
Sekilas mereka saling menatap hingga akhirnya Aaron mulai berbicara.
"Kau,kenapa pipi mu merah?" Tanya Aaron.
"Bukan karna apa-apa" Kata Myra.
"Benarkah? Atau sebenarnya...pipi mu merah karna aku memeluk mu" Kata Aaron dengan suara serak nya.
"Bukan,eh maksudku tidak!" bantah Myra sambil memalingkan wajahnya membuat Aaron tersenyum lembut membuat wajah Myra semakin memerah.
''Aku bisa gila kalau seperti ini terus'' batin Myra.
"Myra,apa kau menyukai ku?" Tanya Aaron.
"Ah t-tidak,aku...tidak" Kata Myra yang tidak berani melanjutkan perkataan nya.
"Begitu ya" Kata Aaron sambil kembali memeluk Myra dan kepala Myra malah menempel ke dada bidang Aaron.
"Aku pikir kau menyukai ku,karna aku...menyukai mu" Ucap Aaron dengan jujur membuat jantung Myra hampir copot lalu ia berhasil tenang.
"Aku tau,kalau kau menyukai ku sebagai teman-"
"Bukan sebagai teman" Sambung Aaron.
Myra kembali menatap mata biru elektrik Aaron.Dan ia teringat dengan tantangan yang pernah diberikan oleh Brian.
...
__ADS_1
"Apa tantangan nya?" Tanya Myra pada saat itu.
"Tantangan nya,adalah...kau harus mencium Aaron karna ia telah jatuh cinta pada mu" Bisik Brian pada Myra.
...
"ternyata benar yang dikatakan Brian saat itu" Kata Myra tiba-tiba.
"Hm? Jadi si Brian telah memberi tahu mu ya? Kapan?" Tanya Aaron.
"Saat diruangan latihan,saat Brian memberikan aku tantangan" Jelas Myra.
"Ck,dasar Brian" Sambung Myra lagi.
"Jadi kau sudah tau ya" Kata Aaron sambil memegangi kepala Myra yang bagian belakang.
Ciuman mendarat ke bibir kecil nan manis milik Myra,Aaron dan Myra berciuman cukup lama membuat napas Myra sesak.Myra tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi,karna itu adalah ciuman pertamanya dan juga Aaron.Myra langsung membalikkan badan nya tetapi ditahan Aaron dan mendekap kepala Myra pada pelukan Aaron.Myra hanya pasrah dan berusaha tidur begitu juga dengan Aaron.
...
Sementara Brian yang kini sedang berada disebuah tempat,dimana ada banyak sekali lemari kaca berisi obat-obatan dan bahan kimia lainnya.Brian hanya sendiri berada ditempat itu karna misi kali ini benar-benar sangat rahasia.
Brian sesekali melirik jika ada suara sedikit saja,lalu ia mendengar suara langkah kaki dan segera mengeluarkan pistolnya dan bersembunyi di sebuah lemari kaca.
"Tidak perlu bersembunyi,karna aku tau kalau kau ada disana anak muda" Kata seorang pria tua yang menarik tempat duduk dan duduk dengan santainya.
"Cih" Umpat Brian sambil keluar ke tempat dimana ia sembunyi.
__ADS_1
"Duduk lah di kursi itu anak muda" Kata si pria tua.Brian duduk di sebuah kursi yang ada didepan pria tua itu.
"Jadi memang benar,kalau kau adalah Brian ellard salah seorang agen AL dan teman karib nya Aaron Coldwell"
"Bagaimana kau tau tentang Aaron?!" tanya Brian.
"Tentu saja aku mengetahui nya,haahh tidak terasa,sudah bertahun-tahun setelah kejadian itu dia telah tumbuh dewasa iya kan?"
Brian hanya diam dan siap siaga saja kalau ada apa-apa.
"Dimana semua pasukan mu pak tua,dan serah kan mereka pada kami dan kami akan menanganinya!" ujar Brian.
"Terlambat" Kata si pria tua yang terbatuk-batuk.
"Karna rekan-rekan ku...telah berada di London" Kata si pria tua itu.
"London? Tapi...untuk apa?" Tanya Brian.
"Bukan kah kau tau sendiri anak muda?" Tanya si pria tua balik.
"London?...london...." Kata Brian yang masih bingung,padahal tidak ada sesuatu yang istimewa disana,...tetapi...ada sesuatu yang masuk kedalam pemikiran Brian.
"Apakah...Aaron,nenek dan kakek nya masih hidup?" Gumam Brian.Brian lalu menoleh si pria tua yang mengangguk menanggapi gumaman Brian.Brian tersadar dengan apa yang ia pikirkan.
"SIAL" umpat nya sambil berlari lalu menghubungi markas AL.
"Kapten,rekan-rekan tuan Egor telah bergerak duluan ke London.Dan aku baru ingat kalau disana masih ada keluarga Aaron yang tersisa kita harus cepat bergerak" Usul Brian lalu diterima oleh sang petinggi AL.Brian langsung saja menaiki helikopter dan berangkat ke London.
__ADS_1
Si pria tua yang bernama Egor itu menyeringai ke Brian.