
Event Tahunan Antariksa High School pagi ini, dibuka dengan penampilan spesial dari para anggota Korean Dance yang menampilkan gerakan-gerakan energic dan super kerennya. Dengan style yang memang menyesuaikan lagu dan tema tersebut.
Vanesha dan yang lainnya sukses membuat para siswa siswi yang hadir memberikan gemuruh tepuk tangan yang sangat ramai. Dengan memakai konsep 'Girl Crush', mereka berhasil mencuri perhatian sekaligus menjadi center pada opening kali ini.
Lagu dan cover dance yang mereka pilih memang terlihat sangat cocok dengan style dan tema yang mereka ambil. Lagu yang berjudul Next Level-aespa, dan ETA-NewJeans, sukses mereka cover dengan baik. Dan itu semua yang Vanesha harapkan. Menjadi sorotan semua pasang mata.
Oke, lupakan sejenak tentang opening tadi. Kini saatnya pertandingan itu dimulai. Setidaknya ada 10 sekolah yang memang sengaja diterima saat awal mereka mendaftarkan diri. Namun, setelah mereka mengadakan rapat terakhir kemarin, Marvel memutuskan untuk memblacklist 5 sekolah yang daftar dan hanya menerima setengahnya.
Termasuk sekolah yang menaungi musuhnya---Raskal Mateeno. Ternyata, ini adalah salah satu alasan Marvel menyuruh Carisa untuk menerima semua sekolah yang daftar diawal. Dan itu, berhubungan dengan Raskal. Ia hanya ingin memastikan siapa orang terdekatnya saat ini.
Marvel yakin jika salah satu murid AHS ada yang bekerja sama atau memiliki hubungan dengan Raskal.
"Marvel! Semangat!"
"Astoge! Marvel sama yang lain bikin gue melting, njir!
"Oh my God! Makin hari, mereka tuh makin berdamage!"
"Vibesnya gak ada lawan! Visual Idol semua!"
Itu hanya seberapa kalimat-kalimat yang terlontar dari mulut para supporter, terutama para ciwi-ciwi yang kurang belaian itu. Semua bersorak dan bertepuk tangan ketika tim basket AHS turun langsung ke lapangan pada pagi hari ini. Sekaligus sebagai awal dimulainya turnamen basket.
Marvel sudah mempersiapkan segalanya, termasuk para anggota tim yang lainnya. Dengan memakai kaos basket merah, Marvel berdiri dengan gagahnya di antara keempat anggota timnya. Sementara ada 3 anggota cadangan yang tengah duduk di bangku panjang dekat tribun.
Marvel, Galang, Juna, dan Atharel. Keempatnya masuk dan berada di tim utama. Dengan satu tambahan pemain---Gabriel. Ya, kelimanya bak pangeran yang tengah berkumpul dan sama-sama berdiri sejajar dengan tinggi rata-rata 180 cm. Cukup tinggi untuk anak basket, bukan?
Dan sesuai dengan perkiraan Marvel diawal. Jika sekolahnya akan berhadapan langsung dengan SMA Cakrawala. Yang mana dipimpin langsung oleh seorang mantan ketua Mafia asal Kanada---Harry Van De Matt, sekaligus pemilik sekolah swasta itu. Dan Raskal, salah satu murid di sana.
Tepat di hadapan Marvel saat ini, berdirilah sosok seorang cowok yang mana ia baru saja menghajarnya di gudang tadi pagi. Sebelum akhirnya pergi dan mencari keberadaan gadisnya. Sama-sama memakai tanda bet kapten di lengan.
"Dunia mungkin sempit, Vel. Tapi---hanya mencari musuh keluarga Ferioz aja... lo gak sanggup," ujar Raskal dengan sengaja untuk memancing amarah Marvel.
Mungkin, Raskal memang sudah gila. Padahal, di wajahnya sudah ada beberapa luka lebam yang keliatannya sudah diobati. Terlihat tak ada noda darah dan terdapat penutup luka kecil di beberapa bagian sudut wajahnya.
