BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA

BADGIRL KESAYANGAN PUTRA MAFIA
26 / Marvel VS Raskal, dan...


__ADS_3

Tepat hari ini, Antariksa High School menjadi tuan rumah dalam Event Tahunan Basket se-Jakarta. Semua persiapan sudah dipersiapkan dengan matang termasuk untuk rangkaian acara pagi ini. Dari opening hingga closing nanti, sudah terplaning dengan baik.


Acara pertandingan tersebut memang akan dimulai sekitar jam 8 pagi. Jadi, masih ada waktu sekitar 30 menit lamanya untuk mereka bersiap memberikan yang terbaik. Terutama para anggota cheers dan KDC yang akan tampil pagi ini.


Marvel, si kapten basket sekaligus ketos AHS yang terpilih untuk tanding pagi ini, tengah mempersipakan semuanya di ruang OSIS bersama dengan sang wakil---Carisa. Serta ada beberapa anggota lain yang siap membantu mereka mempersiapkan semuanya.


"Semuanya udah siap, Vel. Gue yang akan mengatur semua jalannya acara ini dari opening hingga closing nanti,"


"Hm," balas Marvel.


"Dan---semua sekolah yang terpilih udah menunggu di gedung olahraga. Mereka membawa anggota cheers masing-masing dan para guru pendamping termasuk ketua OSIS," jelas Carisa.


"Dan, untuk yang tampil opening?"


"Udah ada Vanesha sama temen-temennya," balas Carisa yang baru saja mengecek daftar nama-nama anggota KDC yang akan tampil pagi ini.


Ternyata, Vanesha benar-benar ingin mengambil hati semua orang. Karena AHS terkenal dengan Korean Dance Club-nya. Maka dari itu, sekolah tersebut memang masuk daftar populer.


Marvel terdiam, namun sedetik kemudian senyuman miring nan tipis hadir di wajahnya pagi ini.


"Vel, mereka udah dateng," ujar Juna yang baru saja datang bersama kedua temannya.


Marvel bangkit dari kursi lantas mengintruksikan kepada ketiganya untuk mengikuti langkahnya keluar dari ruangan OSIS tersebut.


Sementara Carisa sempat memandangi punggung mereka yang perlahan mulai menghilang dari kejauhan dan kembali melanjutkan aktifitasnya kembali.


"Car, lo kok ngasih izin Vanesha sama temen-temennya tampil di cheers sama KDC juga sih?"


Carisa sedikit tersentak. Ia mengangkat


pandangannya dan terlihat jika temannya itu tengah berada tepat di hadapannya. "Bukan gue yang ngasih izin, An. Tapi Marvel," ujarnya.


Aleana mengerutkan dahinya. "Marvel?" beo-nya, yang diangguki Carisa. "Kok bisa?"


Carisa mengedikkan bahunya acuh. "Tau, kemarin ini... Marvel nolongin gue dari Vanesha. Mungkin, Vanesha yang mohon-mohon sama Marvel untuk bisa tampil dikeduanya," jelasnya.


Aleana terdiam.


"Kenapa?"


●●●


Sebenarnya ini bukanlah saat yang tepat untuk Marvel bertemu dengan seseorang yang ingin ia temui. Tetapi, ini adalah kesempatan yang cukup untuk menemuinya sekaligus memastikan orang tersebut. Masih ada waktu sekitar 25 menit lamanya untuknya dan ketiga temannya menemui orang itu.


Keempatnya berjalan hingga langkah mereka berhenti pada gudang belakang gedung olahraga AHS. Mereka masuk dengan pandangan yang cukup mengintimidasi dan tetap waspada terhadap sekitar gudang tersebut. Takut, terjadi hal-hal yang tak mereka inginkan.


Mengingat, ini masih dalam area sekolah. Mereka tidak mungkin membuat kegaduhan ataupun membuat satu AHS gempar karena kesalahan kecil yang baik mereka lakukan, ataupun dari pihak luar sekolah.


