
BOTFE Bab 3 - Beradaptasi Dengan Waktu
Ella sangat takjub dengan hamparan rumah pohon yang memiliki ukuran besar dimana-mana.
Di dalam pohon tersebut terdapat beberapa ruangan layaknya rumah pada umumnya, belum lagi hiasan pernak pernik di setiap sudut ruangan yang menambah kesan unik dan mewah.
"Selamat datang kembali Ratu Elaine!" Seru mereka semua.
Ella menampilkan senyum manisnya lalu mengangkat telapak tangan untuk menghentikan salam atas penyambutan untuknya. Fridena lantas melanjutkan kembali langkahnya untuk segera mengantar Ella ke kamar pribadinya.
"Aku harus berpura-pura menjadi Ratu Elaine dulu. Kalau tidak mereka akan mengeroyokku hingga mati, bisa jadi hal itu terjadi," batin Ella.
"Ini kamar Ratu! Kami akan menyiapkan perlengkapan Ratu, untuk air hangatnya sudah tersedia di dalam kamar mandi," uucap salah satu pelayan.
Ella mengangguk kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah beberapa menit ia lalu keluar dari sana.
Ella tercengang melihat gaun yang sangat indah untuk dipakainya. Gaun itu langsung melekat membentuk pinggang rampingnya, terlihat elegan dengan sayap yang tiba-tiba melebar di punggung."
"Tunggu! ada sayap? di punggungku?"
"Akh, aku benar-benar menjadi Peri! ya ampun, apa aku memiliki kesalahan di duniaku sebelumnya hingga mendapatkan hal ini di luar nalar?" batin Ella yang terlihat sendu.
"Apa Ratu baik-baik saja?" tanya Fridena khawatir.
Ella tersenyum tumpul, baginya ia sekarang sudah benar-benar berubah menjadi manusia jadi-jadian atau setengah kupu-kupu.
"Hahaha ... Aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Kalau begitu kalian semua keluarlah, aku ingin istirahat."
"Baiklah Ratu!" seru Fridena dan lainnya.
Setelah kepergian mereka, Ella menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan secara pelan-pelan.
"Aku harus merahasiakan ini terlebih dahulu dan mengikuti alur apa saja yang akan terjadi kedepannya, mengingat buku novel itu telah membawaku kesini. Tapi apa tujuannya? aku ingin tahu sebabnya, mengapa harus aku!"
Ella lalu menatap lekat wajah barunya, kedua tangannya menangkup pipi semulus kertas itu.
"Ratu Elaine sangat cantik. Apakah ini yang membuat pangeran Castor jatuh cinta padanya? Jika benar, aku ingin sekali bertemu dengan sosok pria itu dan melihat wujud aslinya.
Segera Ella menyudahi kegiatannya dan kemudian berbaring di atas tempat tidur yang empuk dan wangi.
"Beda sekali dengan tempat tidurku di dunia nyata."
__ADS_1
Ella segera memejamkan mata untuk menggandrungi mimpi indahnya malam ini di dunia berbeda.
***
Ketukan pintu berkali-kali diketuk. Ella belum merasa terganggu, sedang di luar pintu Odilion merasa khawatir takut jika ratunya kenapa-kenapa.
Fridena menahan bahu Odilion cepat, sebelum pria itu membuka pintu kamar secara paksa.
"Sepertinya ratu Elaine masih tidur!"
"Tidak, jika sudah lama seperti ini ratu sedang tidak baik-baik saja!" ucap Odilion.
"Kau berlebihan!" tukas Fridena.
Odilion melepaskan tangan Fridena dan langsung membuka pintu menggunakan sihirnya.
Hingga saat pintu terbuka Odilion dan juga Fridena serta beberapa peri menganga tak percaya dengan apa yang mereka lihat di depan mata mereka sendiri.
"Astaga ratu!" teriak Fridena.
Segera Fridena terbang dan menangkup kepala Ella dengan kedua tangannya, sedang Ella yang terusik pelan-pelan membuka matanya dan menatap Fridena dengan raut kaget.
"Ya ampun kau siapa!" ucap Ella sedikit berteriak.
Ella masih mengumpulkan nyawanya setelah beberapa saat ia langsung merubah mimik wajahnya seperti biasa.
"Ah mereka ternyata, membuatku kaget saja," gumam Ella.
"Aku sudah bilang ratu sedang tidak baik-baik saja!" geram Odilion pada Fridena.
"Kenapa dengan wajah kalian, aku sedang tidur mengapa membangunkan diriku?"
"Ratu sedari tadi belum keluar kamar sampai sekarang, Kami takut jika ratu kenapa-kenapa" ucap Odilion.