"Oh ya?" Marvel menaikkan sebelah alisnya. "Bagaimana jika gue sudah menemukan salah satu musuh gue? Dan gue membiarkan mereka untuk hidup sebelum akhirnya meninggalkan dunia ini dengan cara yang keji?" seringainya.
Raskal maju beberapa langkah dan mempertipis jarak di antara keduanya. "Pertandingannya baru akan dimulai 5 menit lagi. Mau mengulangnya lagi?"
Marvel juga ikut mengambil langkah dan memperkikis jaraknya dengan Raskal. "Lawan lo gak sebanding, man. Kita buktikan saja lewat basket di sini. Bersikap profesional. Itulah petarung yang sebenarnya,"
Raskal tersenyum miring. "Yakin, lo bisa memenangkan pertandingan ini?" ejeknya. "Bagaimana dengan yang di sana?" sambungnya sambil menunjuk segerombolan anak-anak cheerleaders.
Marvel mengikuti arah pandang Raskal. Seketika kedua matanya menajam dengan tatapan setajam silet. Mungkin, akan sampai menusuk retina kedua mata yang beradu pandang dengannya. Terlihat jika segerombolan gadis-gadis cantik itu berapakaian layaknya anak-anak cheers dengan pakaian super duper ketat.
Seragam cheers yang didominasi warna merah dan sedikit warna putih itu, benar-benar sangat sexy. Rok pendek dan baju ketat, memperlihatkan lekuk tubuh sekaligus bagian perut mereka yang ramping. Serta gaya rambut mereka dibuat sedemikian rupa, bak anak remaja yang terlihat imut.
Namun, bukan itu masalahnya. Yang menjadi masalah untuk Marvel adalah, salah satu gadis yang berhasil membuat hati dan jiwanya mendidih dan bergejolak. Si gadis barbar dengan rambut uniknya. Tengah berdiri di antara para anggota cheers lainnya.
Bukan hanya Marvel yang terlihat shock. Tetapi, seluruh anggota tim basket pagi ini menyoroti kedatangan mereka.
"Anjir! Cewek lo, Vel! Gila, cantik bangat!" seru Juna mulai berkomentar.
__ADS_1
Marvel mendengus. Berjalan dengan langkah lebar menghampiri para anggota cheers itu. Menarik tangan Carlista dan terus menatapnya dengan tajam. "Kamu ngapain pakai pakaian kurang bahan kayak gini?" ujarnya setajam tatapannya.
"Ck, pake nanya ngapain. Ya, tadi lo sendiri yang minta disemangatin sama gue. Ya udah, gue cosplay jadi anak cheerleaders aja," balas Carlista dengan cuek. Tak peduli dengan tatapan tajam Marvel.
Marvel mengusap wajahnya kasar. "Tapi gak kayak gini, Carl. Kamu liat, paha kamu, betis kamu, perut ramping kamu, lengan kamu, leher kamu. Semuanya keliatan. Mau pamer bentuk tubuh kamu yang sexy dan bodygoals ini, iya?!" ujarnya dengan nada tidak suka.
Bukan hanya Carlista, tapi juga ketiga temannya ikut-ikutan terseret masuk cheers secara dadakan. Menggantikan posisi Vanesha dan ketiga temannya yang sempat tampil saat opening tadi. Terlebih Metta, si gadis baddas yang terlihat pasrah ketika didandani ala anak cheers.
"Oh my bestie! Udah gue duga dari awal, kalo cowok lo pasti ngereog setelah ini, Carl. Batu sih lo, dibilangin!" dengus Jenna.
Melody mengangguk cepat. "He'em! Mana si Vanesha sama temen-temennya kita iket di dalam ruangan loker." ujarnya mencerocos tanpa henti sekaligus keceplosan. "Oh my God! Keceplosan," umpatnya sambil menutup mulutnya rapat-rapat.
"What?! Mereka diiket?" kaget Atharel, namun setelahnya ia terkekeh sambil geleng-geleng kepala. "Bener-bener di luar prediksi BMKG," sambungnya.
"Daebak! Gila, kalian senekat itu." timpal Juna.
