Because Of The Forest Elf

Because Of The Forest Elf
BOTFE Bab 17 - Kemunculan Ratu Elaine


__ADS_3

BOTFE Bab 17 - Kemunculan Ratu Elaine


Pangeran Castor telah tiba di sana, matanya menyelidik salah satu mayat penyihir Oxfam dan mencoba mencium bau dari bekas sayatan itu.


"Benar, ini adalah bekas sayatan dari Pollux."


"Pangeran apa selama ini pangeran Pollux memiliki masalah dengan penyihir Oxfam hingga ia memberantas mereka dengan cara berperang?" tanya Damon menerka.


"Selama ini Pollux sama sekali tidak melakukan apa-apa di luar kastil dan ini baru pertama kali Pollux melayangkan kembali pedangnya setelah 3 tahun yang lalu." Tukas Castor.


"Sepertinya ia telah diserang oleh penyihir Oxfam."


Tidak lama Pangeran Castor mencium bau dari seseorang yang bersama Pollux di sekitar tempat itu, "Bau ini seperti milik ...!"


"Ada apa pangeran?" tanya Damon saat melihat raut Castor yang tidak bersahabat.


"Ada yang aneh. Bukan hanya Pollux dan juga penyihir Oxfam yang ada di sini, lebih tepatnya kaum Fla juga iku dalam kejadian ini. Sebaiknya perintahkan kepada prajurit untuk membersihkan mayat Oxfam."


Damon lalu memerintahkan kepada prajurit yang ada disana untuk membersihkan sungai dari mayat-mayat Oxfam yang mulai menyengat.


Setelah semua beres Pangeran Castor kemudian memerintahkan kepada kaumnya untuk kembali ke kerajaan.


Kini Pangeran Castor membaringkan tubuhnya yang atletis, pandangan matanya kini menerawang. Bau khas yang sangat di hafalnya tadi bukanlah seperti yang di ucapkan kepada Damon.


Wanginya itu berasa dari Ella wanita yang sudah beberapa hari ini tidak pernah bertemu dengannya lagi.


"Jika benar dia ada disana lalu untuk apa Pollux bersama dengannya? apa mereka sudah saling mengenal jauh sebelum aku mengenalnya?"


Pangeran Castor memejamkan matanya, mengingat kembali wajah wanitanya yang selalu terbayang di alam sadarnya itu.

__ADS_1


Semakin lama semakin ia merasakan dejavu. Kepalanya sedikit pusing setelah mengingat sesuatu yang sangat samar-samar di benaknya.


"Siapa sebenarnya wanita itu ... Akh kepalaku!" Meringis saat kepalanya berdenyut sakit, Castor memutuskan untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan menggunakan kekuatan sihir untuk memulihkan jiwanya.


Pangeran Castor kemudian tidur memiring dan tengelam di alam bawah sadarnya.


Pagi cerah kini menyapa Ella yang sedang menikmati angsa-angsa yang sedang mengapung di sungai.


Ella sudah terbiasa dengan jam tidurnya saat malam hari hingga ia sudah bisa bangun pagi tepat waktu.


Duduk di atas batu dan menyelusupkan kepalanya di antara kedua lututnya Ella lantas memejamkan mata sembari menikmati hembusan angin pagi.


Tiba-tiba dari arah depan tepatnya di tengah sungai muncul sosok wanita yang memanggil Ella pelan.


Ella yang menyadari hal itu, pura-pura tidak mendengarnya.


Merasa jika hal itu penting, dengan gerakan slow motion wajah Ella mencoba memberanikan diri untuk melihat siapa gerangan sosok yang ingin berbicara kepadanya.


"Astaga apa kau Ratu Elaine?" Tanya Ella yang menganga tak percaya dengan pertemuan mereka yang pertama kalinya itu di tempat seperti ini.


"Kau benar Ella. Aku Ratu Elaine peri penguasa Flamatia, saat ini aku ingin menyampaikan beberapa hal untukmu sebelum waktuku habis dengan sia-sia."


Ella mengerutkan keningnya heran namun ia tetap mendengarkan setiap ucapan ratu Elaine kepadanya.


"Reinkarnasi yang dialami olehmu telah membawa jiwamu ke dalam dunia sihir. Perbedaan Waktu dan tempat saat kematian kita berdua memang berbeda namun posisi tempat kita meninggal di sungai sama, yang artinya kamu telah membantu diriku dalam hal ini, melanjutkan apa yang sudah kulakukan sebelum kematianku... sekarang kamu hidup kembali dan menjalankan aktivitas seperti biasanya namun berbeda dari duniamu yang sebelumnya, berbalik denganku yang langsung meninggal tepat hari itu, sebab itu adalah kemauanku sendiri."


