Because Of The Forest Elf

Because Of The Forest Elf
BOTFE Bab 7 - Seorang Mata-mata!


__ADS_3

BOTFE Bab 7 - Seorang Mata-mata!


"Setelah sampai di rumah tabib, Castor memanggil pemilik rumah tersebut."


"Adonis! ... Adonis!!"


"Pangeran Castor, ada apa?" tanya Adonis dari arah dapur, pria itu kemudian menghampiri Pangeran Castor dan belum menyadari sosok Ella yang masih di gendongan Castor.


Sepersekian detik kemudian, tabib yang bernama Adonis lalu menyadari hal itu, ia tercengang dengan apa yang dilihatnya, mata indah Ella yang berseri dengan sebagian wajahnya tertutupi kain membuat Adonis terpesona hingga tidak berhenti berkedip.


"Adonis! tolong sembuhkan pergelangan kaki nona ini!" ucap Pangeran Castor, namun pria itu sama sekali belum bergerak.


"Bisakah sedikit cepat Adonis, bukalah pintu kamar terlebih dahulu. Dia butuh pertolongan!" tukas Castor jengah.


Sadar mendengar perintah Pangeran Castor, Adonis kemudian segera membuka pintunya dan mempersilahkan Castor untuk membaringkan tubuh Ella disana.


"Cantik sekali!" gumam Adonis dalam diam.


Cukup lama memperhatikan Ella, suara bariton Castor kembali membuyarkan lamunannya.


"Jangan mulai kau Adonis!"


Adonis gelagapan, mata keranjangnya tidak bisa di ajak kerja sama. ia lantas memeriksa pergelangan kaki Ella. "Nona tahanlah sedikit, aku akan memberikan sedikit tenaga untuk menghilangkan rasa sakitnya."


"Baiklah, jangan lama-lama.Temanku pasti sangat khawatir di luar jika menunggu terlalu lama!" ucap Ella.


Ella lalu terkesiap saat tidak sengaja beradu pandang dengan Pangeran Castor.


Segera Ella memutuskan kontak mata mereka, lalu memalingkan wajahnya ke samping.


Sementara Adonis dengan hati-hati menaikan gaunnya hingga ke bagian lutut, pria itu mulai memberikan sebuah ramuan untuk di oleskan ke bagian pergelangan kaki Ella yang terlihat memar kebiruan.


"Aw pelan-pelan, tuan!"


Castor yang mendengar rintihan kesakitan itu, langsung duduk di samping Ella dan mengambil tangan kanan gadis itu untuk dikaitkan ke pergelangan tangannya, mengisyaratkan agar Ella memegangnya kuat.


"Pegang tanganku jika merasa sakit, kamu cengkram saja!" ucap Castor.


Ella menurut, hingga perasaan sakit mulai dirasakannya kembali, ketika Adonis mengoles ramuannya lagi.


Setelah itu Adonis mengeluarkan sihir dari telapak tangannya dan menyentuh bagian yang memar, cukup lama.


Adonis sedikit aneh saat sihirnya begitu lama menyembuhkan memar di pergelangan kaki gadis itu, hingga butuh 10 menit kemudian memarnya berlahan-lahan hilang seketika.


"Selesai nona! memarnya sudah sembuh total, nona sudah bisa berjalan seperti sedia kala!" ucap Adonis.


Ella lalu melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Pangeran Castor, ia lebih fokus mencoba menggerakkan kakinya, "sudah lebih baik! terima kasih tuan Adonis!" ucap Ella tersenyum hangat.


Adonis lantas membalas senyum itu, "Sama-sama nona! tapi mengapa nona terluka seperti itu?"

__ADS_1


"Aku mau ke toko makanan, hanya saja kuda pangeran menabrakku saat menyeberang!"


"Parah memang! kalau nona tidak keberatan, saya baru saja memasak hidangan cukup banyak di dapur, nona bisa makan disini saja," tawar Adonis.


Ella langsung mengangguk mau, dia sedari tadi sudah menahan lapar.


Adonis kemudian pergi keluar untuk menyiapkan makanannya.


Setelah kepergian Adonis, kini suasana kamar menjadi sepi.


"Siapa namamu nona?" tanya Castor.


"Ella! panggil saja aku Ella Pangeran!"


"Nama yang memiliki arti keras kepala!" gumam Castor. Ia terlihat menyunggingkan senyumnya.


"Nona tidak perlu memanggilku pangeran, ini khusus untukmu panggil saja namaku, Castor!"


Ella mengangguk kecil. Jantungnya berdegup kencang, rasanya Ella ingin menghindari tatapan mata elang hitam pekat milik pria itu.


Ella sejenak menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin terlebih dahulu terpesona oleh ketampanan wajah Pangeran Castor.


"Nona Ella, kamu tinggal dimana sekarang? aku tidak pernah melihat gadis sepertimu berkeliaran di pasar Barata."


"Ah itu, aku tinggal tak jauh dari Barata. Biasanya aku sering datang ke pasar." Bohong Ella.


"Benar, aku harus berhati-hati lagi.Terimakasih sarannya Castor!"


Castor hanya menganggukkan kepalanya.


