Because Of The Forest Elf

Because Of The Forest Elf
BOTFE Bab 15 - Tawaran Ella


__ADS_3

BOTFE Bab 15 - Tawaran Ella


"Sejauh ini masih 45 persen aku meracik obat-obatan herbal, sulit untuk mencari tumbuhan yang memiliki khasiat manjur, itupun di wilayah Oxford sebagian kecil sudah tidak ada tumbuhan herbal lainnya pangeran."


Pangeran Castor tak bisa berbuat apa-apa jika sudah seperti itu, berharap jika temannya Adonis yang sangat di andalkannya dapat menemukan ramuan herbal yang ampuh, sayangnya itu sangatlah susah.


"Selagi wilayah-wilayah lainnya tidak terjangkit penyakit itu terutama Barata, kita sebisa mungkin harus mendapatkan ramuannya. Apapun itu demi keselamatan kawasan Oxford." Ucap Castor yang langsung meminum arak yang sudah di tuangkan oleh Adonis.


"Iya pangeran." Ucap Damon dan Adonis bersama.


Sementara Arimbawa dan putri Meana sedang duduk di taman buatan milik sang putri. Keduanya menatap berbagai macam tumbuhan bunga serta pohon kecil yang memiliki buah segar.


"Ayah sepertinya sedang tidak baik-baik saja akhir-akhir ini! Ada masalah yang menganggu pikiran ayah saat ini?" tanya Meana tanpa menatap sang empunya.


"Putriku sangat tahu jika ayahnya sedang banyak pikiran, apakah sihirmu sudah mampu membaca pikiran orang lain hem?" Tanya balik Arimbawa.


"Hanya menebak saja, kemampuanku belum sampai ke sana. Para penyihir lainnya sama sekali belum bisa melakukannya juga tapi mereka lebih dibawahku sebab sihir mereka masih di level bawah." Ujar Meana dengan nada sombongnya.


"Itu hanya menurutmu putriku, bisa saja ada orang lain yang lebih menandingimu apalagi pangeran Castor."


"Ayah tahu siapa? Kalau begitu beri tahu aku yah, aku akan melawannya dengan trik licikku."


"Sudah ayah duga, kau sangat antusias sekali jika mengenai musuh." Tukas Arimbawa terkekeh kecil.


"Ayah seperti tidak saja kemampuanku. Jadi apa yang sedang ayah pikirkan?" Tanya Meana kembali.


"Tentu saja bagaimana putriku ini bisa membuat pangeran Castor jatuh cinta padamu! Jika hal itu terjadi ayah akan mendapatkan jabatan tinggi di kerajaan Oxford."


"Serta membalas dendam, tentunya." Gumam Arimbawa tersenyum sinis di sela-sela gumamannya.


"Tenang saja ayah, bagiku pangeran Castor sangat mudah di taklukkan, tapi butuh waktu pula untuk meluluhkan sikap dinginnya padaku."


"Ayah serahkan saja padamu, asal pria itu segera menjadi suamimu kelak nanti. Kalau begitu ayah akan kembali ke kamar ayah, kau istirahatlah sekarang."


Meana pun mengangguk namun belum menuruti ucapan ayahnya yang menyuruhnya untuk istirahat.


"Aku akan menunggu kedatangan pangeran Castor terlebih dahulu yah." Gumam Meana.


Arimbawa yang tidak sengaja berpapasan dengan Pollux langsung menghentikan pria itu.

__ADS_1


"Pangeran Pollux bagaimana hari-harimu? Kau sangat jarang terlihat di castil itupun kau akan muncul di aula saja." Ucap Arimbawa sinis.


Pollux sebenarnya sangat jengah dengan ayah dari putri Meana itu, keduanya sungguh tidak jauh berbeda.


"Apa perlu aku mengatakannya padamu tuan Arimbawa?" tanya balik Pollux dingin.


"Tidak juga, hanya saja kau terlihat sibuk menghilang."


Pollux tertawa sinis dan terlihat aneh, hal itu membuat Arimbawa mengerutkan keningnya heran.


"Ingin mendapatkan informasi yang lebih rinci tentangku tidak semudah itu. Kau perlu menambah umurmu setidaknya sampai lansia, itu cukup mengumpulkan informasi mengenaiku."


Tanpa menunggu ucapan Arimbawa, Pollux segera melenggang pergi meninggalkan pria tua yang menatapnya geram.


"Kurang ajar!" Ucap Arimbawa panas.


