
BOTFE Bab 12 - Syarat Masuk Antar Dua Wilayah
Keesokan paginya cuaca inti Flamatia terasa sangat berbeda, salah satu Peri Matia ragu-ragu mengepakkan sayapnya karena cuaca bendung kali ini tidak seperti biasanya.
Namun demikian, Peri itu memberanikan diri untuk menyusuri hutan sebab anaknya terus-terusan meminta untuk diambilkan buah apel yang tak jauh dari pusat sungai.
Diperjalanan suasana di sekitar pusat sungai terasa dingin dan mencekam, tubuh Peri itu seketika meremang. Matanya selalu waspada dan jeli untuk meyakinkan tidak akan ada sesuatu yang terjadi.
Namun matanya menangkap sosok benda hidup yang tergeletak miring di antara semak-semak, "Apa seseorang disana?" ucapnya dengan nada takut.
Ya ampun, ada seseorang disini. Aku harus menolongnya."
Dengan hati-hati ia mendekati sosok itu, tanpa sadar ia menutup mulutnya ketika melihat seorang wanita tengah pingsan di sana. Belum selesai keterkejutannya, sosok wanita itu adalah Ella.
"Ratu Elaine! astaga aku harus mencari bantuan!"
Peri itu mulai mengepak sayapnya agar bisa sampai di tempat rumah Peri lainnya.
"Tolong, tolong Ratu Elaine tidak sadarkan diri di pusat sungai ... tolong!!"
Seketika semua pintu rumah para Peri terbuka bersamaan keluarnya mereka mendengar peristiwa yang menegangkan.
Desah desus nada kekhawatiran mulai mempertanyakan maksud yang dikatakan Peri pembawa berita di pagi hari itu.
"Apa benar ucapanmu itu Peri? kami butuh penjelasan!" tanya salah satu dari mereka.
"Sebaiknya semua kesana! waktu kita sangat mepet jika membiarkan Ratu berlama-lama disana dalan keadaan pingsan, ayo cepat! yang lain beritahukan ini pada Odilion."
Semua mereka langsung berpencar.
Saat sampai, semua mata mereka langsung tercengang dengan apa yang mereka lihat. Ella terbaring kaku di semak.
"Angkat Ratu bersama-sama, jangan sampai melukai sayapnya." ucap Peri Fla.
"Tapi kita harus bawa kemana? Rumah Ratu masih jauh di depan, tidak mungkin kita membawa Ratu ke rumah terdekat sedang Ratu harus segera mendapatkan pertolongan!" ucap Peri Matia.
"Lebih baik kita bawa saja Ratu terlebih dahulu!" mereka semua mengangguk.
Dengan cepat tubuh Ella diangkat dengan lembut, saat menyentuh kulit Ella hawa dingin langsung dirasakan telapak tangan para Peri yang mengangkatnya.
Mereka saling memandang satu sama lain tanpa bersuara, kali ini mereka segera mengepakkan sayap dan terbang menjauhi pusat sungai itu.
Odilion yang melihat dari jarak dekat langsung menghampiri mereka dengan raut wajah menegang.
"Kali ini apalagi yang terjadi pada Ratu!" gumam Odilion panik.
__ADS_1
Odilion akhirnya sampai kepada mereka dan menatap wajah pucat pasih Ella yang sudah seperti mayat hidup, "Kita bawa Ratu ke hutan Utara secepatnya!" ucap Odilion.
Kehebohan di Flamatia menjadi berita besar di mengenai keadaan Ella yang tidak baik-baik saja.
Rombongan para Peri berbondong-bondong menuju ke pohon serbuk hijau di hutan Utara. Fridena yang baru sampai melihat Odilion tengah memapah Ella untuk dibaringkan ke dalam sari hijau.
"Odilion apa yang terjadi dengan Ratu?" tanya Fridena sedih ketika melihat kondisi Ella sangat buruk.
"Entahlah Fridena, aku belum tahu penyebab Ratu pingsan. Salah satu Peri yang menemukannya berkata jika Ratu tergeletak tak jauh dari pusat sungai!" ucap Odilion.
"Pusat sungai? bukankah Ratu semalam tengah tidur saat itu, aku melihatnya dari jendela yang sedikit terbuka semalam!"
Baik Odilion dan Fridena terlihat keheranan dengan hal ini, "Sebaiknya kita tunggu saja Ratu sampai sadarkan diri dan menanyakan apa yang terjadi dengannya semalam!" ucap Odilion memutuskan.
***
Hari ini Odilion sudah bersiap-siap menuju tempat rapat tertutup yang akan dilakukan sebentar lagi.
Setelah sampai di tempat, Pangeran Castor dan Demon ternyata sudah menunggunya cukup lama.
"Maaf, saya telat Pangeran. Ada urusan penting yang membuat saya terlambat datang!"
"Baik, kalau begitu kita mulai saja. Aku sudah membawa gulungan surat perjanjian, kamu bacalah agar yang kuucapkan dua hari yang lalu benar adanya!"
Pangeran Castor lalu menyerahkan gulungan itu kepada Odilion.
"Aku harap kamu memberitahu sekarang siapa orang itu? perbatasan ini sangatlah berbahaya jika kami menyentuhnya dan orang yang mengaktifkannya bukanlah orang sembarangan, jadi siapa orang itu Odilion?" tanya Pangeran Castor.