Sementara di dalam gudang tersebut, sudah ada seorang lelaki seusia dengan mereka. Sama-sama memakai kaos basket dengan warna yang berbeda. Tengah duduk dengan tenang seperti orang yang memang tengah menunggu kedatangan keempatnya.


Bukan, lebih tepatnya memang menunggu kedatangan Marvel dan ketiga sahabatnya.


Lelaki tersebut bangkit dari posisi duduknya, memutar poros tubuhnya sambil melipat kedua tangannya. Memandang datar pada keempat remaja tampan itu. Sedetik setelahnya senyuman miring itu muncul menghiasi wajah yang tak kalah tampannya seperti Marvel dkk.


"Bukankah ini surprise untuk lo, Marvel?"


Marvel justru terlihat tenang dan tak terintimidasi sama sekali dengan lelaki yang ada di hadapannya saat ini. "Sudah gue duga dari awal. Jika lo akan muncul kembali dengan mendaftarkan diri untuk Event ini,"


"Bagaimana jika one by one? Jika lo menang, lo boleh memilikinya. Jika lo kalah... lo tinggalkan dia, dan---" lelaki tersebut berjalan santai menghampiri Marvel. "---serahkan gadis cantik itu kepada gue," seringainya.

__ADS_1


Seketika rahang Marvel mengetat sempurna. Kilatan mata yang kian menajam dengan kedua tangan yang mengepal sempurna. Ingin rasanya ia memukul wajah sok tampan yang ada di hadapannya saat ini. Namun, ia berusaha untuk tidak gegabah.


"Jangan sampai kepancing, Vel," peringat Galang dengan datar.


"She is my mine. So, lo gak akan bisa memilikinya karena dia adalah segalanya untuk gue," ujar Marvel dengan mendesis tajam.


Terkekeh samar. "Selalu mendapatkan apa yang lo inginkan. Cinta dan obsesi hanya berbeda tipis. Dan---yang lo lakuin sekarang bukanlah cinta. Tapi obsesi," seringainya.


Marvel tersenyum smirk. Menarik kerah kaos basket milik lelaki itu, lalu menatap setajam silet padanya. "Itu salah satu bentuk perjuangan gue untuk mendapatkan Carlista. Karena gue memang mencintainya sejak lama. Gue yang menolongnya saat salah satu anak buah lo berusaha untuk melecehkannya," desisnya dengan gigi kian mengerat.


Seakan ditarik kembali pada malam di mana Carlista menghadapi anak buah Raskal seorang diri. Sementara Marvel dan ketiga temannya hanya memantau dari kejauhan. Ia merasa amat marah ketika salah satu anak buah suruhan Marvel berusaha untuk melecehkan gadisnya.


Ingin rasanya ia langsung menembak mati saja semua orang yang hendak mendekati atauphn melecehkan gadisnya. Termasuk, lelaki tampan yang ada di depannya saat ini.


Raskal Mateeno


Kalian ingat bukan, saat Carlista tengah jogging tiba-tiba diganggu oleh seseorang dan berakhir duel dengan Marvel? Ya, dia adalah Raskal Mateeno. Seseorang yang memang juga menginginkan gadis yang sama. Sama-sama menginginkan Carlista.


"Carlista cantik. She's like an Angel. She's so beautiful, and---sexy," puji Raskal dengan pandangan memuja. Dan itu membuat darah Marvel seketika mendidih. Terlebih, kalimat terakhir yang diucapkan olehnya.


"Lo gak berhak untuk memuji cewek gue, bangsat!"


BUGH!


Rahang Raskal seketika dijotos oleh Marvel dengan kencang hingga dirinya nyaris tersungkur ke bawah jika tidak ada meja dan bangku yang menahan tubuhnya. Amarah Marvel seketika mencuat karena Raskal yang memang berusaha memancing amarahnya untuk keluar.


Saat Marvel hendak kembali melayangkan pukulan itu, tangan Marvel telah lebih dulu ditahan oleh Galang. "Jangan sekarang," datarnya.


Namun, Marvel tak menghiraukan ucapan Galang itu. Dirinya justru menepis kasar tangan Galang dan hendak menghajar Raskal dengan nafas yang memburu.