Pollux sampai di daerah sungai yang mengalir cukup deras, walaupun saat ini malam begitu cukup terang karena disinari cahaya bulan tetap saja ia belum bergeming disana.


Saat ingin mencuci wajahnya tiba-tiba bayangkan hitam muncul dari arah belakangnya.


Sontak Pollux langsung melakukan ancang-ancang. Bersiap menerima perlawanan dari seseorang.


"Castor apa kau itu?" Tanya seorang wanita.


"Siap kau nona?" Tanya Pollux penasaran sebab wanita itu sangatlah cantik di matanya.


"Aku pikir kamu adalah Castor, wajah kalian agak mirip apa kalian saudara?" Tanya wanita itu kembali dan tidak menjawab pertanyaan Pollux tentangnya.


Begitulah dengan Pollux, ia lebih memilih diam ketimbang menjawabnya.


Sementara Ella yang menunggu jawaban dari pria itu malah diacuhkan.


"Hem Baiklah aku Ella dari kawasan Flamatia, kau sedang apa disini?"


Pollux menatap kembali wajah wanita itu. "Hanya menikmati suasana malam saja disini, dan kau?"


"Memastikan sesuatu!" Tukas Ella.


Ella lalu mencari sesuatu disekitar pinggiran sungai, cukup lama ia mencari sesuatu yang sebenarnya ia tidak tahu apa yang dicarinya.

__ADS_1


Namun beberapa saat kemudian, matanya melotot dengan sempurna saat menemukan sesuatu yang sangat menjijikan.


"Astaga!" Teriak kecil Ella dan itu mengundang Pollux yang segera menghampirinya.


"Ada apa?"


Pollux mengikuti pandangan Ella dan langsung bereaksi sama dengan wanita itu.


"Sudah aku duga, sesuatu itu ternyata adalah ini, tapi apa yang terjadi padanya. Mengapa orang ini sudah begini." Tanya Ella pada dirinya sendiri.


Pria itu sudah dalam keadaan mengenaskan, tubuhnya terkoyak-koyak dengan lalat yang memenuhi tubuhnya yang sudah tidak layak untuk di lihat.


"Sihir ini bukankah hanya Castor saja yang bisa melakukannya! sebab bau mayat ini tidak berbau sama sekali dan itu sangat sulit mendapatkan orang yang meninggal dalam keadaan mengenaskan dari sihir milik Castor, tapi wanita itu menemukannya." gumam Pollux menerka-nerka.


"Apa kau mencium aroma mayatnya?" Tanya Pollux.


Ella menggelengkan kepalanya tanda jika ia sama sekali tidak dapat mencium aroma bangkai mayat itu.


"Salah, dugaanku salah. Berarti itu sudah jelas-jelas Castor yang melakukannya."


"Apa! Castor yang melakukannya? tapi dia tidak melakukan apa-apa saat bersamaku waktu itu."


Pollux tambah mengerutkan keningnya, "Kalian sudah saling kenal sejak kapan?, dan apa yang kalian lakukan disini jika kau tidak tahu saja yang dilakukan Castor padanya?" Tanya Pollux penasaran.


Ella terdiam, ia jadi salah tingkah dengan ucapan pria di depannya ini. Mengingat kembali hari dimana ia dan Castor di sini membuatnya malah berpikiran mesum saja.


"Kami berteman belum lama, tidak sengaja kami datang bersama disini, jadi yah gitu tapi saat itu Castor tidak melakukan apa-apa, apalagi aku tidak tahu jika ada musuh di sekitar kami." Terangnya yang sedikit berbohong.


Pollux cukup terdiam, kini ia kembali dengan sikapnya yang asli.


Pria itu lantas meninggalkan Ella yang keheranan dibuatnya.


Ella lantas mengikutinya, "apa kau saudaranya? kalian memang mirip atau kalian berdua kakak beradik." Ucap Ella.


Pria itu akhirnya berbalik dan menatap tajam Ella yang masih santai tanpa rasa takut padanya.


"Jika urusanmu selesai sebaiknya kau pergi saja dari sini." Ujar Pollux yang terlihat sangat dingin kepada Ella.


"Aneh sekali, pria sepertimu sangat anti sosial dan tidak memiliki banyak teman. Jika kau mau kau boleh berteman denganku." Tawar Ella dengan senyumnya yang sangat manis.

__ADS_1


"Tawaran yang sangat basi!"


"KAU!!"


__ADS_2