"Saya tidak bisa mengatakan siapa orangnya Pangeran. Ini sudah ketentuan berlaku dari orang itu, walaupun Pangeran sudah membenarkan ucapan isi perjanjian tapi itu tidak akan merubah apa yang harusnya perlu dirahasiakan."
Pangeran Castor tersenyum sinis, sebegitu pentingnya orang itu hingga Odilion tidak ingin memberitahukan padanya.
"Aku harap kamu tidak akan menyesal, Odilion!" Pangeran Castor langsung mengeluarkan kekuatan sihirnya tepat di dada Odilion.
Sihir itu membuat Odilion terlempar dan menubruk pepohonan yang ada di belakangnya.
Darah segar kini keluar dari lubang hidung Odilion, pria itu lantas menegakan tubuhnya dan memandang sengit Pangeran Castor.
"Saya akan meladeni Pangeran, namun jika Pangeran tatap memaksa saya untuk memberitahukan siapa orangnya, saya tetap tidak akan menjawabnya."
"Kaum seperti kalian terlalu pandang enteng dengan kami, persoalan kecil seperti ini malah menjadikan sikap kalian sangatlah terlihat sombong."
"Itu tidak masalah bagi saya Pangeran!"
Muak mendengar ucapan Odilion, Pangeran Castor langsung saja menyerang bawahan Ella.
__ADS_1
Keduanya saling menunjukkan sihir, beberapa kali Odilion terkena sihir Pangeran Castor. Sudah tidak diragukan kehebatan sihir dari Pangeran pertama kerajaan Oxford, bertarung dengannya adalah hal yang paling dihindari oleh penyihir lainnya, kecuali ketua dari penyihir Oxfam yang begitu ambisius ini mengalahkan Pangeran Castor.
"Bagaimana Odilion! Apakah tenagamu masih bisa menyerangku?" tanya Castor dengan nada mengejek.
Odilion menyeka darah segar yang mengalir di sudut bibirnya, ia sedikit tersenyum tipis disana, "Tidak ada kata lemah dalam kamus Flamatia Pangeran Castor, tenaga yang dimiliki oleh kami tetap bertambah walaupun kalah telak dari lawan yang dihadapi," terang Odilion sinis.
"Lantas apa kau masih sanggup menerima perlawananku? Baiklah mari saling menyihir satu sama lain hingga tuntas."
Demon yang menjadi satu-satunya penonton begitu serius mendengarkan mereka yang saling berargumen, jika ia adalah Odilion lebih baik menyerah saja dan mengatakan siapa orang itu. Darimana seperti ini, akan membuat Odilion mendapatkan luka serius dari sihir Pangeran Castor.
Kini keduanya bertarung, kemenangan sudah jelas-jelas akan dimenangkan oleh Pangeran Castor.
Sihir Api Lintang satu sudah membuat Odilion terluka parah di tubuh bagian atasnya.
Ketika Pangeran Castor kembali mengeluarkan sihirnya tiba-tiba dari arah samping, seseorang menyihirnya dengan sihir yang sama yang membuat Odilion terluka.
Pangeran Castor merasakan dadanya mengalami gangguan pernafasan, ia melihat ke arah seorang gadis yang tengah menyembuhkan Odilion.
Demon yang melihat hal itu tercengang dan langsung menghampiri tuannya, "Pangeran baik-baik saja? saya akan membalas wanita itu!"
"Tidak usah! kita lihat apa yang akan dilakukan gadis itu."
"Ratu sudah pulih kembali?" tanya Odilion tidak percaya dengan sosok Ella yang terlihat sehat bugar tengah mengobati lukanya.
"Seperti yang kamu lihat! bagian mana lagi yang sakit Odilion? tanya balik Ella sambil memeriksa tubuh bagian lain.
"Tidak ada Ratu, tubuhku sudah membaik. Terimakasih Ratu!"
"Tidak usah berterimakasih padaku, ini sudah kewajibanku untuk melindungi rakyatku dari pria itu," Ella segera menengok ke arah Pangeran Castor, sedangkan sang empu ikut menatapnya dingin.
"Aku adalah orang yang mengaktifkan kembali perbatasan, aku adalah Ratu Elaine. Sekarang kamu sudah mendapatkan jawabannya, lalu apalagi yang ingin kamu tanyakan!" ucap Ella dengan tatapan sengit.
"Jika kamu dari dulu mengatakan siapa kamu sebenarnya, aku tidak akan membuat Odilion merasakan sihirku ini nona!" pungkas Castor tenang.
"Apa itu penting untukmu? sepertinya tidak!"
"Tentu saja sangat penting nona, jadi bagaimana caranya agar kami bisa keluar masuk antar wilayah kita?" tanya Castor.
"Tunjukkan dulu isi perjanjian yang kamu sembunyikan itu padaku, kemudian aku bisa memberi tahu bagaimana caranya!"
Odilion lantas memberikannya dan Ella segera membaca poin-poin isi perjanjiannya, "Jadi ini isi perjanjian itu!"
Semua poin-poin itu memang harus membenarkan agar kedua kawasan mereka saling bekerja sama untuk segala sesuatu yang akan terjadi.
"Baiklah aku akan mengatakan syarat untuk kalian bisa masuk antar dua wilayah! Hanya saja beberapa orang-orang penting yang boleh keluar masuk ke Flamatia." ucap Ella pasrah.
__ADS_1
"Itu bisa di atur nona!" ucap Castor tersenyum tipis. Ia kini menunggu ucapan Ella selanjutnya
"Syaratnya adalah ... Pria dan wanita dari kaum Flamatia dan Oxford harus saling__"