
BOTFE Bab 10 - Sayap Yang Gatal
"Apakah itu penting Pangeran? aku tidak perlu memberitahu siapa aku di Flamatia!"
"Tentu tidak penting bagiku, Nona! setidaknya ucapanmu perlu dikoreksi. Aku rasa kita harus melakukan pertemuan tertutup dan membahas hal ini dengan orang-orang yang memiliki peran penting, agar tidak ada pro dan kontra yang bisa menimbulkan kesalahpahaman."
"Odilion, dua hari lagi kita akan bertemu disini! aku harap kalian datang tepat waktu. Sekarang aku ingin pamit, banyak urusan yang sedang menantiku sekarang."
Ella terlihat kesal, pria itu pergi begitu saja tanpa mendengar persetujuan dari mereka terlebih dahulu.
"Sombong sekali dia!" lirih Ella kesal hingga tangannya bertautan tak menentu.
Di sisi lain, kepulangan rombongan Pangeran Castor menuju Kerajaan.
Pangeran Castor sedari tadi tersenyum tipis tanpa henti, mengingat wajah gadis itu.
"Damon, apa kamu melihat raut wajahnya yang terlihat kesal padaku?"
"Tentu saja Pangeran, tapi wajahnya terlihat tidak asing."
"Tentu saja, Damon! dia gadis yang sama saat di rumah Adonis, mereka datang ke Oxford untuk memata-matai sesuatu!"
"Saya baru menyadarinya Pangeran, pantas saja gadis itu sangat tidak asing ternyata memang dari kaum Flamatia."
Castor menyeringai lebar. Pertemuan kedua yang tidak terduga, gadis itu bukanlah gadis sembarangan. "Menarik! aku sangat penasaran denganmu nona Ella!" Batin Castor.
***
Putri Meana sedari tadi menunggu kedatangan Pangeran Castor di gerbang kerajaan, setelah lama menunggu akhirnya sosok yang ditunggu sudah mulai terlihat dari balik hutan.
Meana langsung menghampirinya, "Pangeran baik-baik saja? wajah Pangeran terlihat pucat, apa perlu aku membuatkan teh hangat untukmu Pangeran?" tanya Meana tanpa basa-basi.
Damon mengerutkan keningnya, "Gadis ini mengapa tiba-tiba perhatian? tingkahnya seperti ingin memiliki Pangeran Castor. Yang benar saja, tipe Pangeran bukanlah gadis sepertinya, berpura-pura lugu diluar tapi licik di dalam." Batin Damon sinis.
"Tidak perlu putri Meana, sebaiknya kamu masuk ke dalam. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu!" Ucap Castor sarkas.
"Baiklah kalau begitu, kita masuk bersama-sama saja Pangeran." Ujar Meana tersenyum tipis saat Castor peduli dengannya.
Castor tidak menjawab ucapan Meana, ia membiarkan saja wanita itu melakukan apa yang diinginkan saat bersamanya, walaupun demikian Castor sedikit tidak menyukai hal ini.
Setelah masuk ke dalam kamar, Castor segera menuju ke arah lemari dan membuka salah satu pintu lemari untuk mengambil sebuah gulungan kertas di balik baju-bajunya.
Di ambilnya sebuah gulungan dan membawanya ke tempat tidur. Castor membaca isi di dalam gulungan kertas itu, wajahnya kadang berubah tenang, mengerutkan keningnya, dan sesekali wajahnya terlihat keheranan.
"Apa maksud poin ke lima? Ratu Elaine memiliki ...!"
__ADS_1
Tok ...tokk
Seseorang mengetuk pintu kamarnya, Castor segera menaruh kembali gulungan di dalam lemari.
Ketika pintu terbuka, Pollux segera masuk ke dalam kamarnya.
"Aku sudah mendengar jika kamu membuat pertemuan tertutup dengan kaum Elf dua hari lagi. Aku akan datang juga untuk mendengar apa saja yang akan dibahas, aku harap kamu tidak keberatan!" Ucap Pollux.
"Tentu saja. Kamu silahkan ikut dalam pertemuan itu, setidaknya jangan terlalu menunjukkan kepada mereka sikap dinginmu itu," ujar Castor
sedang Pollux tersenyum remeh mendengarnya, "Itu terlihat tidak lucu!"
Pollux lalu keluar dari dalam kamar Castor, hingga tubuhnya sudah tak terlihat lagi oleh
sang pemilik kamar.
