Because Of The Forest Elf

Because Of The Forest Elf
BOTFE Bab 16 - Pangeran Pollux Sekarat


__ADS_3

BOTFE Bab 16 - Pangeran Pollux Sekarat


"Tawaran yang sangat basi!"


"KAU!!"


"Bisakah kau menghargai tawaranku, kau sangat sombong sekali."


"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menawarkan sesuatu padaku, apa kau mengerti."


"Baiklah pria jahat, sepertinya kau butuh waktu kesendirianmu itu. Aku akan pergi, selamat tingg ...akh."


Tiba-tiba Pollux menarik pinggang Ella dan terbang sejauh mungkin dari tempat mereka pijak.


"Musuh!" Ucap Pollux.


Ella memandangi beberapa penyihir yang berjumlah lebih dari 50 orang. Ella yang sudah diturunkan kembali oleh Pollux menatap kembali pria-pria yang tak jauh dari tempat mereka.


"Sudah lama kami mencari mayat saudara kami yang ternyata telah disembunyikan oleh kalian rupanya, berani sekali apa kalian tidak tahu siapa kami ha!" Teriak salah satu dari mereka yang terlihat sangat marah kepada Pollux dan Ella.


"Kami tidak akan membiarkan kalian bisa bernafas kembali, setidaknya kalian berdua harus membayar nyawa dibayar nyawa."


Para penyihir langsung menyerang keduanya tanpa aba-aba.


Perkelahian dengan dua lawan lima puluh lebih penyihir tidaklah sulit untuk Ella, hanya saja ia paham dengan marahnya mereka karena kematian pria yang ditemukannya belum lama ini.


Ella dengan lihai menghindar dari sihir maupun benda tajam yang akan melintas dari pinggangnya yang ramping.


Ia terlebih dahulu bermain-main dengan mereka tanpa melukai sedikitpun para penyihir itu. Sementara Pollux begitu agresif membunuh para penyihir satu persatu.


Hingga jumlah mereka yang sedikit demi sedikit berkurang barulah Ella menyadarinya. "Hei kau, kenapa membunuh mereka?" Teriak Ella kesal.


Kalau ia tahu pria itu akan membunuh mereka, sedari tadi ia akan mengunakan sihir untuk mengepung mereka tanpa melibatkan nyawa.


Pollux yang spontan melirik ke arah wanita itu tidak menyadari jika salah satu dari penyihir yang sedang dilawannya malah mengambil peluang yang tidak di siakannya itu."


"AWAS!!"


Ella berteriak sekencang-kencangnya saat melihat penyihir itu telah menusuk perut Pollux dengan pedang yang teroles racun mematikan.


Sontak Ella langsung menyihir mereka hingga terhempas jauh, sejauh-jauhnya hingga tak terlihat.


Ella langsung menghampiri pria itu yang sudah tergeletak kesakitan. Segera mungkin Ella memeriksa tusukan yang ternyata sangat parah.


"Hei apa kau mendengarkan? Kumohon jangan menutup mata." Ella sedikit uring-uringan.

__ADS_1


Ingin menyelamatkan pria itu tetapi ramuannya ada di inti Flamatia, jika ia meninggalkan pria itu disini bisa-bisa ia akan mati tanpa pertolongan apapun.


"Sial!"


"tidak mungkin aku mencium pria yang sama sekali tidak kukenal! wanita apa aku ini jika mencelup bibir yang satu ke bibir yang lain ..


huu ini tidak bisa diprediksi olehku sebelumnya." Gumam Ella.


"Patih ... Patih aku membutuhkanmu." Panggil Ella.


Tidak lama kemudian burung merpati miliknya datang ke arahnya.


Sampaikan pesanku untuk Fridena agar meminta salah satu peri matia kesini, dan biarkan peri matia datang dengan seorang diri saja, cepatlah pergi aku menunggunya."


Burung merpati itu sudah terbang menjauh, dengan kecepatan penuh merpati itu seperti angin lewat saja.


Sementara Ella memberikan mantra sementara untuk mencegah racun menyebar ke seluruh tubuh pria itu, setelahnya ia merobek kain gaunnya sedikit dan langsung menutupi luka tusukan itu.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Pollux dengan suaranya yang sudah serak menahan kesakitan yang teramat.


"Diamlah selagi aku menolongmu."


