Because Of The Forest Elf

Because Of The Forest Elf
BOTFE Bab 8 - Peliharaan Baru, Patih!


__ADS_3

BOTFE Bab 8 - Peliharaan Baru, Patih!


Jangan membuatku makin marah padamu Adonis!"


"Ayolah Pangeran, dari sorot matamu saja aku sudah bisa menebaknya, jika kamu menyukainya!"


"Satu lagi, Nona Ella memang berbeda dari gadis-gadis pada umumnya. Namun, bukan berarti dia seorang mata-mata! apalagi wajahnya itu tidak menunjukkan gelagat aneh. Malah yang aneh itu adalah Pangeran sendiri.


"Terserah kamu saja, jika ia kembali ke sini segera beri tahu padaku! aku harus pergi, masih banyak urusan yang harus kukerjakan!"


"Baiklah, kalau begitu sampaikan salamku pada Pangeran Pollux!"


Pangeran Castor hanya mengangguk, ia kemudian meninggalkan kediaman Adonis.


Saat di luar rumah, Pangeran langsung menemui Damon. "Bagaimana? apa mereka terlihat mencurigakan?" tanya Castor.


Damon mengangguk. "mereka berbeda, tidak seperti warga disini.Terlihat kaku dan diam saja ditambah kulit mereka seperti para Peri Flamatia, Pangeran."


Castor tersenyum tipis. Dugaannya benar, saat menolong gadis itu ia sudah curiga dari awal! saat ia menanyakan tempat tinggalnya, gadis itu malah menjawab jika ia tinggal tak jauh dari Barata. Hal itu membuatnya yakin seratus persen bahwa wanita yang bernama Ella bukanlah kaum dari Oxford, melainkan orang-orang yang berasal dari Flamatia dan menyamar seperti mereka.


"Terlalu mudah menebak kalian siapa, aku harap kita dapat bertemu kembali nona Ella!" gumam Castor yang terlihat dingin.


Sementara Ella yang sudah memasuki wilayah Flamatia bersama para Peri lainnya, malah terlihat berdiam-diaman.


Ella melirik Odilion dengan ujung matanya, pria itu sedari tadi belum mengeluarkan kata-kata apapun setelah ia keluar dari rumah Adonis.


"Apa dia sedang marah? tapi aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!"


Tidak ingin suasana diantara mereka terlihat canggung, Ella berinisiatif mendekatkan diri di samping Odilion.


"Odilion, kamu tidak ingin bertanya sesuatu padaku? tentang aku yang saat itu di dalam rumah Adonis atau saat aku di obati oleh mereka gitu!"


Tidak ada tanggapan, Odilion hanya fokus mengepakkan sayapnya!


Ella menghirup udara sebanyak-banyaknya. Pria itu jika sedang cuek lebih menyeramkan dari apapun itu.


"Baiklah Odilion, aku minta maaf jika membuat kal__"


Odilion segera menyela ucapan Ella. "Ratu tidak bersalah, untuk apa minta maaf pada kami! sejujurnya saya sangat ceroboh membiarkan ratu berhadapan langsung dengan mereka tanpa pengawasan kami. Pangeran Castor sepertinya sudah tahu jika kita sedang menyamar, maka dari itu saya sangat khawatir dengan Ratu saat bersama mereka!"


Ella tertegun, ternyata Odilion sangat mengkhawatirkannya. Namun benarkah Castor sudah tahu jika mereka telah menyamar?


"Sungguh aku tidak bermaksud membuat kalian khawatir padaku, tapi mereka terlihat baik dan tidak mencurigaiku. Lalu kamu tahu bagaimana jika mereka telah curiga?"

__ADS_1


" Begini Ratu! Pangeran Castor sangat pandai menebak siapa musuh dan siapa kawan dalam bersamaan.Tatapannya terlihat jelas menyelidik kita, belum lagi pengawalnya yang terlihat mengawasi gerak-gerik kami dan itu sangat muda diketahui oleh mereka para penyihir Oxford."


"Kalau memang Pangeran bisa merasakan musuh, lantas bagaimana dengan Putri Meana? Seorang Putri yang memiliki niat jahat pada kaumnya sendiri, bukankah itu tak masuk akal Odilion?"


"Apakah Ratu lupa jika Putri Meana adalah penyihir di atas penyihir, apapun yang dilakukannya untuk menutupi akal busuknya itu, Putri Meana akan menggunakan sihir pelindung diri."


Ella terdiam. Bagaimana bisa ia lupa dengan fakta tentang Putri Meana, jelas-jelas saat ia telah membaca novel 'Forest Fairy Legend' dijelaskan bahwa Putri Meana adalah Penyihir hebat yang tak tertandingi. Sekarang Odilion kini menjelaskan kembali padanya."


"Aku lupa akan hal itu, aku yang sebenarnya ceroboh. Malah masuk ke dalam jurang yang salah," ucap lirih Ella.


"Bagaimana tidak, kecupan pria itu membuatku lupa diri!" gumam Ella.