Carlista dan Jenna sama-sama mengumpat dan hendak melempar tubuh Melody sejauh mungkin keluar gedung olahraga. Sementara Metta, hanya bisa memutar bola matanya malas. Sungguh, berteman dengan Melody, hanya akan membuat kalian menarik nafas.
"Sekarang, ganti baju kamu!" titah Marvel.
Carlista menggeleng cepat. "Gak mau."
"Carlista. Ganti baju kamu sekarang. Ayo, aku anterin." ujar Marvel sarat akan perintah dan penekanan.
"Gak! Gue gak mau!" tolak Carlista dengan keras. "Seharusnya lo hargai usaha gue yang bela-belain dateng dan pake baju kekecilan kayak gini. Lo sendiri yang minta gue untuk nyemangatin lo. Sekarang, lo malah minta gue ganti baju. Dasar, gak jelas!" sambungnya dengan menggebu.
"Kamu bisa semangatin aku tanpa harus pakai-pakaian yang kurang bahan kayak gini, Carl! Aku gak suka liat kamu berdandan kayak gini dan jadi tontonan banyak orang! Aku gak rela dan kamu hanya milik aku! Aku gak suka dengan cara kamu kayak gini!" berang Marvel.
Marvel mengusap wajahnya berulang kali bersamaan dengan helaan nafas kasar. Rambutnya juga sudah ia acak-acak dengan gusar. Entah mengapa, sulit sekali rasanya untuk mengatur gadisnya yang terkenal barbar dan badgirl itu.
"Aaarrrgghh... Carlista! Jangan bikin aku gak konsen karna harus mikirin kamu dengan keadaan kamu yang---aaarrghh!" Marvel mengacak rambutnya berulang kali.
Marvel pun tak mampu untuk melanjutkan kata-katanya karena penampilan Carlista pagi ini benar-benar menguji kesabarannya yang setipis tisu dan juga menguji imannya. Ia tak rela. Sungguh tak rela.
Untuk apa gadisnya berdandan layaknya wanita pemandu karaoke, jika hanya untuk menyemangati dirinya?
"Carlista, sayang. Hey, jangan kayak gini yah, aku gak mau dan aku gak suka," Marvel berusaha untuk terus membujuk gadisnya. Namun, memang dasarnya Carlista itu keras kepala, jadi, ia seakan tak menghiraukan Marvel.
Marvel meraih kedua tangan Carlista lantas berjongkok tepat di hadapannya. Membuat semua pasang mata kembali menjerit dan ikut baper dengan adegan yang mereka suguhkan. "Carlista, sayang. Please! Aku mohon, kali ini aja. Kamu nurut sama aku yah. Kamu ganti pakaian kamu dan jangan dandan kayak gini lagi. Aku gak suka,"
Carlista menarik kedua tangannya lantas melipatnya di depan dada. "Gak! Gue.gak.mau. Kalo lo emang beneran cinta dan sayang sama gue, seharusnya lo bisa menerima keadaan gue yang kayak gini. Bukan malah nyuruh gue ganti baju dengan alasan lo gak suka liat gue kayak gini." ujarnya cukup menohok.
"Aaaarrrgghh! Gue baper anjir!"
"Oh my bestie! Kenapa mereka harus se-so sweet ini, sih?!"
"Ck, ck, ck. Gak di mana, nyosor mulu!"
"Mesti diabadikan,"
"Posting sosmed! Auto trending ini mah,"
__ADS_1
Komentar-komentar itu kembali berdatangan dari para teman terdekat mereka. Pasalnya Marvel saat ini tengah mencium Carlista di depan banyak orang. Marvel tak peduli dengan apa yang mereka pikirkan tentang keduanya. Karena inilah Marvel. Si cowok tampan dengan kesabaran setipis tisu.
●●●
Priiitt...
Suara peluit berbunyi menandakan pertandingan ronde pertama telah usai. Skor akhir antara AHS dengan Cakrawala adalah 80:77. Itu artinya AHS menang unggul sebanyak 3 poin. Setelah melalui perdebatan dengan para panitia pelaksana, akhirnya waktu tanding mereka dimulai pukul 08:15 wib.
