun Carlista justru tak menggubrisnya. Masih terus asyik dengan handphonenya.
"Carl, makan dulu yuk. Nanti kamu sakit kalo gak makan," bujuk Marvel yang entah sudah ke berapa kalinya.
Tak ada respon dari Carlista.
Marvel menghela nafas perlahan. Meraih piring berisi nasi putih dengan berbagai macam lauk pauk lalu menyuapkan sesendok nasi putih ke arah mulut Carlista. "Ayo makan. Aku suapin,"
Bibir Carlista malah terkatup rapat dan tak menggubris Marvel. Mungkin, Marvel adalah gambaran laki-laki yang paling sabar di dunia ini meski kesabarannya hanya setipis tisu. Membuang nafasnya perlahan, Marvel terus berusaha membujuk gadisnya supaya bisa makan dan ia hanya tak ingin jika gadis kesayangannya itu sakit. Jika gadis kesayangannya itu sakit, maka ia juga akan merasa sakit dan tak bersemangat.
Terlalu lebay? Ck, biarin. Namanya juga lagi fase bucin. Kebucinan Marvel terhadap Carlista memang sudah mendarah daging.
"Carl, aku udah buatin makan pagi untuk kamu. Aku cuma gak mau kamu sakit. Aku gak bisa liat kamu tersiksa ketika kamu sakit, Carl. Aku gak mau kamu sampai sakit. Sekarang, makan yah," bujuk Marvel dengan lembut.
__ADS_1
Tak ada respon dari Carlista. Entah itu sekedar lirikan atau gelengan.
Marvel membuang nafasnya kasar. Sepertinya ia sedikit kehabisan kesabaran dalam menghadapi gadisnya itu. Tetapi, ia tak mau menyakiti ataupun membentak gadis itu. Karena ia tahu jika Carlista sebenarnya adalah gadis yang lemah lembut.
Hanya tampilannya saja yang terkesan baddas dan cenderung bad attitude. Dan juga sedikit keras kepala.
"Carl, makan dulu. Aku cuma mau kamu makan. Aku gak mau kamu sakit. Kalo kamu sakit aku juga khawatir sama kamu, sayang." ujar Marvel dengan nada posesif bercampur sedikit geraman tertahan.
"Ya gak usah khawatirin gue. Gue kan bukan siapa-siapa lo." ujar Carlista terdengar sarkas. Tanpa menoleh sedikitpun.
Brak!
Marvel menaruh piring itu dengan gerakan cukup kasar hingga berbunyi suara yang cukup membuat Carlista tersentak. Merebut kembali, handphone yang ada di tangan Carlista lalu membuangnya ke sembrang arah. Dan itu membuat Carlista kembali bereaksi.
"LO APA-APAAN SIH, VEL?! KALO GUE BILANG GAK MAU YA, ENGGAK MAU!!"
"Tapi kamu pacar aku, Carl. Aku tulus sama kamu. Aku cinta sama kamu. Maka dari itu aku ngelakuin ini semua CUMA BUAT KAMU!! BUKAN UNTUK ORANG LAIN!! KARENA APA?! KARENA AKU CINTA SAMA KAMU DAN AKU TULUS SAMA KAMU, CARLISTA!!"
"AKU BUKAN ORANG LAIN!! AKU KEKASIH KAMU!! DAN AKU YANG AKAN MELINDUNGI KAMU NANTI JIKA KAMU DALAM BAHAYA!! MAKA DARI ITU AKU DATANG DAN LANGSUNG MENGKLAIM KAMU BUKAN SEMATA KARENA INGIN MENJAGA, TETAPI JUGA KARENA AKU CINTA SAMA KAMU!!"
Kedua mata Carlista mulai memerah dan berair. Pandangannya seakan takut untuk menatap wajah Marvel yang memerah karena tengah marah. Perlahan, bulir-bulir bening itu luruh begitu saja.
"Jangan bentak-bentak gue, Vel. Gue semakin takut sama lo. Hiikkss... gue gak suka kalo lo bentak gue terus kayak gini... hiikkss... " lirih Carlista dengan air mata yang semakin luruh.
"Maafin aku, Carl. Maaf, aku gak bermaksud untuk membentak kamu atau membuat kamu takut. Maaf," lirih Marvel sambil merengkuh tubuh kecil Carlista.
Diusapnya puncak kepala Carlista dengan lembut untuk menyalurkan kasih sayang kepada gadisnya. Perasaan Carlista itu rapuh. Ia tak bisa untuk dibentak oleh siapapun, terlebih itu adalah laki-laki.
Dan setiap wanita pasti akan merasakan hal yang sama. Hanya bisa menangis ketika dibentak terus menerus.
"Aku sudah membuatmu takut lagi karena ulah aku. Maafin aku, Carl. Aku lost control. Aku gak bisa nahan emosi dan berakhir membentak kamu. Aku memang mencintai kamu, Carl. Dari dulu, aku sangat mencintai kamu," ujar Marvel sambil terus mengusap lembut puncak kepala Carlista.
"Enggak. Itu bukan cinta. Tapi lo hanya terobsesi sama gue," ujar Carlista dengan suara serak karena diiringi isak tangis.
"Hey, aku sungguh-sungguh mencintai kamu, Carl. Hanya kamu. Kamulah gadis kecil itu. Gadis kecil yang aku temui saat acara dinner keluarga 12 tahun lalu. Aku lah yang memberikanmu boneka beruang coklat itu. Dan dipertemuan kita yang kedua, kita saling berkenalan," jelas Marvel dengan lembut.
"Saat itu, hotel milik keluarga aku dikepung sama musuh keluarga Ferioz. Kamu lari ke dalam untuk mencari keberadaan orangtua kamu. Kamu ketakukan akan suara tembakan itu. Kamu sempet teriak dan manggil Mommy kamu,"
"Aku inget semuanya, Carl. Mungkin, kamu lupa saat pertemuan kita yang selalu singkat itu. Tapi, itu justru membekas di benak aku, Carl. Hingga saat ini,"
Carlista hendak menjauh dari dekapan Marvel, namun sepertinya Marvel tak mengizinkan dirinya untuk menjauh. Alhasil, ia hanya terdiam dan duduk tenang kala Marvel mengelus pelan kepalanya.
"Hiikss, tapi gue gak bisa terima cinta lo, Vel. Gue gak ada perasaan apapun terhadap lo. Jadi semua percuma. Gue gak cinta sama lo," ujarnya di balik dekapan Marvel.
"Aku gak pernah minta untuk kamu membalas cinta aku, Carl. Aku hanya ingin kamu aman dan merasa nyaman ketika kamu ada di sekitar aku. Dan cinta, bisa datang kapan aja," balas Marvel terdengar deep.
Carlista terdiam.
"Biarkan aku yang mencintai kamu, Carl. Biarkan aku juga yang menjaga kamu. Perlahan, aku juga bisa masuk ke dalam hati kamu, tanpa kamu minta dan tanpa bisa kamu cegah," sambung Marvel dengan dalam dan intens.
Cup
Marvel mengecup lembut puncak kepala Carlista. Lalu menangkup wajahnya dan mengusap lembut sisa air mata yang membasahi kedua pipi imutnya.
Memberikan kecupan-kecupan ringan di setiap sudut wajahnya dan terakhir bibir manisnya yang seperti candu untuknya.
"Sekali lagi, maafin aku,"
__ADS_1
●●●