
BOTFE Bab 19 - Ramuan Penawar
"Yah benar, lebih spesifiknya ingin bertanya soal Pollux kepadamu."
"Pollux? siapa dia, aku tidak tahu!"
"Pria yang bersamamu di malam peperangan antar kaum Oxfam, aku tahu kamu ada di sana!"
"Jadi namanya Pollux! Hem pantas aku merasa begitu dejavu, ternyata kalian memang mirip. Sekarang pria itu tinggal di rumah Odilion dan sedang diberikan perawatan maksimal untuk kesembuhan lukanya."
"Apa separah itu? Aku ingin melihatnya." Ucap Castor.
Ella dan Pangeran Castor langsung menuju rumah Odilion, tidak cukup jauh akhirnya mereka tiba disana.
Langkah kaki Castor berhenti saat melihat Pollux sedang di suapi oleh seorang gadis di kamar.
"Pollux!" Panggil Castor setelah masuk ke dalam kamar.
Sementara Pollux dan juga Darnia menoleh ke arah sumber suara yang sedang memanggil.
Pollux menatap dingin Pangeran Castor. Ia sungguh tidak suka jika pria itu melihatnya tak berdaya saat ini.
"Ada apa?" Tanya Pollux.
"Aku tidak pernah melihatmu seperti ini setelah tiga tahun terakhir, bagaimana bisa pangeran ke dua terluka cukup parah hanya karena melawan kaum Oxfam." Ucap Castor dingin.
"Tidak perlu mengujiku, kau tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya." Tukas Pollux sinis.
"Setidaknya itu memang fakta yang terjadi." Ucap Castor lebih sinis.
"Ehem ... Pangeran Castor sebaiknya kita biarkan dulu dia istirahat, aku akan membawamu ke suatu tempat." Ujar Ella.
Tanpa berpamit Pangeran Castor keluar dari sana dan menunggu Ella yang masih berada di dalam kamar.
"Ternyata namamu Pollux, sebaiknya ubahlah sedikit pandanganmu itu padanya, biar bagaimanapun Pangeran Castor terlihat khawatir padamu. Darnia, aku percayakan padamu untuk merawatnya lebih intens lagi."
"Baik ratu." Ucap Darnia menunduk.
__ADS_1
Kini Ella membawa Pangeran Castor ke hutan Utara, mencari tumbuhan yang bisa dijadikan ramuan khusus untuk diminum Pollux.
"Hutan disini kaya tumbuhan herbal yang bisa digunakan untuk obat-obatan atau ramuan herbal, aku mengajakmu kesini untuk refreshing saja." Ucap Ella sambil mencium bau dari daun-daunan disekitarnya.
"Pollux sangat merepotkan, aku akan membalas kebaikanmu karena sudah menolongnya." Tukas Castor.
"Tidak perlu pangeran, ini sudah kewajibanku untuk menolong siapapun yang terluka termasuk Pollux, nah aku sudah mendapatkan tumbuhannya."
Castor memicingkan daun-daunan yang ada di genggaman Ella hingga ia teringat sesuatu.
"Aku butuh bantuan, bisakah kamu membantuku. Ini sangat penting."
"Penting? Apa sepenting itu hingga kamu memintaku untuk membantumu?" Tanya Ella dengan nada terkekeh.
"Di wilayah Oxford bagian Tamiran terjadi penyakit menular disana. Wargaku sungguh menderita karena penyakit menyeramkan, sudah 3 bulan penyakit itu masih menjangkit disana hingga membuat siapa saja yang tertular mengalami gatal-gatal di seluruh tubuhnya seperti cacar air dengan ruam-ruam yang sangat besar dan berisi nanah dan selama itu kami mencari penawarannya tapi tak kunjung berhasil, sekarang melihatmu sangat enteng mengenal dedaunan herbal dan tahu kegunaannya aku yakin kamu tahu ramuan untuk penyakit langka yang di derita wargaku Tamiran." Tukas Castor yang berharap wanita yang ada di hadapannya tahu apa yang sedang dimintanya.
Sejenak Ella memandang ke arah lain, seperti berpikir sesuatu. Tidak lama kemudian Ella memandang wajah Pangeran Castor yang memang terlihat menanggung beban berat disana.
"Sepertinya aku bisa membantumu, kalau begitu kita harus mencari tumbuhan mata air bunda, madu bunga dan juga air kristal, setidaknya itu bisa menjadi ramuan penawarnya." Ucap Ella memberitahu.