Selama kurang lebih 15 menit lamanya, Marvel beradu argumen dengan Carlista. Hanya perihal masalah seragam cheers yang Carlista kenakan. Memang itu bukanlah seragam cheers miliknya. Melainkan milik orang lain yang memang juga anggota cheers.
Tubuh Carlista itu ramping, sebenarnya. Hanya di bagian tertentu saja yang terlihat berisi. Itulah mengapa, Marvel seketika mencuat dan mencak-mencak hingga memohon untuk Carlista segera mengganti pakaiannya yang kurang bahan itu.
Tidak hanya Carlista, tetapi juga Jenna, Metta, dan Melody. Terlebih Jenna---si Selebgram AHS. Paling bodygoals dan sexy di antara keempat temannya untuk ukuran anak SMA seusia mereka. Keempatnya sama-sama memakai pakaian kurang bahan itu.
Marvel terus saja mendengus dan membuang nafasnya kasar. Baru saja selesai tanding, ia disuguhkan dengan kedatangan Carlista yang masih memakai pakaian yang sama. Yaitu seragam cheers yang kurang bahan.
Carlista menyodorkan sebuah minuman ion yang mana itu adalah minuman kesukaan Marvel. "Gak mau?"
Marvel hanya melirik sekilas lantas membuang nafasnya kasar. Tak ada niatan untuk mengambilnya.
"Ya udah kalo gak mau." ujar Carlista. "Tangkep, Jun!" titahnya sambil hendak melemparkan botol ion itu ke arah Juna. Namun, tangan Marvel telah lebih dulu menyambar botol minuman itu.
"Ck, sok-sok-an gak nerima. Pas mau dikasih ke orang lain, malah cemburu," cibir Juna yang tak dihiraukan oleh Marvel.
Marvel membuka tutup botol itu lalu meminumnya hingga tandas tak tersisa.
"Ngambek! Ngambek!" cibir Carlista.
"Bodo." dengus Marvel.
"Dih. Jelek lo kalo ngambek. Gak ada ganteng-gantengnya,"
Marvel hanya membalasnya dengan lirikan malas.
"Huft, ya udah. Kalo lo marah sama gue. Kita putus berarti,"
Ucapan keramat dari Carlista ternyata mampu merubah raut wajah Marvel yang tadinya terkesan cuek dan datar, menjadi panik seketika. "Kok putus sih?!" ujarnya dengan nada tidak terima.
Marvel bangkit dan memasang wajah serius sambil terus menatap Carlista. Menangkup wajah cantik itu dengan tatapan yang sangat dalam. "Kamu jangan pernah ninggalin aku hanya karena sikap aku, Carl. Aku cinta sama kamu dan aku gak mau kehilangan kamu," ujarnya dengan intens dan deep.
"Please, maafin aku. Semua ini aku lakuin demi kamu. Gak ada yang lebih penting di dunia aku selain kamu, Carl. Maaf, maafin aku," sambung Marvel seperti lirihan.
Kedua tangan Carlista menepis pelan kedua tangan Marvel. "Gue cuma gak suka diatur-atur, Vel. Gue mau kebebasan. Bukan kekangan kayak gini. Lo itu posesif. Otoriter. Mesum juga," dengusnya diakhir.
Marvel mengulum senyumnya lalu mengacak pelan puncak kepala Carlista. "Maaf. Kalo itu bukan mesum namanya. Tapi love language aku ke kamu, sayang," ujarnya dengan lembut.
"Alesan." cibir Carlista. "Bilang aja kalo lo itu mesum. Mesumin gue mulu. Mentang-mentang gue cewek lo, lo malah seenaknya nyosor terus sama gue. Apa-apa nyosor. Apa-apa nyium. Apa-mmmfftt---"
Nah kan, kesabaran Marvel yang hanya setipis tisu itu sudah sobek. Buktinya saja, ia sudah membungkam mulut Carlista dengan bibirnya supaya gadisnya itu terdiam dan tak lagi banyak bicara.
●●●
__ADS_1