Ratu Elaine menatap wajah Ella yang masih setia mendengarkan penjelasannya."


"Hari ini adalah hari kesempatanku untuk bertemu langsung denganmu. Beberapa hal yang harus aku berikan kepadamu untuk bekal kedepannya."

__ADS_1


"Bekal? apa aku harus menerimanya sebagai seseorang yang harus menjalankan misi rahasia?" sarkas Ella dengan tatapan tajamnya.


"Bisa dibilang seperti itu, aku harap kamu tidak keberatan untuk menerimanya sebab aku sangat yakin jika kau bisa melakukannya. Jadi kumohon dengarkan baik-baik Ella, ada tiga poin yang harus kamu lakukan yang pertama mencari tahu siapa pemilik dari pedang naga yang ada di kerajaan Oxford, kedua memusnahkan ramuan racun yang akan membahayakan keselamatanmu dan juga peri Flamatia, dan ketiga memusnahkan kerajaan Oxford tepat pada waktunya. Tiga poin itu harus kamu lakukan sebelum semuanya terlambat, sebab semakin lama kamu mengundurkan waktunya semakin cepat musuh berdatangan untuk menghancurkan Flamatia."


"Tunggu, aku sungguh tidak paham dengan ketiga poin yang kamu katakan, bisakah kau menjelaskannya secara rinci satu persatu maksud dari setiap poin itu ratu Elaine?" Ucap Ella yang mulai penasaran dengan misi yang belum tentu dikerjakannya itu.


"Aku ingin memberi tahumu namun waktuku tidak akan lama lagi, satu hal yang harus kamu tahu ketiga poin itu saling berhubungan dan akan menjawab pertanyaan yang ada di pikiranmu tentunya, kamu akan tahu siapa kawan dan siapa lawan yang nanti berhadapan denganmu, dan tolong jagalah pohon serbuk sari, pohon itu adalah sumber segala kehidupan Flamatia, aku tahu kamu adalah wanita cerdas dengan keahlianmu dalam meracik obat-obatan dan ramuan ... Gunakan kema .. mpuan ... Mu ... itu unt .. uk ...menyela ..atkan .. orang-orang ... Dise ... kitarm ..uuuu!"


"Ha .. haa haaaaa"


Nafas Ella tidak beraturan ia bangun dari duduknya. Sempat mengira jika ia tertidur dan mengalami mimpi aneh namun setengah sadar.


Ella memandangi sungai yang diperkirakan tempat ratu Elaine berdiri namun sayangnya sungai itu begitu tenang dengan angsa-angsa yang berenang kesana kemari.


"Apa itu nyata? tapi aku tertidur ... Benarkah Ratu Elaine datang menemuiku?" Ujar Ella yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi barusan.


Tak lama beberapa ekor angsa membawa sebuah mahkota yang sangat menyilaukan mata. Mahkota yang memiliki benda berukuran sedang di tengahnya dengan beberapa benda kecil di di samping kiri dan kanan.


Begitu mewah dan anggun Ella memberanikan diri untuk mengambilnya. Dilihatnya secara seksama, mahkota itu sangat bernilai tinggi belum lagi mahkota yang belum pernah dilihatnya itu bisa merubah bentuknya.


"Astaga ini benar-benar nyata. Berarti Ratu Elaine benar-benar datang kepadaku dan ucapannya itu harus dituntaskan sebelum musuh berdatangan. Tapi ini sangat berat untukku yang masih awam, terlebih aku lupa bertanya mengenai dirinya di dalam diriku ini!"


Ella lantas menghela nafasnya panjang, tangannya kini mengangkat tinggi-tinggi mahkota itu dan melihatnya ke atas untuk melihat keindahannya dari jauh.


Sejenak ia berpikir untuk memakainya terlebih dahulu dan berharap mahkota itu pas di atas kepalanya.


Sedikit demi sedikit ia memperbaiki letaknya hingga beberapa saat kemudian.


Ella berubah, berubah bak Dewi sang penguasa langit. Cahaya emas mengelilinginya hingga tubuhnya ikut berputar dan semuanya berubah begitu cepat.

__ADS_1


__ADS_2