
BOTFE Bab 14 - Mencari Ramuan Penawar Langka
"Tentu saja! Aku akan menyampaikannya beberapa hari lagi. Aku akan mengirimkan pesanku lewat merpatiku, tapi ini sedikit lambat sebab aku akan mencari kriteria wanita yang akan melakukannya, itupun jika salah satu peri matia mau menerimamu."
Setelah itu Ella dan juga Odilion terbang menembus perbatasan.
Beberapa hari berlalu, setelah pertemuan itu baik Ella dan juga Castor sudah tidak pernah bertemu kembali.
Ella yang saat ini lebih menyibukkan diri dengan urusan pembuatan obat-obatan herbal yang diraciknya sedemikian rupa sesuai kebutuhan.
Tak ayal pikirannya sesekali membuana kepada Castor, bertanya-tanya sedang apa yang dilakukan pria itu di sana.
Sementara Castor yang duduk di singgasana meneliti orang-orang yang ketakutan melihatnya.
Pangeran Castor terlihat dingin, rupanya ia masih mengingat dimana ia dan Ella sedang berada di area sungai.
Seorang mata-mata sedang melihat mereka di persembunyiannya. Mata-mata itu adalah orang yang sama dengan malam itu, saat seseorang mengancamnya akan membunuh keluarganya dengan imbal untuk mencari tahu siapa orang dibalik aktifnya perbatasan.
Hal itu sungguh membuat Castor sangat terusik, orang itu sudah tahu Ella yang sebenarnya dan merupakan ratu baru dari Flamatia.
Tidak ingin pria itu memberikan informasi kepada pria bangka tua waktu itu, Castor menyihirnya dengan menggunakan matanya yang langsung mengarah ke orang tersebut.
Sihir matanya membuat edaran darah mata-mata itu berhenti secepat kilat hingga membuatnya mati kaku di persembunyiannya.
Castor lantas tersenyum sinis dan menutup matanya untuk menikmati sensasi ciuman panas dengan Ella.
"Aku tidak tahu jika ternyata di kerajaanku ada penghianat disini, bekerjasama dengan penyihir Oxfam untuk merencanakan sesuatu, terlebih seseorang itu ternyata sudah lama menjalin kerjasama dan sudah membuat kedua kubu (Kerajaan Oxford dan Flamatia) malah merenggang karena kesalahan pahaman. Sayangnya aku tidak tahu siapa orangnya, sebelum itu kalian lebih baik menyerahkan diri sebelum aku tahu siapa sebenarnya penghianat itu!" ucap Castor sinis yang sebenarnya untuk alibi saja padahal ia sudah tahu siapa orangnya.
"Orang-orang yang memiliki kepentingan di castil berbisik-bisik dan tak tahu menahu apa yang telah terjadi hingga mereka saling mencari satu sama lain siapa orang tersebut.
Pollux yang saat ini duduk tak jauh dari Castor memandangi sosok kakaknya dengan ekspresinya yang tak terbaca.
__ADS_1
Damon melihatnya. Pollux sangar misterius baginya. Adik dari sang pangeran memiliki sifat yang berbeda, jelas ia sangat mengenali Pollux tapi tidak dengan karakternya.
"Baiklah jika tidak ada yang mengaku! tapi seseorang yang tak mengaku, baginya adalah hal yang sangat bodoh untuk dilakukannya seumur hidup. Aku menghargai keputusanmu itu, jadi bermain-mainlah sesukamu aku akan selalu menyambutnya!" ucap Castor.
Sedang orang yang menjadi pembicaraan terlihat duduk tenang namun marah dalam diam, sebab Castor sudah menghancurkan rencananya yang sebelumnya dan tahu jika suruhannya itu sudah tewas sebelum menyampaikan berita yang didapatkannya.
"Kita lihat saja Castor." Ucap seseorang yang tersenyum tipis di balik orang-orang yang saling berargumen dengan sesama orang yang disampingnya.
Putri Meana yang baru tiba di dalam aula langsung mendudukkan bokongnya di samping Pollux sementara dayang-dayangnya berdiri di belakang.
"Kau sangat dingin melebihi pangeran Castor, Pollux. Setidaknya jangan terlalu serius menatap wajahnya." Bidik Meana yang tersenyum canggung namun berani mengeluarkan kata-katanya itu.