"Vel! Tahan emosi lo!" cegah Juna saat Marvel hendak kembali menghajar Raskal.


"Raskal hanya ingin memancing amarah lo, Vel! Dia hanya ingin melihat lo berubah saat lo sedang marah!" ujar Atharel berusaha menahan lengan Marvel.


"MATI LO BANGSAT!!"


BRUKH!


Siapapun pasti akan ngilu ketika melihat bagaimana beringasnya Marvel dalam melumpuhkan lawannya. Sama seperti saat ia yang berduel dengan Raskal saat jogging pekan lalu. Begitupula saat ini. Raskal seakan tak berdaya dan anehnya tak memberikan perlawanan.


Deru nafas Marvel memburu dengan peluh keringat yang membasahi wajah tampannya. Sementara ketiga temannya sudah bisa memisahkan dan menjauhkan Marvel dari hadapan Raskal. Karena ketiga temannya menyadari jika Raskal tak membalas pukulan satu kalipun.


"Sekali lagi lo berusaha muncul dan mengganggu cewek gue. Lo akan habis pada saat itu juga," peringat Marvel penuh dengan desisan tajam sekaligus penekanan.


Keempatnya keluar meninggalkan Raskal yang tergeletak dengan luka yang cukup serius di bagian wajahnya.


●●●


Marvel saat ini tengah gusar karena mencari keberadaan sang gadis yang ia cueki dari kemarin. Ia akui jika itu hanya untuk mengerjai sang kekasih. Ia hanya ingin mengetahui bagaimana reaksi Carlista saat mengetahui dirinya yang menerima pemberian dari wanita lain.


Terhitung dari kemarin hingga saat ini, semua pesan chat yang Marvel kirimkan untuknya tak ada satupun yang berbalas. Mulai dari DM hingga chat Whatsapp. Semuanya tak ada respon dari gadisnya. Dan tak dibaca juga oleh Carlista. Itu yang membuatnya kian


gusar.


Terlebih saat ini, ada Raskal yang memang sengaja untuk datang dan mendaftarkan diri lewat sekolahnya. Ia hanya takut jika si lelaki gila itu akan mengambil kesempatan dan membawa Carlista untuk dijadikan gadisnya. Karena Marvel tahu, seberapa bejad sosok Raskal itu.


Membuang nafasnya kasar, Marvel terus menyusuri lorong demi lorong disisa waktunya untuk ia tanding nanti. Ia bukan tak mementingkan Event itu, tetapi baginya, Carlista lebih penting dari apapun. Termasuk nyawanya sekalipun. Sungguh,


Hingga kedua matanya menangkap sosok yang sangat ia kenali dan ia tengah cari. Gadis cantik berambut ombre coklat biru dengan pakaian santainya. Karena ini, adalah Event. Jadi, seluruh murid bebas mau berpakaian apapun, selain seragam sekolah.

__ADS_1


Gadis itu memakai kaos hitam pas badan dengan celana jogger putih dan sepatu sneakers putih. Tampak sederhana dan casual. Tetapi, tak membuat kecantikannya hilang atau luntur begitu saja. Mau apapun penampilannya saat ini, Marvel tetap menyukainya.


"Kamu ke mana aja, Carl? Aku rindu sama kamu," ujar Marvel sambil memeluk Carlista dari belakang.


"Maafin aku soal kemarin," sambungnya sambil mengubur wajahnya pada ceruk leher Carlista.


Carlista mendengus. "Ngapain sih lo di sini? Bukannya tanding basket, sana,"


"Aku kangen sama kamu, Carl. Aku butuh energi untuk tanding nanti," gumam Marvel sambil terus memeluk gadisnya dengan erat dan menghirup aroma tubuhnya yang membuatnya semakin candu.


Carlista menghela nafasnya perlahan dan memutar bola matanya malas. "Ya gue bukan batre isi ulang yang bisa ngisi energi lo,"


Marvel menjauhkan wajahnya dari leher Carlista dan menumpu dagu pada sebelah pundaknya. "Siapa bilang? Kamu itu ibarat batu batrai buat aku. Ketika aku lelah dan kehabisan energi untuk beraktifitas, aku tinggal peluk kamu. Dan seketika, energi aku terisi dengan penuh," ujarnya lalu tersenyum tipis.