Ujung bibir Pangeran Castor terangkat, Ella terlihat tersentuh dengan kata-katanya.
Hari sudah sore menandakan jika waktu sebentar lagi memasuki malam. Keduanya baru keluar dari hutan Utara dan kini tengah meracik tumbuhan itu menjadi ramuan cair.
Ella memiliki salah satu ruangan yang ada di rumahnya dan digunakan khusus tempat penyimpanan berbagai macam obat herbal dan sejenisnya.
Saat ini Ella bergulat serius meracik ramuan herbal yang sudah setengah jadi, beberapa saat kemudian ramuan yang diinginkannya telah selesai untuk di produksi.
Ramuan yang sudah dibuat kemudian di masukan ke dalam tiga botol dengan ukuran sedang.
"Nah selesai, ramuannya bisa kamu gunakan kepada rakyatmu. Jika ada hal lain yang ingin kamu katakan bilang saja, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantumu pangeran." Tukas Ella sambil memberikan ramuannya dan Pangeran Castor kemudian menerimanya.
"Aku sangat berterima kasih padamu. Jika saat ini aku tidak tahu jika kamu bisa membuat ramuan penyakit langka itu, entah apa yang akan terjadi di Tamiran jika sudah berlangsung lama penyakit itu menyerang mereka."
Ella tersenyum tipis, Pangeran Castor yang ada di hadapannya ini mengucapkan kata terima kasih padanya.
"Ternyata dia bisa mengucapkan terimakasih juga dengan sikap biasanya yang asli." Batin Ella.
__ADS_1
"Aku akan membalaskan kebaikanmu dengan memberikan hadiah kecil untukmu nona." Tukas Castor sambil memandang kedua mata jernih yang ada di hadapannya .
"Apa itu!" Tanya Ella penasaran.
"Membuatkan pesta penyambutan dirimu di kerajaan Oxford dan aku berharap kamu mau menerimanya." Jawab Castor.
Ella tercengang, pria yang dihadapinya ini tidak main-main jika sudah menyangkut pesta penyambutan, sebab di novel yang membawanya kesini mengatakan jika karakter pangeran Castor tidak suka penolakan saat ia memberikan hadiah seperti itu dan jika kita menolak maka pangeran menganggap bahwa kita tidak menghormati para leluhur sebelumnya.
Di sisi lain Ella sebenarnya masih ingin identitasnya sebagai ratu Flamatia belum diketahui oleh kaum Oxford maupun Oxfam, hal ini dilakukan karena akan menghambat misinya kali ini.
Dengan berbagai macam pertimbangan akhirnya Ella bersedia menerima tawaran hadiah dari Pangeran Castor.
"Aku akan menerimanya, tetapi dengan satu syarat. Setiap orang yang akan datang harus memakai topeng tak terkecuali pangeran dan aku."
"Baiklah jika itu maumu."
Pangeran Castor dan Ella kemudian meninggalkan ruangannya dan bergegas menuju arah pintu keluar.
"Pangeran akan pulang sekarang?" Tanya Ella setelah keduanya sudah di ambang pintu.
"Kenapa? Kamu tidak ingin aku pulang hm?"
"Bukan begitu. Hanya saja pangeran tidak ingin melihat kembali keadaan Pollux sebelum kembali ke Oxford?"
Pangeran Castor menghembuskan nafasnya pelan dengan wajah yang mengarah ke depan.
"Dia sedang tidak ingin melihatku, jika sudah begitu butuh beberapa hari agar kami bisa mengobrol dengan normal tanpa berdebat ataupun menyakiti fisik satu sama lain."
Ella terdiam, ia sudah tidak ingin bertanya apapun lagi jika sudah mengarah ke pembahasan pribadi Castor dan Pollux.
"Pestanya akan di adakan seminggu lagi, kamu siap-siap lah untuk mengurus keperluanmu. Aku pamit kembali ke Oxford." Ucap Castor.
Ella mengangguk pelan, "Hati-hatilah di jalan Pangeran."
Pangeran Castor lantas menatap dalam mata Ella, wanita itu membuatnya tersentuh dengan kata hati-hati untuknya.
Langkah demi langkah, Pangeran Castor berlahan-lahan mendekat ke arah Ella dan menipiskan jarak diantara keduanya.
__ADS_1
"Pangeran, apa yang kamu lakukan?"