
BOTFE Bab 1 - Novel Terkutuk
Di pendalaman hutan terdapat sebuah perkampungan yang jauh dari keramaian kota. Desa Hijau adalah tempat tinggal Ella, gadis sebatang kara yang tinggal di sebuah gubuk reyot.
Hidup Ella bergantung dari menjual kayu-kayuan yang ia kumpulkan dari hutan belantara di belakang gubuknya, gubuk yang jauh dari rumah tetangga, jelas tidak ada yang tahu keseharian Ella selama ini.
Sangking miskinnya, gadis itu dijauhi orang-orang yang ada di kampungnya sendiri. Walaupun demikian mereka tetap membeli kayu bakar yang dijualnya.
Usia Ella, kini menginjak 20 tahun. Ia tumbuh menjadi gadis lemah yang tak tentu arah. Kedua orangtuanya telah meninggal saat umurnya memasuki 13 tahun, semenjak itu Ella hidup sendirian dan tidak memiliki sanak saudara.
Sifat Ella yang pendiam, namun memiliki kemampuan. Bisa meracik ramuan atau obat-obatan herbal yang ia buat sendiri.
Terkadang Ella menghabiskan waktu di hutan hanya untuk mencari tumbuhan yang bisa digunakan untuk dikelola menjadi ramuan herbal. Bukan hanya itu, setiap hewan buas mendekatinya, Ella justru tidak takut sama sekali yang ada Ella bisa menjinakkan mereka.
Hutan mampu menjadi tempat penghibur lara nya, ketika ditindas oleh para gadis-gadis seusianya.
Hari ini Ella berencana kembali masuk ke dalam hutan hijau untuk mencari kayu bakar yang akan dijualnya besok pagi di pasar.
Dengan hanya membawa bekal pedang berukuran sedang, Ella lantas memasuki hutan seorang diri tanpa rasa takut sama sekali.
Hutan belantara di sore hari terkadang menakutkan, sebab cahaya yang masuk tidak menembus ke dalam hutan diakibatkan rindangnya dedaunan yang lebar dari pohon-pohon yang menjulang tinggi, hingga mampu menutup akses masuknya cahaya matahari disana.
Sedari tadi Ella mencari-cari kayu-kayu yang berserakan di tanah namun sangat sulit di dapatkan, "Dimana lagi aku harus mencari! semuanya sudah kuambil, tidak mungkin pulang hanya membawa diri. Lagipula aku harus makan apa besok? jika kayu saja tidak ada apalagi uang!" gumam Era.
Sejenak berpikir Ella menatap sekeliling hutan yang selalu di datanginya dan kini pandangannya tertuju ke arah hutan selatan yang tidak pernah di jamahnya.
"Apa aku harus kesana? tapi itu sedikit jauh," Ella bermonolog sendiri, ragu-ragu kakinya melangkah kesana.
"Demi makan besok aku harus mencari kayu sore ini juga, tidak apa-apa kalau aku kesana bukan! aku sudah hidup menyatu dengan hutan selama 7 tahun, jadi kenapa harus takut."
Langkah demi langkah kakinya berpijak memasuki hutan selatan. Sedikit aneh ketika suasana di hutan itu sangat berbanding terbalik dengan hutan yang selalu di kunjunginya.
Ella seperti melewati semacam perbatasan. Hutan selatan lebih disinari matahari, sedangkan hutan sebelahnya malah sebaliknya. Saat menelusuri hutan tersebut, banyak dahan kayu yang berukuran kecil berserakan dimana-mana. Ella tanpa menunggu lama langsung mengumpulkannya dalam tiga ikatan sekaligus.
"Sangat banyak aku harus mengambilnya sebelum matahari terbenam." Ella tersenyum senang, senyumannya yang tak pernah lepas setiap kali mengambil kayu-kayu kering itu.
Tiga ikatan besar sudah dikumpulkannya, setetes demi setetes keringat membasahi dahi hingga bagian leher. Rasa lelah begitu terasa hingga tenggorokannya butuh disalurkan oleh air.
"Haus! Apa tidak ada sumber mata air disini?"
__ADS_1
Ella lantas meninggalkan kayu-kayunya dan membuat sesuatu di setiap pohon sebagai petunjuk agar ia tidak tersesat saat balik kembali.
Beberapa menit kemudian terdengar suara aliran air mengalir tak jauh dari tempatnya, "Sepertinya di depan sana ada sungai, baguslah aku harus menuntaskan dahagaku!"
Sampailah Ella disana, ia terkejut melihat sebuah aliran sungai yang terlihat jernih dengan pemandangan yang tidak biasa.
"Cantik sekali! Aku tidak menyangka jika hutan disini memiliki sungai secantik ini!"
"Aku rasa, aku perlu mandi sekalian saja!" tambahnya.
Sungai itu memiliki bebatuan tepat ditengah-tengah, dipinggir sungai beberapa tumbuhan bunga bermekaran indah belum lagi sungainya sangat dangkal dan mudah melihat bebatuan kecil di dalamnya.
"Ya ampun, apakah aku adalah orang pertama yang datang kesini? Jika benar iya, aku adalah pemilik sungai ini," canda Ella terkekeh kecil disana.