"Suara baritonnya sangat merdu, alisnya sedikit tebal, dengan mata tajam berwarna hitam pekat, rahang yang begitu tegas, ditambah hidung mancung yang tinggi, sempurna sekali paras pria ini!" gumam Ella.


"Apa di bagian tubuhmu ada yang sakit nona?Adonis hanya memeriksa bagian pergelangan kakimu saja!"


Ella lantas menunjukkan pundaknya. "Ada, di bagian belakang pundak kiriku!"


Ella saat ini memakai gaun yang memperlihatkan pundaknya yang putih bersih.


Castor lalu memeriksanya, pundak mulus Ella yang terlihat sangat kontras dengan kulit putihnya, jelas terlihat memar kebiruan disana.


"Biar aku saja yang menyembuhkan memar bagian ini, tapi ini hanya sementara sakitnya hilang!"


Castor kemudian mengelus tiga kali memar itu, beberapa detik kemudian memarnya langsung hilang begitu saja.


"Bagaimana! sudah baikan?" tanya Castor.


"Sakitnya sudah hilang!" ucap Ella yang kini merasakan pundaknya lebih fresh.


Tiba-tiba bibir Castor kini menelusuri pundak Ella dan naik ke bagian lehernya.

__ADS_1


Ella tertegun, pria ini menghisap ceruk lehernya bagian dalam.


Tubuh Ella meremang, wajah mereka begitu dekat. Ella sungguh tidak menyangka Pangeran Castor terlihat liar dan mesum.


"Pangeran!" panggil Ella. Membuat Pangeran Castor menghentikan aksinya.


"Wangi aku menyukai bau tubuhmu!"


Ella yang ingin protes seketika mengurungkan niatnya, sebab Adonis datang memanggil mereka untuk segera ke meja makan.


Castor dan Ella lalu mengikuti Adonis keluar dari dalam kamar.


Sebelum duduk, Ella mengeluarkan sihirnya untuk menghilangkan bekas kecupan Pangeran Castor.


"Tuan Adonis, jangan repot-repot menyajikan menu makanan seperti ini. Aku sangat sungkan padamu!"


"Ah jangan terlalu sungkan padaku, nikmati saja makanannya, aku malah senang nona Ella mencicipi masakanku yang sederhana ini!"


"Baiklah kalau begitu, aku akan makan sekarang juga."


Mereka akhirnya menyantap hidangan yang mengunggah selera itu. Ella begitu fokus dengan makanannya sendiri, ia tidak menyadari jika pangeran Castor sedang mencuri pandang ke arahnya.


Tiba-tiba Adonis menghentikan kegiatan Castor.


"Pangeran Castor, aku mendengar dari beberapa orang jika perbatasan sudah mulai aktif kembali. Lalu siapa gerangan yang bisa mengaktifkan benteng itu pangeran? Selama ini kita tahu, tidak ada seorang pun yang bisa menaklukan perbatasan setelah 3 tahun terakhir," tanya Adonis.


Castor terdiam sejenak, ia lalu menatap sekilas ke arah Ella "Perbatasan dibuat dengan sangat epik oleh ratu Elaine, perjanjian diantara kaum kita dulu memang setuju membangun perbatasan diantara Flamatia dan Oxford. Dengan maksud melindungi kawasan diantara ke duanya."


"Ditambah lagi kedua kaum ini saling memberikan keuntungan setelah terciptanya perbatasan itu, hingga Raja terdahulu meyakini jika pihak Elf Flamatia adalah kaum yang benar-benar sangat pintar dari kaum kita, Oxford!" ucap Castor.


"Jadi yang telah memulihkan perbatasan kembali adalah ratu Elaine, begitu? bukankan peri itu sedang ..."


"Masih dalam penyelidikan." Castor melirik ke arah Ella sejenak, "bisa jadi sekarang ini ada seseorang yang memiliki ilmu tingkat tinggi hingga bisa mengaktifkan perbatasan."


"Berarti tidak jauh berbeda dengan sihir ratu Elaine kalau begitu! dan apa itu maksudmu pangeran Castor?" tanya Adonis.


Castor tidak menjawabnya, ia lebih memilih diam saja.


"Em pangeran Castor dan tuan Adonis, aku akan kembali pulang! teman-temanku sudah menungguku sedari tadi!" ujar Ella.


"Sayang sekali, baiklah kalau begitu nona. Jika ada waktu lengang sering-seringlah datang ke sini nona."


"Tentu tuan Adonis." Ella menundukkan kepalanya untuk pamit meninggalkan mereka.


Setelah kepergian Ella, Castor menatap tajam kepada sahabatnya itu.


"Adonis, aku sarankan untuk tidak sembarangan membahas tentang ratu Elaine, kita tidak tahu jelas wanita itu, mungkin saja dia adalah seorang mata-mata." Castor menatap dingin sahabatnya itu, sedangkan sang empu hanya mengangkat pundaknya.


"Ngomong-ngomong, kamu terlihat menyukainya Castor!" Terang Adonis, tersenyum tipis melihat Castor menatap tajam ke arahnya.

__ADS_1


__ADS_2