Semenjak pertemuannya dengan Pangeran Castor lima hari yang lalu. Ella sudah tidak pernah mencoba mematai kerajaan Oxford. Ia lebih baik menghindar terlebih dahulu sebelum identitasnya semakin terkuak begitu saja kepada mereka.


Disaat ini, Ella tengah duduk di atas bunga teratai yang cukup menampung dirinya. Bunga dengan kelopaknya yang lebar serta ikan-ikan yang bersinar warna-warni, menambah kesan malam terlihat mengagumkan.


Ella sedang berfikir mengenai Inti Flamatia yang dihuni banyaknya Para Peri. Ella tidak menyangka jika ia akan menjadi seorang pemimpin, menghitung jumlah mereka saja tidak mungkin ia lakukan, sangking banyaknya Peri Flamatia.


Ditambah lagi Ella begitu penasaran dengan sosok Ratu Elaine, "Jika suatu saat aku bertemu dengan sosok Ratu Elaine, aku ingin menanyakan langsung padanya mengapa ia harus terjebak dengan tubuhnya ini dan hidup kembali dengan dunia yang berbeda."


Ella menatap langit yang bertaburan bintang di sana, "Ajaib ... disini sungguh ajaib, jika di tempat asalku bintang-bintang hanya beberapa saja yang muncul, disini malah sebaliknya."


Gadis itu tersenyum lebar dengan tangan yang terangkat ke atas untuk sekedar menggapainya.


"Burung?"


Ella tersenyum lebar, "Cantik sekali bulumu ini!" ia berusaha mengelus pelan kepala sang burung, "kau sungguh tidak terusik yah! malah terlihat nyaman."


Ella kemudian menyelidik setiap inci bagian tubuh merpati, "Baiklah sekarang kamu peliharaanku, aku akan memberikan nama untukmu!"


Sejenak Ella mencari nama yang cocok untuk peliharaan barunya. "Nah aku sudah menemukan nama yang cocok untukmu, Patih ... yah namamu sekarang adalah Patih."


Sang burung pun menundukkan kepalanya ke bawah, seperti menerima nama yang disematkan untuknya dari Ella, sang penguasa Flamatia.


"Ratu!" panggil Fridena.


"Burung merpati tadi, langsung terbang begitu saja.


"Maafkan saya jika menganggu aktivitas, Ratu." ucap Fridena menundukkan wajahnya.


Ella tersenyum tipis. "Ada apa? sepertinya kamu datang menyampaikan sesuatu yang penting, Fridena?"


"Hanya makan malam Ratu. Kami khawatir jika ratu sedari tadi belum makan!"

__ADS_1


"Aku masih kenyang. Mungkin sebentar lagi aku akan makan kembali."


"Tapi ratu!"


"Tenang saja, aku tidak akan mudah sakit!"


Ella memegang pundak pelayannya yang sangat peduli akan kesehatannya.


"Dimana Odilion?" tanya Ella setelah melepaskan tangannya dari pundak Fridena.


"Odilion sedang di tempat rumah pohon penyiksaan, Ratu." Jawab Fridena.


Ella lantas pergi meninggalkan Fridena.


Setelah sampai, Ella langsung disambut oleh para peri Fla yang sedang berjaga-jaga di depan pintu.


"Ratu!" tukas kedua peri penjaga.


Tanpa basa basi, kedua peri Fla langsung membukakan pintu untuknya.


Ella mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Berbeda dengan rumah-rumah pohon lainnya, tempat ini sangat didominasi dengan benda-benda tajam dan lainnya."


"Odilion!" panggil Ella.


Odilion yang sedang dipanggil langsung membalikkan badan dan menyambut sang ratu yang sudah tepat dibelakangnya.


"Apakah mereka dari kaum Oxfam yang gagal menerobos perbatasan?" tanya Ella dengan tatapan menghunus.


"Benar Ratu, saya ingin memberikan mereka pelajaran terlebih dahulu sebelum mereka kehilangan nyawa." jawab Odilion.


Ella menghampiri para penyihir, "Apa kalian bersekongkol dengan putri Meana untuk menguasai kawasan Flamatia hm?"


Ketiga penyihir pria tua Bangka itu tidak menjawab pertanyaan Ella, hal itu malah membuat Odilion naik pitam.


"Apa kalian tuli, Ratu kami bertanya pada kalian!" Bentak Odilion.


Seketika pria yang berada di tengah langsung meludah tepat di depan Ella, "untuk apa menjawab, kami tidak akan memberi tahu pada makhluk menjijikan seperti kalian," tukasnya mengejek.


Senyum tipis Ella begitu sinis saat melihat pria itu mencoba mengejeknya. Ella mendekat ke arah pria itu, "Hem ... Aku sudah menemukan jawabannya!"


Jari lentiknya kini merayap ke arah dada kiri pria tuan Bangka itu, sejenak Ella tertawa kecil namun langsung mengubah ekspresinya menjadi dingin.


Tak lama suara erangan kesakitan begitu menggema di ruangan itu. Erangan kesakitan terdengar hingga di luar rumah pohon penyiksaan.

__ADS_1


__ADS_2