"Kamu itu segalanya buat aku, Carl. Aku membutuhkanmu untuk tetap hidup sampai saat ini. Sebagai pengganti sumber kebahagiaan aku yang telah pergi. Dan aku gak mau mengalami hal yang sama, untuk yang kedua kalinya," sambung Marvel dengan deep.


Carlista seketika terdiam kala Marvel mengatakan hal yang begitu dalam untuknya. Ia sedikit tak mengerti apa makna sebenarnya ucapan Marvel itu. Siapa yang telah menghilang dalam hidup Marvel? Siapa yang telah pergi meninggalkannya?


Marvel melepaskan pelukannya sebentar lalu memutar poros tubuh Carlista. Menangkup wajah cantik itu dengan kedua jempolnya yang mengusap lembut kedua pipi Carlista. Ditatapnya kedua mata itu dengan dalam dan penuh cinta. Carlista pun, bisa merasakan tatapan itu.


Tatapan penuh cinta dari Marvel untuk Carlista. Dengan perlahan, Marvel menyatukan kening keduanya dan sama-sama menatap dalam diam selama beberapa detik.


"Jangan pernah berfikir untuk meninggalkan aku sendiri, Carl. Dan soal kemarin... aku benar-benar minta maaf," ujar Marvel seperti berbisik. "Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu cemburu dan marah," sambungnya.


Carlista terdiam.


"Maafkan aku, Ita," lirih Marvel.


Dengan perlahan, Marvel memajukan wajahnya dan semakin mendekatkannya pada bibir ranum gadisnya yang ternyata amat candu untuknya. Menempelkannya sejenak lantas mengisapnya beberapa detik lantas melepaskannya.


"Pagi ini aku tanding. Kamu harus nonton supaya aku makin semangat buat tandingnya," ujar Marvel dengan intens.


"Liat aja nanti," balas Carlista sedikit malas.


Marvel membuang nafasnya kasar. "Aku gak mau tau. Pokoknya kamu harus ada di antara para penonton,"


"Dih, si abangnya maksa," cibir Carlista sambil mengerutkan dahi. "Udah, sana! Nanti telat tandingnya," usirnya sambil mendorong dada Marvel.


Bukannya merasa jengkel karena diusir oleh Carlista, Marvel justru mengulum senyum gelinya pada gadisnya. "Ehem, mulai perhatian nih, sama pacar sendiri, hm?" godanya sambil menoel dagu Carlista.


"Ck, siapa juga perhatian sama lo?! Dih, ge'er banget," cibir Carlista.


"Tadi kamu bilang sendiri. Udah, sana. Nanti telat tandingnya," goda Marvel dan meniru gaya bicara Carlista.


Carlista memutar bola matanya malas. "Ya---emang bener. Nanti lo telat. Dan tim basket kita didiskualifikasi cuma gara-gara lo," serunya.


Marvel menaikkan sebelah alisnya. "Yakin?"


"Marvel! Gue bilang sana!"


"Iya, iya. Dah, sayang!"


Cup


Sebelum Marvel pergi meninggalkan Carlista di depan pintu ruangan loker, ia masih sempat-sempatnya mencuri satu kecupan tepat di bibir Carlista. Ck, benar-benar mesum stadium akhir. Untung ganteng,


Carlista belum pergi meninggalkan tempat itu sepenuhnya, ia sempat memandangi tubuh kekar Marvel yang perlahan mulai menghilang di balik tikungan lorong pertigaan itu.


Sebelum benar-benar menghilang, Carlista melihat jika ada seorang gadis berpakaian sexy ala Idol lengkap dengan aksesorisnya menghampiri Marvel dan pergi bersisian. Entah mengapa ada rasa tidak terima melihat gadis itu berjalan dengan Marvel hanya berdua saja.

__ADS_1


Carlista mendengus. "Liat aja, apa yang bakal gue lakuin setelah ini,"


●●●


__ADS_2