"Jangan berharap lebih padanya, kau akan sakit dibuatnya." Tukas Pollux kemudian meninggalkan wanita itu yang tercengang dengan ucapannya barusan.
"Sial! apa maksudnya!" gumam Meana kesal.
Castor menatap kepergian Pollux, adiknya itu selalu datang jika ada hal-hal penting jika membahas sesuatu di aula tanpa memberi pertanyaan atau pernyataan untuknya.
"Apa yang sedang kamu lakukan Ella!" gumam Castor yang sedikit menyelipkan senyuman manisnya.
Dan Meana yang melihatnya menjerit senang dalam diam sebab ia mengira senyuman manis Castor yang pertama kali dilihatnya adalah balasan untuknya.
"Kau akan menjadi milikku secepatnya pangeran Castor, aku akan memilikimu seutuhnya."
Seorang dayang berbisik di telinganya, "Pangeran tersenyum padamu putri." bidik dayang itu.
"Tentu saja, ia adalah calon suamiku yah pantas ia membalas senyumanku!" ucap Putri Meana menyombongkan diri.
Sementara dayang itu tersenyum malu-malu.
Setelah dari aula Castor dan juga Damon meninggalkan kastil menuju wilayah Barata dengan menunggangi kuda masing-masing.
__ADS_1
Perjalanan mereka tidak cukup jauh, orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukannya masing-masing.
Mereka yang melihat pangeran Castor langsung memberikan jalan lebar untuk dilewati kudanya tidak lupa senyum lebar dan hormat tertuju padanya.
"Bagaimana keamanan di sini Damon."
"Sejauh ini aman pangeran, tidak ada yang terjadi apa-apa di Barata selain wilayah Tamiran." Ucap Damon.
"Seandainya bisa, aku ingin melihat keadaan wilayah Tamiran disana. Mereka pasti dalam keadaan sengsara, walaupun kerajaan sudah memberikan pasokan makanan, air bersih, obat-obatan, itu belum cukup untuk menyembuhkan penyakit menular yang merajalela disana." Tukas Castor.
Semenjak tiga bulan lalu, wilayah Oxford bagian Tamiran mengalami penyakit langka yang secara tiba-tiba langsung menyerang warganya, penyakit itu membuat siapa saja yang tertular mengalami gatal-gatal di seluruh tubuhnya seperti cacar air tetapi ruam-ruamnya sangat besar dan berisi nanah, hal itulah membuat wilayah itu diasingkan dan penutupan akses jalan diberlakukan serta diperingatkan untuk tidak mendekati wilayah tersebut.
Namun bantuan pasokan makanan, air bersih, dan lainnya dilakukan saat menjelang malam dan ditempatkan tak jauh dari daerah Tamiran yang kemudian akan di ambil oleh kepala desa serta warganya yang ada di sana.
"Para tabib kerajaan selalu gagal meracik ramuan, jika lama didiamkan akan berakibat fatal untuk warga Tamiran, bisa saja sedikit demi sedikit mereka akan mati membusuk di tempatnya, apalagi wilayah itu adalah penghasil minyak, siapa yang nanti akan mengurusnya jika bukan mereka!" tukas Castor sedikit resah.
Damon hanya bisa mendengarkan saja, baginya ia tidak bisa berbuat apapun untuk membantu pangerannya dari masalah berat di wilayah Tamiran.
Sebab Damon sendiri kalang kabut dengan pencarian ramuan dari tumbuhan yang belum tentu berkhasiat.
Kuda mereka berhenti tepat di depan rumah tabib milik Adonis.
Pria itu muncul saat mendengar suara kaki kuda-kuda yang sangat di hafalnya mati.
"Pangeran akhirnya datang juga di sini!" ucap Adonis yang langsung mengambil tali untuk mengikat kuda itu agar tidak kesana kemari.
"Kau saja yang jarang keluar dari rumahmu ini, pangeran sering berkunjung ke Barata." "Ucap Damon.
"Haha, sepertinya begitu Damon, tapi kau sudah tahu aku sibuk mengerjakan proyek yang diberikan kau pangeran." Ujar Adonis yang terkekeh kecil disana.
"Jadi kau sudah mendapatkan ramuannya?" tanya Castor setelah mereka masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1