Ia lantas membuka seluruh pakaiannya lalu membela sungai dengan tubuh telanjang. Ella tidak lupa juga untuk meminum, sejuk sekali ketika tenggorokannya langsung merasakan dinginnya air sungai itu.
"Andai saja sungai ini dekat dengan gubukku, aku tidak akan bosan-bosan untuk mandi setiap hari disini!
Kulitnya yang semula kotor sekarang mulai menghilang saat digosoknya dengan tangan.
"Wah aku terlihat sangat bersih kali ini!"
Matahari kini mulai menenggelamkan diri, Ella segera memakai bajunya kembali. Matanya yang jeli tiba-tiba melihat cahaya disela-sela batu besar tak jauh dari tempatnya berada.
"Apa itu?" Ella mencoba mendekat, saat sampai ia kaget dengan cahaya yang dilihatnya berasal dari sebuah buku.
Penasaran, dengan hati-hati dan waspada Ella mengambilnya bersamaan hilangnya sinar dari buku tersebut.
"Forest Fairy Legend? apa ini sebuah buku novel? yang benar saja! Berarti bukan aku yang pertama kali datang kesini, astaga!"
Seketika ia memeluk tubuhnya, dan langsung bergegas meninggalkan sungai itu sambil membawa novel tersebut .
Malam hari kemudian, Ella yang baru saja selesai sarapan malam tiba-tiba pintu rumahnya diketuk dengan keras.
Ella lalu membukanya, sedetik kemudian sebuah tamparan keras langsung mengenai kulit pipinya.
"Kenapa menamparku!" lirih Ella ketika melihat seorang gadis tengah menatapnya marah.
"Kau memang benar-benar ******, bisa-bisanya pacarku selalu menyebut namamu saat kami bercinta," teriak Gunya.
__ADS_1
"Yang benar saja, namaku? astaga menjijikan sekali," gumam Ella.
"Itu masalah pacarmu! Aku tidak mengenal siapa pacarmu? apa kamu pernah melihatku jalan-jalan di tempat keramaian atau di manapun itu untuk menggoda seseorang? jelas tidak kan, lalu mengapa aku yang disalahkan? mengenal pacarmu saja aku tidak tahu."
Gunya sedikit tertegun dengan keberanian Ella membalas ucapannya. Selama ini dia dan orang-orang di desa memandangnya sebagai gadis penakut.
"Mungkin saja kau menggoda pacarku saat menjual kayu bakarmu itu di pasar, walaupun kau tidak mengenalnya!" tuduh Gunya.
"Kamu benar-benar keterlaluan menud__" belum selesai Ella menyelesaikan ucapannya, kini tubuhnya di dorong hingga tersungkur di lantai."
Gunya mendorong Ella dengan kasar. Melihat perbuatannya itu, Gunya langsung bergegas pergi dari sana.
Ella terlihat menahan sakit di bagian tangannya yang lecet sebab menahan beban tubuhnya, "tidak apa-apa Ella jangan menangis, ini sudah biasa bukan!"
Ia lalu bangkit kembali dan menutup pintu lalu berjalan tertatih-tatih masuk ke dalam kamar.
Tubuhnya ia baringkan di atas tempat tidur yang terbuat dari kayu, lalu memandangi atap rumahnya dengan tatapan sedih, "Ayah, ibu aku merindukan kalian."
Tiba-tiba novel yang tergeletak di atas meja mengeluarkan sinarnya kembali.
"buku novel itu lagi!"
Ella langsung memegangnya dan membuka novel tersebut hingga sinarnya kembali menghilang secara tiba-tiba, "Aneh! Apa buku ini terkutuk?"
Ella kemudian membaca isi halamannya. Ia terlihat tertarik dengan cerita novel tersebut, tentang kisah Peri Elaine yang hampir meninggal karena diracuni oleh Penyihir Putri Meana.
Ella sesekali mengerutkan keningnya, "Kasihan sekali ratu Elaine, diracuni hingga sakit-sakitan seharusnya pangeran Castor ada disisi sang ratu tapi mengapa ia tidak mau melihat pujaan hatinya itu selama tiga tahun?"
Ella melanjutkan bacaannya dan mencerna setiap kalimat yang dibacanya.
"Odilion, saat ini tubuhku sudah sangat terlihat kurus apalagi menggerakkan anggota tubuhku saja sangat susah, bisakah kau membantuku?" lirih ratu Elaine.
"Apapun itu Ratu, demi kesembuhan ratu aku akan lakukan perintahmu!" tukas Odilion yang sudah tak sanggup melihat wajah tirus ratu Elaine.
"Kalau begitu bawah diriku ke tempat sungai dan buang tubuhku ini ke dasar sungai. Tidak ada penolakan, kau harus melakukannya."
"Tidak ratu, aku tidak akan melakukannya." tegas Odilion yang tak sanggup menuruti perintah Elaine.
"Demi aku Odilion, setelah diriku tiada kau harus menggantikan posisiku menjadi raja Flamatia. Aku mohon!" Ratu Elaine sudah menangis di hadapan seluruh umat perinya yang juga ikut menangis karena penderitaannya selama tiga tahun berturut-turut.
__ADS_1