Castor lantas menutup pintu kamarnya menggunakan sihir. "Kau tidak berubah Pollux, sikapmu sungguh membuatku muak."
Castor lalu berjalan mendekati jendelanya, sesaat pandangannya tertuju ke arah luar gerbang kerajaan. Matanya mengawasi sosok pria yang tengah masuk kedalam hutan."
"Mencurigakan, siapa dia?"
***
"Ada apa ini! tidak biasanya punggungku seperti ini. Rasanya aku ingin menggaruk kasar punggung ini."
Ella lantas melihat punggungnya lewat cermin. Betapa kagetnya ia melihat punggungnya sudah sangat terlihat merah.
"Huu! terpaksa aku tidak jadi tidur kalau begini!"
Sayapnya kini ia keluarkan dan langsung mengepak sempurna begitu saja.
"Ya ampun, apa sayapku ini tidak suka berlama-lama terkurung di dalam! begitu? yang benar saja."
"Lalu apa lagi ini!" sayapnya kini bergerak tak menentu. Ella sedikit risih merasakannya.
Matanya kini terarah ke jendela. Ia melangkah kesana, "sepertinya aku harus jalan-jalan malam ini, tapi ke mana? apa harus ke hutan selatan?"
Era berpikir sejenak untuk menimbang-nimbang. "Sepertinya harus kesana, siapa tahu ada sesuatu yang bisa aku cari disana."
Ella lantas terbang meninggalkan kamarnya. Setelah memasuki hutan selatan, beberapa hewan kecil mengeluarkan suara irama yang unik di bawah sana.
Ella sedikit terhibur, hutan selatan banyak keunikan. Pantas saja banyak Penyihir Oxfam berlomba-lomba mengambil hal-hal yang unik di hutan ini.
Tidak terasa ia sudah jauh terbang ke dalam bagian hutan selatan.
__ADS_1
Walaupun hutannya sangat indah, tetap saja ia merasa ketakutan.
"Jika di duniaku sebelumnya ada makhluk gaib seperti kuntilanak, pocong, tuyul, dan kuyang! apa disini juga memilikinya? jika itu ada aku tidak tahu lagi cara menghadapinya jika mereka benar-benar muncul di hadapanku!"
Pussyyyy bukkk!!!
Ella tertegun mendengar sebuah ledakan kecil dari arah perbatasan. Ia lantas segera menuju kesana.
Setelah sampai, tidak ada apa-apa disana. "Lalu ledakan tadi berasal darimana jika bukan disini?"
Ella berusaha mencari sumber suara tadi, namun nihil tidak ada sesuatu yang terlihat apapun yang terjadi.
Beberapa saat kemudian ledakan itu terdengar kembali.
"Rupanya di wilayah Oxford! tunggu, apakah terjadi peperangan disana?" tanya Ella pada dirinya sendiri.
"Aku sangat penasaran!"
Sementara tempat kejadian perkara itu adalah sebuah ledakan yang diciptakan oleh seseorang.
Seseorang itu sedang menunggu sesuatu, sambil menyihir beberapa hewan yang ada disana.
Sesekali pria itu jengah dengan apa yang dilakukannya.
"Dimana orang itu, aku malah menunggunya datang!" kesal pria itu.
Beberapa detik kemudian, orang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang.
"Mengapa lama sekali!"
"Maaf tuan! diperjalanan ada sedikit masalah, saya melawan ular raksasa yang mencoba memakanku!"
Pria itu menghela nafasnya panjang, "Tunggu disini, aku ingin menuntaskan sesuatu dulu?"
Sementara Ella yang baru saja keluar dari perbatasan, kini tengah mengendap-endap seperti pencuri.
Ia harus berhati-hati jika ada yang membahayakan sekitarnya, "Sepertinya suara itu dari sana!"
Ella lalu berjalan kembali dengan pelan-pelan, pijakan kakinya sangat terlatih hingga suara daun kering tidak begitu terdengar saat diinjaknya.
Matanya juga fokus kesana kemari memperhatikan sekitarnya. Ia kemudian berniat menuju ke arah sebuah pohon.
Belum sempat Ella menghampiri pohon itu, tiba-tiba seseorang menarik pinggangnya begitu cepat hingga tubuhnya berputar 180 derajat.
Cup!!
__ADS_1