"Maaf ratu kami masuk tanpa izin terlebih dahulu, sekarang sudah pagi menjelang siang dan agenda ratu hari ini mengunjungi hutan selatan sekarang?" ucap Fridena.
"Tapi aku sepertinya belum lama tidur kenapa sudah pagi?" tanya Ella kebingungan.
Fridena pasti akan menduga hal ini terjadi, ratunya begitu kehilangan total ingatannya, hingga lupa dengan kehidupan Flamatia apalagi mengenai waktu pun harus diingatkan kembali olehnya.
"Ratu di malam hari hanya memiliki waktu 5 jam saja dibandingkan siang yang memiliki waktu 15 jam. Sepertinya ratu harus membiasakan diri untuk beradaptasi," tukas Fridena.
__ADS_1
"Jadi waktu disini hanya 20 jam sehari?" tanya Ella tidak menyangka jika ada waktu seperti itu.
Odilion mengangguk, sedang Fridena memperbaiki rambut Ella yang sedikit berantakan sebab kepalanya tadi menggelantung saat tidur. Buruk sekali posisi Ella saat tidur.
"Baiklah sepertinya aku harus terbiasa dengan semua ini, Odilion jika ada hal yang tidak aku ketahui tolong segera sampaikan kepadaku."
"Tentu Ratu!"
Ella lalu turun dari tempat tidur dan melangkah ke arah cermin untuk melihat kondisi wajahnya.
"Masih cantik!" ucap Ella tersenyum manis sedang Odilion terpanah melihatnya.
"Bagaimana cara menggunakan sayapku ini?"
"Ratu hanya langsung mengepak sayap setelah itu gerakan dengan pelan agar bisa terbang, jika ingin terbang tinggi sayap ratu harus bergerak cepat, dan jika ingin terbang seperti biasa ratu bisa mengepak sepelan mungkin." Odilion memberi contoh langsung kepada Ella.
Ella pelan-pelan melakukannya hingga kakinya sudah tidak menyentuh lantai, "aku terbang wah!" Ella terlihat senang.
Saat ini Ella bersama Odilion dan beberapa peri pria mengikutinya untuk pergi ke hutan selatan. Ella melihat sekitarnya di sepanjang perjalanannya terbang dengan sayap indahnya di punggung.
Semua begitu luar biasa, bagaikan hutan yang terawat dan memiliki pemandangan yang sangat bagus.
"Odilion bagaimana letak kawasan Flamatia, aku sedikit bingung."
"Kawasan Flamatia terbagi atas tiga, hutan selatan merupakan daerah yang memiliki hutan rimbun dan gelap serta memiliki berbagai macam hewan istimewa disana, hanya saja seperti yang saya jelaskan semalam kepada ratu bahwa mereka hampir punah dan hutan selatan sudah mulai kehilangan ekosistemnya. Lalu di bagian Utara adalah hutan tanaman herbal dan serbuk sari hijau yang kaya manfaatnya, ratu merawatnya dengan baik sebab hutan itu sumber kekuatan para peri. Terakhir adalah bagian kawasan tempat tinggal kita ratu, yaitu di pusat/inti Flamatia." ucap Odilion.
"Tiga kawasan yang memiliki fungsi masing-masing. Sekarang apa hutan selatan sudah dekat?"
"Setelah kita melewati barisan pohon apel emas, kita sudah memasuki hutan selatan ratu Ella!"
Ella mengangguk paham, sayapnya langsung di kepaknya cepat dan melaju melewati berbagai pohon disana."
"Belum satu menit, aku sudah bisa mengendalikan sayapku, apa secepat itu aku langsung paham melakukannya! sangat luar biasa," gumam Ella.
Tiba-tiba suara keras begitu memekakkan telinga. Ella dan para peri lainnya mencoba mencari sumber suara dentuman keras di hutan selatan.
Indra pendengarannya tertuju ke arah kiri yang sedikit jauh dari keberadaan mereka. Ella langsung menyepak sayapnya, dengan laju ia sudah mengetahui apa yang terjadi disana.
"Penyihir! Wanita itu sedang mencari mangsa rupanya." Gumamnya itu bersamaan dengan senyum tipis meremehkan, "tidak akan kubiarkan kali ini hewan-hewan spesialku menjadi korban lagi."
"Rasakan ini!" Ella mengeluarkan cahaya hijau yang langsung mengenai target.
__ADS_1
Wanita yang berparas cantik itu namun lebih cantik Ella, terhempas jauh dan langsung menubruk pohon tinggi nan besar hingga ia merasakan kesakitan yang luar biasa kemudian beberapa detik, wanita itu jatuh di permukaan tanah.