Cukup lama menunggu akhirnya seorang wanita datang menghadap ke arahnya.


"Hormat saya ratu." Ucap pria matia itu.


"Apapun perintah ratu aku akan menyanggupinya."


"Baiklah kalau begitu ciumlah pria itu, usahakan jangan hanya kecupan tapi lebih dari itu." Ujar Ella santai.


Sedang si peri matia tersentak kaget mendengar perintah ratunya terlebih pria yang sedang terbaring sekarat itu.


Sedikit ragu tapi ia harus mengikuti perintah ratunya. Peri itu berlahan-lahan menghampiri wajah sang pria dan menatap lekat bibirnya hingga kedua bibir itu saling menyentuh.


Ella sedang membelakangi kedua insan yang sedang bercumbu, suara decapan antar bibir terdengar jelas di Indra pendengarannya.


Pollux yang memiliki setengah kesadarannya tersenyum tipis kala menerima ciuman kaku dari seorang gadis, ia menikmatinya namun samar-samar penglihatannya tertuju dengan wajah gadis itu.


"Cantik dan ... Manis!" Gumamnya.


Seketika kesadaran Pollux sepenuhnya hilang. Peri matia itu kaget dan langsung memberi tahu pada Ella.


Keduanya lantas membopong tubuh Pollux dan terbang menuju perbatasan.


"Siapa namamu." Tanya Ella disela perjalanan mereka.

__ADS_1


"Darnia ratu!"


"Hm."


***


Castor yang baru saja masuk ke dalam castil tiba-tiba putri Meana muncul di samping kirinya.


"Pangeran kenapa lama sekali pulang, kau harusnya perlu istirahat cukup agar energimu tidak habis terkuras." Ucap Meana dengan senyuman menggoda sambil mengelus lengan pria itu.


Sementara Castor hanya memandang Meana jenaka, dirinya memang sangat kecapean hanya saja lebih capek lagi jika harus melayani ocehan wanita itu.


"Aku akan istirahat, jadi biarkan aku pergi."


Meana mengerucutkan bibirnya, Castor terlihat sedang tidak ingin menanggapinya. "Baiklah pangeran Castor, semalam malam." Ucapnya manis sekali.


Belum sempat Castor melanjutkan langkahnya seseorang datang langsung menghadap ke arahnya.


"Saya menghadap pangeran Castor. Terjadi peperangan belum lama ini terjadi di sungai tak jauh dari Barata dan puluhan penyihir Oxfam tewas disana." Ucap seorang prajurit.


"Penyihir Oxfam? Tidak biasanya mereka berperang. Apa ada yang selamat dari merek" tanya Castor.


"Sama sekali tidak ada pangeran, mereka terbunuh dengan sihir yang biasanya digunakan oleh seseorang yang sangat penting di Oxford." Tukas prajurit itu.


"Siapa?" Castor merasa tak enak hingga prajurit itu kemudian berbisik untuk memberi tahu orang itu.


"Damon kita harus kesana sekarang."


Putri Meana menatap tak suka dengan kepergian Castor, tatapannya beralih ke arah prajurit yang sedang ingin mengikuti sang pangeran.


Dengan gerakan cepat prajurit itu kini di bawa paksa oleh Meana menggunakan sihirnya.


Setelah mendapatkan lorong yang sepi, Meana langsung mengintrogasi prajurit itu.


"Katakan siapa orangnya hingga membuat para Oxfam mati terbunuh?" Geram Meana tak suka dengan berita tersebut.


"Tapi putri saya tidak bisa memberi tahu."


"Apa kau ingin keselamatan nyawamu atau tidak? Kalau kau tidak ingin mengatakannya aku akan membunuhmu sekarang juga."


Tertindas, mau tak mau prajurit itu mengatakan siapa orangnya. "Pangeran Pollux putri, bekas belati yang dilayangkan ke penyihir Oxfam sangatlah kentara dan itu memanglah pangeran. Pollux yang melakukannya."


Meana ingin sekali menemui pria itu dan memaki-makinya karena telah membunuh kelompoknya. "Tapi mengapa babu-babuku tidak mengatakan apa maksud mereka melawan Pollux?" Gumamnya dalam hati.


"Aku harus mencari tahu apa yang telah terjadi." tak lama Meana langsung membunuh prajurit itu.

__ADS_1


Srek ... srekk!!


__ADS_2